CEO Pengganti

CEO Pengganti
Rezeki Anak Soleh


__ADS_3

Andai saja Emi punya uang dia tidak akan menunggu Bima untuk mengantarnya ke sekolah. Uang disaku Emi hanya sisa dua ribu rupiah lagi. Jika naik kendaraan umum maka uangnya akan kurang buat ongkos. Ingin menghubungi pak Eko, pulsa di ponselnya tinggal sepuluh rupiah lagi.


Satu-satunya orang yang diharapkan Emi adalah Bian. Emi berharap Bian menghubunginya sebelum Bima keluar dari dalam rumah untuk mengantarnya ke sekolah.


Sayang, apa yang diharapkan Emi tidak terjadi. Bima keluar dengan pakaian yang g sudah rapi bak CEO pria yang sering dilihatnya dalam drama Korea.


Apaan, percuma punya wajah ganteng dan bentuk tubuh yang bagus kalau tukang minum dan perokok.


Emi mencebikkan bibirnya mengikuti Bima dari belakang menuju mobil.


"Pakai seat-belt."


Emi tidak mengindahkan ucapan Bima dengan memejamkan matanya setelah duduk di kursi mobil. Merasakan mobil sudah berjalan, Emi menghadap pada jendela di sebelahnya.


"Di depan ada polisi sedang razia, ayo cepat pakai seat-belt."


Bodoh amat!


Emi menarik seat-belt asal dan memakainya tanpa mengaitkannya. Itu salah satu bukti pemberontakan yang dilakukan Emi karena tidak diizinkan mengikuti kegiatan karya wisata.


"Pakai dengan benar," ingatkan Bima dan mengurangi laju mobil.


Sebelum perempatan jalan dimana sedang ada razia membuat Bima menepikan mobilnya. Dia tidak ingin karena hal sepeda harus berurusan dengan polisi, akan sangat buang-buang waktu apalagi di pagi hari.


Bima mencondongkan tubuhnya ke arah kiri, menarik seat-belt dan memasangkannya pada Emi. Hal itu membuat Emi kaget, apalagi saat melihat posisi Bima yang sedikit menunduk.


Aroma sampo di rambut Bima sangat harum, apalagi aroma parfum yang berasal dari leher dan tengkuk pria itu. Namun semua itu percuma bagi Emi saat mengingat apa yang dilakukan Bima dibelakang rumah semalam.


Bima mengangkat kepalanya dan berhenti tepat di hadapan wajah Emi. Bima menghela nafasnya dan melakukannya lagi.


"Aku akan membuangnya kalau masih memakainya ke sekolah," Bima menghapus lip gloss di bibir Emi untuk ketiga kalinya.


Hidung Emi mengendus saat Bima berbicara. Bau minuman dan asap rokok sama sekali tidak tercium dari Bima. Biasanya seorang perokok meski sudah mandi dan sikat gigi pasti akan ada jejak baunya yang tertinggal meski sedikit tapi tidak dengan Bima.


Tanpa Emi sadari Bima menarik sudut bibirnya, menyimpulkan senyum meski hanya sekilas saat Emi mengendus.


Bima mengambil tisu basah agar bibir Emi bersih dari cairan lengket itu.


"Hal seperti ini tidak dibutuhkan di sekolah," ucap Bima menarik tangannya dari bibir Emi. "Yang kau butuhkan adalah ini," lanjut Bima menempelkan telunjuknya di kening Emi.


Mata Emi berkedip mengangkat kepalanya hingga tatapannya dengan Bima bertemu. Nada bicara Bima yang lembut membuat Emi memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu.


"Kalau karya wisata gimana?" tanya Emi penuh harap.


Wajah Bima seketika berubah menjadi masam, ia kembali ke posisi duduknya dan melajukan mobil. Emi pikir Bima sedang dalam mode baik tapi sama saja seperti biasanya.

__ADS_1


..........


Sampai di ruang kelas, Emi disambut pembicaraan murid-murid mengenai kegiatan karya wisata yang tentunya sudah dinanti-nantikan sejak duduk di kelas satu.


Jika semalam Emi antusias maka hari ini dia begitu malas mendengar pembicaraan teman sekelasnya.


"Emi, waktu karya wisata nanti kita satu tenda ya? Jangan lupa bawa selimut, katanya tempat itu cukup dingin."


Ingin rasanya Emi berteriak mendengar perkataan Febi, berteriak jika dia tidak ikut karena tidak diberi izin.


Hingga jam pelajaran selesai dan waktunya pulang, Emi tidak mengatakan apa-apa. Saat Bian ataupun Febi membahas mengenai karya wisata maka Emi hanya berkata secukupnya saja. Emi belum memberitahu jika dia tidak ikut.


"Kamu baik-baik aja, mi?" tanya Bian merasakan jika Emi tidak begitu bersemangat seperti biasanya.


"Lagi PMS, makanya jangan dekat-dekat dulu. Tahukan kalau cewek lagi PMS itu gimana?"


"Menyeramkan," ucap Bian dengan mimik ketakutan.


"Makanya aku harus langsung pulang biar nggak ada korban."


