
Makan siang hari ini dilakukan Bima di ruangannya. Sambil membaca satu per satu email di laptopnya Bima mengunyah makanan di mulutnya.
Bertepatan dengan habisnya makan siang Bima, Nola masuk keruangan Bima setelah terlebih dahulu mengetuk pintu.
"Siang pak Bima, maaf mengganggu makan siangnya. Saya cuman mau kasih ini," ucap Nola meletakan puding di atas meja Bima. "Tadi Sammy datang anteirn makan siang buat saya, sekalian bawa ini juga untuk pak Bima," beritahu Nola.
"Makasih."
Setelahnya Nola keluar dari ruangan Bima sedangkan puding yang dibawanya tadi langsung dimakan Bima.
Sejak tadi malam Bima belum menghubungi Emi untuk menanyakan keadaannya. Sebelum menekan tanda memanggil pada ponselnya, sebuah pesan masuk datang dari Kevin.
Kevin| Aku OTW bandara di anterin pak Eko, kak. Pulang sekolah nanti Bian akan ke rumah buat jenguk Emi lagi.
Bima| Hati-hati dan belajar dengan baik.
Kevin| Pasti, kak!
Bima menelan puding yang baru di masukannya dalam mulut sambil membaca kembali pesan pertama dari Kevin.
Tapi dia bagian dari Suntama, Bima. Come on, Bim. Berpikirlah sekali lagi, dia bagian Suntama sedangkan keinginanmu saat ini hanya ingin lepas dari apapun yang berhubungan dengan Suntama.
Bima mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sungguh Bima tidak tahu harus mengikuti kata hati atau pikirannya saat ini.
Tiba-tiba ia berdiri tapi kembali duduk saat melihat pandangannya tertuju pada kursi direktur utama yang kosong di ruangan tersebut.
Ketukan di pintu membuat Bima tersentak dari pergulatan hati dan pikirannya yang tak seirama.
Nola masuk membawa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Bima.
"Tapi dia bagian dari Suntama."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Bima saat Nola sudah berdiri di hadapannya. Nola yang baru masuk dan tidak tahu apa-apa kebingungan tapi ia mencoba untuk memahami maksud dari perkataan Bima.
"Dia bagian dari apa yang selama ini ingin aku tinggalkan," ucap Bima lagi.
"Emi?"
Bima tidak menyahut saat Nola menyebut nama gadis itu. Sepertinya kini Nola paham maksud dari perkataan Bima tadi.
Nola membuka map ditangannya dan meletakan di atas meja. Nola menunjuk pada tempat yang harus ditanda tangani oleh Bima.
"Kalau tidak mau galau jangan memasukkannya sejak awal di sini," ucap Nola menunjuk dada Bima. "Maaf, aku melakukannya sebagi teman bukan sebagai sekretarismu."
"Aku tidak pernah memasukkannya ke sana. Aku tidak tahu kapan dan bagaimana tapi sudah ada dia di sana saat ini. Tidak mau keluar, lebih tepatnya tidak bisa di keluarkan."
"Itu karena kau membukanya untuk dia," geram Nola menutup map yang sudah di tanda tangani Bima. "Kau memberinya ruang dan kesempatan karena sebenarnya kau juga menginginkan dia. Menyukai gadis tiga belas tahun di bawah usiamu sepertinya membuatmu jadi sedikit bodoh. Kau hebat dalam menangani perusahaan besar ini tapi tidak untuk mengerti hatimu."
"Tapi dia bagian Suntama dan kau tahu maksudku."
"Enggak. Aku tahu maksudmu tapi tidak dengan hati dan pikiranmu. Teruslah berpikir seperti itu sampai ada orang lain yang mengambil hatinya dan jangan menyesal saat hari itu tiba."
Nola tersenyum tapi senyumannya seolah ingin mengejek.
__ADS_1
"Baik pak Bima, saya permisi dulu."
Seketika Nola sudah kembali bersikap layaknya sekretaris Bima.
"Astaga!"
Nola terkejut saat di depan pintu, saat akan keluar Bima sudah mendahuluinya di depan.
"Satu sampai dua jam, aku akan kembali ke kantor."
Bima berlari menuju lift setelah mengatakan hal itu pada Nola.
"Tidak kembali juga tidak akan ada yang memarahimu. Bagaimanapun kau direktur utamanya di sini. Semua tunduk padamu di sini," ucap Nola yang jelas tidak di dengar lagi oleh Bima.
..........
Bima menambah kecepatan mobil seiring waktu yang menunjukkan akan pulangnya anak sekolah. Suara klakson berulang kali dibunyikan Bima saat melihat sepeda motor yang dikendarai anak sekolah dengan seragam sekolah yang sama dengan Emi melewati mobil Bima.
