
Tiba di parkiran gedung tempat Justin dan Kevin akan di wisuda, Bima tidak langsung masuk. Ia menghubungi Justin untuk memastikan mereka sudah tiba di dalam atau tidak. Bima juga ingin tahu apakah Emi sudah bersama dengan mereka.
"Kami sudah di dalam aula, kak. Kak Bima dan Emi cepetan ya."
"Sebentar lagi kami sampai," ucap Bima meski tak yakin.
"Oke, kak."
Bima keluar dari mobilnya dan menunggu Emi agar masuk bersama. Sekitar sepuluh menit menunggu akhirnya orang yang ditunggu Bima datang. Emi datang dibonceng seorang laki-laki mengunakan sepeda motor.
Mata Bima memicing, ia mengingat orang yang pernah mengantar Emi pulang saat Bima meninggalkannya di tempat penjual sate beberapa bulan lalu setelah pulang dari makam.
"Bian?"
"Kenapa?"
"Ya kali aku foto pakai jaket kamu. Kalau jaketnya pas di badan aku masih mending, ini kebesaran loh, Bian. Aku nggak mau," melepas jaket yang dipakainya dan memberikannya kembali pada Bian.
"Terus gimana dong? Gantian seragam juga nggak mungkin. Yang ada aku sesak nafas pakai seragam kamu," ucap Bian bingung.
"Makanya pikirin kek caranya," rengek Emi.
"Kalau aku beli yang baru aja gimana, mi?"
"Kelamaan, Bian. Yang ada acaranya keburu kelar."
Bian memperhatikan wajah cemberut Emi dan saat itu pula ide muncul.
"Ck! Kenapa nggak kepikiran dari tadi, ya?"
"Apaan?"
"Tenang aja, aku punya ide."
Tanpa Bian dan Emi sadari sedari tadi mereka sampai, ada Bima yang terus memperhatikan mereka berdua. Bima tak melepas pandangannya saat Bian melepas ikat rambut Emi. Tak lupa Bian mengantongi ikat rambut tersebut alih-alih memberikannya pada Emi.
Kedua tangan Bian begitu leluasa memegangi rambut panjang Emi. Bian membuat rambut Emi ke arah depan dan merapikannya. Noda di baju Emi tertutupi sempurna oleh rambut panjang, lurus dan lebat milik gadis itu.
"Sempurna!" ucap Bian.
"Yakin?"
"Sembilan puluh sembilan persen."
"Satu persennya hilang kemana?"
"Aku umpetin buat aku simpan," jawab Bian asal. "Sudah, ayo."
Bian meraih tangan Emi, keduanya berlari menuju tempat wisuda. Dari belakang Bima berjalan santai mengikuti mereka.
Lantai lima sebuah hotel berbintang menjadi tujuan setiap tamu undangan acara wisuda. Dari tengah-tengah kerumunan banyak orang, Kevin melihat Emi memasuki aula dan melambaikan tangannya. Kevin juga melihat Emi datang bersama Bian, teman sekolah Emi yang sudah dikenalnya. Dibelakang Emi dan Bian ada Bima juga berjalan kearah kevin yang melambaikan tangan.
Acara wisuda akan segera dimulai, semua peserta wisuda dan undangan diarahkan untuk menempati posisi masing-masing. Kevin dan Justin duduk di deretan peserta wisuda yang sudah rapi dengan jubah dan toga di kepala.
Emi mengajak Bian duduk di sebelah kanannya sedangkan di sebelah kirinya ada bunda Mila yang duduk dengan anggun.
"Kenalin, Bun. Ini Bian teman sekolah dan sekelas aku. Kak Kevin juga udah kenal Bian," memperkenalkan Bian pada bunda Mila.
"Halo, tante," sapa Bian menyalami bunda Mila. "Saya Bian, teman seolah Emi," ucap Bian mengulang perkataan Emi.
