CEO Pengganti

CEO Pengganti
Seseorang Di Belakang Rumah


__ADS_3

Di sinilah Bima tengah duduk bersandar pada tembok belakang rumahnya. Pencahayaan yang tidak begitu terang membuat siapa saja tidak akan jelas melihat keberadaan Bima.


Tatapan Bima begitu kosong meski di depannya tumbuh subur bunga yang dirawat baik oleh ibu Sri. Bima melempar kaleng minuman yang sudah kosong ditangannya ke sembarang arah.


Bima mengambil kaleng kedua dari kantong plastik disampingnya. Bima sudah melepas jas dan dasinya sedangkan kemejanya sudah berada diluar celana.


Eeggk!


Bima bersendawa saat menghabiskan isi kaleng kedua dan melemparnya lagi ke sembarang arah dan mengenai sebuah batu hingga menimbulkan suara nyaring. Bima tersenyum kecut mengingat ucapan wanita yang dijumpainya di pesta.


"Kacung," gumam Bima dengan bibir tersungging.


Satu kata itu membuat perasaan Bima begitu terluka. Andai saja semua orang tahu apa yang dirasakan Bima selama ini. Bima mengacak rambutnya, merasa stress dengan keadaannya.


Ponselnya yang juga dia letakkan di dekat kantong plastik tak berhenti menerima pesan dan panggilan. Bima membuka pesan dari mamanya dan tertawa saat membaca isinya.


Mama:


"Ambil cuti dan pulang sebentar kerumah. Pulang dengan membawa calon menantu, kalau tidak maka mama yang akan datang ke rumahmu dengan membawa calon istri untukmu."


Bima:


"Bima nggak janji buat pulang secepatnya dan nggak ada calon menantu yang akan Bima bawa."


Mama:


"Kalau gitu mama yang akan kesana dan cariin mantu buat mama."


Mama:


"Ini foto Bisma, keponakan kamu yang paling besar. Bentar lagi dia lulus SMA dan kuliah. Dia lagi liburan ke Bali dua hari yang lalu dan nanyain kamu."


Bima kembali tertawa saat melihat foto keponakannya yang ternyata sudah besar dan akan lulus SMA. Seingat Bima keponakannya itu masih SD saat terakhir kali bertemu.


..........


"Om Bima belum pulang ya, Bu?"


"Mobilnya sudah ada di depan tapi orangnya belum masuk ke rumah dari tadi."


Emi menggaruk tengkuknya bingung, ia ingin mengatakan sesuatu pada Bima mengenai sekolahnya yang akan mengadakan karya wisata tahunan anak kelas tiga.


Jika ingin ikut acara karya wisata maka setiap peserta harus mendapat izin dan tanda tangan dari orangtua ataupun walinya. Jelas saja Emi sangat antusias ingin ikut mengingat kegiatan itu hanya ditujukan pada murid kelas tiga.


"Ada yang perlu diomongin ya?"


"Iya, Bu."


"Tunggu aja, jangan masuk kamar sebelum pak Bima datang. Kalau enggak, coba cari ke depan," saran ibu Sri.


Emi melakukan saran ibu Sri dan keluar menemui Bima. Celingak-celinguk Emi mencari keberadaan Bima yang tidak kelihatan tapi mobilnya sudah ada di halaman rumah.

__ADS_1


Sambil berjalan-jalan di sekitar rumah Emi mencari keberadaan Bima. Bunyi sebuah kaleng terdengar jelas di telinga Emi dan bunyi itu berasal dari bagian belakang rumah.


Perlahan-lahan Emi melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah sambil menyalakan cahaya senter ponselnya.


Trang...


Bunyi sebuah kaleng kembali terdengar, Emi yakin pasti ada seseorang di belakang rumah. Jika gadis lain pasti akan memilih kabur tapi tidak dengan Emi yang memiliki rasa penasaran yang tinggi.


Emi mematikan senter ponselnya agar tidak ketahuan dan mengintip dari samping tembok. Dari posisinya berada Emi bisa mencium bau asap rokok yang membuatnya ingin muntah.


Sekuat mungkin Emi menahan mual saat melihat seseorang di belakang tembok rumah sedang menghisap rokok dan dari mulutnya keluar asap yang begitu mengepul.


Emi membuka matanya lebar-lebar dan melotot tak percaya jika orang yang dia lihat ternyata adalah Bima. Jika tangan kanan memegang sebatang rokok maka tangan kiri Bima memegang kaleng minuman.


Untuk semakin meyakinkan dirinya, Emi berdiri menghadap ke arah Bima, mengarahkan ponsel pada pria itu dan menyalakan kembali senter ponselnya.


Cahaya dari ponsel membuat Bima silau dan menoleh pada asal cahaya itu. Emi sontak kaget saat beradu tatap dengan Bima yang kembali menghisap rokok di tangannya. Emi langsung berlari dan masuk ke kamarnya, ada rasa takut di hati Emi setelah melihat apa yang dilakukan Bima.


Melihat penampilan Bima selama ini membuat Emi tak percaya jika selain minum alkohol Bima juga menghisap rokok, dua hal yang sangat tidak disukai Emi dari seorang pria.


