CEO Pengganti

CEO Pengganti
Bukan


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun tiba, halaman sekolah riuh dengan siswa-siswa yang tak sabar ingin segera berangkat ke tempat tujuan karya wisata. Semuanya begitu antusias dengan kegiatan tahunan tersebut. Bian, Febi dan Yoga celingak-celinguk melihat keberadaan Emi yang tak kunjung tiba sedangkan mereka akan berangkat tiga puluh menit lagi.


"Yakin Emi sudah dijalan?" tanya Febi pada Bian yang tak berhenti menghubungi ponsel Emi.


"Iya, tapi nggak tahu kenapa ponselnya tiba-tiba nggak aktif."


Ketua panitia melalui pengeras suara menginstruksikan kepada seluruh peserta untuk menaiki bus yang sudah disediakan dan duduk sesuai nomor urut yang sudah diberikan.


"Bian, gimana nih? Emi belum datang."


"Aku juga bingung, Feb. Mending kamu masuk sana, bentar lagi Emi pasti nyampe."


"Bian, kamu dipanggil tuh sama ketua panitia," ucap Yoga.


"Ya udah, kalian ikut masuk sana."


Sebagai salah satu panitia, Bian juga sedikit sibuk karena dia merupakan satu dari tiga seksi acara selama kegiatan. Sambil mendengar arahan dari ketua panitia, mata Bian juga sesekali melihat pada setiap siswa yang baru tiba dan langsung masuk ke dalam bus.


Kok lama amat sih, Mi?


"Bian, kamu dengar tidak yang bapak baru katakan?" tegur ketua panitia.


"Dengar kok, pak."


"Ya sudah, sekarang bantuin teman-teman kalian sana. Hanya karya wisata tapi bawaannya sudah seperti mau healing ke gunung selama seminggu," ucap ketua panitia pada Bian dan dua temannya.


"Baik, pak."


..........


Di kamarnya Emi tengah mengunci diri sambil terus terisak. Di dalam hati dia mengumpat Bima habis-habisan.


"Pak Bima, saya kasihan dengar Emi masih nangis dari tadi. Bolehin aja, pak."


Ibu Sri yang tidak pernah melihat dan mendengar Emi menangis selama ini begitu iba dan tidak tega pada Emi yang belum berhenti menangis di kamarnya.


"Kalau capek nanti juga berhenti."


"Tapi pak-"


"Ibu Sri lebih baik kembali kerja!" ucap Bima penuh penekanan.


Untuk pertama kalinya ibu Sri merasa jika Bima sangat kejam. Kalau tidak ingat jika Bima adalah majikannya, ingin sekali ibu Sri mengomelinya bahkan memukulnya dengan sapu.


Biasanya Bima sudah berada di kantor saat ini tapi tidak untuk hari ini. Bima memang sudah berpakaian kantor sejak dua jam yang lalu tapi kini pakaian itu sudah berantakan karena pertengkarannya dengan Emi.


Semakin lama tangis Emi tidak terdengar lagi, itu membuat Bima merasa lega sekaligus khawatir.


Sebelumnya...


Pagi dini hari Emi mendadak demam tinggi di kamarnya. Menggunakan ponselnya, Emi menghubungi ibu Sri yang tengah terlelap. Sungguh Emi tidak kuat untuk bangkit dari tempat tidur apalagi untuk melangkah.


Beruntung ibu Sri langsung mendengar panggilan di ponselnya dan berlari ke kamar Emi saat tak ada sahutan dari Emi ketika ibu Sri menjawab panggilan tersebut.


Pintu kamar yang hanya tertutup tanpa dikunci membuat ibu Sri dengan mudah masuk ke dalam kamar Emi. Alangkah terkejutnya wanita itu tatkala mendapati Emi meringkuk dengan wajah pucat karena sebelumnya Emi dalam keadaan baik-baik saja.


"Emi kenapa? Kok bisa tiba-tiba demam begini?" kaget ibu Sri.


Tak ada respon dari Emi, dia malas dan tidak punya tenaga untuk bicara.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya."


Ibu Sri langsung menuju lantai dua dan mengetuk pintu kamar Bima. Ia harus memberitahu keadaan Emi saat ini.


"Pak Bima, ini ibu Sri," panggilnya sambil mengetuk pintu.


Butuh beberapa kali panggilan hingga Bima akhirnya membuka pintu kamarnya. Wajah kusut khas orang tidur terlukis jelas di wajah Bima yang sedang menahan kantuknya.


"Astaga, Tuhan!"


Ibu Sri kaget melihat Bima yang hanya memakai celana pendek selutut sedangkan bagian atas tubuhnya polos tanpa kain.


"Ini tengah malam, ada apa?"


"Maaf, pak. Itu, Emi demam, pak."


Bima langsung turun dan menuju kamar Emi disusul ibu Sri dibelakangnya.


Dari arah pintu Bima melihat Emi meringkuk dalam selimut. Tanpa tanya Bima membuka selimut dan naik ke atas tempat tidur Emi. Bima menempelkan telapak tangannya di dahi, pipi dan leher Emi, dia panik merasakan suhu tubuh Emi yang begitu tinggi.


"Air hangat," ucap Bima.


Ibu Sri berlari ke dapur dan tak lama kemudian sudah kembali ke kamar Emi membawa segelas air hangat.


Bima membantu Emi untuk duduk dan menahan tubuhnya yang lemas agar tidak jatuh. Bima dapat merasakan suhu tubuh Emi saat wajah gadis itu menempel di dadanya yang tidak menggunakan pakaian.


