CEO Pengganti

CEO Pengganti
Jangan Meragukanku


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, bunda Mila mengunjungi makam suaminya dan kedua putranya. Wanita yang biasanya hanya selalu terdiam sambil menitikkan air mata saat menatap pusara kedua putranya kini tengah mengulas senyum meski hanya sesaat.


"Anak-anak mama yang ganteng, mama sangat kangen kalian, nak."


Ingatan bunda Mila kembali pada saat-saat kebersamaanya dengan kedua putranya dahulu. Semua kenangan indah hingga saat terakhir ia melihat wajah keduanya membuat wanita itu menghela panjang nafasnya.


Bunda Mila kembali pada kenyataan saat ini. Kedua anaknya tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun. Akan tetapi pada ketiga anaknya yang sekarang bunda Mila juga sangat menyayangi mereka dan memberi semangat baru sejak kehadiran mereka.


Cukup lama bunda Mila berada di pusara kedua anaknya setelah terlebih dahulu mengunjungi pusara suaminya. Bunda Mila menyudahi nostalgianya saat senja mulai menyambut.


Bunda Mila yang awalnya berencana langsung pulang ke rumah, memilih untuk beristirahat di hotel dan tetap tidak memberitahu siapapun kecuali Justin. Tak hanya itu, yang semula hanya ingin semalam saja ternyata bunda Mila berada di hotel selama hampir seminggu.


Bunda Mila memantau Emi dari kejauhan. Ia ingin melihat bagaimana keseharian Emi saat pergi hingga pulang dari sekolah. Begitu juga dengan Bima dan perusahaan, selama ini ia tetap memantau perkembangan perusahaan melalui seseorang yang memang sengaja di pekerjaan di perusahaan dan tak seorangpun tahu akan itu.


.....


"Kamu yakin simpan di laci ini?" tanya Bima membuka laci meja belajar Emi.


"Iya, aku ingat kalau nyimpan kartu ujiannya di situ."


"Apa kertas punya kaki sehingga bisa keluar dari laci itu dan melarikan diri? Hanya ada kamu di kamar ini, nggak ada yang lain, Emi."


"Siapa bilang hanya aku. Kau juga masuk keluar kamar ini," ucap Emi tanpa sadar dengan panggilan yang diucapkannya sudah membuat pria yang sedari tadi sibuk mengobrak-abrik isi laci meja belajar kini berkacak pinggang sambil mendengus.


Emi yang tidak merasa melakukan kesalahan dalam ucapannya melanjutkan pencarian kartu ujiannya yang tidak tahu ada dimana.


"Bantuin aku carinya. Ayo, jangan diam dan berdiri di situ aja."


Tup


Pintu kamar Emi tiba-tiba tertutup. Bima pergi meninggalkan Emi.


"Hah..." menghembuskan nafas panjang. "Pacaran dengan anak sekolahan ternyata seperti ini. Huhhh!"


Bukan kita yang memilih cinta itu tapi cinta itu yang memilih pada siapa dia akan berlabuh.


Perasan suka, sayang dan cinta tentu saja Bima miliki untuk Emi meski terkadang ada saat-saat dimana Emi tanpa sadar atau tidak disengaja yang membuat Bima berdecak kesal. Bima memaklumi hal itu mengingat usia Emi yang masih belasan tahun. Sama seperti yang baru saja Emi lakukan beberapa saat lalu.

__ADS_1


Klek!


"Kenapa pergi dan nggak bantuin aku?" tanya Emi yang menyusul Bima ke kamarnya.


Bima memutar tubuhnya menghadap Emi yang berdiri di depan pintu.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Emi lagi.


Raut wajah Emi seketika berubah cemas, dia tahu pasti ada sesuatu setiap kali Bima menatapnya dengan diam.


"Apa aku melakukan kesalahan? Emi buat salah apa?"


Perlahan Emi mendekat namun langkahnya berhenti saat tiba-tiba Bima bicara panjang lebar.


"Pertama, aku akui belakangan ini aku sering masuk keluar ke kamarmu. Itu aku lakukan karenamu, kau tidak akan mau bangun cepat kalau bukan aku yang membangunkanmu. Aku kasihan pada ibu Sri setiap kali akan membangunkanmu. Aku masuk ke kamarmu untuk memastikan sudah tidur atau masih menonton drama Korea di ponselmu. Dan kedua-"


Bima menarik nafas sebelum melanjutkan perkataannya sedangkan Emi berdiri tegang seperti orang bodoh mendengar apa yang disampaikan Bima.


