
Bukan hanya ibu Sri tapi Emi yang tadinya kesal akan Bima malah lebih bersemangat dari wanita itu. Emi berdecak kagum ikut membuka satu persatu kado yang diberikan pada Bima.
"Wah... Ini sih barang-barang mahal. Ibu yakin om Bima nggak marah kalau kadonya kita buka?"
"Enggak, tadi pak Bima yang suruh buat bukain ini semua," tunjuk ibu Sri pada kado-kado di depannya.
"Ini parfum mahal yang dipakai artis-artis terkenal buatan Francis. Ini pasti wangi. Kalau aku semprot sekali aja boleh nggak, Bu? Sedikit aja, nggak bakalan ketahuan om Bima kok, boleh ya?"
"Boleh, nggak ada yang larang. Pak Bima juga nggak butuh itu, dia punya parfum sendiri. Kamu bisa ambil kalau mau."
"Serius, Bu? Kalau ketahuan dan om Bima marah gimana?"
"Nggak bakal marah. Kalau kamu suka, ambil aja. Kalau nggak mau biar sama ibu aja."
"Eh, jangan. Aku mau kok, parfum mahal, harum dan gratis gini siapa yang nolak. Emi nggak punya yang begini," ucap Emi memeluk parfum yang dimaksud.
Sekeliling Emi dan ibu Sri bertebaran bungkus-bungkus kado yang mereka buka. Tidak ada barang-barang murah, semua isinya bagus dan mahal. Mulai dari kemeja, kaos, topi, jam tangan, tas selempang, jaket hingga parfum, semuanya di taksir Emi mulai dari harga lima ratus ribu hingga jutaan.
"Ini cocok buat anak ibu yang lagi kuliah," ucap ibu Sri pada isi kado yang baru dibukanya. Sebuah kemeja berwarna merah, warna kesukaan anaknya. Ibu Sri juga tahu kalau Bima tidak menyukai warna yang cerah, termasuk warna merah.
Pakaian Bima di dominasi warna putih, hitam, abu-abu dan biru pastel. Bima tidak menyukai warna yang ngejreng.
"Ibu yakin om Bima nggak marah kalau kita ambil hadiahnya?" tanya Emi memastikan.
"Tenang saja, tadi pak Bima yang suruh buat buka semua ini. Pak Bima bilang kita bisa ambil apa aja yang kita suka. Lagian hadiah-hadiah dari beberapa tahun yang lalu juga masih banyak. Jangankan dipakai, disentuh saja tidak."
"Oh, ya?"
"Kamu lihat lemari yang di sana," tunjuk ibu Sri pada lemari dekat piano. "Itu lemari isinya hadiah-hadiah yang pak Bima dapat selama bertahun-tahun. Hadiah-hadiah yang kita buka ini juga akan berakhir di lemari itu."
"Memangnya om Bima nggak pernah pakai hadiah yang diterima?"
"Pernah tapi jarang."
"Kalua gitu topi yang ini boleh aku ambil juga nggak, Bu?" tanya Emi nyengir kuda. "Dari pada topinya kasihan nggak dipakai, lebih baik buat aku aja. Bolehkan?"
"Boleh, ambil aja. Nanti kalau pak Bima turun kita tinggal bilang apa yang kita ambil dan ucapin terimakasih."
Acara buka kado Emi dan ibu Sri terus berlanjut hingga semua kado dibuka dan di masukkan dalam lemari khusus penyimpanan hadiah untuk Bima. Emi membantu ibu Sri merapikan dan membuang bekas bungkus kado.
Emi kelelahan dan lapar, ia pun ke dapur untuk mengisi perutnya. Bisa dikatakan jika saat ini Emi menggabung sarapan dan makan siangnya karena sudah hampir pukul sebelas siang.
Sembari makan Emi memikirkan kapan dia akan pulang mengingat kondisi Bima yang sedang sakit. Bima tidak mungkin menyetir mobil, Emi berencana akan pulang dengan naik taksi setelah Bima bangun nanti.
__ADS_1
Tin-Tin
"Pak Eko?"
Emi yang masih menghabiskan setengah isi piringnya langsung berlari keluar saat mendengar bunyi klakson mobil yang selalu dikendarai pak Eko. Emi berlari kesenangan karena dia bisa pulang bersama pak Eko tanpa menunggu Bima bangun untuk meminta ongkos taksi.
Kesenangan Emi berakhir saat pak Eko menurunkan dua koper yang sangat dikenalnya dari bagasi mobil. Dengan wajah bingungnya, Emi mendekati pak Eko yang juga berjalan ke arahnya.
"Kenapa pak Eko bawa koper Emi kesini lagi?"
"Pak Bima yang suruh semalam," jawab pak Eko apa adanya.
"Om Bima? Mana mungkin."