"Iya deh, mi. Pulang aja langsung, istirahat di rumah dan jangan keluar. Kasihan kalau ada orang yang kena amuk sama kamu."


Bian menarik tangannya yang merangkul pundak Emi saat meninggalkan ruang kelas. Tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, Emi terus berjalan sedangkan Bian menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya.


..........


"Nggak kenapa-napa kok pak Eko."


"Yakin? Kalau mau cerita pak Eko siap menjadi pendengar yang baik dan dijamin nggak ember tentunya."


Emi menggeleng lemas, dia tidak mungkin cerita pada pak Eko. Masalah izin karya wisata, ATM yang di sita Bima, uang jajan yang dijatah dan hari ini tidak dapat entah karena Bima lupa atau memang sengaja tidak memberi Emi tidak peduli. Semua itu tidak mungkin Emi ceritakan, dia takut pak Eko mengadu saat bundanya menelpon.


"Emi pasti udah lapar ya? Kelihatan dari mukanya pengen makan orang. Hahaha..."


Pak Eko tertawa untuk bercanda dan hal itu berhasil membuat Emi terkekeh.


Emi tidak bisa menahan tawanya setiap kali pak Eko bercanda padanya.


"Tapi ngomong-ngomong pak Bima gimana? Ada kemajuan?"


Emi memanyunkan bibirnya menjawab pertanyaan pak Eko.


"Ternyata ada kemajuan, iya benar ada," monolog pak Eko. "Bibir Emi semakin maju ke depan. Hahaha..."


Lagi-lagi Emi ikut tertawa mendengar perkataan pak Eko. Suasana hati Emi yang gelap sedikit tercerahkan oleh candaan pak Eko.

__ADS_1


"Pak Eko lucu deh, kalau pak Eko ikut tinggal di tempat om Bima pasti Emi nggak kesepian. Ada sih ibu Sri tapi nggak lucu seperti pak Eko."


"Waduh, kasihan istri bapak dong tinggal sendiri di rumah bunda kamu. Ibu Nani nggak bisa hidup tanpa pak Eko, jadi maaf ya?"


"Iya, Emi tahu. Andaikan om Bima seperti pak Eko pasti aku senang tinggal di sana."


Pak Eko mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja dan melihat panggilan dari Bima. Sebuah ide muncul dibenak pak Eko, dia menjawab panggilan telepon dari Bima dan membiarkannya begitu saja.


"Sabar aja, pak Bima orangnya baik."


"Apanya yang baik, Emi nggak bisa kemana-mana sekarang. Pergi sekolah diantar om Bima, pulangnya dijemput pak Eko dan nggak boleh kemana-mana. Nggak bisa main sama Bian, kerumah bunda juga harus izin dulu," sungut Emi.


"Oh ya? Kalau gitu bagus dong, itu tandanya pak Bima jagain Emi biar nggak kenapa-napa."


"Apanya yang bagus, pakai lip gloss ke sekolah aja nggak dibolehin," gerutu Emi.


"Terus apalagi?" tanya pak Eko memancing agar Emi meluapkan kekesalannya.


"Iya, ATM Emi yang dikasih bunda diambil, jajan dijatah. Hari ini aja Emi nggak dikasih uang jajan, ponsel Emi nggak berguna tanpa pulsa dan paket. Emi bosan nggak tahu mau ngapain. Emi mau ikut karya wisata di sekolah aja nggak diberi izin. Gimana nggak kesel pak Eko? Dia sakit Emi bantuin tapi nggak bilang makasih. Kaki Emi mau patah rasanya harus lari-larian buat beli obat di apotik buat dia. Mana uang beli obat Emi pinjam dari ibu Sri, belum dibayar lagi. Emi sesak nafas dan khawatir tapi dia-"


Sadar dengan apa yang baru saja dikatakan, Emi menutup mulutnya yang sudah keceplosan.


"Ini lagi, nggak bisa diam," memukul-mukul mulutnya yang sangking kesalnya telah mengeluarkan semua isi hatinya.


"Jadi itu masalahnya? Kenapa nggak ngomong ke pak Bima?"


"Udah. Ngomong juga nggak ada gunanya. Percuma. Om Bima jahat."


"Lah, bukannya kamu suka pak Bima?"


"Enggak lagi. Emi kan udah bilang kemarin, nggak bakalan suka lagi dan lupain dia. Bima itu ngeselin, Emi nggak suka lagi sama si Bima."


Pak Eko menelan salivanya saat dengan entengnya mengatakan nama Bima tanpa embel-embel 'om'. Panggilan telepon dari Bima juga sudah terputus. Pak Eko merasa sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan Bima mendengar luapan hati Emi.


Dengan wajah kesal, Emi merogoh rok sekolahnya karena ada pesan yang masuk. Emi mendelikkan matanya, bibirnya membentuk huruf 'O'.


"Pak Eko?"


"Kenapa?"


"Rejeki anak soleh nggak kemana."


Emi menunjukkan pulsa yang masuk ke nomor ponselnya. Tidak tanggung-tanggung, pulsa yang ditransfer itu sebanyak dua ratus ribu. Emi kembali terkejut saat melihat nomor kontak yang mentransfer pulsa padanya.


Ini beneran dia?

__ADS_1


__ADS_2