CEO Pengganti

CEO Pengganti
Hampir Sempurna


__ADS_3

Hari yang tidak ditunggu pun tiba. Pak Anwar langsung memberikan soal kuis matematika. Terlihat wajah-wajah sungut dan kesal pada beberapa siswa.


"Mi? Nggak boleh nyontek, harus kerjain sendiri. Ingat! Buat banggain bunda kamu bukan untuk yang lain."


"Iya, aku tahu. Udah diam, berisik."


Emi menelan salivanya saat melihat satu per satu soal di depan matanya. Biasanya pak Anwar kerap kali meninggalkan kelas setelah memberi tugas namun berbeda dengan hari ini. Pak Anwar tak keluar sama sekali dari ruangan kelas. Dia hanya duduk di kursinya sambil mengamati satu persatu anak didiknya.


"Yang di belakang jangan toel-toel temannya yang di depan," ucap pak Anwar pada salah satu murid.


Pak Anwar senyum-senyum melihat banyak murid yang duduk bagai cacing kepanasan. Dia sengaja tidak meninggalkan kelas karena tahu jika selama ini kebanyakan dari mereka akan saling contek.


Jika Emi dan Bian sedang menghadapi kuis matematika maka Bima sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan perusahaan hari ini.


Pagi hingga siang hari Bima mengunjungi pabrik pembuatan kosmetik yang semakin hari semakin banyak di gunakan para konsumen. Kemungkinan besar omset penjualan produk tersebut akan meningkat dua kali lipat atau bisa saja lebih dari bulan sebelumnya.


Selesai makan siang bersama karyawan di pabrik, Bima melakukan kegiatan sosial di salah satu panti asuhan hingga sore hari.


Kegiatan sosial seperti membenahi bangunan panti yang rusak, bersih-bersih dan memberikan pengajaran ataupun motivasi pada anak panti. Semuanya itu dilakukan Bima untuk menggantikan Mila, nyonya Suntama.


Ada beberapa karyawan yang ikut bersama Bima agar kegiatan sosial kali ini lebih ramai dan memberi keceriaan pada anak panti.


"Ibu Mila apa kabarnya pak Bima?" tanya seorang ibu selaku pimpinan panti asuhan.


Bima yang sedang sedang memperbaiki kaki meja yang patah langsung menoleh pada si pemilik suara.


"Ibu Mila kabarnya baik. Ibu Mila lagi ada di luar negeri jadi saya yang menggantikan beliau," jawab Bima ramah. "Maaf kalau saya bicara sambil ketok-ketok begini, Bu."


Bima merasa tak enak karena dia bicara sambil membenarkan kaki meja yang rusak.


"Nggak kenapa-napa kok pak Bima. Justru saya dan para pengurus panti lainnya jadi ngerepotin tiap bulannya. Belum lagi dengan hadiah-hadiah yang di bagi pada anak-anak. Terimakasih, pak."


"Bukan saya, Bu. Itu semua dari ibu Mila."


"Tapi tetap saja yang kerja dan menghasilkan duitnya itu pak Bima. Oh iya, mereka bertiga kabarnya gimana, pak?"


"Semuanya baik, Justin dan Kevin lagi lanjutin S-2 di luar negeri."


"Mereka beruntung diasuh oleh ibu Mila. Selain keadaan ekonomi yang tentunya mumpuni, ibu Mila juga orang baik."


Bima mengulas senyum, dia tidak tahu akan berkomentar apa. Ya. Ibu Mila sangat baik mengadopsi tiga anak sekaligus dari panti dan menganggap mereka seperti anak sendiri. Di sisi lain ada dirinya yang seolah terpenjara oleh ibu Mila, menjadikan Bima tonggak Suntama hanya karena satu kesalahan. Memberinya sebuah tanggung jawab besar yang tidak diinginkannya sama sekali.


"Kalau Emi sendiri gimana pak Bima? Saya yakin semua orang pasti menyukainya. Dia anak yang ceria dan penurut," cerita ibu panti akan Emi.

__ADS_1


"Dia juga baik."


Penurut?


Bima mengangkat kedua alisnya saat ingin memukul paku yang menonjol di salah satu sisi meja yang sedang dia perbaiki.


Lebih tepatnya pemberontak


Tok!


Satu pukulan terakhir berhasil membuat paku tertancap dengan baik.


Sekitar pukul lima sore Bima dan karyawan yang ikut bersamanya meninggalkan panti setelah terlebih dahulu pamit pada pengurus panti dan puluhan anak-anak yang tinggal di sana.


Sebelum pulang ke rumahnya, Bima singgah sebentar untuk memberikan titipan ibu panti pada Emi. Titipan ibu panti sama seperti yang tadi mereka makan di panti, yaitu gado-gado. Ibu panti bilang jika Emi menyukai banyak makanan dan salah satunya gado-gado buatan ibu panti.


