CEO Pengganti

CEO Pengganti
Kencan


__ADS_3

"Om Bima sejak kapan suka aku?"


"Aku juga nggak tahu."


Emi yang sedari tadi bergelayut manja dengan menyandarkan kepala di bahu Bima refleks mundur.


"Mana bisa seperti itu," rengek Emi. "Aku suka om Bima sejak bunda kenalin om sama kami tapi om nggak tahu sejak kapan suka aku."


Bima meraih kepala Emi dan menyandarkan kembali di bahunya.


"Aku memang nggak tahu tapi tiba-tiba aja kamu sudah ada di sini," ucap Bima menunjuk dadanya. "Terkadang kita sendiri tidak bisa tahu kapan rasa suka pada seseorang itu muncul."


"Iya sih, kita juga nggak bisa tebak kita sukanya sama siapa. Contohnya om Bima, iyakan?"


"Aku? Kenapa dengan aku?"


"Iya, om Bima dulu cuek dan nggak perduli sama aku sejak ketemu tapi siapa sangka kalau sekarang ada aku di sini, benerkan?" Kali ini Emi yang menunjuk dada Bima.


Bima hanya tersenyum dengan anggukan kepala. Benar apa yang Emi katakan, dia tidak pernah menyangka akan menyukai gadis kecil yang bersandar di bahunya saat ini.


"Om Bima belum ngantuk?"


"Kenapa? Apa kau sudah ngantuk?"


"Sedikit."


"Sebentar lagi, setidaknya sampai ibu Sri pulang. Kalau ada dia kau tidak akan mau seperti sekarang ini."


"Hehehe... Malu kalau tiba-tiba dilihatin ibu Sri," gelak Emi.


Saat ini Bima dan Emi sedang diruang tamu, bersantai di hadapan televisi yang menyuguhkan acara debat kuasa hukum dari kejadian yang sedang viral beberapa bulan terakhir.


Megenai ibu Sri, wanita itu sedang ada acara arisan sesama ART di komplek perumahan.


"Bosan, aku ganti aja siarannya."


Emi mengambil remote dan mencari acara televisi yang menurutnya lebih seru dibanding yang sebelumnya. Tangan Emi berhenti pada channel asal negeri ginseng. Seperti gadis remaja kebanyakan, Emi juga menyukai drama dari negara itu.


"Ini aja," ucap Emi yang lalu meletakkan remote dan kembali duduk di sebelah Bima.


Bima merubah posisi mereka, semakin mendekatkan Emi padanya dan menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Emi. Lama-kelamaan kepala Emi semakin turun hingga bersandar di dada Bima.


Berkencan di rumah, itulah yang sedang mereka lakukan.


Hanya Emi yang fokus menyaksikan drama romantis di hadapannya sedangkan Bima lebih fokus pada Emi. Mengelus-elus pipi hingga dagu gadis itu menjadi hal yang paling di sukai Bima saat sedang berduaan.


Kecupan-kecupan singkat tak lupa Bima daratkan di pucuk kepala Emi.


"Apa ada yang ingin kau lakukan?" tanya Bima


"Tentang apa?"


"Bukannya sekarang kau punya pacar? Apa tidak ada yang ingin kau lakukan seperti pasangan lain?"

__ADS_1


"Benarkah? Apa aku bisa melakukannya dengan om Bima?" Emi begitu antusias menanyakannya pada Bima.


"Em, selagi masih bisa dilakukan kenapa tidak?"


"Janji?"


"Aku akan melakukannya untukmu."


"Kalau gitu ayo kita lakukan. Pergi kencan ke luar, jalan sambil gandengan tangan, nonton dan kasih aku hadiah. Bagaimana?"


Ada banyak hal yang ingin Emi lakukan bersama Bima tapi tiga hal itu adalah yang bisa dipikirkannya saat ini. Untuk yang lainnya akan ia pikirkan nanti.


"Baik, ayo kita lakukan akhir pekan nanti," ucap Bima menyanggupi permintaan Emi.


Kencan, mereka akan berkencan akhir pekan nanti. Emi senang dan memeluk Bima, ia akan berkencan seperti pasangan pada umumnya.


Emi kembali fokus pada tontonan di depannya, ia sudah melewatkan alurnya beberapa menit dan saat ini dilihatnya pemeran pria dalam drama tersebut tiba-tiba mencium bibir wanita yang menjadi lawan mainnya.


Kedua manik Emi membola seraya menahan nafas. Jujur Emi belum pernah menyaksikan tontonan seperti yang saat ini di hadapannya. Selama ini Emi hanya menonton film yang sudah lulus sensor.


