
Siapa yang tidak bahagia saat orang yang kita suka ternyata menyukai kita juga pada akhirnya? Siapa yang bisa menebak siapa yang masuk dan mengambil tempat penting dalam hati kita?
Bima yang cuek, dingin dan tidak menganggap Emi sejak awal bertemu pada akhirnya tidak bisa menyangkal kala Emi sudah bertahta di hatinya. Sekeras apapun usaha Emi untuk melupakan Bima tidak akan berhasil jika rasa itu sendiri tidak mau pergi. Dan tentu saja Emi menyambut kapal Bima yang datang dan berlabuh tepat di hatinya.
"Aw, sakit! Apa kau akan memperlakukan pacarmu seperti ini? Ini bukan untuk pertama kalinya, semalam kau juga mendorongku sampai jatuh dengan kursi yang aku duduki."
Emi menunduk malu setelah menyingkirkan tangan Bima yang mengalung di lehernya hingga mengenai cangkir kopi dan tumpah.
Bukan pada Bima tapi Emi malu pada ibu Sri. Wanita itu melihat jelas saat Bima mengalungkan tangannya di leher Emi dan mengelus-elus pipi Emi seperti hari sebelumnya.
Ibu Sri kembali mengerjakan tugasnya di belakang setelah Emi menyingkirkan tangan sang majikannya dan tidak mendengar apa yang dikatakan Bima lagi.
"Itu membuatku malu," ucap Emi.
"Apa?"
"Ibu Sri melihatnya. Jangan seperti itu lagi lain kali."
"Memangnya apa yang kulakukan? Aku hanya mengelus pipimu, bukannya kita sudah jadi pacar seperti keinginanmu? Kau tidak suka yang aku lakukan?"
"Jangan keras-keras ngomongnya, nanti ibu Sri bisa dengar. Walaupun itu buat aku gugup tapi aku suka. Aku suka tapi ada ibu Sri juga di rumah ini, bukan hanya aku dan om Bima."
"Lalu apa masalahnya? Ini rumahku sendiri."
"Iya, aku tahu tapi jangan lakukan hal yang aneh-aneh saat ada yang lain. Memangnya om Bima nggak malu?"
"Enggak!"
Bima meninggalkan meja makan, ia keluar terlebih dahulu dan menunggu Emi di mobil. Tak berapa lama Emi menyusul Bima ke mobil yang akan mengantarnya ke sekolah terlebih dahulu.
"Apa yang tadi malam itu beneran?" tanya Emi.
"Yang mana?"
"Pacar?"
"Em. Apa kau suka?"
"Sangat."
Bukan main senangnya Emi. Ia mengalihkan pandangan ke kiri, dadanya serasa penuh dan ada yang ingin melompat dari dalam karena senangnya. Melihat Emi yang malu-malu membuat Bima tertarik untuk semakin menggoda Emi.
__ADS_1
"Ekhem. Pacarmu ada di sebelah kananmu kenapa melihat ke kiri?"
Emi menggigit kuku jempolnya, menggeleng tak kuat jika harus menghadap ke arah Bima.
"Hanya ada kita berdua sekarang, itu artinya aku bisa melakukan seperti di meja makan tadi tapi aku lagi menyetir. Oh iya, kita berhenti saja sebentar," ucap Bima diikuti dengan menepikan mobilnya di pinggir jalan tanpa mematikan mesinnya.
Bima sudah menghadap ke arah Emi, membuat gadis itu semakin malu dan gugup.
"Kau tidak mau melihat pacarmu ini, hem? Kalau aku sangat ingin memandangi wajah pacarku ini."
Bibir Emi mengulum merasakan wangi Bima yang semakin mendekat padanya.
"Hei... Kenapa harus malu? Emi yang aku kenal itu pemberani dan tidak malu-malu seperti ini. Atau kau bukan Emi yang aku kenal? Apa kau Emi yang berbeda? Sangkin beraninya, Emi yang aku kenal itu menyatakan perasaannya tanpa rasa takut pada seorang pria dewasa tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?"
"Om Bima?!"
Bima tertawa kecil karena kini Emi sudah menenggelamkan wajahnya di dada bidang miliknya.
"Jangan menggodaku lagi, aku malu. Pipiku serasa mengembang seperti adonan kue yang sedang dipanggang."
"Benarkah? Kalau gitu biarkan aku melihatnya."
"Kemarilah, aku ingin memelukmu."
Emi menghambur ke pelukan Bima, lagi-lagi ia merasa begitu senang. Ia ingin selalu seperti ini bersama Bima.
"Gadisku," bisik Bima kemudian mengecup kening Emi.
..........
Siapa yang tidak senang dan bahagia saat perasaan cinta dua manusia bertemu dan merajut asmara. Namun siapa yang tidak sedih dan patah hatinya saat mendengar orang yang kita cinta bercerita cintanya pada yang lain.
