
Hari semakin sore tapi Emi belum juga pulang. Entah sudah berapa kali Bima mengitari jalanan sekitar kantor menuju rumahnya tapi belum juga menemukan Emi. Bima tidak tahu lagi harus mencari Emi kemana.
Pikiran Bima sungguh tidak tenang saat ini. Ia membayangkan apa yang dikatakan Nola, ia takut jika saat ini Emi sedang menangis dan ada seseorang yang berusaha menenangkannya, yaitu Bian. Sungguh Bima tidak berharap ada Bian bersama Emi saat ini.
Tidak tahu harus mencari kemana lagi, Bima memutuskan pulang dan menunggu Emi di rumah.
Di sebuah taman yang biasa dikunjunginya bersama Bian, Emi menangis mengingat Bima dipeluk dan dicium seorang wanita.
Mungkin tidak akan terasa begitu sakit bagi Emi melihat pemandangan itu jika tidak ada perlakuan dan perhatian manis dari Bima beberapa hari ini.
Emi tidak akan menanyakan apapun lagi pada Bima karena yang dia lihat di lobi kantor siang tadi sudah cukup menjelaskan semuanya. Emi tidak akan lagi salah tanggap pada Bima.
"Om Bima jahat," gumam Emi disela-sela sesegukannya. "Jahat!"
Ia bertambah kesal mengingat saat Bima menciumnya. Kuat-kuat ia mengusap kening dan pipinya.
"Dasar bodoh!"
Kali ini Emi merutuki kebodohannya yang begitu mudah hanyut pada perlakuan Bima.
Beberapa orang yang lewat mengasihani Emi yang sedang menangis. Seorang gadis menangis di balik sebuah pohon di taman sambil tak berhenti menghapus air matanya.
"Pasti lagi patah hati," ucap seseorang saat melewati Emi.
..........
"Lapor polisi aja, pak. Ibu khawatir soalnya udah jam setengah sembilan malam. Kalau ada apa-apa sama Emi gimana?"
Bima semakin pusing, dia baru kembali lagi ke rumah dari mencari Emi setelah sebelumnya pulang dan menunggu di rumah.
Melapor polisi bukanlah ide yang buruk tapi waktunya belum ada 1×24 jam apalagi Emi sudah tujuh belas tahun, sudah termasuk orang dewasa.
Bima yakin Emi pasti pulang entah ke rumahnya ataupun ke rumah bundanya. Bima masuk ke dalam kamar Emi dan duduk di tepi tempat tidur.
Kau pergi kemana, pulanglah. Jangan membuat aku khawatir.
Bima mengambil foto keluarga di atas meja belajar Emi. Ia membongkarnya karena ia ingat ada fotonya dibalik foto keluarga itu.
Bima tidak lagi melihat foto dirinya di sana, itu membuatnya mendengus.
Klek!
Pandangan Bima langsung tertuju pada pintu kamar yang dibuka seseorang. Seperti keyakinan Bima, Emi akhirnya pulang juga.
Wajah Emi terlihat lesu dan tidak bersemangat saat masuk ke dalam kamar. Ia melihat ada Bima tapi dia tidak perduli dan tidak mengatakan apapun.
Untuk sesaat Bima diam di tempatnya sambil memperhatikan wajah Emi. Gadis itu meletakkan ranselnya di atas meja dan melirik pada bingkai foto yang tergeletak begitu saja. Emi berterimakasih pada dirinya karena sudah mengeluarkan foto Bima dari sana dan menyimpannya di bawah tumpukan baju dalam lemari.
Bima menghela nafasnya saat Emi melewatinya begitu saja untuk mengambil baju ganti dari lemari.
Bima langsung menahan tangan Emi yang akan membuka lemari. Emi menarik tangannya dan kembali membuka lemari.
__ADS_1
Tup!
Bima menutup pintu lemari dan memeluk Emi dari belakang. Emi berontak untuk melepaskan pelukan Bima yang semakin erat. Semakin Emi berontak maka semakin Bima mendekapnya dari belakang.
"Lepas!!!!"
Suara teriakan Emi menggelegar memenuhi kamar bahkan rumah hingga kedengaran sampai dapur.
"Kau kenapa? Kalau ada masalah ayo bicara," ucap Bima setenang mungkin.
"Lepas! Aku bilang lepas!!!"
Refleks Bima melepas pelukannya saat Emi kembali berteriak. Mendengar suara teriakan ibu Sri berlari dari dapur ke kamar Emi.
"Kau kenapa, ha? Tenang dan dengar!" Bima mengangkat suaranya sambil memutar Emi hingga kini mereka berhadapan.
Pintu kamar dalam keadaan terbuka dan ibu Sri masuk begitu saja.
"Ada apa, kenapa berteriak?" tanya ibu Sri khawatir tapi senang karena Emi sudah pulang.
"Ibu Sri keluar dan tolong tutup pintunya," perintah Bima.
Ibu Sri hanya bisa menurut dan melakukan perintah Bima. Ia menutup pintu kamar Emi dan kembali ke dapur.
"Perasaan tadi pagi adem waktu di meja makan tapi sekarang teriak-teriak," gumam ibu Sri.
Masih dengan posisi berhadapan, Bima menangkup wajah Emi namun segera tangannya di tepis. Emi mundur sambil mengibaskan tangannya agar Bima tidak mendekat dan menyentuhnya.
