
Darah ditangan Emi sudah dibersihkan namun cangkang bekicot yang tertancap masih di sana. Emi hanya bisa menelan salivanya dengan wajah pucat akan apapun yang dilakukan pada tangannya. Kevin gugup saat akan menarik cangkang bekicot, ia melihat wajah Emi yang tegang.
Dahi Bima mengkerut tak sabar melihat Kevin yang terlalu lama. Bima ikut memegang pergelangan Emi, ia akan menarik cangkang itu. Seharusnya Kevin menarik cangkang itu terlebih dahulu dan membersihkan darahnya kemudian.
Bima bersiap akan menarik cangkang yang menancap itu namun tangannya ditahan Kevin.
"Jangan, biar aku saja yang melakukannya," cegah Kevin.
Kevin kembali melihat wajah Emi yang pucat. Ia menarik kepala Emi dan menempelkan wajah Emi ke perutnya.
"Akan terasa sakit tapi itu hanya sebentar saja, oke?" memberitahu Emi dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Satu, dua, tiga!"
Huaaa....
Emi menangis, cangkang itu menancap cukup dalam. Kevin berhasil melakukannya dalam satu tarikan. Perih dan panas, itulah yang dirasakan Emi sesudah cangkang itu ditarik. Kevin mendekap kelapa Emi dan mengusap-usap rambutnya guna menenangkan Emi.
"Apa sangat sakit?"
Emi yang masih menangis menggangguk-anggukkan kepalanya. Darah segar kembali keluar dari telapak tangan Emi, dengan cepat Bima memasukkan telapak tangan Emi kedalam baskom berisi air. Bima menahan tangan Emi di air supaya darah berhenti keluar.
Bima merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. Bima mengeluarkan tangan Emi dari air dan menempelkannya pada baju yang dia dipakai untuk mengeringkannya. Sejurus kemudian Bima menutup luka di tangan Emi dan mengikatnya menggunakan sapu tangan miliknya.
Kevin kembali berlari kedalam. Emi menghapus air matanya dan untuk pertamakalinya Bima melihat Emi menangis. Selama ini Bima hanya melihat Emi yang ceria dan keras kepala.
Kevin sudah kembali lagi membawa kotak P3K. Ia membuka sapu tangan ditangan Emi dan melemparkannya asal ke atas meja. Alis Bima terangkat melihat hal itu, ia mengambil kembali saputangannya dan memasukkannya ke saku celananya.
Kevin kembali membersihkan tangan Emi, mengobatinya dan menutup lukanya menggunakan perban.
"Lain kali jangan diam saja seperti tadi. Harusnya kau berteriak dan memanggilku seperti yang biasanya kau lakukan."
Puk!
Emi memukul lengan Kevin, ia juga ingin melakukan itu tapi bibirnya keluh setelah melihat darah.
"Iya, maaf...maaf, aku tahu omonganku salah. Kau belum bisa melupakan kejadian itu?"
Emi menangis cemberut, mengusap air matanya. Sampai kapanpun Emi tidak akan pernah lupa saat melihat seorang temannya terjatuh dari atas pohon dan kepalanya terbentur kuat pada batu besar hingga mengeluarkan banyak darah dan meninggal. Kejadian itu tepat dihadapan Emi, sejak saat itu ia sangat ketakutan melihat darah yang banyak.
"Sudah dan jangan menangis lagi, menangis tidak cocok untuk kau lakukan. Hah... Apa yang akan terjadi nanti saat aku tidak ada di dekatmu."
Puk!
Emi kembali memukul lengan Kevin dan berdecak kesal.
"Aku sudah besar dan tidak perlu kau jaga lagi. Aku juga tidak pernah memintamu dan kak Justin menjagaku selama ini. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan lakukan saja apa yang kau inginkan," kesal Emi.
Emi menarik tangannya yang sudah selesai diperban oleh Kevin.
__ADS_1
"Tidak usah kasih tahu bunda soal ini, nanti bunda khawatir," pinta Emi.
"Iya, aku tahu."
Kevin melihat pada Bima yang masih berdiri memperhatikan tangan Emi. Bima mengangguk setuju untuk tidak memberi tahu bunda Mila mengenai luka ditangan Emi.
"Ayo masuk dan sebaiknya kau istirahat."
Bima memperhatikan Kevin yang membawa Emi masuk ke dalam dengan mengalungkan tangannya di leher Emi. Bima tidak menyangka jika Kevin dan Emi sedekat itu padahal keduanya sering adu mulut.
Bima menghubungi Justin guna memberitahu jika dia, Emi dan Kevin sudah kembali ke vila terlebih dahulu.
..........
Acara makan malam dilakukan lebih awal karena mereka mengadakan barbeque. Justin menata piring di atas meja sedangkan Kevin dan Bima mendapat bagian untuk memanggang daging.
Emi dan bunda Mila berada di atas ayunan yang tak jauh dari meja yang ditata Justin.
Justin membawa secangkir teh hangat untuk ia berikan pada bunda Mila. Dengan senang hati bunda Mila menerimanya dan berterima kasih.
"Punyaku mana, kak?" pinta Emi.
"Hei... Kau yang seharusnya melakukan hal itu untuk kami. Kau seorang gadis tapi memintaku menyeduh teh untukmu. Lakukan sendiri dan jangan manja," ucap Justin.
"Elleh! Bilang aja kak Justin cemburu dan pengen dimanja sama bunda juga. Iyakan?" ledek Emi menjulurkan lidahnya.
