CEO Pengganti

CEO Pengganti
Topi Pasangan


__ADS_3

"Kamu ngapain main basah-basahan? Apa kau pikir kau itu anak kecil? Turunkan bajumu!"


"Ha?"


Emi melongo mendapati Bima sudah berada di belakangnya dengan mata melotot karena tak biasanya Bima pulang pada jam itu.


"Emi! Turunkan bajumu!"


"Baju?"


Pandangan Emi langsung tertuju pada ujung baju yang diremasnya. Emi menunduk dan baru menyadari jika bagian perutnya hingga pinggang terekspos jelas.


Emi... Dasar bego! Ceroboh!


Perlahan Emi menurunkan bajunya dan melepaskan tangannya.


"Apa kau sudah gila, hah? Kalau ada laki-laki yang lihat penampilanmu seperti tadi gimana?!" bentak Bima.


"Maaf."


"Maaf? Kau itu seorang gadis, harusnya lebih berhati-hati dengan dirimu."


"Aku udah minta maaf, kenapa masih marah? Lagian hanya ada aku dan ibu Sri di rumah ini, aku juga nggak sengaja."


"Lalu aku siapa? Apa aku bukan penghuni rumah ini?"


"Bukan gitu, aku nggak tahu kalau om Bima pulang lebih cepat dari biasanya. Lagian kenapa harus marah-marah? Bukannya aku juga masih kecil, iyakan? Om Bima sendiri yang pernah bilang aku ini hanya gadis kecil, anak sekolahan. Kalaupun ada yang lihat pasti biasa-biasa aja, benarkan?"


"Emi!!" teriak Bima emosi. Bima berteriak di rumahnya sendiri.


"Apa?!" balas Emi dengan teriakan.


Bima memijit tengkuknya yang terasa tegang setelah berteriak tadi dan mendapat teriakan lagi dari Emi.


"Itu," tunjuk Bima pada selang air yang terus mengalir. "Apa kau berencana untuk membanjiri rumah ini?"


Emi paham maksud perkataan Bima dan langsung mengambil selang air.


Bub!


Untuk kedua kalinya Emi terpeleset saat akan mematikan keran air. Emi bangkit berdiri, mematikan keran air dan melemparkan asal selang ditangannya.


Emi melewati Bima begitu saja dan masuk ke dalam rumah.


"Kau pasti sudah gila Bima," gumamnya melihat sekujur tubuh Emi yang basah kuyup.


Bima mendengus, menghela nafasnya melihat sekeliling yang sudah terkena rembesan air.


"Walah... Ada hujan ya, pak?"


"Hujan?"


"Buktinya ini basah semua."


Ibu Sri yang hendak menyiram tanaman melihat kaget pada sekelilingnya juga, sama seperti Bima. Wanita itu tidak tahu apa yang sudah dilakukan Emi tadi karena sedang membersihkan bagian dalam rumah.


"Iya, hujan lokal," ucap Bima yang lalu meninggalkan ibu Sri dan masuk ke rumah.


"Lagi?"


Ibu Sri yang kurang paham maksud dari perkataan hujan lokal yang diucapkan Bima hanya bisa mengerutkan keningnya. Jika hujan lokal pagi tadi membasahi wajah Bima maka hujan lokal saat ini membasahi pekarangan rumah Bima.


Ibu Sri kembali ke dalam karena sudah ada hujan lokal yang menyirami tanaman bunga.


"Ibu Sri?"


"Ada apa, pak?"


"Tolong ke kamar Emi, kasih tahu dia satu jam lagi kami akan keluar."


"Baik, pak."


Mendapat perintah dari sang majikan, ibu Sri langsung melakukannya. Tidak ada sahutan dari Emi saat pintu kamarnya di ketuk. Ibu Sri masuk dan menunggu Emi di dalam kamar, menunggu Emi yang ternyata sedang mandi.

__ADS_1


"Ibu?"


"Iya, maaf, ibu masuk nggak permisi dulu soalnya kamu lagi mandi tadi waktu ibu ketok pintu," ucap ibu Sri merasa tak enak.


"Nggak kenapa-napa, bu. Ada yang perlu?" tanya Emi mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


"Nak Emi siap-siap, satu jam lagi bakalan keluar sama pak Bima," beritahu ibu Sri.


"Keluar? Memangnya mau kemana, Bu?"


"Kalau itu ibu nggak tahu, mending sekarang siapa-siap, jangan sampai pak Bima yang nunggu. Ya udah, ibu pergi dulu."


"Iya, Bu."


Emi bersiap meski dia tidak tahu akan pergi kemana apalagi perginya dengan Bima. Selama kenal bahkan tinggal dengan Bima, belum pernah sekalipun Emi diajak keluar apalagi sekarang sudah hampir petang hari.


Kaos putih dengan dengan rok sedikit di atas lutut menjadi pilihannya. Emi memoles wajahnya dengan bedak tipis dan tak melupakan pewarna pada bibirnya.


"Bodoh amat kalau lipstiknya di hapus lagi. Bukan waktunya ke sekolah jadi tidak boleh dilarang," ucap Emi melihat penampilannya di cermin.


"Let's go..."


Emi mengambil tas kecil dari dalam lemari untuk disandangnya dan berlari ke arah rak sepatu dekat pintu untuk memakai sneakers putih.


Sekitar lima menit setelah Emi selesai dan menunggu di dekat mobil, Bima keluar dari dalam rumah dan penampilannya berhasil membius perhatian Emi.


Ganteng!