Sebatang rokok yang dijepitnya dengan telunjuk dan jempol kembali di hisap Bima dan menghembuskan nafas yang penuh asap rokok ke udara. Tawa Bima mengiringi asap yang keluar dari hidung dan mulutnya.


Emi duduk bengong di atas tempat tidurnya membayangkan Bima sedang menghisap sebatang rokok. Mata Emi tertuju pada selembar kertas di atas meja belajarnya, kertas persetujuan yang harus di tanda tangani Bima jika Emi ingin ikut karya wisata.


Usai menghabiskan rokok ditangannya, Bima masuk ke dalam rumah dan menuju dapur karena haus.


Pasti habis minum.


"Sudah ketemu dengan Emi, pak? Tadi dia nyariin pak Bima. Ada yang penting katanya soal sekolah."


Setelah menghabiskan isi gelasnya, Bima meninggalkan dapur tanpa menjawab pertanyaan ibu Sri. Sebelum naik ke kamarnya, terlebih dahulu Bima menuju kamar Emi untuk menanyakan hal penting yang dikatakan ibu Sri.


Tok-tok-tok


Suara ketukan di pintu kamar membuat Emi deg-degan. Emi yakin bukan ibu Sri yang mengetuk pintu kamarnya. Ibu Sri akan mengetuk sambil memanggil namanya. Jika bukan ibu Sri maka orang itu adalah Bima karena hanya ada mereka bertiga di rumah itu.


Tok-tok-tok


Bima kembali mengetuk pintu kamar di depannya. Bima sudah sangat lelah dan mengantuk, dia menguap sambil memijit-mijit tengkuknya.


Emi mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu kamarnya. Seperti dugaannya, saat pintu kamar terbuka dia langsung melihat Bima berdiri di depan pintu. Emi mengangkat wajahnya melihat penampilan Bima dari atas hingga bawah.


"Katakan, ada perlu apa?" tanya Bima tanpa basa-basi.


Emi menggeleng, tak seirama dengan apa yang keluar dari mulutnya.


"Besok pagi aja," ucap Emi.


"Katakan sekarang, cepat!"


Emi ingin muntah karena Bima bicara begitu dekat dengan wajahnya. Bau minuman dan rokok membuat perut Emi mual, baunya begitu menusuk hidung.

__ADS_1


"Aku bilang besok aja, om Bima habis minum."


"Lalu kenapa kalau aku minum? Apa ada masalah?"


"Aku nggak suka, orang yang minum pasti mabuk. Kalau mabuk biasanya otaknya nggak waras."


Bima tertawa kecil mendengar penjelasan Emi. Bima juga merasa jika dirinya sudah sedikit mabuk saat ini tapi dia masih cukup waras. Bima menundukkan kepalanya dan menatap wajah Emi yang terlihat masam.


"Kau pasti menyesal karena menyukaiku setelah melihatku malam ini. Ayo katakan ada perlu apa?"


Emi masuk ke kamarnya untuk mengambil kertas yang harus di tanda tangani Bima.


"Ini," memberikan kertas yang dipegangnya.


Bima membaca isi kertas itu sambil me dengar penjelasan Emi.


"Sekolah mau mengadakan karya wisata dan itu tiap tahun, khusus anak kelas tiga. Harus ada izin dan tanda tangan orangtua atau wali kalau mau ikut acara itu. Acaranya dua hari satu malam," jelas Emi.


"Lalu?" tanya Bima melirik Emi.


"Ya aku mau ikut juga. Bunda tidak ada, jadi om Bima yang harus tanda tangan. Besok kertasnya harus dikumpul."


Emi melihat pena di saku kemeja hitam Bima dan mengurungkan niatnya untuk mengambil penanya.


"Pakai itu aja," tunjuk Emi pada pena di saku Bima.


"Apa temanmu yang bernama Bian itu juga ikut?"


"Pastinya karena dia salah satu panitia acara."


Srettt... Srettt...


"Kenapa di robek?"


Mata Emi membola melihat Bima merobek kertas yang dia berikan untuk ditandatangani.


"Itu artinya kau tidak diberi izin," ucap Bima melempar robekan kertas ditangannya.


"Tapi kenapa? Nggak ada alasan untuk tidak ikut, kalau ada bunda juga pasti dikasih izin," geram Emi mengepalkan kedua tangannya.


"Selama bundamu tidak ada, aku yang ambil keputusan untuk apa yang bisa dan tidak bisa kau lakukan. Masuk kamar dan tidur!" tegas Bima.


"Tapi aku mau ikut, teman-temanku juga pasti ikut semua. Om Bima, aku mau ikut?"


Bima memutar tubuhnya dan berjalan menuju kamarnya. Saat menaiki tangga Bima bisa mendengar Emi yang mengumpatnya.


"Brengsek! Om jahat, pelit, gila! Aku sudah bilang bicara besok. Percuma ngomong sama orang mabuk, otaknya nggak waras," umpat Emi.


Tak!


Bima menutup matanya mendengar dentuman keras pintu kamar Emi saat ditutup.

__ADS_1


__ADS_2