
Pekerjaan yang menumpuk membuat Bima bertahan di kantor hingga malam hari. Pasalnya setelah makan siang, Bima keluar kantor untuk urusan pribadi. Bima hanya mengatakan pada Nola jika ada keperluan pribadi yang harus dia selesaikan.
Jika menyangkut urusan pribadi maka Nola tidak akan bertanya lebih jauh. Selain sebagai direktur utama dan temannya, tentunya Nola paham jika Bima juga memiliki privasi tersendiri.
"Pak Bima belum mau pulang? Ini sudah hampir jam sembilan malam, sebaiknya pak Bima istirahat dan melanjutkannya besok."
Bima menghela nafas memandangi file-file yang harus dia baca dan pahami sebelum membubuhkan tanda tangan.
"Kau pulanglah deluan, seorang wanita tidak baik pulang terlalu malam."
Nola menyunggingkan senyum melihat Bima menguap sambil merenggangkan kedua tangannya.
"Apa ini rasa khawatir pada karyawan atau pada teman?"
"Selain sebagai pimpinan juga sebagai teman. Aku tidak mau pacarmu menyalahkanku dengan berpikir aku yang memaksamu untuk lembur sampai jam segini."
"Hehehe... Tidak perlu khawatir, dia sudah ada di lobi menungguku sedari tadi."
"Benarkah? Kalau begitu kau beruntung punya kekasih seperti dia."
"Apa aku bisa mengatakan sesuatu sebagai teman saat ini?" tanya Nola.
"Tentu, silahkan."
Hoam....
Nola tertawa, sedari tadi dia juga sudah menahan ngantuk dan ingin menguap. Berhubung saat ini dia dan Bima dalam mode berteman, jadi Nola bisa sedikit lebih rileks dari posisinya saat sebagai sekretaris Bima.
"Bima?"
"Em, kenapa?"
"Memiliki seseorang yang kita sayang dan juga menyayangi kita, rasanya sangat bahagia. Saat lelah dan ada masalah yang tidak bisa kita bagi rasanya sangat menyesakkan. Menahan semua yang kita hadapi seorang diri sangat melelahkan hati dan pikiran."
"Ya, aku setuju dengan itu tapi hidup harus terus berjalan, La."
Keduanya terlihat lebih santai saat mengobrol karena sudah bukan sebagai atasan dan karyawan. Bahkan kini Bima mengambil dua kaleng minuman ringan dari mini bar yang tersedia di ruangannya.
"Dan kebahagian itu tidak selalu berpihak pada kita," ucap Bima memberikan satu kaleng minuman pada Nola setelah terlebih dahulu membuka penutupnya.
"Apa kau tahu, kebahagiaan itu selalu datang dan ada di sekitar kita. Hanya saja terkadang kita tidak menyadarinya karena kita terlalu fokus pada apa yang saat ini kita kerjakan," ucap Nola memberitahu.
__ADS_1
"Kau juga harus tahu kalau tidak semudah itu untuk bahagia," balas Bima menatap Nola.
"Bim? Ayolah, lupakan rasa bersalah itu dan temukan lagi kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Aku yakin ibu Mila juga tidak ingin melakukan ini dan apa yang kau lakukan untuk Suntama Group selama ini sudah lebih dari cukup."
"Kebahagiaanku adalah saat mengangkat kaki dari perusahaan ini dan ninggalkan semua yang berkaitan dengan Suntama."
"Dan aku salah satu yang akan memberimu selamat saat hari itu tiba. Terlepas dari itu semua, kau harus menemukan kebahagiaanmu mulai sekarang."
"Baiklah-baiklah, sudah semakin malam dan sudah waktunya untuk pulang. Jangan membuat kekasihmu menunggu terlalu lama karena tidak enak rasanya."
"Kau tahu menunggu itu tidak enak tapi kenapa kau menahan apa yang ingin kau lakukan untuk dirimu sendiri?"
Bima mendekati Nola dan berdiri tepat dihadapan temannya itu. Hanya Nola yang tahu bagiamana kehidupan Bima di perusahaan selama lima tahun terakhir ini.
"Sekarang katakan padaku, apa yang harus aku lakukan, hem? Kebahagiaan seperti apa yang selalu datang dan ada di sekitarku. Aku penasaran kebahagian seperti apa yang bisa aku dapat dan rasakan dalam keadaan seperti ini."
"Aku ingin melihat Bima yang dulu lagi, Bima teman sekolahku yang tidak pelit pada senyuman dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Kau bisa menciptakan kebahagiaanmu sendiri tanpa bantuan orang lain, Bim. "
"Seperti?"
