CEO Pengganti

CEO Pengganti
Tenanglah Bima


__ADS_3

Di kamarnya Emi yang sedang istirahat sepulang sekolah terlihat mencibir foto-foto dan video di akun sosial media Suntama Group. Bibirnya mengerucut sambil komat-kamit melihat wajah kebahagiaan Bima yang mendapat surprise ulang tahun dari bawahannya.


"Apa wanita ini?"


Mata Emi tertuju pada Nola yang setahunya adalah sekretaris Bima. Wanita itu terlihat begitu modis dengan pakaian yang dikenakannya, terlebih tubuhnya yang ideal dan semampai. Senyum Bima saat menunjuk pada Nola yang memegang kue ulangtahun kian menjengkelkan bagi Emi.


"Pasti dia, iyakan? Kalian memang terlihat serasi. Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian karena malam ini pasti kalian akan berkencan yang romantis."


Emi mematikan ponselnya namun beberapa detik dia kembali menyalakannya dan menghubungi Bian. Emi ingat jika sebelumnya kak Karina mengundangnya pada perayaan aniversary mertuanya yang tak lain adalah orangtua Bian.


"Halo, mi? Ada apa? Kangen aku ya?"


"Is-is-is... Percaya diri boleh tapi jangan terlalu."


"Iya-iya. Emang ada apa? Bukannya apa-apa cuman lagi sibuk nih bantu-bantu di rumah buat acara nanti malam."


"Gitu ya, maaf deh kalau aku jadi ganggu," ucap Emi pura-pura sedih.


"Bu-bukan ganggu, mi. Kamu nggak ganggu, kok. Hanya waktunya aja yang kurang tepat."


"Hehehe... Enggak, kok. Aku cuman becanda."


"Hah... Kirain beneran," ucap Bian lega. "Nanti malam kamu datangkan? Aku jemput ke rumah nanti, oke?"


"Nggak usah, Bi. Aku di antar pak Eko aja nanti."


"Oke kalau gitu. Jangan lupa dandan yang cantik."


"Secantik apa? Secantik putri duyung?"


"Hahaha... Jangan duyung karena kamu nggak bisa berenang, yang ada jadi kelelep. Cukup secantik Emi aja."


"Ya udah, aku matiin telponnya biar kamu bisa bantu-bantu lagi."


"Oke, mi. Sampai jumpa nanti malam ya?"


"Iya....!"


Bian tertawa kecil setelah sambungan telponnya terputus sedangkan Emi langsung membuka lemari untuk memilih pakaian yang akan dia gunakan untuk nanti malam.


Satu per satu gaun dia coba tapi tak ada yang cocok menurutnya. Merasa bingung untuk memilih yang mana, Emi memanggil ibu Nani untuk membantu dan memberikan saran.

__ADS_1


"Kalau yang ini aja gimana?" menunjuk pada dress merah yang pertama kali di coba Emi sebelumnya.


"Aku juga kepikiran buat pakai yang itu tadi, Bu. Cuman itu yang cocok, iyakan?"


"Iya, yang lainnya kurang cocok. Makanya jangan cuman beli jeans dan kaos, kamu udah gadis dan disaat ada acara seperti ini dress itu sangat perlu."


"Nggak kepikiran sebelumnya, nanti kalau bunda pulang aku minta di beliin dress yang cantik."


"Itu paham. Ya udah, mending istirahat aja dulu, bobo cantik gitu. Nanti biar nggak ngantuk di pestanya."


"Emang aku anak kecil? Udah tujuh belas, Bu! Udah dewasa."


"Iya sih, kalau di kampung ibu umur tujuh belas udah banyak yang punya anak. Hahaha...."


Tawa ibu Nani mengundang tawa Emi juga. Bukannya membiarkan Emi untuk istirahat seperti perkataanya, ibu Nani justru jadi bercanda dengan Emi hingga sore.


..........


Trang...


Dalam keadaan setengah sadar dan kepala yang pusing, Bima bangkit dari lantai dan tak memperhatikan kaleng bekas minumannya saat berjalan.


Bima menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur karena kepalanya terasa berat. Tentunya itu dikarenakan enam kaleng minuman yang di teguk Bima. Bukan seorang peminum berat tapi terkadang ada saat dimana Bima mengkonsumsi minuman beralkohol untuk menenangkan pikirannya agar bisa tidur.


Bunyi kriuk dalam perut Bima memaksanya turun kebawah, tepatnya ke meja makan dimana ibu Sri sudah menghidangkan makan malam.


"Pak Bima mau saya buatkan teh jahe hangat?" tanya ibu Sri menawarkan.


