CEO Pengganti

CEO Pengganti
Minggat


__ADS_3

Motor Bian tiba terlebih dahulu di susul mobil Bima yang juga baru pulang dari kantor. Wajah Bima kecut dan mengkerut saat melihat Emi turun dari motor dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Bersikap ramah pada pemilik rumah, Bian membunyikan klakson motornya sembari tersenyum menunduk ke Bima saat pergi. Langkah panjang Bima mengejar Emi yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Bima membuka pintu kamar Emi yang tidak terkunci.


Spontan Emi kaget saat melihat Bima berdiri di depan pintu kamarnya. Untung saja Emi belum melepas seragamnya.


Netra Bima langsung tertuju pada rok yang di pakai Emi. Meski tidak perhatian namun Bima juga bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Emi.


"Apa kau ke sekolah mau jualan paha?"


Emi hendak menjawab tapi dia yakin apapun yang dia katakan tidak akan dipercaya oleh Bima. Emi lebih memilih diam dan gegas ke kamar mandi.


"Emi? Ayo jawab! Apa kau memberontak karena hal semalam dengan berpakaian seperti ini? Kau itu mau sekolah atau mau ngapain di luar sana?"


Emi yang sudah masuk ke dalam kamar mandi ditarik paksa oleh Bima.


"Semalam kau pulang jam delapan malam, hari ini kau pulang dengan rok yang memperlihatkan pahamu. Besok-besok apa lagi, hah? Apa lagi, ayo jawab!" hardik Bima.


"Memangnya apa peduli om Bima? Aku bukan siapa-siapanya om Bima dan kita terhubung hanya karena bunda. Apapun yang aku katakan juga nggak akan ada bedanya. Om Bima cuman bisa marah-marah. Lebih baik om Bima seperti yang dulu aja, cuek dan masa bodoh sama aku. Aku-"


Bima mengangkat telunjuknya agar Emi berhenti bicara. Sesaat Bima menutup matanya, berpikir apa yang harus dia katakan.


"Sekarang coba lihat rok yang kau pakai," tunjuk Bima pada rok Emi. "Itu bukan rok anak sekolahan meskipun ada juga yang memakainya. Berpakaian selayaknya anak sekolah dan jangan aneh-aneh."


"Justru yang aneh itu om Bima. Sekarang sukanya marah-marah. Kalau bukan karena tadi rok aku robek, aku juga nggak mungkin pakai rok yang ini. Masih syukur ada Bian yang beliin tadi, kalau nggak ada Bian dipastikan aku pakai rok robek sampai sekarang."


"Bian?" alis Bima terangkat saat memastikannya pada Emi.


"Iya. Bian yang beliin, sayangnya cuman sisa yang ukuran segini."


"Apapun itu pasti ada kaitannya dengan Bian. Semuanya Bian. Pulang malam sama Bian, dibeliin rok sama Bian, di jajanin sama Bian, diantar jemput sekolah sama Bian. Satu lagi, belajar dengan Bian. Darimana aku yakin kalau kalian itu memang belajar sungguhan atau tidak? Nggak ada yang tahu. Kalau nggak sekalian aja pergi dan tinggal di rumah Bian."


"Kenapa jadi Bian dibawa-bawa? Terus om Bima ngusir aku? Ya udah, besok aku pergi dan nggak balik kesini lagi. Besok, bukan sekarang karena udah sore."


Tup!


Pintu kamar dibanting Emi. Dia langsung menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya yang masih memakai seragam sekolah.


"Emi, kayaknya kamu itu udah gila deh, bisa suka sama om Bima berkepribadian ganda. Ih... Dikira aku takut?" Emi menunjuk-nunjuk dirinya pada pantulan cermin di kamar mandi.


"Mentang-mentang ganteng, wangi dan keren. Hah... Sadarlah Emi... Sadar! Kamu itu bukan levelnya dan dia racun buat kamu, sadar Emi!" memukul-mukul dahinya pelan.

__ADS_1


Hanya ibu Sri yang menjadi saksi hidup pertengkaran Bima dan Emi lagi hari ini. Ibu Sri hanya mengelus dada, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Kayaknya ini rumah berbeda 180 derajat setelah Emi datang. Panas dingin tapi seru, suana jadi rame nggak kayak kuburan seperti dulu.


....


Emi sudah bertekad, dia bukan anak kecil yang sesuka hati bisa dimarahi oleh Bima. Selesai mandi tadi, dia mengemasi kembali semua barang-barangnya ke dalam koper tanpa tersisa. Dua koper berisi semua barang-barangnya sudah berada dibalik pintu.


