CEO Pengganti

CEO Pengganti
Bingkai Foto


__ADS_3

Ponsel menjadi teman terbaik Emi selama perjalanan menuju ke sekolah. Obrolan di grup keluarga membuat Emi semakin merindukan bunda dan kedua kakaknya. Emi sangat iri pada Justin dan Kevin karena memiliki akhir pekan yang indah dengan mengunjungi tempat wisata sedangkan akhir pekan Emi begitu kelabu.


Emi menyudahi obrolannya saat Bima menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolahnya. Emi sudah bertekad tidak akan mengucapkan terimakasih saat dia turun nanti.


"Tunggu," menahan Emi yang akan membuka pintu mobil.


Bima merogoh saku celananya untuk mengambil dompet dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu. Menggunakan tangan kirinya, Bima memberi uang itu pada Emi.


"Ini, ambil."


Emi mengulurkan tangannya tanpa menoleh sama sekali pada Bima.


"Apa lehermu tidak sakit selalu menghadap ke kiri? Ayo lihat kesini," ucap Bima menahan uang di tangannya.


"Kalau nggak niat nggak usah kasih," ketus Emi melepas tangannya yang juga sudah memegang uang. "Kalau hanya untuk jajan aku bisa minta di bayarin sama Bian."


Emi membuka pintu mobil dan keluar tanpa uang jajan, padahal kalau boleh jujur Emi hanya punya lima ribu rupiah di saku baju sekolahnya. Bima ikut keluar dan mencegat Emi yang akan pergi.


Bima menahan Emi dan memberikan uang seratus ribu ke tangan Emi.


"Untuk dua hari. Belajar dengan baik, pak Eko akan menjemputmu nanti dan langsung pulang kerumah."


Wajah Emi masih saja datar, tanpa ekspresi dan membuang pandangannya dari Bima. Wajah Emi yang seperti itu membuat Bima tak suka. Lip gloss yang dioleskan tipis oleh Emi di bibirnya juga tak lepas dari perhatian Bima.


"Sekolah tempat untuk belajar, hal seperti ini tidak dibutuhkan di sekolah."


Menggunakan sapu tangannya, Bima menghapus lip gloss di bibir Emi.


"Apa untuk hal seperti ini juga tidak boleh? Hampir semua murid perempuan disini juga memakainya," menepis tangan Bima dari bibirnya. "Om Bima tidak boleh mencampuri urusan pribadiku, termasuk apa yang aku pakai. Selama ini aku juga memakainya ke sekolah dan bunda tidak melarang. Aku tahu batasan, aku memakai sewajarnya," kesal Emi meninggalkan Bima dan berlari memasuki gerbang sekolah.


Emi kembali pada dirinya yang ceria saat memasuki ruangan kelas. Febi menyambutnya dengan sebuah pelukan sedangkan Bian langsung memindahkan ransel Febi ke meja belakang agar bertukar tempat duduk dengannya lagi.


"Abian??!" teriak Febi karena harus semeja lagi dengan Yoga yang irit bicara. Bian tersenyum menaik-turunkan kedua alisnya pada Febi.


"Pagi, Emi?" sapa Bian mengulas senyum.


"Selamat pagi buat Bian yang suka sabotase tempat duduk Febi," ucap Emi membalas sapaan Bian.


"Hehehe... Hadiah yang aku minta tadi malam mana?"


"Aku nggak tahu harus kasih apa, Bi. Lagian permintaan kamu aneh. Hadiah apaan coba, sesuatu yang tanganku buat sendiri. Bunga gantung dari pipet mau nggak? Kalau itu aku bisa buatnya."


"Itu sih aku juga bisa buat, Mi. Waktu SD sering buat begituan sama teman-teman sekelas."

__ADS_1


"Terus apaan?"


"Mana aku tau, pikir aja sendiri. Pokoknya besok harus ada, titik nggak pakai koma."


"Mendingan koma dari pada titik," celetuk Yoga dari kursi belakang.


Serempak Emi, Bian dan Febi menoleh pada Yoga yang mengangkat kepalanya karena sedari tadi dia menunduk di meja seperti orang sedang tidur.


"Emang kenapa?" tanya Febi.


"Kalau koma kemungkinan untuk hidup masih ada sedangkan kalau titik orangnya sudah koid."


Secara serempak ketiga orang itu menghela nafas setelah mendengar maksud ucapan Yoga.


"Emi, ke kantin yuk? Dari pada jadi koma ataupun titik mending seru aja."


"Apaan lagi tuh, Feb?" tanya Emi penasaran.


"Ya berseru-seru biar bahagia, biar nggak koma apalagi titik."


Hahaha...