__ADS_1
Bunda Mila melirik pada Emi yang senyum-senyum melambaikan tangannya pada Kevin dan Justin didepan sana. Lirikan bunda Mila berganti pada Bima yang duduk disebelah Bian.
Menyadari dirinya dilirik bunda Mila, Bima langsung membungkuk hormat.
"Tadi datang dengan siapa ke sini?"
"Ha? Oh, tadi sama Bian, naik motornya, Bun."
"Bukan dengan Bima?"
"Bukan, Bun. Katanya tadi ada keperluan. Bunda nggak usah khawatir, Bian pelan kok bawa motornya, nggak ngebut."
Dari arah depan pembawa acara sudah mulai memandu rangakaian kegiatan selama beberapa jam kedepan. Acara diikuti oleh ribuan peserta baik wisudawan maupun undangan. Satu persatu rangkaian acara dimulai hingga tiba pada kata sambutan dari pemilik yayasan. Emi bersorak diikuti tepukan tangannya melihat pada bunda Mila di kirinya.
"Ayo, Bun. Bunda dipanggil ke depan sana," ucap Emi antusias.
Bunda Mila tersenyum melihat antusias Emi namun ia menggelengkan kepalanya pada gadis itu. Sekali lagi pembawa acara meminta kepada pihak yayasan untuk memberi kata sambutan.
Ekhem!
Bukannya pergi ke depan, bunda Mila malah berdehem di tempat duduknya dan menatap Bima lekat.
"Bunda, ayo kedepan. Bunda sudah dipanggil lagi," ingatkan Emi.
"Bima?!" panggil bunda Mila.
Seketika pandangan Emi beralih pada Bima disebelah Bian. Emi sama sekali tidak mengerti maksud bunda Mila menyebut nama Bima.
Bima tertunduk saat bunda Mila kembali memanggil namanya disaat seperti ini. Sungguh Bima tidak ingin melakukannya lagi tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Perhatikan penampilanmu dan lakukan dengan baik, seperti biasanya," suara bunda Mila kembali tertuju pada Bima.
Tiba dan berdiri di depan podium, Bima lebih dahulu membungkuk sebelum menyampaikan kata sambutannya. Semua yang dikatakan Bima mengalir begitu saja dan tanpa kendala meski sejujurnya ia ingin langsung mengakhiri kata sambutannya secepat mungkin.
Seperti tahun sebelumnya, kali ini pun Bima menjadi pusat perhatian ribuan mata. Banyak yang berdecak kagum melihat penampilan Bima dan kata sambutannya yang sangat menyiratkan makna.
"Pak Bima, sarangheo!" teriak beberapa calon wisudawati dengan riuh tepuk tangan.
Emi menyunggingkan senyumnya pada gadis-gadis yang meneriaki Bima dengan kalimat-kalimat pujian.
"Nggak ikutan teriak, mi?" tegur Bian melihat bibir Emi yang mengerucut.
"Percuma. Nggak bakalan di gubris sama om Bima."
Mimik wajah Emi yang kelihatan cemberut tak lepas dari perhatian bunda Mila. Wanita itu hanya mengulas senyum seraya mengusap rambut Emi.
Rangkaian acara berlangsung dengan baik hingga akhir. Justin dan Kevin menghampiri bunda Mila dan yang lainnya ke kursi para tamu undangan. Satu persatu memberikan ucapan selamat pada keduanya.
Momen bahagia itu tak luput dari dokumentasi. Ada banyak foto yang mereka abadikan sejak acara dimulai.
"Selamat buat wisudanya, kak."
Secara bergantian Bian menyalami Justin dan Kevin. Bian hanya pernah bertemu beberapa kali dengan Justin sedangkan dengan Kevin sudah sangat sering. Kevin sering bertemu Bian saat mengantar Emi ke sekolah.
"Thank you, Bian."
"Sorry, kak. Aku nggak bawa hadiah. Ini aja bolos dari sekolah. Hahaha...!"