"Kau harus bertemu dengan seorang wanita yang bisa membuatmu tersenyum bahagia dari sini," ucap Nola menunjuk-nunjuk dada Bima.
Bima terdiam mendengar perkataan Nola. Jika diingat maka memang benar apa yang dikatakan Nola, Bima yang dulu murah senyum dan tertawa seketika menghilang selama lima tahun ini.
Bima mengambil jasnya yang ia gantung di kursi dan berjalan meninggalkan ruangannya.
"Bim? Bima?" panggil Nola merasa apa yang dikatakannya diabaikan Bima begitu saja.
Nola mengejar langkah Bima sambil mengumpat habis-habisan. Tentu saja hal itu hanya bisa dia lakukan saat bukan dalam posisi sebagai sekretaris Bima melainkan sebagai teman.
..........
Sudah pukul sepuluh malam saat Bima tiba di rumah tapi suara cekikikan dari dalam kamar Emi masih kedengaran begitu kuat. Bima yang akan ke kamarnya pun berhenti di depan pintu kamar Emi.
Tok-tok-tok
"Siapa?" tanya Emi dari dalam kamar.
"Apa kau akan cekikikan sampai pagi? Apa kau bukan anak sekolah? Tidurlah, sudah malam."
"Iya."
__ADS_1
Memangnya dia siapa mengatur jam tidurku? Terserah aku mau tidur jam berapa. Dia aja pulang malam, apa yang dilakukannya coba sampai jam segini? Pacaran atau melalukan hal seperti semalam lagi?
Meski pikirannya mengatakan belum ingin tidur tapi gerak tubuhnya melakukan sebaliknya. Emi mengambil posisi tidur dan menarik selimutnya.
Bima yang sudah lelah dan mengantuk naik ke atas tempat tidur, dia tidak berniat untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Masih menggunakan pakaian kantor selain dasi dan jas yang sudah di lepasnya sejak lembur, Bima memejamkan kedua matanya berharap untuk segera tertidur.
Detik, menit bahkan jam sudah berlalu akan tetapi mata Bima hanya terpejam saja, sulit baginya untuk bisa tidur. Bima mengingat kembali semua perkataan Nola saat di kantor dan tertawa dalam hati.
Bima membuka mata dan melihat sekeliling, semua biasa saja.
"Kebahagian apa yang ada di dekatku saat ini," gumam Bima. "Tidak ada hal seperti yang kau katakan itu Nola."
Bima berusaha mematahkan akan apa yang dikatakan Nola padanya hingga pandangannya tertuju pada plastik obat yang dibawa Emi saat dia demam.
Ingatan Bima kembali pada saat menelepon pak Eko dan mendengar semua kekesalan Emi tentang dirinya. Bima bangkit dari tempat tidur dan meraih plastik obat di atas meja.
Apa dia benar-benar berlari ke apotik membeli obat ini untukku?
Bima tersenyum melihat plastik obat di tangannya dan membayangkan Emi berlari mengenakan piyama miliknya yang begitu kebesaran ditubuh Emi.
Seseorang yang membuatmu tersenyum dari hati.
Kalimat itu seketika memenuhi pendengaran Bima, seakan ada ada Nola disampingnya saat ini dan membisikkan kalimat itu padanya.
Bima tertawa tanpa mengeluarkan suara, tertawa mengingat kalimat itu dan disaat yang bersamaan bayangan Emi menghampirinya.
"Kenapa harus bayangan gadis kecil itu?"
Bima keluar dari kamarnya, seakan ada yang menuntun langkahnya menuju kamar Emi yang tentunya si pemilik kamar itu sudah tidur mengingat saat ini sudah tengah malam.
Tok-tok-tok
Bima membelakangi pintu kamar Emi usai mengetuknya dan menunggu pintu itu dibukakan.
Tok-tok-tok
Sayup terdengar suara pintu di ketuk dari luar, Emi yang mengira ibu Sri datang membangunkannya untuk sekolah pun berjalan malas untuk membuka pintu.
"Perasaan baru tidur tapi kenapa udah pagi aja?" ucap Emi dengan suara khas orang mengantuk.
Emi membuka pintu kamar dengan mata yang begitu berat dan tertunduk, setahunya ibu Sri adalah orang yang mengetuk pintu.
__ADS_1
Tangan Emi langsung memeluk sosok yang berdiri di depannya, memohon untuk diberi sedikit waktu untuk ia kembali tidur.
"Aku masih ngantuk. Ibu Sri kenapa cepat banget bangunin Emi?" tanya Emi meracau.