Tidak ada makan malam, Emi tidak berselera. Dia memilih memainkan ponselnya. Sebelum lupa, ia menelpon pak Eko.


"Halo pak Eko?"


"Iya, ada apa Emi?"


"Besok jemput Emi ke sekolah ya, pak?"


"Oh, siap! Pulang sekolahkan?"


"Iya, pak. Jangan lupa."


Emi sudah memikirkannya, dia akan pergi sekolah seperti biasanya dan mengambil barang-barangnya setelah pulang sekolah dan kembali ke rumah bundanya.


Di kamarnya, Bima sedang menerima panggilan telepon dari pak Eko. Bima menyunggingkan senyum mendengar jika Emi menyuruh pak Eko menjemputnya besok saat pulang sekolah.


Itulah yang ada di pikiran Bima saat mendengar perkataan pak Eko. Bima pikir Emi berubah pikiran dan mematuhi aturannya tanpa berpikir kemungkinan yang lain.


....


Pak Eko sudah standby menunggu Emi di luar gerbang sekolah. Pukul sepuluh tadi Bima justru menghubunginya untuk mengingatkan agar jangan sampai lupa menjemput Emi ke sekolah.


Pagi tadi seperti biasanya Emi masih di jemput oleh Bian dan tidak bertemu Bima sama sekali. Pertemuan terakhir mereka saat Emi membanting pintu kamar mandi semalam.


"Pak Eko?" teriak Emi melambaikan tangan.


Pak Eko langsung menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan area sekolah setelah Emi duduk di sebelahnya.


"Tumben, Bian-nya kemana?"


"Ada, tapi lagi kangen sama pak Eko."


"Bisa aja nak, Emi. Terus Bian-nya udah pulang?"


"Belum, masih di sekolah. Lagi main futsal sama teman-temannya."

__ADS_1


"Oh... Bukan karena lagi marahan sama Bian, makanya minta pak Eko jemput hari ini?"


"Ya enggaklah. Bian itu orangnya baik dan nggak mungkin marah sama Emi. Bian is the best pokoknya, pak."


"Terus si om Bima gimana? Ada kemajuan nggak?"


"Close the door! Jangan diomongin lagi."


"Waduh! Oke deh."


Tiba di halaman rumah Bima, Emi menyuruhnya untuk menunggu dan meninggalkan ransel sekolahnya di tempat duduknya.


Pak Eko menurut saja, berpikir jika Emi masih ingin diantar ke suatu tempat atau ingin memberi pak Eko sesuatu.


Tak lama Emi keluar dari rumah, menyeret dua koper di tangannya. Pak Eko menepuk jidatnya, ia paham apa yang sedang terjadi meski Emi belum memberitahu.


"Bantuin pak Eko, berat."


Ibu Sri berlari dari dalam rumah saat mendengar suara Emi memanggil pak Eko. Dilihatnya Emi kesulitan menarik dua koper miliknya.


"Ma-mau kemana? Nak Emi mau kemana bawa koper?" panik ibu Sri.


"Minggat, Bu. Makasih ya sudah baik dan bantuin aku. Kalau ada salah-salah, maafin juga ya, Bu?" ucap Emi sambil menyerahkan salah satu kopernya pada pak Eko. "Oh iya, kamarnya udah aku rapikan kok. Ya udah, aku pamit pulang, Bu."


"Tunggu-tunggu, kalau pak Bima nanya nanti ibu bilang apa?"


"Hah... Nggak usah panik atau pusing, Bu."


Dengan santai Emi memutar tubuhnya kembali kebelakang menghampiri ibu Sri.


"Om Bima nggak bakal tanya atau cariin aku, jadi ibu nggak usah takut. Kalau dia marah laporin aja ke polisi atau ngundurin diri aja sekalian dan kerja di rumah bunda Emi, biar ada teman ibu Nani di sana, istri pak Eko."


Emi meninggalkan ibu Sri dan membantu pak Eko memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil. Pak Eko menatap Emi ingin mengatakan sesuatu namun sudah terlebih dahulu di sela Emi.


"Kita pulang ke rumah bunda pak Eko. Jangan tanyain Emi kenapa, oke? Satu lagi, pak Eko jangan takut karena pak Eko itu kerja buat bunda bukan buat om Bima. Ayo, pak."


Pak Eko hanya bisa mengikuti permintaan Emi. Dia yakin, cepat atau lambat ponselnya akan berdering untuk menanyakan mengenai Emi.


Emi melihat pada bangunan rumah Bima dan membuat gerakan tangan seperti sedang mengokang senjata.


"Fiuhhh.... Dor!" menembak rumah Bima.


"Jalan, pak."

__ADS_1


__ADS_2