
Seketika Bima terdiam saat begitu beraninya Emi mengecup pipinya. Bima hanya bisa melihat Emi berlari dan menutup pintu kamarnya tanpa berkata apa-apa. Refleks Bima menyentuh bagian pipinya yang dikecup Emi.
Dibalik pintu kamar, Emi memegang dadanya yang bergemuruh tak karuan. Malam ini untuk pertamakalinya Emi mencium seorang pria dan dia adalah Bima. Emi melompat ke atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Emi berguling-guling dalam selimut, dia yakin jika Bima pasti sangat marah atas perbuatannya.
Bima sudah berada di kamarnya namun pikirannya masih tertuju pada saat Emi mencuri cium pipinya. Bima mencoba menyingkirkan bayangan akan Emi tapi entah mengapa beberapa hari terakhir ini gadis itu selalu mengganggu pikirannya.
Hari ulang tahun yang begitu mengesankan bagi Bima selama ini. Diawali kejutan ulang tahun dari karyawan di kantor, menampar Emi hingga berakhir dengan ciuman dari gadis yang dia tampar itu.
Lelah, hari ini terasa begitu panjang bagi Bima.
Hujan di luar sana begitu awet membuat Emi meringkuk dalam selimut. Namun tidak dengan Bima yang kini turun ke bawah untuk mengambil air minum.
Saat berada di dapur Bima bertemu dengan ibu Sri yang baru keluar dari kamar mandi. Ibu Sri kaget melihat wajah pucat Bima saat menuang air ke dalam gelas.
"Pak Bima sakit?" tanya ibu Sri khawatir. "Pasti karena kena hujan, pak."
"Aku baik-baik aja, Bu. Besok juga pasti sembuh. Ibu punya obat sakit kepala?"
Meski mengatakan baik-baik saja tapi sesungguhnya Bima merasa jika saat ini kepalanya bagaikan menjinjing sebuah batu besar. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya sangat hangat.
"Saya nggak punya obat sakit kepala resep dokter, pak. Adanya cuman obat generik dari warung, itupun sisa satu. Kalau pak Bima mau biar saya ambilkan di kamar," ucap ibu Sri memberitahu.
"Tidak masalah selagi itu obat sakit kepala."
Ibu Sri mempercepat langkahnya ke kamar untuk mengambil obat yang dimaksudnya dan memberikannya pada Bima.
"Makasih, Bu."
"Sekarang pak Bima ke kamar dan istirahat. Jangan lupa kalau ada perlu langsung panggil ibu. Kalau tidak, pak Bima telpon saja ibu jadi tidak perlu bersuara kuat ataupun turun ke bawah."
Bima langsung meminum obat yang diberikan ibu Sri dan kembali ke kamarnya.
..........
Berhubung ini adalah hari minggu, membuat Emi bermalas-malasan saja di atas tempat tidur. Meski sudah bangun dari sejam yang lalu tapi Emi masih enggan untuk bangkit.
Dilihatnya ke kiri dan kanan, tidak ada apa-apa selain lemari pakaian, meja belajar serta kursinya. Emi teringat akan ponselnya yang masih berada di dalam mobil.
Emi mengangkat tubuhnya yang begitu malas bergerak dan menurunkan kakinya dari tempat tidur.
Dug!
Emi terjatuh saat melangkah, dia menginjak ujung celana yang dipakainya dan tersungkur ke lantai.
"Hais... Ini celana siapa sih? Kenapa panjang amat?" gerutu Emi bangkit dari lantai.
__ADS_1
Sambil menarik-narik celana tidur yang dipakai, Emi berjalan keluar dari kamarnya ingin menemui Bima.
Melihat keadaan rumah yang sepi Emi menuju arah dapur dan menemui ibu Sri yang sedang melakukan tugasnya sebagai asisten rumah tangga.
Ibu Sri tersenyum geli melihat tubuh Emi seakan tertelan oleh piyama ditubuhnya.
"Waduh! Itu yang kamu pakai punya pak Bima?"
"Aku nggak punya baju ganti, Bu. Semalam waktu Emi ke kamar ibu, ternyata udah tidur."
"Baju ibu juga besar semua, sama aja kalau pakai punya ibu. Tapi kamu hebat bisa pakai baju pak Bima, dia itu paling nggak suka kalau barang-barang pribadinya dipakai sama orang lain, apalagi yang kamu pakai itu piyama kesukaan pak Bima."
"Wah... Harus dapat penghargaan dong aku, Bu."
"Ambil aja sana hadiahnya. Ada banyak di atas meja, tinggal pilih."
"Itu sih cari mati namanya," ucap Emi menggedikkan bahunya. "Biar aku bantu bilas piringnya, Bu."
"Yakin?"