Bima terus mendekati Emi yang mulai mengeluarkan air mata. Tepisan-tepisan tangan Emi semakin melemah hingga akhirnya berhenti dan Bima langsung meraih kedua lengan Emi, membawanya ke dalam pelukan dan mendekapnya erat.
Tangis Emi pecah, Bima membiarkannya saja tanpa mengatakan apapun tapi tidak melepas pelukannya.
Beberapa menit berlalu, tangis Emi semakin mereda. Perlahan Bima merenggangkan pelukannya dan menuntun Emi untuk duduk di pinggir tempat tidur. Emi masih menepis tangan Bima yang ingin menghapus air matanya.
Bima meraih kedua tangan Emi dan berjongkok di hadapannya. Bima menggenggam kuat tangan Emi yang memberontak ingin dilepas.
"Katakan ada apa?" bujuk Bima lembut.
"Jahat. Om Bima jahat. Jangan baik samaku lagi, jangan perhatian lagi dan jangan cium aku lagi. Aku nggak mau dan aku nggak suka."
"Kalau aku nggak mau gimana, hem?" tanya Bima yang lalu mencium tangan Emi.
"Om Bima bisa peluk wanita itu dan juga cium sebanyak-banyaknya, jangan aku."
"Hem... Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya tapi kau sudah salah paham. Namanya Gaby. Wanita yang kau lihat di lobi kantor itu namanya Gaby."
"Aku nggak tanya dan juga nggak mau tahu. Dia siapa nggak ada hubungannya denganku."
"Kalau gitu kenapa menangis?"
Emi membuang muka, ia tidak mau menjawab pertanyaan Bima.
__ADS_1
"Kami baru bertemu lagi hari ini. Aku juga nggak tahu dia tiba-tiba datang untuk menemuiku. Dan yang paling penting dia hanya masa lalu," jelas Bima.
"Tapi dia peluk dan cium om Bima. Kalian juga pergi berdua."
"Aku tidak mungkin meneriakinya saat di lobi. Aku membawanya dari sana untuk bicara dengannya. Dia memintaku untuk kembali padanya dan aku menolaknya."
"Kenapa? Bukannya om Bima suka, dia cantik dan dewasa."
"Tapi yang aku suka itu gadis kecil dan imut, dan itu kamu."
"Bohong!"
Emi menghempaskan tangan Bima dan menjauh darinya. Bima mengikuti langkah Emi yang sedang membuka laci tasnya dan mengeluarkan ponsel.
Begitu mudah Bima mengangkat tubuh kecil Emi dan mendudukkannya ke atas meja belajar. Bima langsung menyangga kedua tangannya di kiri dan kanan meja untuk mengunci pergerakan Emi.
"Minggir, aku mau mandi. Mulai besok pak Eko aja yang antar ke sekolah," ucap Emi.
"Aku sudah cerita yang sebenarnya, kenapa masih marah?"
"Om Bima jahat. Om Bima cuman pura-pura baik ajakan? Lain kali jangan peluk apalagi cium aku, aku nggak suka. Om Bima juga pasti suka kan dipeluk dan dicium wanita itu?"
Hah...
Sabar, Bim... Sabar... Ingat, dia masih tujuh belas tahun. Kau harus lebih mengerti.
Kepala Bima pusing karena Emi masih membahas hal yang sama.
"Kau tidak percaya?" tanya Bima menarik tubuhnya menjauh dari Emi.
"Enggak!"
Bima menarik nafas, mengeluarkannya dan akhirnya lepas kendali. Bima meluapkan semua apa yang ia rasa dengan suara yang membuat Emi merinding. Tidak hanya itu, sesekali Bima menggigit giginya sangkin geramnya pada Emi.
"Kau pikir ini mudah untukku? Kau yang memulainya, kau yang menyukaiku lebih dulu. Kau masuk kesini dan tidak mau keluar," menunjuk dadanya. "Aku selalu meyakinkan diriku kalau aku tidak menyukaimu. Aku tidak ingin menyukaimu karena tidak ingin perjuanganku selama ini sia-sia. Aku hanya ingin melakukan tugasku dengan baik sampai saatnya nanti aku bebas dan pergi tanpa kesalan lagi."
Bima menarik nafas lagi dengan sorot mata yang begitu tajam menatap Emi.
"Kau berhasil membuatku menyukaimu. Aku menyukaimu tapi kau menuduhku hanya pura-pura. Aku sudah jelaskan siapa Gaby tapi masih saja tidak percaya. Aku memeluk dan menciummu itu memakai hati, aku tidak akan melakukan hal seperti itu pada orang yang tidak aku suka. Apa kau pikir semua itu gampang untuk aku lakukan?"
Emi menelan salivanya susah payah. Harusnya dialah yang saat ini marah tapi yang ada justru sebaliknya. Bima membuat Emi jadi ketakutan sekaligus senang karena pengakuan Bima.
"O-om Bima baik-baik aja?" tanya Emi memberanikan diri.
"Dan kau!"
Emi menahan nafas karena Bima sepertinya belum selesai dengan acara marah-marahnya. Kini Bima kembali mendekat dan berdiri tepat di hadapan Emi.
"Kau mengatakan menyukaiku tapi kau juga sangat dekat dengan temanmu yang namanya Bian. Kau selalu memujinya, apa-apa Bian, Bian dan Bian. Kau suka dia? Ayo jawab, yang kau suka sekarang itu siapa? Aku atau Dia? Bima atau Bian?"
"Bima," jawab Emi langsung. Aku sukanya Bima bukan Bian."
__ADS_1