CEO Pengganti

CEO Pengganti
Menjengkelkan


__ADS_3

Tiba di depan rumah keluarga Suntama dengan langkah panjang Bima masuk ke dalam rumah dan mendapati ibu Nani dan pak Eko sedang mengobrol.


"Malam pak Bima?" sapa pak Eko ramah sedangkan ibu Nani mengulas senyum.


"Apa Emi ada di sini?"


"Ada di kamarnya sama mas Kevin."


Bima melanjutkannya langkahnya ke lantai dua, tepatnya menuju kamar Emi.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Bima langsung membuka pintu kamar Emi dan melihat Emi sedang berada di gendongan Kevin.


Om Bima?


Emi terkejut pada kedatangan Bima, kedua bola mata mereka bertemu tapi teralihkan oleh Kevin yang sepertinya biasa saja dengan kehadiran Bima.


"Kau semakin ringan dari saat aku tinggalkan," ucap Kevin meletakkan Emi ke atas tempat tidur.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Bima khawatir dan mendekat ke tempat tidur Emi.


"Aku-"


"Dia baik-baik saja sekarang," sela Kevin memotong ucapan Emi."


Mata Bima memicing melihat perban pada pergelangan kaki Emi, sejurus kemudian beralih menatap Emi.


"Kakimu kenapa? Kenapa sampai di perban?"


"Aku-"


"Dia jatuh dan pingsan," lagi Kevin memotong ucapan Emi.


"Pingsan?" kaget Bima.


"Em, dia pingsan dan berakhir seperti sekarang ini," ucap Kevin memperjelas apa yang terjadi pada Emi. "Harusnya sih kejadian ini tidak perlu terjadi kalau Emi tidak ikut karya wisata."


"Apa kau bisa memperjelas maksud ucapanmu?" Bima merasa Kevin sedang mengatakan sesuai tapi tidak secara terang-terangan.


"Baik kak, aku akan mengatakannya secara jelas. Saat pingsan Emi sampai harus dibawa ke rumah sakit karena lama sadarkan diri. Aku dapat kabar itu dari Bian. Awalnya aku pikir Emi pingsan karena phobianya melihat darah di kakinya tapi ternyata bukan hanya itu. Sebelum berangkat untuk kegiatan karya wisata Emi memang sudah sakit bahkan diinfus di klinik dan tentunya kak Bima tahu hal itu. Kak Bima tahu kondisi Emi bagaimana tapi kenapa masih membiarkannya ikut kegiatan itu?"


"Kak Kevin, jangan ngomong gitu. Om Bima nggak-"


"Kamu diam," ucap Kevin menghentikan Emi.


"Tapi-"


"Aku bilang kamu diam!" Kevin menekan ucapannya pada Emi agar tidak mencoba untuk membela Bima.


Emi merasa bersalah pada Bima atas apa yang dikatakan Kevin sedangkan Bima hanya diam mendengar apa yang ingin dikatakan Kevin padanya.


"Bunda nitip Emi pada kak Bima karena bunda percaya tapi yang ada malah kejadian seperti ini. Sebagai orang yang lebih tahu keadaan Emi harusnya kak Bima nggak kasih ijin untuk Emi ikut kegiatan itu. Kalau bunda tahu bagaimana? Kak Bima sama sekali nggak perduli sama Emi. Parahnya lagi aku bolak-balik hubungin kak Bima tapi sama sekali tidak dijawab. Untung ada Bian yang kasih kabar dan jagain Emi."


"Bian," gumam Bima.


Bima memutar tubuhnya ke arah pintu saat seseorang masuk ke kamar Emi.


"Kak Bima?"


Bian masuk membawa sate yang baru saja dibelinya serta piring dan sendok yang diambilnya dari dapur.

__ADS_1


"Kak Bima juga ada di sini?"


Bima menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Bian tapi matanya memperhatikan apa yang dilakukan Bian.


Bian membuka bungkus sate dan duduk di dekat Emi, memberi minum Emi terlebih dahulu sebelum akhirnya menyodorkan sate kesukaan Emi ke mulutnya.


"Ayo makan."


"Nanti aja, Bi. Aku nggak lapar," tolak Emi.


"Bukannya tadi kamu sendiri yang minta dibeliin sate? Kamu tahukan tukang jual sate ini jauh tapi buat kamu aku tetap beliin," ucap Bian memelas.


"Makan dong, Mi. Bian baik tuh walau jauh tapi tetap mau pergi buat belinya," bujuk Kevin.


Emi merasa seperti bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini. Diliriknya Bima yang berdiri dengan kedua tangan berada dalam saku celananya. Wajah Emi memelas melihat Bima, Emi menunjukkan wajah penyesalannya dan ingin sekali mengatakan sesuatu pada Bima tapi ada Kevin Bian juga di sana.


"Emi, ayo makan," bujuk Bian lagi.


Emi masih menggeleng kepalanya dan kembali menoleh pada Bima.


"Makanlah dan istirahat. Besok aku datang lagi," ucap Bima.


Bima keluar dari kamar Emi dan langsung pergi meninggalkan rumah keluarga Suntama. Kalau bukan karena kakinya yang sakit ingin sekali Emi berlari mengejar Bima tapi apa mau dikata untuk saat ini Emi tidak bisa melakukannya.


Malam semakin larut, suasana jalanan semakin sepi tapi Bima masih duduk di kursi kemudi mobilnya yang dia tepikan di pinggir jalan. Seperti malam sebelumnya, kali ini pun Bima ditemani beberapa kaleng minuman.