"Iya, Bu. Waktu di panti aku juga sering bantu nyuci piring."
Emi mengambil alih pekerjaan mencuci piring sedangkan ibu Sri beralih ke kompor masak. Ibu Sri sedang memasak sup, itu sangat cocok di hari minggu yang mendung ini. Apalagi saat tengah malam tadi ibu Sri mendapati Bima sedang kurang sehat.
"Bu?" panggil Emi seperti orang berbisik.
"Em... Pacar om Bima orangnya seperti apa?"
"Pacar pak Bima? Kalau itu ibu nggak tahu, selama di Jakarta ini pak Bima belum pernah bawa perempuan ke rumah ini. Selain mamanya pak Bima dan Emi nggak ada perempuan lain."
"Gitu ya, Bu?"
"Iya, pak Bima itu orangnya tertutup apalagi masalah pribadinya. Tapi seingat ibu, dulu itu waktu masih di Bali, pak Bima punya pacar dan orangnya sangat cantik."
"Namanya siapa?"
"Ibu lupa, pokok cantik dan-"
Nada dering ponsel ibu Sri menghentikan ucapannya sendiri. Melihat jika yang menelpon adalah Bima, membuat ibu Sri yakin jika Bima sedang tidak baik-baik saja.
"Iya, pak? Pak Bima butuh sesuatu?" tanya ibu Sri dengan raut khawatir.
"Tolong air hangat," pinta Bima dengan suara serak dan langsung mematikan sambungan telepon.
Emi yang sudah selesai membilas piring menghampiri ibu Sri yang sedang menuangkan air hangat ke dalam gelas.
"Kenapa, Bu?"
__ADS_1
"Pak Bima kurang sehat, itu karena kena hujan semalam. Tengah malam tadi pak Bima demam dan pucat, sekarang ibu mau anterin ini dulu ke kamarnya."
"Biar aku aja."
"Tapi ini mau di antar ke kamar pak Bima. Pak Bima bisa marah kalau ada yang masuk ke kamarnya. Ibu aja nggak sembarangan masuk kalau mau bersih-bersih."
"Tenang aja, Bu. Kalau cuman di marahi aku udah biasa, kalaupun marah om Bima nggak bakalan sampai bunuh aku."
Emi mengambil gelas berisi air hangat dari tangan ibu Sri dan langsung pergi untuk mengantarnya pada Bima.
Tok-tok-tok
Bima hanya berdehem singkat, memberi tanda agar yang mengetuk pintu masuk ke dalam. Bima memeluk tubuhnya dalam selimut yang menutupi setengah badannya.
"Om Bima baik-baik aja? Ini aku bawa air hangatnya."
Mata Bima yang sedari terpejam langsung terbuka mendengar suara Emi. Bima pikir yang masuk ke kamarnya ada ibu Sri. Bima langsung mengambil posisi duduk untuk menyuruh Emi keluar dari kamarnya.
"Kenapa kau yang datang, aku menyuruh ibu Sri. Sekarang keluarlah," ucap Bima malas.
Bukannya keluar seperti yang diminta Bima, Emi justru mendekat pada Bima dan memperhatikan wajah Bima yang sangat pucat.
"Om Bima sakit?"
"Aku nggak apa-apa, sekarang keluarlah."
Dasarnya memang keras kepala, Emi langsung menempelkan telapak tangannya di dahi Bima.
"Om Bima demam, kenapa bilangnya nggak apa-apa?"
Tangan Emi turun dan menempelkannya lagi di leher Bima. Dapat Emi rasakan jika suhu tubuh Bima sangat panas. Tidak hanya itu, Emi juga menempelkan kedua tangannya di pipi Bima dan langsung di tepis oleh si pemilik wajah.
Bima menutup mata dan menarik nafasnya panjang.
"Aku bilang keluar sekarang," ucap Bima penuh penekanan. "Cepat kelu-"
Emi berlari keluar dari kamar Bima tanpa menutup pintu. Bima yang sedang demam dibuatnya semakin sakit kepala. Bima memaksakan tubuhnya berdiri untuk menutup pintu.
Bima kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur tapi kerongkongannya yang kering ia kembali bangkit untuk meminum air hangat uang dibawa Emi tadi.
Dua puluh menit berlalu, Bima sudah kembali berbaring di tempat tidur. Bima berharap dapat tidur agar sakit kepalanya berkurang tapi sama sekali tidak bisa.
Klek!
Tanpa mengetuk terlebih dahulu Emi masuk ke dalam kamar Bima dengan kedua tangannya yang berisi. Bima yang mendengar pintu kamarnya dibuka seseorang langsung menoleh ke arah pintu dan menatap jengah pada Emi.
"Mau apalagi?"
__ADS_1