
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Bima tak berhenti mengingat nilai kuis matematika Emi. Jika mengingat perjanjian yang mereka buat maka Emi akan berkencan dengannya di hari ulang tahun Bima dan itu adalah besok.
Akan tetapi melihat reaksi Emi yang seolah tidak peduli dan tidak ingin menunjukan nilai yang di dapatnya membuat Bima jadi bingung.
Bima bernafas lega karena sepertinya dia tidak perlu melakukan hal konyol seperti yang diminta Emi. Akan tetapi bukankah Emi harusnya menunjukkan sikap gembira? Apa Emi memang sudah melupakan Bima dan rasa sukanya?
Entahlah, hanya Emi dan sang penguasa saja yang mengetahuinya.
Baru memasuki pintu rumah Bima melepas jas, dasi dan membuka dua kancing kemeja menggulung lengan kemejanya.
Sampai di kamar, Bima melempar asal dasi dan kemejanya ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.
Bima merogoh saku celananya mengambil ponsel. Dia mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada Emi.
Isi pesan Bima:
'Katakan kau mau apa, akan aku belikan asal tidak melakukan permintaan konyolmu waktu itu.'
Bima melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Ponsel Bima bergetar menerima sebuah pesan selagi sang pemilik masih berada di bawah segarnya air shower.
Hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang, Bima keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil. Dia meraih ponselnya dan pesannya sudah di balas Emi.
Isi pesan Emi:
'Enggak ada. Lupain aja perjanjiannya.'
Bima tertawa dongkol membaca pesan Emi. Dia merebahkan tubuhnya kembali.
Ponsel Bima kembali bergetar dengan sigap dia meraihnya namun saat melihat nama kontak yang menghubunginya seketika Bima mengusap kasar wajahnya.
"Halo, ma?" sapa Bima setelah menerima panggilan dari mamanya.
"Besok itu Sabtu, itu artinya weekend. Kamu pulang sebentar ke rumah ya? Besok kamu juga ulang tahun, kita rayain sama-sama di rumah."
Suara wanita itu begitu lembut dan halus namun sirat akan tujuan dari kalimat yang dilontarkannya.
"Nggak bisa, ma. Bima masih banyak kerjaan. Besok juga ada pesta yang harus aku hadiri," ucap Bima mencari alasan.
__ADS_1
"Kalau mama yang ke sana aja gimana?"
"Ma..???"
Tut... Tut... Tut...
"Ck, mama..."
Bima berdecak kesal saat sambungan telepon diputus langsung oleh mamanya. Bukannya menelepon balik, Bima malah menonaktifkan ponselnya.
Argh...
Erangan Bima terdengar hingga ke bawah dimana ibu Sri sedang menyetrika pakaian. Bima lelah dan suntuk memikirkan dirinya sendiri. Lima tahun ini kehidupan Bima begitu monoton tapi setidaknya dia bisa melaluinya dengan baik.
Lima tahun yang dilaluinya dengan baik meski terasa hambar berganti dengan emosi yang naik-turun belakangan ini. Entahlah, Bima tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin karena dia sudah lelah ditambah lagi dengan mamanya yang merencanakan perjodohannya.
..........
Meski hari sabtu tapi masih ada beberapa karyawan yang masuk kantor hingga tengah hari, termasuk juga Bima meski dia seorang direktur utama. Bima hanya tidak tahu akan melakukan apa di akhir pekan makanya dia menyibukkan diri sendiri dengan pekerjaan.
Masuk ke ruangannya, Bima sudah di sambut beberapa boquet bunga dan kotak-kotak hadiah di atas meja kerjanya.
Bima meneliti satu persatu nama pemberi bunga dan hadiah untuknya.
"Surprise.....!"
Pandangan Bima langsung tertuju pada suara riuh di depan pintu. Meski tidak menginginkan perayaan tapi tetap saja ada karyawan yang keras kepala dan nekad memberikan kejutan ulang tahun pada Bima.
Semua kepala bagian dan beberapa karyawan berkumpul, ramai-ramai memasuki ruangan direkrut sambil membawa kue ulang tahun dengan tiupan terompet kecil lengkap dengan topi ulang tahun di masing-masing kepala mereka.