Emi dan Febi terbahak meninggalkan ruangan kelas, Bian tersenyum menahan tawanya melirik yoga sedangkan Yoga kembali menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan tangan sebagai bantalannya.


..........


Pak Eko melambaikan tangan pada Emi yang berjalan ke arahnya dan menyalakan mesin mobil agar segera pergi setelah Emi masuk mobil.


"Langsung pulang ya, nanti pak Bima marah kalau pergi kemana-mana tanpa izin."


"Kalau ke rumah bunda sebentar bolehkan? Pak Eko nggak bawa bingkai foto di atas meja belajar Emi."


"Oh... Foto yang sama ibu Mila, Kevin dan Justin itu, ya?"


"Iya, Emi butuh itu buat nemenin Emi."


"Kalau gitu sebentar," ucap pak Eko menghentikan mobil di pinggir jalan.


Pak Eko menghubungi seseorang dan tak lama panggilannya langsung dijawab.


"Kenapa, Emi sudah di jemput?"


"Sudah, pak. Ini sudah jalan pulang kerumah pak Bima tapi rencananya mau ke rumah ibu Mila dulu sebentar buat ambil barang nak Emi yang ketinggalan."

__ADS_1


"Barang apa?"


"Foto keluarga di atas meja belajar Emi di kamar, pak."


Emi hanya bisa mendengar apa yang dikatakan pak Eko karena tidak dalam mode speaker. Untuk selanjutnya Emi hanya bisa mendengar pak Eko mengatakan 'iya, pak' dan 'baik, pak' sampai pak Eko menyudahi sambungan teleponnya dengan Bima.


Pak Eko tersenyum pada Emi melajukan mobil kembali.


"Pak Bima bilang langsung pulang kerumahnya. Fotonya bisa bapak bawa besok. Maaf, ini perintah pak Bima."


Jika sebelumnya Emi bebas kemana saja saat pertama kali tinggal di rumah Bima maka kali ini Emi merasa berbanding terbalik.


Sore hari setelah selesai dari kantor, Bima mampir kerumah ibu Mila untuk mengambil barang Emi yang ketinggalan.


Untuk kedua kalinya Bima masuk ke kamar Emi setelah sebelumnya ia pernah masuk kesana dan melihat Emi yang tidur dengan berantakan.


Bima langsung tertuju ke meja belajar dan benar saja di sana ada sebuah foto keluarga. Foto yang diambil saat Kevin dan Justin wisuda.


"Maaf, jadi ngerepotin pak Bima," ucap pak Eko tak enak hati.


"Tidak apa-apa, saya pergi dulu, pak."


"Pak Bima?" panggil pak Eko menahan langkah Bima.


"Selain anak yang ceria dan baik, Emi juga cantik dan imut, pak."


"Maksud pak Eko?"


Bima mengerutkan keningnya tidak paham maksud perkataan pak Eko yang memuji Emi di depannya.


"Enggak apa-apa, pak. Cuman mau bilang kalau Emi cantik dan imut, di sekolah pasti banyak yang naksir dia," ucap pak Eko yang semakin membuat kening Bima mengkerut.


"Saya pergi," ucap Bima tak ingin lama-lama mendengar pak Eko. Bima tidak tahu saja jika sebenarnya pak Eko sedang mengeluarkan jurus pak comblangnya secara halus.


Saat perjalanan pulang, tak sengaja bingkai foto milik Emi jatuh di dekat kaki Bima. Untung saja tidak pecah dan hanya posisi kacanya saja yang longgar. Bima menepikan mobilnya untuk memperbaiki bingkai foto itu.


Bima terpaksa membongkarnya untuk menyesuaikan posisi kertas yang dijadikan alas foto dalam bingkai.


Mata Bima menyipit saat melihat foto dirinya ada di dalam bingkai tersebut. Berada ditengah, antara kertas yang dijadikan alas dan foto Emi bersama bunda serta kedua kakaknya.


Seingat Bima fotonya itu diambil untuk dimuat dalam laman media sosial perusahaan. Sepertinya Emi mengambil foto itu dari media sosial perusahaan dan mencetaknya sendiri.


Bima mengambil fotonya dan memasukkannya kedalam saku jas yang dia pakai, setelahnya memperbaiki bingkai foto itu seperti semula.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, hal pertama yang dilakukan Bima adalah mengetuk pintu kamar Emi dan memberikan bingkai foto yang dibawanya. Bima memberikannya langsung ke tangan Emi tanpa ada ucapan terimakasih yang keluar dari bibir Emi. Namun saat menerima bingkai foto itu, wajah Emi gugup seperti ketakutan.


Emi menyembunyikan bingkai foto itu kebelakang badanya dan langsung mengunci kamarnya.


__ADS_2