CEO Pengganti

CEO Pengganti
Siapa Yang Suka?


__ADS_3

Tak dipungkiri jika perlakuan Bima padanya semalam membuat Emi kesal bahkan marah tapi dia tidak tunjukkan itu. Emi tidak mau dicap oleh Bima sebagai anak kecil yang gampang marah. Beda jika Kevin memarahinya, akan dengan mudah Emi menyerang balik dan berlari ke kamar bundanya untuk minta perlindungan dengan berpura-pura menangis.


Sungguh Emi ingin mencoba cara itu tapi dia tidak yakin kalau Bima menanggapinya. Bisa-bisa Bima akan semakin tidak suka padanya yang terlihat cengeng. Sebisa mungkin Emi ingin menunjukkan jika ia bukan anak kecil seperti yang selalu Bima katakan. Emi ingin menunjukkan dia yang dewasa dengan cara mandiri dan kuat.


Rasa kesal Emi ditunjukkannya dengan cara tidak menyapa Bima seperti pagi biasanya, duduk pun tidak di sebelah Bima lagi.


Perubahan Emi membuat Bima sedikit bingung. Bima bingung karena baru semalam mereka membuat kesepakatan konyol dan tak masuk akal tapi pagi ini Emi terkesan cuek, seolah tidak menganggap keberadaan Bima.


Pagi ini Emi juga membawa bekal sarapan untuk Bian. Tak sabar Emi ingin bertemu dengannya, menanyakan apa dia dihukum oleh ibu BK atau seperti apa. Emi juga tidak sabar ingin meminta tolong sesuatu pada Bian sang juara kelas dan juara umum di sekolah.


Semuanya berjalan normal kecuali tatapan sinis antara Emi dan Lisa. Bian dan Febi selalu mengingatkan Emi agar tenang dan jangan terpancing emosi yang bisa berakibat fatal.


"Wah... Gila sih itu namanya. Enggak ah, aku nggak mau. Lagian ada-ada aja, emang apa sih yang kamu suka dari om Bima?"


Bian terlihat tidak senang mendengar cerita Emi yang menyukai Bima sejak lama. Ya... mungkin itu sejak Emi bertemu Bima.


Emi menceritakan semua tentang Bima, termasuk sikap Bima dan kejadian semalam. Satupun tidak ada yang terlewatkan oleh Emi saat menceritakannya pada Bian.


"Makanya jangan gitu dong, Bi. Tolongin aku ya, Bi? Kamu kan pintar. Ya-ya?" pinta Emi dengan tampang memelas.


"Mi, kalau buat bantuin kamu biar makin pintar aku nggak masalah, justru aku senang kalau kamu mau belajar lagi seperti dulu tapi ini alasannya aneh dan nggak masuk akal."


"Yah... Bian, jangan gitu dong. Aku cuman nggak mau dikatain bodoh dan diremehin sama orang yang aku suka."


"Sekali aku bilang enggak ya enggak!" tegas Bian. "Udah tahu om Bima nggak suka sama kamu dan di perlakukan nggak baik selama ini tapi masih aja suka sama dia. Aneh!"


"Ya udah, kalau nggak mau bantuin mending kita putus pertemanan aja mulai sekarang."


Bukan... bukan, Emi tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Emi hanya menakut-nakuti Bian, lebih tepatnya lagi mengancam Bian. Emi tahu bagaimana Bian, ancaman seperti itu selalu ampuh selama ini.


Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia takut jika Emi tidak mau berteman lagi dengannya.


"Hmm... Dasar, bisanya ngancam aja. Mulai nanti siang selesai sekolah kita belajar tapi ada syaratnya juga. Nggak ada yang gratis."


"Ia, matre. Apaan? Kalau minta traktir, maaf aku nggak punya uang cukup. ATM ditahan om Bima dan dijatah seratus ribu untuk tiga hari. Jajan di kantin aja kamu yang sering bayarin."


"Untuk syaratnya nanti aja, belum aku pikirin tapi yang jelas selama aku ajarin kamu, nggak boleh mikirin si om Bima. Harus fokus dan konsentrasi. Deal?"

__ADS_1


"Deal!"


Keduanya berjabat tangan menyepakati perjanjian. Diwaktu bersamaan bel berbunyi tanda istirahat selesai.


..........


"Oh... Jadi dia itu anak angkat ibu Mila?"


"Iya dan seperti yang kamu lihat semalam, kita bertemu di ruangan BK sekolahnya."


"Hahaha... Namanya anak sekolah, Bim. Kayak nggak pernah nakal aja dulu waktu sekolah."


