
Dengan santainya Emi melenggang melewati Bima yang sedang bersantai di ruang tamu. Tidak menyapa dan tidak bersuara, Emi menuju kamarnya. Bima melihat waktu di ponselnya dan sudah hampir pukul enam sore.
Seminggu ini Bian ingin agar Emi fokus dan konsentrasi belajar tanpa memikirkan Bima. Cara yang diusulkan Bian adalah cuek dan tidak memperhatikan saat melihat keberadaan Bima. Meski sulit tapi Emi mencoba untuk melakukannya. Emi akan bersikap seperti yang diminta Bian selama seminggu ini dan setelah mendapat hasil kuis matematika maka Emi bisa melakukan apa yang biasanya ia lakukan.
Tidak ada makan malam bersama seperti hari-hari sebelumnya. Emi lebih memilih membawa makanannya ke kamar, selesai itu dia langsung menaruh piring kotornya di wastafel dan kembali ke kamar.
Bima memperhatikan perbedaan Emi yang begitu mencolok padahal tidak tahu saja jika sebenarnya sesekali Emi melirik tanpa sepengetahuan Bima. Melirik dan melihat tanpa ketahuan itu tidak akan berpengaruh pada nilai, itulah yang juga timbul dibenak Emi.
..........
"Dia belum bangun, Bu?"
"Sudah, pak. Tadi sebelum pak Bima turun untuk sarapan Emi sudah duluan sarapan, eh bukan, maksud saya nyiapin kotak bekal sarapan buat dia dan temannya."
Emi keluar dari kamarnya saat bunyi klakson motor Bian terdengar.
"Mau pergi sekarang ya?" tanya ibu Sri.
"Iya, Bu. Aku pergi ya."
Emi hanya berpamitan pada ibu Sri dan tidak menghiraukan Bima. Emi sudah naik ke atas motor lengkap dengan helm di kepalanya. Ia teringat jika uang sakunya sudah habis dan sudah waktunya meminta uang jajan untuk tiga hari ke depan.
"Bentar," menepuk pundak Bian agar tidak melajukan motornya. "Ada yang ketinggalan. Bentar, ya?"
Tanpa melepas helm di kepalanya, Emi berlari ke dalam rumah dan beruntung Bima masih melangkahkan kakinya di anak tangga pertama menuju kamarnya.
"Sudah waktunya," ucap Emi menjulurkan telapak tangannya pada Bima. "Uang jajan," pinta Emi.
"Tunggu sebentar, dompetku ada di kamar."
Bima melanjutkan langkahnya dengan Emi ikut berjalan di belakangnya.
"Aku memintamu menunggu di bawah bukan ikut naik ke atas," ucap Bima memperingatkan. "Turun!"
Is, semoga ada gempa lokal di rumah ini dan lantai duanya ambruk.
Bunyi klakson motor Bian kembali bersahut-sahutan, Emi tahu jika sudah seharusnya mereka berangkat ke sekolah kalau tidak ingin terlambat.
"Om Bima?!" panggil Emi tak sabar karena sudah sepuluh menit Bima tak kunjung keluar dari kamarnya dan memberikan apa yang Emi minta.
Emi mengumpat dalam hati karena Bima keluar setelah dipanggil. Jika tahu begitu Emi akan memanggilnya lebih awal tadi.
Hmmm wangi...
Bima melewati Emi yang bersandar di pegangan tangga. Aroma wangi Bima begitu menghipnotis Emi meski hanya sesaat karena langsung tersadarkan oleh bunyi klakson dan panggilan Bian dari luar.
Bima berjalan menuju garasi sambil mengeluarkan dompetnya dari saku celana.
"Mana, om?" pinta Emi.
Tup!
Pintu mobil di sebelah Bima ditutup setelah masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Masuk!"
"Hah?"
"Masuk ke mobil biar aku yang antar ke sekolah."
"Enggak," tolak Emi seketika. "Aku perginya sama Bian aja, dia juga udah nunggu. Mana uang jajannya, om?"
__ADS_1
"Kau yakin pergi dengannya?"
"Iya. Ayo buruan, om. Kalau kelamaan nanti Bian marah dan nggak jadi-, pokoknya buruan, om."
Selembar seratus ribu diberikan Bima namun Emi merasa aneh dengan pertanyaan Bima setelahnya.
"Iya, aku ingat. Untuk tiga hari," ucap Emi sebelum Bima mengatakannya terlebih dahulu.
"Apa cukup?"
Tumben nanyain?
"Tergantung, kadang cukup kadang enggak. Tapi tenang aja, ada Bian yang selalu traktir jajan di kantin. Ya udah, aku pergi."
Emi berlari menghampiri Bian yang sudah terlihat kesal, bukan tanpa sebab karena lima belas menit lagi bel masuk sekolah akan bunyi dan Bian tidak mau kalau harus ngebut demi mengejar waktu.
Bian?
Hmm...
Bima melajukan mobilnya mengikuti motor Bian. Di perempatan jalan saat lampu merah mobil Bima dan motor Bian berhenti bersebelahan. Dapat dilihat Bima jika keduanya sedang bertengkar kecil di atas motor, sampai-sampai Emi memukul helm bagian belakang yang dipakai Bian.