Sampai di halaman rumah keluarga Suntama Bima langsung turun tanpa mematikan mesin mobil dan juga membuka pintu depan sebelah kiri mobil.
"Pak Bima mau jenguk Emi?" tanya ibu Nani mengekori Bima yang jalannya terburu-buru.
"Apa ada yang datang?"
"Enggak ada, pak. Pak Eko juga lagi ke bandara anterin mas Kevin."
Bima naik ke lantai dua dan membuka kamar Emi. Kedatangan Bima membuat Emi tak percaya karena sedang jam kerja. Emi tahu betul kalau bukan karena urusan mendadak ataupun hal penting, tidak mungkin Bima meninggalkan pekerjaannya di kantor.
Hal pertama yang dilakukan Bima adalah mengambil ponsel Emi dan masukkan benda pipih tersebut ke saku celananya.
"Apa kakimu masih sakit?"
Hanya anggukan kepala yang dilakukan Emi untuk menjawab pertanyaan Bima. Sama seperti Emi, Bima juga terkejut saat menyibak selimut yang menutupi setengah badan Emi.
Emi malu karena hotpants yang dipakainya begitu pendek. Ia menutup kedua matanya dengan tangan untuk menutupi rasa malunya. Bima juga terkejut dan gugup tapi ia berusaha untuk mengabaikannya.
"Om Bima mau apa?" kaget Emi lagi.
"Kita pulang!"
Bima mengangkat tubuh Emi dan menggendonganya keluar dari kamar.
Spontan Emi mengalungkan tangannya di leher Bima dan menurut pada yang dikatakannya.
Ibu Nani hanya bisa melongo melihat Bima turun menggendong Emi dari lantai dua.
"Mau di bawa kemana, pak?" tanya ibu Nani mengejar langkah Bima.
"Pulang!"
Berhati-hati Bima saat memasukkan Emi ke dalam mobil karena kakinya yang sakit dan memasang seat-belt pada Emi.
Pintu mobil langsung di tutup diikuti Bima yang kemudian masuk ke dalam mobil dan tanpa mengatakan apapun berlalu meninggalkan ibu Nani yang lagi-lagi hanya bisa melongo.
__ADS_1
Lima menit setelah kepergian Bima dan Emi, bunyi klakson motor Bian membuat ibu Nani berlari menemui Bian.
"Mau ketemu Emi ya?"
"Iya, Bu."
"Waduh, Emi-nya baru aja pergi dibawa pak Bima. Lima menit yang lalu padahal, nak Bian kurang cepat datangnya."
"Kalau gitu saya pamit, Bu. Nanti juga bisa ketemu sama Emi."
Bian menghela nafasnya, ia pulang dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sesampainya di rumah. Bian melepas tas di punggungnya, membukanya dan mengeluarkan boneka beruang salju dari dalam. Emi sangat menyukai beruang salju dan Bian ingin memberi boneka itu untuk Emi.
"Aku suka kamu, Mi."
Bian tersenyum memandangi boneka di tangannya.
..........
Seingat Emi keadaan terakhir kamarnya saat di tinggal sangat berantakan tapi saat Bima membawanya masuk ke dalam sudah begitu rapi.
Setelah meletakkan Emi di tempat tidurnya, Bima memperhatikan pergelangan kaki Emi yang masih diperban.
Dengan keberanian bercampur gugup Emi meraih tangan Bima dengan kepala mendongak menatap Bima.
"Maaf?" ucap Emi.
Bima sedikit melonggarkan dasinya dan duduk menghadap Emi dengan jarak yang begitu dekat.
"Maaf?" ucap Emi lagi memohon.
Bukannya menjawab permintaan maaf padanya, Bima malah tersenyum memperhatikan wajah Emi yang menurutnya begitu menggemaskan saat meminta maaf.
"Sekarang istirahatlah, aku harus kembali ke kantor."
Bima mengusap kepala Emi dan memberikan kembali ponselnya. Mendapat perlakuan manis seperti itu tentu saja membuat hati Emi senang,
"Aku pergi."
Bima menarik tangannya yang masih dipegang Emi dan melangkah ke luar. Langkah kaki Bima berhenti saat berada di samping mobilnya dan kembali masuk menemui Emi.
"Om Bima ada yang ketinggalan?" tanya Emi saat Bima melangkah mendekat ke arahnya.
Cup!
Mata Emi membulat sempurna tak percaya jika baru saja Bima mencium keningnya. Emi semakin tak percaya karena setelah menciumnya, Bima langsung pergi meninggalkannya.
Sesaat Emi duduk mematung di atas tempat tidurnya.
"Demi penguasa bumi dan surga, ini nggak mimpikan?"
Puk!
"Aw... Sakit."
__ADS_1
Emi menepuk pipinya dan yakin bukanlah mimpi apa yang baru terjadi.