Di dalam hati Emi berseru mana kala melihat Bima keluar dengan penampilan yang belum pernah dilihatnya. Selama ini Emi selalu melihat penampilan Bima yang bagaikan seorang CEO dalam drama Korea atau jika sedang berada di rumah melihatnya dengan pakaian santai saja atau baju tidur.


Bagaimana tidak terbius, saat ini Bima mengenakan kaos putih yang ujungnya dimasukkan ke dalam celana kain abu-abu dan sepatu kets putih di kakinya. Penampilan Bima semakin terlihat keren saat berjalan dengan tangan kirinya berada dalam saku celana.


"Ayo masuk," ucap Bima menyadarkan Emi.


Emi memegang dadanya dan mengingat janji yang dibuatnya untuk tidak menyukai Bima. Emi sudah berjanji untuk melupakan dan tidak menyukai pria itu lagi. Namun keinginannya terasa begitu sulit setiap kali melihat penampilan Bima apa lagi belakangan ini sikap Bima yang sedikit membaik.


"Emi?" panggil Bima karena Emi belum masuk ke dalam mobil.


Rasa penasaran Emi tak bisa ditahannya manakala sepanjang jalan Bima tidak ada mengatakan apapun termasuk kemana mereka akan pergi dan untuk apa. Diliriknya Bima dan hal itu langsung ketahuan karena Bima sedang memperhatikan jalan sebelah kiri melalui kaca spion.


"Kenapa?" tanya Bima tanpa melihat pada Emi.


"Kita mau kemana?"


"Sebentar lagi juga akan sampai."


Emi menghela nafas karena tidak mendapat jawaban pasti dari pertanyaannya.


"Makasih," ucap Emi.


Sekilas Bima menoleh pada Emi dan langsung kembali pada fokusnya untuk menyetir karena sedang macet.


"Makasih sudah di beri izin ikut karya wisata itu."


"Em," jawab Bima singkat.


Is, kalau lagi marah ngomongnya banyak tapi kalau lagi mode baik irit amat ngomongnya.


Tidak dipungkiri jika Emi sangat senang saat ini. Bisa berdua dengan Bima hal yang dulu selalu dia impikan meski terkadang serasa dalam kuburan saat berada dalam mobil.


"Om Bima?"


"Ada apa?"


"Masih jauh lagi?"


"Sebentar lagi kalau tidak macet."


"Om Bima?"


"Apalagi?" melihat jengah kearah Emi.


"Apa aku harus menghapus ini juga?" tanya Emi menempelkan telunjuknya pada bibir miliknya.

__ADS_1


Bima merasa posisi duduknya yang nyaman sedikit terganggu saat melihat apa yang ditunjukan Emi.


"Tidak usah."


"Kenapa? Bukannya om Bima selalu melarang memakainya?"


"Kau hanya tidak boleh memakainya kesekolah."


Emi masih ingin bertanya tapi mengurungkan niatnya saat Bima belok ke kanan dan memasuki parkiran sebuah pusat perbelanjaan.


Wajah Emi berseri, selama tidak ada bundanya, Emi tidak pernah lagi belanja di mall. Namun Emi juga merasa aneh karena Bima tiba-tiba mengajaknya.


"Ayo turun."


Dengan gerak cepat Emi sudah berada di luar mobil saat Bima baru saja mematikan mesin mobil. Bima tersenyum menahan tawa melihat antusias Emi.


"Ayo," ajak Bima memasuki pusat perbelanjaan.


Keduanya berjalan beriringan seperti sepasang kekasih, gadis belasan tahun dengan pria dewasa.


Emi mengikuti kemana Bima berjalan sambil tak berhenti melihat ke kiri dan ke kanan.


"Apa yang kau butuhkan?"


"Aku?"


"Apa yang kau butuhkan untuk karya wisata itu?"


"Jadi untuk itu kita kesini?" tanya Emi senang.


"Em. Tunggu sebentar, aku akan ambil troli."


Sarangheo, om Bima.


Sambil tersenyum Emi membentuk tanda cinta menggunakan jempol dan telunjuknya pada Bima yang sedang berjalan ke arah troli.


Sebenarnya tidak banyak yang diperlukan Emi. Belanja keperluan untuk karya wisata adalah alasan Bima mengajak Emi untuk membeli kebutuhan pribadi gadis itu.


Emi mengambil apa saja yang dibutuhkannya dan memasukkannya dalam troli yang di dorong oleh Bima.


"Apa aku bisa ambil ini?" tanya Emi menunjukkan sepasang topi yang dirajut.


"Kau hanya butuh satu, ambil yang lain."


"Tapi aku mau yang ini," ucap Emi berharap.


"Itu topi pasangan, sudah ada pengaitnya dan tidak bisa dilepas. Pilih yang lain."


"Justru karena ini topi pasangan, boleh ya om?"


"Nggak!" tegas Bima.


Kau akan memberi yang satunya lagi pada temanmu yang bernama Bian itukan?


Bima mendorong troli, berjalan meninggalkan Emi yang merengut.


Tak!


Emi memutus tali putih yang menyatukan sepasang topi rajut ditangannya. Emi memakaikan warna putih ke kepalanya dan berlari menghampiri Bima dengan satu topi lagi ditangannya.


"Om Bima?"


Bima berbaik dan menghela nafas melihat topi yang sudah dipakai Emi.


"Emi!"


"Bagus, bolehkan?" pinta Emi mengiba.


"Lalu yang satu lagi?"


Emi melangkah mendekati Bima, ia berjinjit dan memakaikan topi yang satu lagi di kepala Bima, topi berwarna cokelat.


"Yang satu lagi buat om Bima."

__ADS_1


__ADS_2