"Dan kau, kau ingat tadi memanggilku dengan sebutan apa di kamarmu? Kau! Kau!"


Mata Emi membola, ia menyadari kesalahan yang seharusnya tidak dilakukannya.


Sebisa mungkin Emi menampilkan wajah memelas agar Bima kasihan dan tidak memarahinya.


"Aku minta maaf, aku nggak sengaja. Aku salah, jangan marah ya?" ucap Emi mengiba.


Bima tidak mempermasalahkan saat Emi memanggilnya om tapi tidak suka saat Emi menggunakan kata 'kau'. Bagi Bima menggunakan panggilan 'kau' pada orang yang kita sayang dan sedang menjalin hubungan sangat mengganggu telinganya.


"Sebaiknya kau bersiap-siap, tinggal dua hari lagi kau akan selesai ujian."


" Kartu ujiannya sudah ketemu, ada di dalam dompetku tapi om Bima lagi marah," ucap Emi sedih.


"Aku tidak marah. Aku mana mungkin bisa marah. Kalaupun aku marah, itu tidak akan ada gunanya."


Bima membelakangi Emi dan membuka lemari pakaian untuk mengambil jas yang akan dipakainya ke kantor.


"Kenapa? Kalau mau marah, marah aja. Emi tahu Emi salah."

__ADS_1


"Aku nggak marah, aku hanya mengingatkanmu. Percuma marah padamu."


"Itu artinya om Bima nggak sayang lagi sama aku. Nggak boleh seperti itu, om Bima boleh marah tapi harus tetap sayang samaku."


Emi khawatir kebahagiannya berakhir hanya karena masalah yang dia sendiri sebabkan. Emi takut, benar-benar takut saat ini.


Dengan perasaan takut bercampur sedih, Emi mendekati Bima dan memeluknya dari belakang.


"Maaf, aku sayang dan sangat sayang sama om Bima. Om Bima masih sayang aku kan?"


Suara Emi yang berubah menjadi lirih malah membuat Bima kaget. Sama seperti Emi yang takut dan sedih, Bima juga takut karena semakin lama Emi mengeluarkan suara tangis yang ia tahan.


Refleks Bima memutar tubuhnya, menangkup wajah Emi khawatir.


"Kenapa nangis? Jangan nangis."


"Om Bima nggak marah, itu artinya nggak sayang aku lagi."


"Hei... Siapa yang bilang aku nggak sayang, hem? Apa aku bilang kalau nggak sayang kamu lagi?"


Bima membawa Emi ke pelukannya, menenangkan Emi yang sesegukan. Bima tidak menyangka mendapat respon seperti itu dari Emi.


"Tadi om Bima juga pakai kata 'kau' untukku, apa namanya kalau bukan marah," ucap Emi di sela-sela menangisinya.


"Maaf untuk itu. Sekarang kamu tahukan rasanya seperti apa saat orang yang kita sayang menggunakan kata 'kau' saat menyebut kita? Itulah yang aku rasa. Aku merasa seperti orang lain dan jauh darimu."


Emi menganggukkan kepala di dalam pelukan Bima. Ia merasakan dan membenarkan ucapan Bima.


"Satu hal yang perlu kamu ingat, aku nggak tahu apa yang mungkin akan terjadi ke depan nanti tapi kamu harus percaya kalau hanya ada kamu di hatiku. Aku mungkin tidak pandai mengungkapkannya dengan kata bahkan kalimat tapi aku sangat menyayangimu. Tidak mudah untukku hingga akhirnya mengakui perasaanku."


"Om Bima yakin?"


"Jangan meragukan aku, oke?"


Emi tidak tahu saja jika Bukanlah hal mudah untuk Bima saat sadar pada kenyataan dia yang sudah menempatkan Emi di hatinya.


"Kamu juga harus tahu, marah padamu itu buang-buang waktu karena lebih baik aku gunakan waktuku untuk memelukmu seperti saat ini. Bagaimana aku bisa marah jika setiap melihat wajahmu saja sudah membuatku bahagia, hem?"

__ADS_1


Bukannya berhenti menangis, Emi justru semakin sesegukan mendengar setiap yang dikatakan Bima. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Bima, sedangkan pria yang juga memeluknya menghujani kening Emi dengan ciuman.


__ADS_2