"Buset dah, tapi nggak masalah asal jangan keseringan," Kevin menggelengkan kepalanya pada Bian namun ikut tertawa.
__ADS_1
Setelah berfoto dengan Justin dan Kevin tadi, bunda Mila berbincang-bincang dengan beberapa orang tua mahasiswa dan dewan kampus.
Bian sedikit menjauh dari keramaian, ia menerima panggilan telpon. Bian menggaruk kepalanya karena harus pulang untuk menjemput kakaknya di bandara yang baru pulang dari liburannya.
"Kenapa, Bi?" tanya Emi saat Bian kembali bergabung.
"Aku balik dulu ya, mau jemput kak Karina di bandara. Suaminya lagi kerja dan nggak bisa jemput."
"Ya udah, hati-hati di jalan bawa motor. Ingat, jangan ngebut."
"Dengerin tuh Bian, jangan ngebut," celetuk Kevin. "Kalau kamu kenapa-kenapa nanti nggak ada yang nemenin Emi di sekolah."
"Aman, kak. Tenang aja, aku bakal jagain Emi kok di sekolah. Aku pamit ya, kak?"
Bian berpamitan pada tiga pria di dekatnya dan juga Emi. Tak lupa menitip salam kepada bunda Mila yang sedang asik mengobrol dan tidak enak jika Bian mengganggu hanya untuk berpamitan.
Terakhir sebelum Bian pergi, ia mengacak rambut panjang Emi, sama seperti yang sering kali dilakukan Kevin pada rambut Emi.
"Bye, Emi."
Bima tidak banyak berbicara, ia bicara seperlunya saja dan menjawab singkat setiap kali ada yang bertanya.
"Ayo foto berdua," ajak Kevin pada Emi.
Kevin menarik tangan Emi membelakangi sebuah papan Bungan dimana tertulis nama Kevin.
"Kak Bima, minta tolong fotoin ya? Pakai ponsel kak Bima aja, punyaku sudah kehabisan baterai."
Bima menganggukkan kepala dan mengeluarkan ponselnya.
"Bentar, kak!"
Kevin melepas toganya dan memakainya di kepala Emi, begitu juga dengan selempangnya.
"Ayo kak, Bim."
Kevin merangkul Emi dan berpose. Ia meminta Bima untuk mengambil beberapa fotonya bersama Emi. Meski sering saling meledek dan bertengkar kecil namun Emi lebih dekat dengan Kevin sedangkan Justin lebih sering menasehati Emi dan menjadi penengah diantara mereka bertiga.
"Kirim ke nomorku ya, kak."
Bima kembali menganggukkan kepalanya dan langsung mengirim semua foto yang tadi diambilnya.
"A-a-aaa... Kak Kevin, sakit!"
Emi kesakitan saat Kevin menarik kedua pipi Emi karena merasa gemas.
"Kak Justin?" Emi merengek pada Justin meminta bantuan untuk menghentikan Kevin.
Justin menghampiri keduanya dan berkacak pinggang. Mata Justin dan Kevin bertemu dan detik kemudian mereka berdua malah menyerang pipi Emi bersamaan.
"Om Bima, tolongin?" teriak Emi namun tak di gubris sama sekali. Bima malah memainkan ponselnya.
Meski asik mengobrol dengan rekan-rekannya, bunda Mila memperhatikan semuanya termasuk Bima yang tidak sedikitpun menggubris Emi.
"Sudah Emi, dia nggak akan menghiraukanmu meski kau berteriak pakai toa," ucap Kevin yang lalu melepas tangannya dari pipi Emi sedangkan Justin mengusap-usap pipi yang sudah memerah itu.
"Tadi kak Bima pasti tinggalin kamu lagi makanya datang kesini dengan Bian, iyakan?"
"Is-is-is... Benar-benar keturunan dukun nih kak Kevin," tanpa menjawab langsung tapi perkataan Emi sudah membenarkan pertanyaan Kevin.
__ADS_1