Meski tidak mengharapkan perayaan tapi Bima tidak memungkiri jika dia juga tersentuh, dia tersenyum tak ingin mengecewakan apa yang sudah dilakukan para karyawan untuknya.
Lagu selamat ulang tahun memenuhi ruangan dan tak lupa salah satu dari mereka mendokumentasikan hari ulang tahun sang direktur.
"Pak Bima, ayo make a wish dulu sebelum tiup lilinnya," ucap Nola.
Bima tersenyum sumringah menunjuk pada Nola. Bima yakin jika Nola adalah orang di balik acara ulang tahunnya.
__ADS_1
Nola ikut tersenyum puas karena rencananya dan karyawan lain berhasil.
"Semoga Suntama Group semakin maju dan semua karyawannya sehat dan bahagia," harapan yang diucapkan oleh Bima.
"Amin.....!" serempak orang-orang di ruangan itu mengaminkan ucapan Bima.
"Itukan buat perusahaan dan karyawan. Ini ulang tahun pak Bima jadi harapan untuk pak Bima sendiri apa, pak?" celetuk salah satu dari mereka.
Karyawan lainnya mengangguk-angguk setuju. Sudah empat kali ulang tahun Bima dirayakan di perusahaan tapi harapannya tidak ada yang berubah, alias selalu sama.
Tidak ada jawaban dari Bima, dia memilih tersenyum simpul saja menanggapi pertanyaan tersebut. Jika mereka tahu apa yang menjadi harapan pribadi Bima, bisa dipastikan jika para karyawan akan tercengang.
Segera terbebas dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Suntama, itulah harapan untuk Bima sendiri.
Setelah tiup lilin, potong kue dan pemberian ucapan selamat pada Bima, mereka langsung menuju ke saja satu restoran. Sebuah ruangan khusus di pesan untuk acara makan siang hari ini.
Bima mentraktir mereka makan siang dan juga karaokean seperti keinginan mereka.
Bima hanya ikut bergabung dalam acara makannya saja. Bima pulang terlebih dahulu setelah mengucapakan rasa terima kasihnya. Bima ingin agar karyawan lebih rileks dan leluasa saat bersenang-senang dengan acara karaoke. Bima ingin para karyawan menikmati akhir pekan mereka.
Bima kembali kerumahnya yang selalu sepi karena memang hanya ada dia dan ibu Sri saja yang tinggal di sana.
Setelah berganti dengan pakaian rumah, Bima membuka mini bar di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan beberapa kaleng minuman yang selalu dia isi.
Duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidur, Bima mulai meneguk isi kaleng minumannya.
Satu, dua, tiga, empat, Bima bersendawa setelah kaleng ke empat di tangannya habis. Dia memijit pelipisnya, merasakan sedikit pusing dengan pandangan yang sudah tidak seratus persen lagi fokus.
Kembali Bima mengambil kaleng kelima dari mini bar dan meminumnya. Kesadaran Bima tidak lagi seratus persen saat membaca pesan dari Karina yang mengingatkannya untuk menghadiri acara aniversary mertuanya yang akan di adakan malam ini.
Dengan pandangan yang meremang Bima membalas pesan Karina dan mengatakan jika dia kemungkinan tidak bisa datang.
Gluk!
Isi kaleng kelima habis. Bima mengambil satu kaleng lagi dan masih meminumnya setengah, Bima sudah tidak sadar lagi. Entah dia pingsan atau tidur, tidak ada yang tahu.
Seperti tiga tahun terakhir ini, Bima merayakan ulang tahunya dengan minum sepuasnya di dalam kamar. Bima tidak akan pergi ke bar atau tempat lain untuk minum, dia tidak ingin menjadi tontonan banyak orang saat dia mabuk dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Ibu Sri yang hendak membersihkan kamar Bima pun tidak jadi. Bima mengunci kamarnya dari dalam dan itu tandanya si pemilik kamar tidak ingin di ganggu.
"Hah... Pasti minum lagi," ucap ibu Sri menghela nafas.