CEO Pengganti

CEO Pengganti
Ambigu


__ADS_3

Tin-Tin...


Suara klakson mobil membuyarkan mimpi ibu Nani yang sedang tidur di sofa ruang tamu. Semenjak Mila dan kedua putranya pergi ditambah Emi yang tinggal di rumah Bima membuat suasana rumah menjadi sangat sepi. Hanya ada ibu Nani dan pak Eko saja di rumah itu.


Ibu Nani melenggang santai untuk membuka pintu gerbang setinggi dua meter.


"Ibu Nani....?" sapa Emi nyengir kuda.


Ibu Nani tersenyum membalas sapaan Emi. Tidak ada yang salah dari kedatangan gadis itu karena dia adalah putri dari pemilik rumah yang tentu saja punya kebebasan untuk datang kapan saja.


"Ada makanan nggak, Bu? Aku lapar belum makan siang," ucap Emi memelas.


"Ada sih tapi cuman seadanya aja. Nak Emi harusnya bilang kalau mau mampir biar ibu masakin yang enak."


"Nggak masalah, Bu. Masak enaknya buat nanti malam aja, yang ada aja buat sekarang."


Emi yang sudah keroncongan langsung berlari ke rumah dan menuju dapur. Tumis kangkung dan tahu tempe sambal, itu sudah cukup buat Emi dan menggugah seleranya.


Ibu Nani bingung saat melihat suaminya mengeluarkan dua koper dari bagasi mobil dan dia tahu itu milik Emi.


Pak Eko yang sadar dengan kebingungan istrinya, tertawa menarik koper ke dalam rumah.


"Iya, Bu. Nggak usah bingung, Emi balik lagi ke rumah. Lumayan, kita jadi rame dan nggak sepi lagi ini rumah."


"Kok bisa?"


"Paling berantem, nanti juga paling balik lagi ke sono. Ikutin aja alurnya. Hahaha...."


....


Seharian ini ponsel Bima dalam mode silent karena banyaknya pekerjaan penting yang harus ditanganinya langsung sebagai pimpinan.


Puluhan panggilan dan pesan yang masuk ke ponsel Bima sama sekali diabaikannya, termasuk panggilan dari ibu Sri.


Barulah setelah diperjalanan pulang Bima mengecek ponselnya. Dari banyaknya pesan dan panggilan, Bima langsung tertuju pada nama kontak ibu Sri. Melihat jarak rumah yang sudah hampir sampai, mengurungkan niat Bima menelpon balik ibu Sri.


Bima melihat jam tangannya dan masih setengah enam sore. Mata Bima memicing melihat beberapa pasang anak muda yang sedang asik menikmati makanan pinggir jalan sambil bercanda.


Apa mereka juga melakukan seperti itu?


Bayangan Emi dan Bian sedang makan dipinggir jalan menyusup ke pikiran Bima. Segera Bima menepisnya dan berbelok ke kanan, menuju rumahnya.


"Pak Bima, kenapa telpon ibu nggak dijawab?" Pertanyaan ibu Sri menyambut kepulangan Bima.


"Ada masalah? Emi sudah pulang?" tanya Bima.

__ADS_1


"Itu dia masalahnya, pak. Emi sudah pulang tadi sama pak Eko."


"Baguslah. Lalu masalahnya apa?"


Ibu Sri bingung, dia sudah mengatakan apa yang menjadi permasalahanya. Akan tetapi ibu Sri juga tidak menyadari jika kalimatnya itu ambigu.


"Emi sudah pulang, pak."


Bima yang sudah lelah malah dibuat bingung oleh ibu Sri.


"Saya ke atas dulu. Kalau dia nggak makan seperti semalam, paksa saja atau dia bisa makan di kamarnya."


"Waduh? Kejauhan, pak. Keburu dingin makanannya. Lagian di sana juga pasti ada banyak makanan yang enak-enak."


Memang sejauh apa meja makan ke kamarnya.


Bima masih sempat berpikir jika ibu Sri mulai pikun sedangkan ibu Sri berpikir jika memang betul apa yang di katakan Emi. Bima tidak peduli pada Emi yang sudah pulang ke rumah bundanya.


Hari ini berkahir dengan tidurnya Bima tanpa membersihkan tubuhnya. Niatnya Bima hanya akan berbaring sebentar tapi siapa sangka jika ia tertidur dengan pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya.