Suara riuh memenuhi ruang tengah saat Bima baru berada di ambang pintu. Terdengar suara sorakan Emi dari dalam seperti orang yang sedang kesenangan.


"Daebak.... Emi berhasil pak Eko. Emi berhasil Bu Nani. Ini patut dirayain, ini hasil kerja keras Emi," tak percaya melihat kertas yang ada di tangannya. Ternyata benar apa yang dikatakan pepatah jika kita mau dan bersungguh-sungguh pasti hasilnya bagus. Emi bangga pada diri Emi sendiri," ucap Emi memuji diri sendiri.


"Iya, Mi. Selamat ya. Sebagai hadiahnya nanti ibu bikinin empek-empek kesukaan, Emi. Di jamin mantul rasanya," janji ibu Nani.


"Nggak usah, Bu. Lama buatnya, nanti ibu Nani capek."


"Masakin gado-gado aja. Emi kangen makan gado-gado," pinta Emi.


Ekhem...


Suara deheman mengalihkan perhatian mereka. Bima berjalan menuju ke arah mereka.


"Pak Bima? Tumben, ada perlu apa, pak?" pak Eko yang sedari tadi hanya sebagai pendengar dan penonton kebahagian Emi membuka suara saat melihat kedatangan Bima.


"Ada apa? Kenapa kedengarannya ramai?" tanya Bima penasaran namun pandangannya tertuju pada Emi yang langsung buang muka saat dia datang.


"Iya, pak. Kita lagi senang, soalnya Emi-"


"Nggak ada apa-apa," sela Emi ketus memotong kalimat pak Eko.


Pak Eko menerima tatapan elang dari Emi, itu tandanya dia dilarang bicara.


Demikian juga dengan ibu Nani yang langsung menuju dapur untuk menyuguhkan minuman buat Bima.


Kertas di tangan Emi mencuri perhatian Bima. Emi langsung menyembunyikan kertas itu kebelakang tubuhnya saat menyadari mata Bima tertuju pada kertas itu.

__ADS_1


"Itu apa?" tanya Bima mendekati Emi.


"Bukan apa-apa," jawab Emi masih tetap ketus. "Aku ke kamar dulu."


"Tunggu!" cegah Bima. "Ini titipan dari ibu panti. Untukmu," mengangkat paper bag kecil ditangannya.


Mendengar Bima menyebut ibu panti membuatnya yakin jika titipan itu pasti sesuatu yang Emi sukai.


Emi mengulurkan tangannya, meminta titipan untuknya.


"Kau tidak punya mulut untuk bicara?"


"Berikan," pinta Emi tanpa melihat pada wajah Bima.


"Berikan terlebih dahulu kertas di tanganmu."


"Enggak. Nggak perlu, nggak ada hubungannya sama om Bima.


"Pak Eko?" panggil Bima.


"Iya, pak?"


"Tolong ambil kertas yang ada di tangannya. Ibu Mila tidak ada, saya juga bisa pecat pak Eko kalau tidak nurut," ancam Bima.


"Adududududuh.... Perut saya sakit, ma-maaf, maaf pak Bima. Saya nggak tahan lagi, saya izin ke belakang dulu, pak."


Pak Eko berlari ke belakang sambil memegang perutnya. Bukan-bukan, pak Eko tidak lagi sakit perut, dia hanya akting supaya terlepas dari situasi antara Bima dan Emi.


"Berikan," pinta Bima lagi.


"Ini punyaku dan nggak ada hubungannya dengan om Bima. Jangan maksa!" geram Emi mengambil titipan ibu panti dengan paksa.


Setelah berhasil mengambil paper bag, Emi balik badan dan menaiki tangga menuju lantai dua kamarnya. Tanpa sadar Emi berjalan masih dengan tangan berada di belakang hingga dengan mudah Bima mengambil kertas itu darinya.


"Hakh! Om Bima, balikin!"


Bima tidak menghiraukannya dan melihat isi kertas tersebut. Mata Bima tercengang melihat angka sembilan puluh dengan tinta merah lengkap dengan paraf.


Kertas itu menunjukkan nilai kuis matematika Emi hari ini. Sebelum bel pulang sekolah sang guru langsung memberikan kertas soal yang sudah di nilai. Jangankan pak Anwar sebagai guru matematika, Emi saja tidak menduga jika bisa mendapat nilai 90, nyaris sempurna.


"Kau pasti mencontek dari temanmu," sangka Bima.


"Terserah om Bima mau ngomong apa, aku nggak peduli."

__ADS_1


Emi merebut kembali kertas itu dari tangan Bima dan masuk ke kamarnya. Dia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Bima tentangnya.


__ADS_2