Sebelum Emi melepas pelukannya, Bima sudah terlebih dahulu meraih remote dan mematikan televisi. Bima berdehem diikuti posisinya yang yang melonggarkan pelukan Emi.


"Sudah malam, tidurlah."


"I-iya, sudah malam, a-aku harus tidur, besok sekolah."


Refleks Emi berdiri dan berlari kecil menuju kamarnya. Namun sebelum menekan handle pintu Bima memanggilnya.


"Emi?"


"Selamat malam, tidur yang nyenyak."


Emi tersenyum menganggukkan kepala dan tak lama ia masuk ke kamarnya sedangkan Bima tertawa kecil merasa lucu pada tingkah malu-malu Emi.


*Hah... Bima, kau luar biasa. Gadis yang selalu kau dorong agar menjauh darimu justru dialah yang menjadi alasan senyummu kembali lagi. Gadis yang tidak pernah kau anggap justru dialah yang sekarang penghuni hatimu.*


.....


Akhir pekan untuk berkencan di luar pun tiba. Seperti yang sudah Bima dan Emi sepakati, keduanya kini sedang duduk menyaksikan layar lebar bersama ratusan orang lainnya.


Sejak memasuki area bioskop Bima tak henti menggenggam tangan Emi. Seperti pasangan lainnya, keduanya saling melempar senyum sambil berbagi minuman ringan dan popcorn. Hal biasa dan sederhana namun begitu berharga bagi Emi.


Usai dari bioskop keduanya mengisi perut mereka di restoran Korea milik Sammy. Ingin memiliki privasi, Bima memilih private room, tidak seperti saat pertama kali Bima mengajak Emi kesana.


"Aku nggak terlalu lapar, om."


"Aku juga."


"Kalau gitu kita pesan ramen dan gimbap aja, gimana?"


"Yakin hanya itu saja?" tanya Bima memastikan.


"Iya, cukup."

__ADS_1


"Baiklah."


Bima menekan bel yang tersedia di atas meja, tak lama seorang pelayan masuk.


Lima belas menit adalah waktu yang pelayan tersebut ucapkan untuk pesan Bima dan Emi disajikan, setelahnya ia keluar.


"Om Bima sering ke sini ya?"


"Lumayan."


"Dengan siapa?"


Bima tertawa kecil melihat wajah Emi. Bagaimana tidak, wajahnya seperti seseorang yang sedang mengintrogasi.


"Ekhem. Memangnya kenapa?"


Bima merapatkan duduknya dengan Emi dan pandangannya begitu lekat menatap sang gadis.


"Eng-enggak kenapa-kenapa. A-aku cuman nanya aja," jawab Emi gelagapan. "O-om Bima geser sedikit, aku sempit duduknya."


Pandangan Bima yang tadinya tertuju pada kedua bola mata Emi kini turun pada bibir ranum dihadapannya. Bibir yang belum tersentuh oleh pria manapun.


Tak sadar Bima menelan liurnya hingga jakunnya naik-turun. Gadis kecil yang sebelumnya tak pernah Bima anggap kini seolah menyihirnya.


"Om Bima mau apa?"


Suara Emi tertahan saat Bima semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan.


"Sampai kapan?"


Kini suara Bima yang menjadi begitu berat diikuti deru nafas yang memburu.


"A-apanya yang sampai kapan, om?"


"Sampai kapan kau memanggilku dengan sebutan 'om'? Panggilan itu sangat menyakitkan di telingaku. Aku tidak suka."


Bima menarik panjang nafasnya yang semakin memburu dan menerpa wajah Emi.


"Kalau gitu aku harus panggil apa? Apa seperti 'kakak' aja seperti kak Justin dan Kevin?"


"Apa kau akan menyamakan panggilan untuk pacarmu dengan kakakmu?"


Gantian saat Emi yang menelan salivanya dengan jantung yang berdegup kencang saat Bima semakin mengikis jarak diantara mereka.


Dapat dirasakan Emi wajahnya yang diterpa hembusan nafas Bima. Keduanya sama-sama tertuju pada bibir yang ada dihadapan masing-masing.


"O-om Bima?" panggil Emi begitu deg-degan.


"Sttt... Jangan berisik."


Emi beralih pada manik Bima yang sudah tertutup. Emi berkedip-kedip saat untuk pertama kalinya merasakan bibir seorang pria menyentuh bibirnya. Berdesir, itulah yang pertama kali Emi rasakan.


"Permisi, pesanannya sudah siap dan akan kami sajikan."

__ADS_1


Baru saja bibir Bima akan bergerak, suara dari luar langsung menghentikannya. Buru-buru Emi mendorong Bima dan mengatur nafasnya, hal sama yang juga dilakukan Bima.


__ADS_2