Wajah Bima terlihat kusut dan lemas. Ibu Sri yakin jika pengaruh alkohol pada Bima masih kuat meski sudah beberapa jam yang lalu dia minum di kamarnya.


"Boleh," ucap Bima.


Tak butuh waktu lama Bima sudah selesai makan. Makan malam seorang diri saat dia sedang ulang tahun. Alih-alih mengucapkan selamat ulangtahun pada Bima, ibu Sri sama sekali tidak mengingat ulang tahun majikannya itu. Mungkin karena pengaruh umur ibu Sri tidak ingat lagi.


Bima kembali ke kamarnya dan menyalakan ponselnya. Ada banyak notifikasi baik pesan maupun panggilan yang tidak terjawab.


Sebuah video berdurasi sepuluh detik di kirim Karina pada Bima. Dalam video itu menunjukkan sekumpulan pemuda sedang menikmati hidangan pesta sambil tersenyum pada siperekam video.


Mata Bima membola sempurna saat video tertuju pada gadis yang dikenalnya. Tampak gadis itu begitu cantik namun bukan dengan pakaian di tubuhnya.


Dari luar pintu kamarnya ibu Sri memanggil di sertai ketukan.

__ADS_1


"Permisi pak Bima, saya mau mengantar teh jahe hangatnya," ucap ibu Sri meminta izin.


"Masuk aja, Bu."


Setelah di izinkan ibu Sri membuka pintu. Hal pertama yang dilihatnya bukanlah wajah kusut dan berantakan Bima, melainkan kaleng-kaleng bekas minuman yang berserak di lantai. Dan tentunya ibu Sri paham akan hal itu.


"Ck! Argh....," decak Bima memijit keningnya memikirkan video yang baru saja dia lihat.


"Teh-nya saya letak di atas meja, pak. Saya permisi."


"Terimakasih."


Sebelum meninggalkan kamar Bima, ibu Sri terlebih dahulu melirik dan melihat Bima seperti sedang kesal sambil menghubungi seseorang.


Berulang kali Bima menghubungi Emi namun tak sekalipun diangkat.


Tenanglah Bima, tenang. Terserah dia pergi kemana, dengan siapa dan memakai apa, itu bukan urusanmu. Kau hanya perlu mengurus perusahaan. Jangan keluar dari zona-mu.


Bima mencoba menghubungi kembali Emi. Jika sedari tadi panggilan Bima tidak di terima namun kali ini Emi malah menolaknya. Emi menonaktifkan ponselnya agar Bima tidak terus-menerus menghubunginya.


"Kenapa lebih mudah mengurus perusahaan besar dibanding satu anak sekolahan? Ah, siall!" umpat Bima.


Dengan gesit Bima meraih kunci mobil dari atas nakas dan berlari menuju mobilnya.


Karena ibu Mila. Ya, ini hanya karena ibu Mila.


Bima mencoba meyakinkan dirinya jika saat ini apapun yang dia lakukan hanya karena ibu Mila, bunda Emi. Wanita itu sudah menitipkan Emi dan bagaimanapun Bima mempunyai kewajiban menjaga Emi selama bundanya tidak ada.


Perlahan gerimis halus yang turun berubah menjadi rintik-rintik hujan. Waktu sudah menuju pukul setengah sepuluh malam saat Bima menghentikan mobilnya di parkiran sebuah rumah mewah yang sedang mengadakan pesta.


Dari dalam mobil, Bima meneliti satu per satu orang yang ada di sana, mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman luas yang di sulap menjadi tempat yang indah untuk perayaan aniversary pernikahan sepasang suami-istri.


Tampak Karina dan Radit sedang mengobrol dengan beberapa tamu undangan. Sang pemilik pesta berkeliling menyapa para tamunya. Namun kedatangan Bima bukan untuk mereka. Bima datang karena Emi, dia datang karena video yang dikirim Karina padanya.


Bukannya tadi dia pakai gaun biru dalam video itu?


Di salah satu meja Emi sedang menikmati pesta dengan Febi dan Yoga sedangkan Bian sedang pergi ke toilet untuk menuntaskan panggilan alamnya.


Asik mengobrol dengan teman-temannya membuat Emi tidak menyadari jika Bima sudah berjalan menuju ke arahnya.


Greb!

__ADS_1


Emi terkejut saat tangannya ditarik paksa menjauh dari pesta sedangkan Febi dan Yoga yang menyaksikan hal itu hanya mematung. Emi semakin terkejut karena orang yang menarik tangannya adalah Bima.


"Om Bima, lepas!" ucap Emi berontak.


__ADS_2