Bima, Karina dan Radit suaminya sedang menikmati makan siang sambil mengobrol. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu, tepatnya saat pemakaman anak bunda Mila beberapa tahun lalu.


Dari pembicaraan mereka, Bima akhirnya tahu jika Bian adalah adik Radit.


"Tapi Emi nggak pernah cerita soal Suntama, dia cuman bilang kalau dia anak panti yang diadopsi bersama dua orang anak panti lainnya, ucap Karina.


"Memangnya kamu pernah ketemu Emi?" tanya Radit.


"Emi anaknya seru loh, periang dan gemesin. Apalagi rambutnya yang panjang. Tahu nggak, terakhir kali Bian bawa Emi ke rumah, dia nangis karena Bian ngerjain dia dengan pura-pura memegang gunting buat motong rambut Emi," cerita Karina pada kejadian yang menurutnya lucu.


Karina yang tidak dapat menahan tawanya sampai memukul-mukul lengan suaminya sedangkan Bima hanya menyimak setiap cerita Karina.


"Hahaha... Lucu deh, kalian berdua juga bakalan ketawa kalau lihat raut wajah Emi waktu itu. Pantesan Bian suka, lucu dan gemes kalau udah lihat mereka berdua berantem."


"Maksud kamu apa? Siapa yang suka?" tanya Radit yang kurang jelas mendengar Karina saat bicara karena membalas pesan di ponselnya.


Lain halnya dengan Bima, dia jelas-jelas mendengar Karina mengatakan jika Bian menyukai Emi.


"Nggak, kok. Bukan apa-apa, kita lanjut makan lagi aja," ajak Karina masih tertawa kecil sembari memotong steak di piringnya.


Menyukai Emi? Bian?


Baru semalam Bima mengatakan jika tidak ada yang akan menyukai gadis seperti Emi tapi nyatanya hari ini Bima mendengar sendiri jika ada yang menyukai Emi, yaitu Bian.


..........

__ADS_1


"Bian, aku ngantuk pengen tidur," rengek Emi. "Boleh ya, sebentar aja, lima belas menit doang, boleh kan?"


"Ck. Katanya mau pintar dan dapat nilai 90 waktu kuis matematika minggu depan tapi baru belajar sebentar udah ngantuk. Niat nggak sih?"


"Niat kok tapi aku memang ngantuk. Udah satu jam kita belajarnya dan belum ada istirahatnya, Bi?"


"Emang ini sekolah pakai acara reses? Kagak!"


"Bi...? Ngantuk," ucap Emi dengan wajah memelasnya.


"Ya udah, dua puluh menit. Nggak lebih, habis itu kita belajar lagi."


Emi beralih dari permadani di atas lantai dan naik ke atas sofa. Angka dan rumus-rumus matematika yang di ajarkan Bian padanya sejam ini sungguh membuat Emi ngantuk dan ingin tidur. Saat ini Emi berada di rumah Bian untuk belajar.


"25 menit boleh nggak, Bi?"


"Boleh tapi jangan harap aku mau ngajarin kamu lagi."


"Is-is-is... Pelit sekali, mentang-mentang pintar. Udah, ah. Aku mau tidur."


Emi meluruskan tubuhnya di atas sofa sedangkan Bian pergi ke arah dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokan Bian kering karena harus bolak-balik mengulang apa yang dia ajarkan pada Emi.


Sekembalinya Bian dari dapur membawa gelas berisi air minum, dia sudah menjumpai Emi tertidur nyenyak dengan posisi wajah menghadap sandaran sofa.


Bian melepas seragamnya untuk dia gunakan menutupi bagian paha Emi yang terekspos. Entah karena lelah atau melihat Emi yang tidur nyenyak, Bian jadi ikutan mengantuk. Bian menyandarkan tubuhnya pada sofa tapi masih duduk di atas permadani.


Dua puluh menit berlalu namun Emi dan Bian masih terlelap. Tak ada tanda-tanda salah satunya akan bangun. Seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah pun tidak mereka sadari.


Wanita itu menahan tawa melihat Emi dan Bian tidur begitu manis dengan posisi masing-masing.


Cekrek-cekrek


Karina mengabadikan tidur Emi dan Bian. Karina baru kembali dari kantor suaminya setelah sebelumnya mereka makan siang bersama Bima.


"Lucu," monolog Karina.


Ada beberapa foto yang di jepret Karina dan dua diantaranya dia kirim pada Bima.

__ADS_1


__ADS_2