CEO Pengganti

CEO Pengganti
Anggap Saja Mimpi Buruk


__ADS_3

Emi tidak peduli dengan tatapan tak suka Bima padanya. Ia langsung naik ke atas tempat tidur dengan nampan ditangannya. Dua puluh menit yang lalu keluar dari kamar Bima, sebenarnya Emi memberitahu pada ibu Sri jika Bima demam dan butuh obat.


Tidak ada persediaan obat di rumah, Emi akhirnya meminjam uang pada ibu Sri dan berlari ke apotik terdekat di perempatan jalan dekat rumah Bima. Emi pergi dan kembali dengan berlari sambil menarik-narik celana panjang yang sedikit kedodoran dengan sendal jepit milik ibu Sri.


Emi kembali ke kamar Bima sambil membawa makanan yang sudah di siapkan ibu Sri saat Emi membeli obat.


"Om Bima makan dulu baru minum obat," ucap Emi menaiki tempat tidur Bima.


"Pertama, turun dari tempat tidurku. Kedua, letak saja makannya dibatas meja, aku akan memakannya nanti. Yang terakhir, keluar dari kamarku."


"Kalau lagi sakit itu nggak boleh marah-marah. Ibu Sri bilang om Bima harus ditungguin selama makan. Kalau aku keluar pasti om Bima nggak akan makan, iyakan?"


"Aku akan makan tapi tidak sekarang. Kepalaku sakit dan aku mau istirahat, jadi keluarlah sekarang," pinta Bima memijit keningnya yang memang sakit dan hangat.


"Kalau gitu ayo kita lakukan dengan cepat."


Emi membuka penutup sup mencium harum aromanya, berbeda dengan Bima yang tidak dapat merasakan apapun karena hidungnya yang tersumbat.


Bima sudah terlalu malas bicara pada Emi, badannya semakin sakit dan lemas belum lagi kepala yang bagaikan tengah menjinjing beban berat.


"Orang sakit biasanya malas untuk makan dan gerak, jadi biar aku bantu untuk suapi om Bima."


Emi meniup-niup kuah sop di sendok dan menyodorkannya ke mulut Bima.


"Ayo, aaa..." ucap Emi menuntun Bima agar membuka mulut.


Seolah tersihir, Bima menurut dan membuka mulutnya menerima suapan dari Emi. Meski tidak bisa merasakan rasa makanan itu tapi Bima memaksa untuk memakannya mengingat semalam juga dia tidak makan.


"Nggak enak ya, om?"


"Em," jawab Bima hanya dengan deheman.


"Itu karena lagi sakit, lidah om Bima jadi mati rasa."


Bima mengunyah makan di mulutnya sambil menatap pada Emi yang meniup-niup kembali kuah sup. Bekas tamparan di wajah Emi sudah jauh berkurang dan mungkin besok sudah menghilang, itu sangat melegakan Bima.


Beberapa suapan sudah diterima Bima dan itu sudah cukup untuknya. Bima tidak sanggup lagi untuk menelan makanan karena sebenaranya dia tidak ada selera makan.


"Cukup," tolak Bima saat kembali Emi akan menyuapinya.


"Terakhir," ucap Emi tak mau kalah.

__ADS_1


Bima menerima saja dari pada harus berdebat dengan Emi. Selesai memberi makan Bima, Emi langsung membuka bungkusan obat yang tadi dia beli dengan berlari dan modal pinjaman dari ibu Sri.


"Kau dapat dari mana obatnya?" tanya Bima penasaran.


"Dari apotik," jawab Emi apa adanya.


Bima mengangkat tangannya ingin mengambil obat dari tangan Emi tapi obat itu sudah terlebih dahulu Emi masukkan ke dalam mulut Bima.


"Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Bima dengan wajah tak suka.


Emi mengambil gelas air hangat untuk di dekatkan ke bibir Bima, akan tetapi gelas itu langsung diambil dari tangan Emi dan Bima meneguk isi gelas itu habis.


Bima tertegun saat bibirnya di lap oleh Emi menggunakan jempol. Mendadak Bima merasakan sebuah perhatian tulus untuknya. Bima segera menepis pemikirannya tentang Emi namun matanya masih fokus memandangi wajah Emi yang merapikan bekas makannya.


"Sekarang om Bima bisa istirahat. Kalau perlu sesuatu tinggal teriak aja, aku dan ibu Sri ada di bawah."


"Aku bukan anak kecil yang suka berteriak," ucap Bima seolah menyindir Emi.


Bibir Emi mengerucut tidak senang mendengar perkataan Bima meskipun itu tidaklah salah. Emi yang semula begitu perhatian mendadak kesal dibuat Bima.