Pak Eko melewati Emi begitu saja dan membawa kedua koper ke dalam rumah.
"Pak Bima mana?"
Emi yang masih bingung hanya menunjuk ke arah lantai dua sedangkan matanya tertuju pada koper yang kini ada di hadapannya. Harusnya Emi yang pulang kerumah bundanya bukan justru kopernya yang diantar ke rumah Bima.
"Tugas pak Eko sudah selesai, sekarang pak Eko balik ke rumah. Hari Minggu ceria, mau jalan-jalan sama istri nanti sore."
"Terus aku gimana?"
"Kenapa pak Eko bawa koper Emi ke sini? Aku cuman nginap semalam aja dan hari ini juga bakalan pulang ke rumah bunda," sungut Emi.
"Kalau itu tanyakan saja pada pak Bima. Pak Eko hanya menjalankan tugas sesuai yang diperintahkan, selebihnya pak Eko tidak tahu," ucap pak Eko bagai sedang bermain drama musikal.
"Emi serius, pak."
"Lah, dikiranya pak Eko juga nggak serius? Semalam pak Bima nelpon dan nyuruh buat antar barang-barang Emi lagi kemari. Waktu pak Eko mau tanya, teleponnya sudah dimatiin pak Bima."
"Terus Emi tinggal di sini lagi?"
"Itu tahu, kenapa masih tanya pak Eko dari tadi. Nggak apalah, anggap aja biar makin dekat dan PDKT-nya lancar," goda pak Eko.
"Apanya yang dekat dan lancar, yang ada ZONK!"
"Hahaha... Galau dong, apa pak Eko perlu bantuin?" canda pak Eko. "Pak Bima orangnya baik, dia hanya terlalu capek dengan pekerjaannya makanya tidak punya waktu untuk hal-hal diluar pekerjaannya. Ingat, selain perempuan, seorang pria juga suka saat diberi perhatian."
"Nggak! Emi udah lupain om Bima."
Pak Eko malah tersenyum mendengar ucapan Emi. Pak Eko menepuk-nepuk pundak Emi dan pamit untuk pulang. Sebelum pulang, pak Eko bertegur sapa dengan ibu Sri yang baru kembali dari membuang sampah, tepatnya memberi kardus-kardus bekas pada seorang pemulung.
__ADS_1
Pak Eko sudah pergi tapi Emi masih berdiri memandangi kedua kopernya hingga tak sadar Bima yang sedang menuruni tangga.
"Kenapa bengong? Bawa masuk kopermu ke kamar dan bereskan isinya."
Sorot mata Emi langsung tertuju pada Bima yang berhenti di tiga tangga terakhir kebawah. Emi menunjukkan ekspresi tidak suka pada Bima. Emi menarik kopernya dan membawa masuk ke kamarnya.
"Pak Bima sudah baikan?" tanya ibu Sri yang datang dari belakang saat mendengar Bima berbicara.
"Sudah mendingan. Tolong buatin saya teh hangat seperti biasanya, Bu."
Bima tidak suka dengan rasa yang terlalu manis dan ibu Sri sudah paham akan itu. Tak butuh waktu lama ibu Sri sudah membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja ruang tamu dimana Bima sedang duduk.
"Dia sudah makan?" tanya Bima pada ibu Sri dengan mata tertuju pada pintu kamar Emi yang setengah terbuka.
"Kalau pagi dia nggak makan. Barusan dia makan tapi hanya sedikit karena pak Eko datang. Piringnya masih ada di atas meja."
"Ibu panggil dia dan suruh makan lagi sekarang."
Ibu Sri melakukan apa yang disuruh Bima tapi Emi tidak mau dengan alasan sudah tidak lapar lagi.
Emi keluar dari kamarnya tapi bukan untuk makan melainkan menemui Bima.
"Ponselku ada di dalam mobil, aku butuh kunci untuk mengambilnya dari sana."
"Kau bisa mengambilnya setelah makan."
"Aku nggak lapar. Aku sudah makan tadi," ucap Emi cuek.
"Itu tadi, aku menyuruhmu untuk makan lagi sekarang."
"Aku akan makan setelah mengambil ponselku dari mobil."
"Kau makanlah dan aku akan ambil ponselmu."
Bima pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Saat Bima menuju ke garasi, Emi hanya berdiri saja menunggu ponselnya dan tidak menuruti Bima yang menyuruhnya untuk makan.
"Kau belum makan?"
"Berikan ponselku," pinta Emi.
Bima tidak langsung memberikannya pada Emi. Bima mengaktifkan ponsel Emi yang mati dan saat ponsel itu aktif, panggilan dari Bian langsung masuk.
Bian?
__ADS_1
Mendengar ada panggilan masuk di ponselnya, Emi langsung merampas ponsel itu dari tangan Bima dan berlari ke dalam kamar.