CEO Pengganti

CEO Pengganti
Pengganti


__ADS_3

Emi sudah sarapan terlebih dahulu dan menunggu Bima di teras. Emi mencepol asal rambutnya ke atas dan menenteng kue yang sudah ia masukkan dalam sebuah wadah transparan.


Ekhem


Seiring deheman Bima yang sudah keluar dari rumah, Emi mengikutinya menuju mobil dan duduk memangku kue yang akan diberikannya pada Bian.


"Apa itu untuk tugas prakarya sekolah?" tanya Bima melirik ke arah pangkuan Emi.


"Bukan!" jawab Emi ketus.


"Lalu untuk apa?"


"Untuk seseorang."


"Cara bicara seperti itu tidak sopan kepada yang lebih tua darimu."


Bima tidak suka dengan cara bicara Emi belakangan ini. Selama ini Emi akan bicara baik-baik dan terkesan ingin mencari perhatian.


"Apa kau sendiri yang membuatnya?"


"Iya."


"Apa kau yakin orang yang akan memakannya tidak akan sakit perut?"


Emi tidak menjawab Bima, dia justru memejamkan matanya seperti orang sedang tidur.


Sebenarnya Bima sengaja menanyai Emi karena sejak semalam Bima menunggu Emi untuk memberikan kue itu tapi hingga pagi hari saat dia bangun hal itu tidak dilakukan Emi.


Tentu saja Emi tidak memberikannya pada Bima karena kue itu untuk Bian, sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengajarinya matematika.


"Jangan berhenti tepat di depan gerbang sekolah," ucap Emi.


"Kenapa?"


"Aku malas kalau harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang melihat om Bima."


"Apa ada masalah?"


"Tidak penting, berhenti di dekat tukang somay itu aja," tunjuk Emi mengarahkan.


Bima menghela nafasnya dan menghentikan mobilnya sesuai permintaan Emi. Sama seperti semalam, Bima kembali menghapus lip gloss di bibir Emi. Jika semalam menggunakan sapu tangan, maka saat ini Bima menggunakan jempolnya.


Wajah Emi mendadak panas merasakan jari Bima menyentuh bibirnya. Emi semakin gugup tatkala menghirup aroma parfum yang dipakai Bima menusuk hidung Emi.


"Ke sekolah untuk belajar bukan bergaya dan menarik perhatian laki-laki."


Emi terhenyak mendengar perkataan Bima dan saat itu juga Emi sadar, kembali pada kewarasannya yang akan melupakan Bima yang dia tahu tidak akan pernah melihat Emi sebagai wanita dewasa.


Bima menurunkan pandangannya pada kue di pangkuan Emi setelah menghapus lip gloss di bibir gadis itu. Bima menatap lekat pada nama yang ditulis di atas kue itu seolah tak percaya. Bima tersenyum kecut dan memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


"Keluar!"


"Ha?"


"Kau tuli? Aku bilang keluar."


Pelan namun penuh penekanan, itulah gaya bicara Bima saat kesal atau marah.


Bima bukanlah tipe orang yang suka mengangkat suaranya jika marah. Jika pun harus melakukannya, maka itu tandanya apa yang terjadi sudah melampaui batas kesabaran Bima.


"Iya. Nanti pulang sekolah aku-"


"Di jemput pak Eko," memotong ucapan Emi.


Emi berdecak kesal, pasalnya semalam dia sudah buat janji dengan Febi untuk bermain setelah pulang sekolah. Emi turun dari mobil dan memegang kue dengan hati-hati. Emi pergi tanpa pamit pada Bima.


Sadarlah Bima, dia hanya anak sekolahan. Apa yang sebenarnya kau harapkan saat ini dari dia? Tidak seharusnya dia ada dalam pikiranmu, sadarlah.


Bima tidak tahu kenapa dia harus merasa kecewa saat bukan namanya yang dia lihat pada kue yang dibuat Emi, melainkan nama Bian.


Ada banyak kue yang lebih cantik dan pastinya akan jauh lebih enak dari buatan Emi meski Bima tidak mencicipinya. Namun bukan itu yang membuat Bima kecewa tapi ada hal lain yang dia sendiri juga tidak tahu.


..........


Seharian Bima bekerja di kantor tak membuat Bima berhenti memikirkan kue yang ternyata di buat Emi untuk Bian. Suasana hati Bima menjadi naik-turun belakangan ini. Bima butuh sesuatu yang bisa menenangkan dan menstabilkan suasana hatinya.


Selesai dengan pekerjaan di kantor, Bima meminta Nola menemaninya menghadiri acara resepsi pernikahan pimpinan perusahaan Gemilang yang kini sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan Suntama.


Suasana seketika dipenuhi tepuk tangan saat pengantin pria meminta bahkan terkesan memaksa agar Bima memainkan sebuah lagu dengan piano.


"Apa ini idemu? Kalau benar maka sangat tidak lucu, Nola."


"Ayolah, Bim. Lakukan saja setidaknya untuk malam ini. Saat ini aku bukan sebagai sekretaris tapi sebagai temanmu," bujuk Nola. "Lakukan sebagai hadiah pernikahan untuk mereka. Selain itu aku juga ingin melihat temanku kembali memainkan piano seperti SMA dulu."


"Kau bisa menyuruh pacarmu melakukannya. Dia juga bisa main piano."