"Kalau sampai telat dan dihukum, nanti kamu yang aku salahin," geram Bian.
"Udah dong, Bian. Aku kan udah minta maaf dari tadi. Kalau nggak suka mulai besok nggak usah jemput lagi, kita nggak temenan lagi."
Puk!
"Aw... Sakit loh, Bian!"
"Lah, kok jadi nyalahin aku? Kamu sendiri yang pukul helm aku pakai tangan kamu kenapa jadi aku yang disalahin karena kesakitan?"
"Habisnya kamu ngeselin. Aku udah minta maaf juga. Lagian kalau pun nanti dihukum bukan cuman kamu doang, aku juga ikut. Kamu nggak sendirian, ada aku teman kamu nanti."
"Udah."
"Peluk dikit tapi jangan kenceng amat, geli soalnya. Ayo cepat, aku mau ngebut."
3-2-1
"Bian!!!" teriak Emi yang langsung memeluk Bian.
Lampu merah sudah berganti menjadi hijau. Bian yang sudah terlebih dahulu memperhatikan celah di depannya langsung tancap gas membelah jalanan ibu kota pagi hari.
Bima tersenyum kecut menyaksikan Bian dan Emi yang sudah jauh di depannya. Dia memasang earphone di telinga dan menghubungi seseorang.
"Halo pak Eko? Nanti jangan lupa jemput Emi pulang sekolah."
"Baik, pak."
Dasar anak ABG labil. Bilang suka ke pria dewasa tapi bertingkah seolah pacaran dengan teman cowoknya.
Bima mengemudikan mobilnya lebih pelan dari sebelumnya.
..........
"Siapa?" tanya Ibu Nani yang datang mengantar kopi untuk suaminya.
"Pak Bima, nyuruh jemput Emi nanti dari sekolahnya."
"Tumben? Bukannya dua minggu ini
__ADS_1
Emi pulang sama temannya yang siapa itu namanya?"
"Bian?"
"Iya, Bian."
"Mana tahulah. Aku kan supir, disuruh jemput ya jemput."
"Iya juga sih, ya udah minum kopinya dulu biar melek habis nonton bola kan sampai subuh."
"Hehehe... Makasih, Bu."
..........
Pulang sekolah Bian langsung membawa Emi ke rumahnya untuk belajar. Pak Eko kalah cepat, dia tiba setelah motor Bian meninggalkan gerbang sekolah dua menit sebelum pak Eko datang.
Pak Eko yang tidak tahu akan hal itu masih menunggu Emi beberapa menit lamanya hingga sekolah tampak sepi dan tak terlihat seorang pun lagi anak sekolah.
Ponsel pak Eko berdering memperdengarkan suara seorang anak laki-laki dengan lagu Jawa yang pernah dinyanyikan di Istana negara.
"Iya, halo pak Bima?"
"Sudah jemput, Emi?" tanya Bima langsung.
"Itu dia masalahnya, pak. Saya sudah di sekolah tapi Emi nggak kelihatan. Sekolah juga udah sepi, mungkin Emi udah pulang sama teman sekolahnya, pak."
"Pak Eko telpon Emi sekarang dan langsung kasih tahu saya."
Tut-tut-tut...
Panggilan berakhir dan Bima yang memutuskannya. Buru-buru pak Eko menghubungi Emi untuk menanyakan keberadaanya. Tak butuh waktu lama teleponnya sudah tersambung.
"Kenapa pak Eko?"
"Nak Emi sekarang dimana? Pak Eko lagi gerbang sekolah buat jemput."
"Waduh, aku udah pulang pak Eko. Lagi mau belajar di rumah Bian. Lagian siapa yang suruh jemput aku ke sekolah, aku kan dah bilang sama pak Eko kalau aku sama Bian dan kalau butuh pak Eko akan aku hubungi sendiri. Pak Eko lupa ya?"
"Ingat sih tapi tadi pagi pak Bima suruh saya buat jemput nak Emi pulang sekolah."
"Om Bima? Enggak, ah. Tadi pagi aku perginya sama Bian dan Om Bima juga lihat."
"Ya udah, pak. Aku mau makan siang dulu dan belajar."
Tut-tut-tut...
Selesai bicara dengan Emi, pak Eko menghubungi Bima kembali.
"Gimana, pak? Emi dimana?" tanya Bima lagi tanpa basa-basi.
"Persis seperti dugaan saya, pak. Emi sudah pulang sama temannya. Sekarang lagi makan siang dan mau belajar bareng katanya," jawab pak Eko apa adanya.
"Bian?"
"Iya, pak. Namanya Bian, pak Bima nggak usah khawatir karena Bian itu baik, kok. Kevin juga kenal sama Bian."
Tut-tut-tut...
"Hah! Nggak pak Bima, nggak Emi, sama aja kelakuannya. Sukanya main putus sambungan telepon gitu aja. Yang satu nggak banyak ngomong, yang satunya lagi suka teriak-teriak. Hah..."
Pak Eko mengelus dada mengingat perbedaan sikap Emi dan Bima sebelum akhirnya dia kembali pulang.
__ADS_1
...Cover dan Sinopsis saya ganti ya karena editor bilang lebih bagus seperti yg semula😁😁🙏...