Trang...


Bunyi kaleng bekas minuman yang dilempar Bima ke arah jalan.


"Emi... Kau sangat menjengkelkan. Kau berhasil melakukannya. Apa kau senang telah berhasil mengacaukan perasaanku? Ini yang kau mau selama ini, kau ingin aku menyukaimu. Kau berhasil melakukannya."


Kesal bahkan marah, itulah yang sebenarnya dirasakan Bima tapi tidak ditunjukkannya. Namun begitu Bima sama sekali tidak mencoba melakukan pembelaan terhadap dirinya.


..........


Bangun tidur Kevin langsung melihat keadaan Emi di kamarnya, siapa sangka saat Kevin masuk dia mendapati Emi melotot ke arah pintu dan tepat pada Kevin.


Baru ingin menyapa selamat pagi Kevin malah sudah terlebih dahulu dilempar bantal oleh Emi sambil marah-marah.


Saat Kevin sudah mendekat dan duduk di dekat Emi, gadis itu langsung menggigit tangan Kevin cukup kuat.


Belum sempat melakukan perlawanan, Emi sudah menangis dan membuat Kevin bingung sendiri.


"Aku yang digigit tapi kenapa kamu yang nangis?" kesal Kevin. "Lagian ada apa sih, masih pagi tapi udah ngajak gelut. Kamu jahat deh!"


"Kak Kevin yang jahat," ucap Emi di sela-sela menangisinya. " Kenapa tadi malam ngomongnya seperti itu sama om Bima? Kenapa nyalahin dia, kalau dia makin nggak suka aku gimana?"


"Lah, kok jadi aku? Aku kan belain kamu?"


"Bukan gitu ceritanya."


Emi masih menangis, dia menceritakan kejadian yang sebenarnya dan Bima yang juga melarangnya untuk ikut kegiatan karya wisata sekolah. Mata Kevin menatap horor pada Emi setelah mengetahui yang sebenarnya.


"Kamu gila, Mi? Kenapa nggak ngomong sebelumnya, aku jadi salahkan," geram Kevin.


Kevin mengingat apa yang sudah dikatakannya pada Bima tadi malam. Kevin merutuki dirinya yang asal bicara tapi dia juga menyalahkan Emi yang tidak memberitahunya.


"Gimana dong, om Bima pasti marah nih. Makanya lain kali cerita dong biar aku nggak asal ngomong," sungut Kevin penuh penyesalan.

__ADS_1


"Aku udah mau ngomong tapi kak Kevin sendiri yang motong terus tiap kali aku baru mau bicara. Kenapa kak Kevin nyalahin aku?"


"Dia pasti kesal samaku, Mi. Gimana dong?"


"Bodoh amat mau dia kesal atau marah sama kak Kevin, aku nggak peduli. Yang jadi masalah kalau om Bima marah dan makin nggak suka sama aku, itu yang jadi masalah besar!"


"Bukannya kamu udah lupain om Bima? Masih berharap sama dia?"


Pertanyaan Kevin semakin membuat Emi mengeraskan tangisnya. Dia juga tidak punya jawaban akan hal itu. Menyukai pria dewasa yang selama ini tidak menganggapnya, memang tidak mudah tapi entah mengapa sulit bagi Emi untuk membuang perasaan sukanya pada Bima.


Setiap kali mencoba dan berusaha melupakan, ada saja perbuatan Bima yang membuat Emi oleng kembali.


"Beneran suka dia ya, Mi?"


Emi menganggukkan kepalanya pasrah dengan kenyataan dia yang menyukai Bima hingga saat ini.


"Kak kevin mau apa? Mau telepon siapa?"


Kevin meninggalkan Emi dan menghubungi seseorang.


"Em, kenapa?" tanya Bima setelah menerima panggilan Kevin.


"Hai kak, Bim?" sapa Kevin seakan melupakan apa yang sudah dia katakan tadi malam pada Bima.


Kevin mencoba percaya diri untuk menutupi kegugupannya.


"Udah di kantor ya, kak?"


"Em, katakan ada apa?"


"Sorry, kak."


"Untuk apa?"


"Untuk yang tadi malam. Maaf kak, aku nggak tahu dan udah asal ngomong. Emi sudah cerita semuanya."


"Sudahlah, lupakan saja. Sebaiknya kau kembali ke Singapura dan kuliah dengan baik."


"Kak Bima nggak marah?"


"Em, marah pun tidak ada gunanya."


"Jangan marah sama Emi juga ya, kak."


"Aku harus kembali bekerja, hati-hati saat pergi nanti."


Kevin menelan salivanya, karena tidak ada respon megenai Emi.


"Kak Bima?"


"Apalagi?"


Kevin tidak yakin untuk mengatakannya tapi dia harus melakukannya setidaknya meski hanya sekali.


"Emi emang gitu orangnya, kak. Rame dan suka teriak kalau ngomong tapi dia cantik dan manis."


Entah kalimat memuji atau menjatuhkan tapi Kevin berkata apa-adanya mengenai Emi pada Bima.


"Maksudmu bicara seperti itu apa?"

__ADS_1


"Nggak ada maksud apa-apa, kak. Cuman mau bilang kalau dia juga imut. Satu lagi, Bian suka sama Emi. Aku hanya tidak ingin ada yang menyesal nantinya. Udah ya kak, aku matiin teleponnya."


__ADS_2