Bukannya bilang terimakasih malah menyindir.


"Aku pergi," ucap Emi tapi masih berdiri di samping tempat tidur Bima.


"Gitu doang? Nggak mau ngomong yang lain gitu," geram Emi.


"Apalagi? Kalau mau keluar ya sudah silahkan keluar."


Emi menghembuskan nafas melalui hidung, bukannya mau pamrih tapi setidaknya dia juga mengharapkan Bima mengatakan terimakasih padanya.


Emi tidak menyangka selain orang yang berhati dingin ternyata Bima juga orang yang tidak tahu untuk berkata terimakasih.


"Kunci pintunya kalau keluar, jangan membiarkannya terbuka seperti tadi. Satu lagi, jangan pernah masuk ke kamar ini tanpa izin dariku. Paham?"


"Sangat paham. Ini untuk yang terakhir kalinya kakiku kesini. Ayo kaki kita pergi dari sini!" ucap Emi menaikkan nada bicaranya.


Kedua tangan Emi meremas ujung nampan di tangannya, wajah kesal Emi terukir jelas saat Bima merebahkan tubuhnya dan memunggungi Emi.


Akhirnya Emi berbalik menuju pintu kamar karena sudah tidak ada yang perlu dia lakukan lagi di sana. Suara Bima menahan tangan Emi yang akan menutup pintu.


"Jangan pernah melakukannya lagi," ucap Bima tanpa merubah posisinya di empat tidur.

__ADS_1


Emi yang tidak mengerti maksud ucapan Bima masih berdiri ditempatnya.


"Yang kau lakukan tadi malam padaku, jangan pernah melakukannya lagi."


Tadi malam?


Ingatan Emi langsung tertuju pada saat dia mencuri cium pipi Bima dan berlari ke kamarnya semalam. Emi hampir melupakan hal itu.


"Tidak akan, itu hanya kesalahan. Anggap saja tadi malam itu sebuah mimpi buruk buat om Bima."


Tak!


Pintu kamar Bima ditutup Emi dengan cara menariknya kuat hingga membuat bunyi dentuman keras.


Sontak Bima kaget begitu juga dengan ibu Sri yang ada di lantai bawah. Kepala Bima kembali berdenyut mendengar pintu kamarnya yang dibanting Emi.


Entah apa lagi yang akan dibanting Emi besok-besok. Selama Emi di rumah Bima, sudah dua pintu kamar yang dibanting oleh Emi.


Bima mengangkat sedikit kepalanya dan melihat ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup. Bima tersenyum tipis mengingat perhatian Emi padanya beberapa saat lalu. Bima menarik selimut hingga menutupi setengah badannya.


"Terimakasih," ucap Bima dengan mata terpejam.


Sebuah ucapan terimakasih untuk Emi yang tentunya tidak di dengar. Sebelum Bima tertidur, dia menghubungi ibu Sri sebentar untuk mengatakan sesuatu. Bima menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya saat tidur. Bima harus sehat karena besok dia harus bekerja meski tidak ada yang memaksanya untuk bekerja saat dalam keadaan tidak sehat.


..........


"Nak Emi nggak mau makan?"


"Enggak, Bu. Aku nggak lapar."


Emi menaruh nampan di tangannya ke dalam wastafel dan mencucinya bersih. Sebenarnya saat melihat ibu Sri masak sup, dia sangat berselera tapi setelah keluar dari kamar Bima selera makannya menghilang.


"Nanti kalau lapar aku pasti makan, Bu."


"Untung ada kamu di sini. Biasanya kalau pak Bima sakit, ibu bingung karena dia pasti nggak mau makan. Kamu pasti capek lari-larian ke apotik buat beli obat tadi. Bukan hanya ibu tapi pak Bima beruntung ada kamu di sini."


Emi hanya mendengarkan saja ibu Sri yang bicara panjang lebar. Andai saja ibu Sri tahu bagaimana sikap Bima padanya, pasti ibu Sri tidak akan percaya. Selama tinggal di sana, Emi selalu memperhatikan cara bicara Bima yang sopan pada ibu Sri yang bekerja sebagai ART di rumahnya. Namun sikap Bima yang seperti itu tidak berlaku pada Emi.


"Kerjaan ibu udah selesai. Sekarang waktunya buka isi kadonya, ayo!"


"Buka kado?"

__ADS_1


Ibu Sri terlihat begitu bersemangat, Emi mengikutinya dari belakang dan berhenti di depan tumpukan kado yang mungkin berjumlah hampir dua puluh.


"Ayo kita mulai," ucap ibu Sri sumringah mengambil salah satu kado.


__ADS_2