Bunda Mila hanya bisa tersenyum setiap kali mendengar pertengkaran ketiga anak-anaknya. Bunda Mila menengadah ke langit dan setetes air mata terjatuh begitu saja. Buru-buru bunda Mila menyeka matanya tanpa dilihat Emi.
"Setiap hari kalian bertiga pasti bertengkar, entah itu karena hal kecil maupun besar. Kalian bertengkar tapi saling menyayangi, bunda senang melihatnya."
"Sebenarnya kak Justin dan Kevin itu cemburu karena bunda lebih sayang sama aku. Mereka iri, Bun. Hehehe..."
Emi tertawa dan merangkul pundak bundanya. Emi juga merasa sangat beruntung dijadikan anak oleh bunda Mila.
"Apa tanganmu sudah membaik?"
"Iya, Bun. Bentar lagi juga sembuh. Perbannya tidak dilepas biar jangan ada debu yang masuk, nanti jadi infeksi."
"Iya, benar," ucap bunda Mila menyetujui perkataan Emi. "Emi?" suara bunda Mila begitu lembut memanggil Emi.
Emi melihat bundanya sedangkan wanita disampingnya itu memperhatikan pada tiga pria yang sibuk mempersiapkan acara makan malam mereka.
"Apa Bima baik padamu kalau tidak ada bunda?"
Emi terkejut mendengar pertanyaan itu. Tidak pernah bundanya bertanya seperti itu selama ini, Emi khawatir jika bundanya tahu bagaimana Bima memperlakukannya.
"Baik, Bun. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, bunda hanya mau tahu saja."
__ADS_1
"Iya, om Bima baik kok samaku selama ini. Bunda tidak perlu khawatir, lagian om Bima mana mungkin jahat samaku. Aku kan anak kesayangan bunda, iyakan?"
"Bagus kalau memang seperti itu."
Ada kelegaan dirasa bunda Mila mendengar apa yang disampaikan Emi. Apa yang dikhawatirkannya selama ini ternyata tidak benar.
"Kalau suatu saat terjadi sesuatu atau Bima marahin kamu, kasih tahu bunda ya?"
"Itu tidak akan pernah terjadi, Bun. Tidak akan ada yang berani marahin Emi, kecuali kak Kevin dan Justin," sungut Emi.
Bunda Mila tertawa kecil, ia mengajak Emi untuk bergabung dengan tiga orang yang sedang mengipas-ngipas daging di atas panggangan.
"Emi, tolong ambilkan air minum dari dalam," ucap Justin menyuruh Emi.
Emi baru akan melangkah namun Kevin mencegahnya, meminta Emi untuk duduk saja. Kevin khawatir tangan Emi akan kesakitan.
Aroma daging di pemanggangan menarik kaki Emi mendekat pada Bima yang membolak-balikkan daging. Emi menelan liurnya ingin mencicipinya.
Di dekat Bima ada sebuah piring berisi daging yang sudah dipanggang sempurna. Emi mengambil gunting untuk memotong. Tangan kiri Emi kesulitan saat akan menggunting daging sedangkan tangan kanannya dibalut perban.
Emi semakin kesulitan karena rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Emi menyampingkan rambutnya menggunakan lengan beberapa kali namun tetap terurai jatuh ke depan.
Bima yang melihat itu merasa risih, ia mengambil sapu tangan di saku celananya yang tadi ia gunakan untuk menutup luka tangan Emi sebelum diperban Kevin. Bima hendak memberi sapu tangan itu untuk Emi gunakan mengikat rambutnya.
"Kau sudah seperti kunti."
Suara Kevin mengurungkan niat Bima. Kevin mengambil alih gunting dari tangan Emi dan memotong-motong daging.
"Ini," memberikan potongan daging ke mulut Emi dan dengan senang hati gadis itu menerimanya.
Kevin mengumpulkan rambut Emi dan mencoba menggulungnya.
"Sampai kapan kau akan memanjangkan rambut ini? Sebaiknya potong saja, kau bisa menakut-nakuti orang dengan rambutmu yang tergerai seperti ini."
Emi tidak memperdulikan omongan Kevin, ia justru memasukkan sepotong daging lagi ke mulutnya.
"Hei! Kau tidak dengar? Potong saja rambutmu. Kalau tidak aku bisa memotongnya sekarang, bagaimana?"
Kevin mengambil gunting pemotong daging tadi dan menyeringai menatap Emi. Bima hanya bisa menyaksikan pertunjukan di depan matanya. Bima bergantian melihat gunting yang dipegang Kevin dan rambut panjang milik Emi.
"Kalau berani potong saja," tantang Emi tidak takut.
Emi tahu kalau Kevin tidak akan melakukan itu pada rambut panjangnya. Justin dan Kevin tahu alasan Emi memanjangkan rambutnya hingga saat ini. Ibu panti pernah memotong rambut Emi begitu pendek hingga mirip tokoh kartun bernama Dora. Rambutnya pernah menjadi bahan ejekan di panti. Lebih dari itu, seorang pria juga mengatainya seperti Dora saat berada di bandara. Emi ingin memperlihatakan rambut panjangnya pada pria itu suatu saat. Emi masih berharap bertemu pria itu sekali lagi.
Kevin kalah, ia meletakkan gunting ditangannya. Akan tetapi Kevin belum selesai, ia malah mengacak-acak rambut Emi, menggosok-gosok pucuk kepala Emi dan membuat rambutnya berantakan.
"Kak Kevin?!!!" teriak Emi tak suka.
Bima membawa semua daging yang sudah dipanggang dan meletakkannya di atas meja. Bima meninggalkan Kevin dan Emi yang saling mengacak-acak rambut seperti anak kecil.
__ADS_1