Beda halnya dengan Emi, gadis itu justru sedang asik ngobrol dengan bunda dan kedua kakaknya melalui sambungan video call. Emi mengatakan jika dia rindu rumah makanya malam ini dia pulang dan tidur di kamarnya.


....


"Wah... Enak nih. Bu, buatin Emi bekal untuk di bawa ke sekolah ya?"


Tidak adanya anak membuat ibu Nani dan pak Eko sangat menyayangi Emi dan menganggapnya seperti anak sendiri. Berharap suatu hari nanti sang Esa memberikan mereka anak meski usia pernikahan keduanya sudah memasuki tahun kesepuluh.


"Makasih, Bu." Menerima kotak bekal yang sudah diisi ibu Nani.


"Emangnya masih muat? Kamu udah sarapan di rumah sebanyak ini."


"Buat Bian," jawab Emi dengan mulut penuh makanan.


"Kenapa nggak pacaran aja sama Bian? Dia baik, ganteng dan pintar lagi. Nggak mungkin kamu nggak suka dia."


"Iya. Emi suka, kalau nggak suka mana mungkin aku temenan sama Bian. Sekarang Emi mau fokus sekolah dan belajar yang benar aja, biar bunda senang. Kasihan bunda, punya anak payah kayak aku. Hahaha..."


"Enggaklah, justru kamu buat bunda jadi senang. Rumah ini hidup karena kalian bertiga, apalagi kamu."


"Ah, si ibu bisa aja nih gombalnya. Aku kan jadi nggak malu. Hahaha.."


Di meja makan yang lain, seorang pria mendengus melihat makanan di atas meja. Bukan karena menunya tapi karena dia sepertinya harus sarapan seorang diri lagi pagi ini.


"Pak Bima mau teh atau kopi?" tanya ibu Sri.

__ADS_1


"Kopi. Dia sudah pergi sekolah?"


"Emi?"


"Memang siapa lagi di rumah ini yang anak sekolahan, Bu. Ibu Sri sehat? Atau mau libur buat istirahat?"


"Enggak, pak. Saya masih sehat dan kuat buat kerja di sini. Nanti, kalau saya sudah mulai pikun baru saya berhenti kerja. Saya harap saat itu tiba, pak Bima sudah ada yang urusin. Sudah punya istri maksud ibu."


Bima hampir tersedak kopi yang sedang di seruputnya mendengar perkataan ibu Sri. Bima teringat jika beberapa hari yang lalu mamanya yang berdomisili di Bali menanyai kapan Bima akan menikah. Jika belum punya calon maka kedua orang tua Bima sepakat akan menjodohkan Bima dengan putri sahabat mereka yang juga ada di Bali.


Hah... Bima semakin pusing memikirkan dirinya sendiri. Bima juga lelaki normal, dia juga ingin punya keluarga kecil yang bahagia tapi sejak meninggalnya dua putra Mila hanya karena seorang perempuan membuat Bima mengenyampingkan perihal asmara.


Perempuan adalah salah satu penyebab keterpurukan dan sumber kehancuran seorang laki-laki, itulah yang kini ada di pikiran Bima.


Posisinya sebagai pimpinan Suntama Group dan rencana perjodohannya yang dikatakan mamanya menambah pusing kepala Bima.


"Tadi dijemput sama teman cowoknya juga?"


"Mana saya tahu, pak. Tanyain pak Eko aja, pak."


"Kok jadi pak Eko?"


"Emi kan udah pulang dari semalam."


"Tunggu, maksudnya gimana?"


"Saya kan sudah bilang kalau semalam itu Emi sudah pulang sama pak Eko."


"Pulang?"


"Iya, pulang kerumahnya. Semua pakaian dan barang-barangnya juga dibawa tak tersisa sama sekali. Tidak meninggalkan jejak sedikitpun di rumah ini."


Drett...


Bunyi kaki kursi saat Bima berdiri dan berlari ke kamar Emi. Dibukanya pintu kamar itu dan seperti yang ibu Sri katakan tadi, bersih dari jejak barang-barang Emi yang selama ini menempel dan menggantung di sana, sudah tidak ada lagi. Sprei, selimut dan bantal sudah dilepas dan disimpan.


Seolah tak percaya dan ingin memastikan lagi, Bima membuka lemari.


Kosong.


Lemari itu kosong melompong.


Argh....


Brukkk...

__ADS_1


"Siall!"


Refleks Bima menendang pintu kamar yang kemarin di banting dan kali ini di tendang.


__ADS_2