CEO Pengganti

CEO Pengganti
Bahagia


__ADS_3

"Apa kau senang malam ini?"


"Sangat. Makasih, om."


"Kalau gitu ayo kita lakukan setiap akhir pekan, bagaimana?"


Malam ini merupakan kencan pertama Emi yang tidak akan pernah ia lupakan. Malam ini berjalan dengan baik seperti keinginan Emi dan malam yang selalu diimpikannya sejak bertemu Bima.


Sambil tersenyum bahagia Emi menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Bima yang akan mengajaknya berkencan setiap akhir pekan, layaknya pasangan pada umumnya.


"Bagaimana dengan pertanyaan tadi?"


"Yang mana, om?"


"CK! Kau baru saja mengatakannya. Sampai kapan kau memanggilku 'om'? Aku juga tidak suka kalau disamakan seperti Justin dan Kevin, jadi jangan panggil aku 'kakak'."


"Lalu, aku harus panggil apa?"


Sejenak Emi berpikir, seperti yang Bima katakan, tidak mungkin memanggil pria itu lagi dengan sebutan 'om'. Emi juga setuju tapi bingung akan memanggil Bima dengan sebutan apa.


Beberapa menit berlalu, Emi sudah memikirkan sesuatu berbeda dengan Bima yang tetap fokus mengemudi meski sesekali mengecup tangan Emi yang ada di genggamannya.


Emi tersipu malu membayangkan saat ia akan memanggil Bima dengan panggilan yang dipikirkannya.


Pikiran Emi semakin berkelana saat mengingat bibir Bima yang mendarat singkat di bibirnya saat makan tadi.


*Apa akan seperti di film-film? Yang tadi itu ciuman pertamaku, apa om Bima akan menciumku lagi nanti?*

__ADS_1


Membayangkan apa yang mungkin Bima akan lakukan padanya nanti semakin membuat wajah Emi merona. Emi senyum-senyum dengan kepala menunduk, tak sadar ia menggigit kecil bibirnya.


Sebagai pria dewasa, Bima bisa menebak apa yang sedang Emi pikirkan. Melihat apa yang Emi lakukan pada bibirnya sendiri, membuat Bima sedikit kurang fokus pada jalanan di depannya. Untung saja saat ini mereka sudah berada di area perumahan Bima dan hanya dalam waktu satu menit mobil yang di kendarai Bima sudah parkir di halaman rumah.


"Ayo," ajak Bima setelah membuka pintu mobil untuk Emi keluar.


Senyum tak lepas dari wajah hingga berada di depan pintu kamarnya.


"Tidurlah, sudah malam. Kau juga pasti lelah," ucap Bima tapi tak melepas tangan Emi.


"Em," jawab Emi singkat sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Masuklah ke dalam," membuka pintu kamar Emi.


Perlahan Bima melepas tangan Emi dan tersenyum karena Emi kembali mengigit bibirnya.


"Selamat malam," ucap Bima mengelus kepala Emi.


"Selamat malam juga, sayang."


Ya. Ada banyak panggilan untuk orang tersayang tapi kata 'sayang' yang menjadi pilihan Emi. Sederhana tapi cukup menggambarkan isi hatinya untuk si pemilik panggilan tersebut.


"Sayang?" tanya Bima memastikan kalau dia tidak salah dengar.


Emi mengangguk membenarkan Bima. Setelahnya dalam hitungan detik Emi berlari ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


Emi... Tenanglah, jaga sikapmu. Jangan terlihat konyol di depannya. Kira-kira om Bima suka nggak ya kalau aku panggil seperti tadi?

__ADS_1


Emi melompat ke atas tempat tidur dan menggeliat-geliat di dalam selimut sedangkan Bima melanjutkan jalannya menuju kamarnya.


"Gadis kecil itu," ucap Bima yang juga tersipu saat dipanggil sayang oleh Emi.


Bima ingin menunjukkan sikap dan sisi seorang pria dewasa dihadapan Emi setiap berdua tapi siapa yang bisa menduga di saat sudah sendiri di kamar, Bima tidak ubahnya seperti pria yang kasmaran.


Bayangannya yang tersenyum lepas di cermin membuat Bima tertawa kecil. Entah sudah berapa lama senyum dan tawanya itu hilang dan kini kembali oleh seorang gadis bernama Emi.


Hari-hari Emi semakin berwarna semenjak menjalin hubungan dengan Bima. Hampir setiap akhir pekan keduanya menghabiskan waktu bersama. Sebagai seorang pria dewasa yang bertanggung jawab, Bima menjaga Emi dengan baik.


Emi bahagia karena semua berjalan seperti apa yang diinginkannya dan berharap akan selamanya seperti itu.


.....


"Bunda yakin nggak mau nunda keberangkatannya aja? Kondisi bunda lagi kurang baik, Justin khawatir bunda kenapa-kenapa."


"Enggak, nak. Bunda cuman sedikit pusing aja. Bunda sudah minum obat, bentar lagi juga pasti baikan."


"Bunda yakin?"


"Iya, bunda yakin. Kamu baik-baik selama nggak ada bunda."


Justin memeluk bunda Mila saat pemberitahuan keberangkatan pesawat yang membawa bunda Mila menuju tanah air terdengar.


Bunda Mila berangkat ke Indonesia lebih cepat dari yang sudah ia rencanakan. Wanita itu yakin dengan keputusan yang sudah ia buat. Keputusan yang akan menyudahi tanggung jawab besar Bima akan Suntama Grup.


"Semoga keputusan bunda kali ini adalah yang tepat," ucap bunda Mila saat pesawat take off.

__ADS_1


Bunda Mila sengaja tidak memberitahu kepulangannya. Ia ingin memberi kejutan bagi Emi maupun Bima.


Tiba di salah satu bandara ibu kota negara, alih-alih menghubungi pak Eko untuk menjemputnya, bunda Mila memilih menggunakan taksi. Ia takut pak Eko akan memberitahu Emi mengenai kepulangannya.


__ADS_2