Itulah yang dirasa Bian, duduk diam memaksakan senyumnya mendengar apa yang dikatakan Emi mengenai hubungannya dan Bima saat ini.
Selama ini diam-diam Bian menyimpan perasaanya pada Emi. Bian menyukai Emi seiring pertemanan mereka sejak masuk SMA. Bian menyimpan perasaannya karena tak ingin pertemanan mereka rusak dan berencana memberitahu Emi saat akan lulus sekolah nanti.
Tak di sangka Emi menyukai orang lain dan itu Bima. Pertama kali mendengar Emi menyukai Bima sudah membuat Bian merasa patah hati tapi Bian masih mau mengajari Emi matematika agar dapat nilai kuis yang tinggi untuk bisa berkencan dengan Bima meski hal itu tidak terjadi.
Bian merasa lemas dan tidak semangat sejak Emi memberitahunya jika Bima juga menyukai dirinya dan kini mereka resmi menjadi pasangan.
"Kamu kenapa, Bi? Pulang sekolah lemas banget, mukanya juga sampai ditekuk begitu?" tanya Karina kakak iparnya.
__ADS_1
Sejak tiba di rumah, Bian hanya diam di ruang tamu tanpa mengucapkan salam ataupun mengatakan sesuatu, berbeda dari biasanya.
"Kalau lapar makan, kalau capek istirahat dan kalau ngantuk ya tidur. Satu lagi, kalau ada masalah harus cerita jangan diam aja."
Bian beranjak dari ruang tamu, menenteng ransel sekolahnya dan berjalan lemas menuju kamarnya.
Tangannya sudah memegang handle pintu untuk masuk tapi sebelum itu ia mengatakan sesuatu pada kakak iparnya.
"Aku setuju lanjutin kuliah di Australia."
Tup!
Pintu kamar langsung tertutup sebelum Karina sempat mengatakan sesuatu.
Sejak naik kelas tiga SMA kedua orang tua Bian dan kakaknya Radit sudah merencanakan Bian untuk melanjutkan kuliahnya diluar negeri tepatnya Australia. Sejak diberitahu Bian selalu menolak dengan alasan kampus di dalam negeri juga banyak yang bagus.
Bian selalu menolak kuliah di luar negeri karena tak ingin jauh dari Emi. Akan tetapi pada kenyataanya tidak semulus yang Bian pikirkan. Tak lama lagi ujian kelulusan akan di adakan dan Bian sudah memutuskan menjauh dan melupakan rasa sukanya pada Emi.
..........
"Kenapa bunda nggak pernah cerita sebelumnya pada kami?"
"Bukannya tidak ingin, bunda hanya tidak kuat kalau harus mengingat kembali masa-masa itu."
Justin tidak menduga jika bundanya memiliki saat yang begitu berat beberapa tahun lalu. Selama ini baik Justin, Kevin dan Emi hanya tahu jika dua anak kandung bunda Mila meninggal tanpa mereka tahu alasannya.
Hari ini untuk pertama kali bunda Mila menceritakan kejadian itu pada Justin sambil bersantai menikmati senja di pinggir pantai. Dan hari ini juga Justin akhirnya tahu mengapa Bima begitu tunduk pada bundanya namun membuat jarak darinya, Kevin dan Emi.
Meski menyalahkan Bima tapi bunda Mila juga menyadari kesalahannya pada saat itu yang menjadi awal kesedihannya karena harus kehilangan dua putranya.
"Tapi apa bunda yakin kalau aku bisa menangani perusahaan yang ada di sini sendiri?"
"Bunda sangat yakin karena kamu anak bunda. Sudah cukup dan sudah waktunya Bima melepas dan pergi dari keadaan yang tidak ia inginkan lebih dari lima tahun ini."
"Kak Bima pasti kesulitan selama ini, Bun."
"Maka dari itu, bunda akan kembali. Bunda akan menangani perusahaan dan menyerahkannya pada Kevin setelah dia lulus S2-nya dari Singapura. Emi juga akan segera lulus dan bunda ingin dia melanjutkan kuliah di sini supaya bisa membantumu nantinya."
Justin tidak berkomentar apapun, ia berharap apapun yang akan dilakukan bundanya adalah yang terbaik termasuk bagi Bima yang pastinya sudah lelah menjalani kehidupan yang tidak ia inginkan. Bima yang bertahan hanya karena rasa bersalahnya pada bunda Mila.
Namun dari semua yang diceritakan bunda Mila, Justin menarik kesimpulan bahwa Bima adalah orang yang bertanggung jawab meski bisa saja ia pergi dan meninggalkan rasa bersalahnya.
__ADS_1