Panik, Bima memeluk Emi dengan penuh rasa khawatir. Ini untuk pertama kalinya juga Bima melihat Emi sakit. Pun tidak pernah mendengar Emi sakit selama tinggal dengan Ibu Mila.


"Tolong ambil pakaian dan dompet saya, Bu."


Setelah mengatakannya, Bima mengangkat Emi dan menggendongnya keluar dari kamar. Bima sedikit kesulitan saat meraih kunci mobil dari atas nakas.


"Ibu di rumah aja."


"Iya, pak. Ini baju dan dompetnya, pak."


Tak lama Bima melajukan mobilnya menuju klinik terdekat. Sepanjang jalan Bima menggenggam tangan Emi dengan rasa khawatir.


Sepuluh menit waktu yang dibutuhkan Bima untuk tiba di klinik terdekat. Setelah memarkirkan mobil, Bima menggendong Emi ke dalam klinik untuk di periksa. Tenaga medis yang berjaga langsung menuntun Bima kesebuah ruangan, di sana Bima meletakkan Emi di atas sebuah tempat tidur kecil.


"Adiknya kenapa, pak?" tanya pria muda berseragam medis.


"Dia tiba-tiba demam dan dia bukan adik saya," jawab Bima.


"Keponakan?"


"Bukan juga."


Petugas medis tersebut melirik Bima dan Emi bergantian. Meski penasaran tapi pria itu memilih untuk melakukan profesinya dengan baik. Segera Emi diperiksa dengan Bima tak beranjak dari samping gadis itu.


"Dia kelelahan dan kurang istirahat, fisik yang terlihat kuat diluar belum tentu itu yang sebenarnya. Bisa sampai demam tinggi mungkin dia kena hujan."


"Tapi dia nggak ada kena hujan," sanggah Bima.


"Mungkin dia berenang atau main air terlalu lama."


Seketika Bima teringat saat pulang dari kantor dan mendapati Emi bermain air dimana sekujur tubuhnya basah kuyup.


"Cuaca saat ini juga kurang baik. Aku yakin dia jarang sekali sakit tapi saat sakit akan seperti ini, tiba-tiba dan demam tinggi."

__ADS_1


Di dalam hatinya Bima membenarkan apa yang diucapkan petugas medis tersebut. Ia memperhatikan saat Emi akan dipasang infus.


"Maaf-" ucap Bima menggantung ingin memanggil petugas itu dengan sebutan apa.


"Randy. Saya dokter Randy," ucap pria itu memberitahu namanya.


"Apa dia harus diinfus?" tanya Bima.


"Iya, kondisinya sangat lemah dan harus istirahat. Saya akan kasih obat penurun demam dan vitamin. Nanti setelah infusnya habis baru bisa dibawa pulang. Atau kalau masih mau, nanti bisa ditambah satu botol infus lagi," jelas dokter Randy.


"Enggak," ucap Emi pelan.


Emi menarik tangannya saat melihat dokter Randy memegang jarum infus.


Dokter Randy tertawa kecil melihat respon Emi yang takut pada jarum infus yang dipegangnya.


"Hei... Tidak sesakit yang kau bayangkan."


Dokter Randy meraih tangan Emi dan menggenggamnya, hal itu membuat Bima mengernyit tak suka.


"Bukankah aku cukup tampan, hem?" goda Randy mencoba mengalihkan perhatian Emi dari jarum infus. "Hei... Wajahku ada disini," ucap Randy menunjuk wajahnya sendiri sambil tersenyum.


"Apa kau punya pacar? Em... Kalau bisa aku tebak sepertinya belum tapi aku yakin ada yang sedang menyukaimu."


Sambil bicara Randy perlahan mengarahkan jarum infus hingga Emi sedikit tersentak saat jarum tersebut berhasil masuk dan dengan cekatan Randy menahan tangan Emi hingga infus terpasang dengan baik.


"Good! Gadis pintar," puji Randy mengedipkan mata pada Emi. "Istirahatlah, kalau ada perlu aku ada di depan."


Randy merapikan alat-alat medisnya dan meninggalkan Emi bersama Bima.


Baru beberapa menit Randy sudah kembali lagi.


"Obatmu."


Randy memasukkan dua pil ke mulut Emi dan menyerahkan segelas air hangat.


"Tidak hanya manis, kau juga tidak rewel minum obat. Aku menyukai gadis sepertimu. Tidurlah sekarang."


"Terimakasih," ucap Emi mengulas senyum.


Randy akhirnya benar-benar pergi agar Emi bisa istirahat setidaknya sampai cairan infus yang terpasang habis.


Bima menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidur Emi. Bima merasa keberadaanya sejak tadi seperti tak kasat mata.


"Dia hanya melakukan tugasnya jadi jangan memasukkan apa yang diucapkannya ke dalam hati. Dia melakukannya pada semua pasien, bukan hanya padamu. Tidurlah."


"Apa aku akan ditinggal sendiri di sini?"


"Aku ada di sini, aku tidak akan kemana-mana," ucap Bima meyakinkan.


"Mana mungkin, om Bima pasti pergi kalau aku sudah tidur."


"Diam dan tidurlah."


Bima meraih dan menggenggam tangan Emi yang tidak dipasangi infus. Emi merasa perhatian Bima kali ini begitu berbeda apalagi kini kepalanya sedang diusap-usap Bima.


"Tunggu apalagi, tutup mata dan tidur."


Emi mengangguk dan menurut apa yang dikatakan Bima.

__ADS_1


__ADS_2