"Aku tahu tapi dia tidak sehebat dirimu," goda Nola sambil mendorong punggung Bima mendekat ke arah piano.


Ratusan bahkan ribuan pasang tangan yang bertepuk membuat Bima mau tak mau menyanggupi permintaan Nola dan pengantin pria.


Bima mengambil posisi duduk ternyaman baginya, meletakkan kedua telapak tangan di atas tuts piano. Bima hanya memikirkan satu lagu saat ini dan jemarinya mulai menari-nari di atas tuts piano dengan mata terpejam.


Can't help falling in love, menjadi lagu pilihan Bima karena sudah beberapa kali membawakan lagu itu dan tentunya dengan aransemen yang sudah diubahnya dengan melodi yang begitu dalam.


Semua mata tertuju pada Bima termasuk pasangan pengantin yang sedang berbahagia. Nola tersenyum karena sudah lama tidak melihat Bima memainkan piano. Saat SMA dulu, Bima sering tampil di acara pensi sekolah untuk mengiringi teman-temannya yang ingin bernyanyi.


Semua tersihir dengan melodi yang dimainkan oleh Bima. Meski sudah cukup lama tidak bermain piano tapi tidak membuat Bima merasa canggung, justru dia ikut menikmati permainan jemarinya.


Bima begitu menikmati permainannya hingga wajahnya mengerut karena bayangan Emi tiba-tiba saja terlintas dipikirannya. Bima mencoba mengabaikan pikirannya tapi bayangan Emi tak kunjung pergi.

__ADS_1


Bayangan Emi hampir saja membuat permainan Bima terganggu, Bima mencoba terus fokus hingga akhir. Semua bertepuk tangan setelah Bima mengakhiri permainan jemarinya dan satu persatu memberi pujian pada padanya.


"You kill it, Bim. Permainanmu selalu bagus," puji Nola saat Bima menghampirinya.


"Aku pulang dulu, maaf tidak bisa mengantarmu."


"Pulang? Kenapa buru-buru?"


"Ada yang harus kulakukan," ucap Bima sejurus kemudian meninggalkan pesta.


Bima sedikit berlari menuju tempat parkiran mobil. Sebelum membuka pintu mobilnya, suara seorang wanita mengalihkan perhatiannya.


"Hai? Masih ingat denganku?" sapa seorang wanita berpenampilan anggun.


"Maaf?"


Bima memperhatikan wajah wanita itu. Bima tidak mengenalinya tapi seperti pernah bertemu di suatu tempat.


"Beberapa tahun yang lalu, PLAK!" ucap wanita itu membuat gerakan menampar di udara.


Bima langsung ingat, dia mungkin lupa wajah wanita yang kini berdiri di hadapannya tapi tidak pada apa yang dilakukannya.


Beberapa tahun yang lalu wanita itu menampar Bima yang datang untuk menggantikan anak ibu Mila. Bima menemui wanita itu dengan tujuan meminta maaf atas nama anak ibu Mila yang tidak ingin dijodohkan dengannya. Anak ibu Mila tidak bisa bertemu wanita itu karena harus terbang ke sebuah negara yang jauh menemui kekasihnya di saat yang sama.


"Aku ingat," ucap Bima.


"Aku tidak menyangka kalau kau seorang pianis hebat," puji wanita itu. "Aku juga tidak menyangka kalau kau seorang direktur utama di Suntama Group."


"Maaf, saya harus pergi."


"Hei... Jangan buru-buru," cegat wanita itu.


"Maaf tapi ada hal penting yang harus saya lakukan."


"Hal apa? Kau tidak perlu terburu-buru. Apa masalah pekerjaan? Kalau iya, maka tidak perlu berlebihan. Aku tahu, kau hanya seorang sekertaris yang sedang menggantikan posisi seorang direktur utama yang sudah meninggal. Kau hanya seorang pengganti sementara tapi berlagak seperti orang penting."


"Apapun itu bukan urusanmu."


"Aku tahu tapi setidaknya bersikap sedikit sopanlah. Aku sudah berbaik hati menyapamu meski level kita berbeda. Orang-orang mungkin tahunya kau itu seorang direktur tapi tidak tahu hanya seorang pengganti sementara."


Ucapan wanita itu tidak sepenuhnya salah tapi Bima juga tidak terima dikatai seperti itu. Dia juga tidak ingin berada pada posisinya saat ini tapi karena rasa bersalah dia harus melakukannya.


Wanita yang setahu Bima bernama Naomi itu sepertinya masih merasa sakit hati dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Bima yakin jika wanita itu pasti kecewa karena tidak bisa bersama anak ibu Mila yang dulunya seorang CEO pemilik perusahaan ternama.


Bima tersenyum pada wanita itu merasa kasihan.


"Ibu Mila beruntung karena tidak perlu menjadikanmu menantunya. Hanya wanita baik-baik saja yang bisa masuk ke dalam keluarga Suntama."


Wanita itu tersenyum sinis tak terima akan ucapan Bima. Dia mengeratkan giginya penuh amarah diwajah.

__ADS_1


"Jangan sok, setidaknya aku bukanlah kacung yang tunduk dibawah perintah sepertimu."


Wanita itu berbalik, meninggalkan Bima dengan ucapan yang begitu melukai perasaan Bima.


__ADS_2