
Beberapa menit berlalu, Emi yakin jika Bima sudah selesai mandi. Dia kembali mengetuk pintu kamar Bima.
Tok-tok-tok
"Om Bima?!"
Suara Emi yang sedikit kuat membuat Bima langsung membuka pintu kamarnya.
"Kau?" kaget melihat Emi masih memakai baju yang sama sedangkan Bima sudah mandi dan berganti pakaian. "Ada apa?"
"Ibu Sri udah tidur, kasihan kalau harus dibangunin. Udah tengah malam, dia pasti capek."
"Terus?"
"Om Bima nggak lihat bajuku basah? Aku harus ganti pakai apa?"
Bima mengusap wajahnya, dia juga tidak tahu harus bagaimana. Emi memeluk tubuhnya yang kedinginan dihadapan Bima.
"Tunggu disini dan jangan masuk ke dalam," ucap Bima mengingatkan.
Bima masuk ke dalam kamarnya, mengambil handuk untuk diberikan pada Emi. Saat berbalik menuju pintu, Bima terkejut karena nyatanya Emi sudah berdiri di belakangnya dan kini tepat di hadapannya.
"Kau? Aku sudah bilang tunggu diluar."
"Dingin, om."
Tanpa bertanya terlebih dahulu Emi langsung mengambil handuk dari tangan Bima dan berlari ke kamar mandi.
"Tu-tunggu, Emi? Keluar! Pakai kamar mandi di kamarmu. Emi, ayo keluar! Emi!"
Bima menggedor-gedor pintu kamar mandinya yang sudah dikunci Emi dari dalam. Bima kesal karena Emi berlaku sesukanya, Bima menjauh dari kamar mandi dan menunggu Emi di tempat tidur. Bima menghubungi pak Eko dan menyuruhnya untuk mengantarkan barang-barang Emi kembali ke rumahnya.
Di kamar mandi Emi senyum-senyum mencium aroma sabun di tubuhnya. Tak hanya itu, sampo yang dia gunakan untuk keramas juga tak kalah membuat hatinya membuncah. Dada Emi serasa ingin meledak karena senang memakai barang-barang pribadi Bima.
Emi tertawa geli, menggeliatkan lehernya saat memegang satu-satunya sikat gigi yang ada di kamar mandi dan tentunya dia tahu jika itu adalah punya Bima. Wajah Emi terasa mengembang saat memakai sikat gigi dengan pasta beraroma mint.
Senyum Emi mengembang selama berada dalam kamar mandi. Apa yang dilakukannya saat ini diluar ekspektasinya, Emi benar-benar menikmati acara mandi tengah malamnya.
Setelah selesai Emi keluar dari kamar mandi menggunakan handuk dengan rambut setengah basahnya. Sebelum keluar Emi terlebih dahulu menatap wajahnya di cermin kamar mandi, mengatur wajahnya yang sedari tadi senyum-senyum menjadi biasa-biasa saja.
"Aku nggak punya baju ganti," ucap Emi sembari melangkah dari dalam kamar mandi, mendekat pada tempat tidur dimana Bima sedang menunggunya sambil bermain ponsel.
Bima terkejut melihat penampilan Emi yang hanya memakai handuk dan dengan berani keluar dari kamar mandi menemuinya.
"Apa kau sudah tidak waras muncul di depanku hanya memakai handuk?" hardik Bima dengan mata meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki Emi.
"Mungkin, makanya aku perlu baju ganti sekarang. Pinjamkan aku baju," pinta Emi.
__ADS_1
Bima membuka lemarinya, melihat pakaian yang bisa dia berikan untuk Emi. Postur tubuh Bima dan Emi yang jelas berbeda membuat Bima bingung untuk memberi yang mana dari baju miliknya.
Emi yang tak sabar karena Bima yang terlalu lama, akhirnya menghampiri Bima dan menyelusup melalui celah sebelah kiri hingga posisi Emi berdiri membelakangi Bima dan menghadap pada tumpukan baju dalam lemari.
"Apa yang kau lakukan, ayo minggir."
"Om Bima lama, aku sudah kedinginan dari tadi."
Emi melihat tumpukan baju di hadapannya, seolah milik sendiri Emi memilih apa yang ingin dipakainya.
"Aku pakai yang ini aja," ucap Emi menjatuhkan pilihannya pada sepasang piyama liris putih abu-abu berlengan panjang.
"Jangan," protes Bima tidak setuju karena piyama pilihan Emi adalah kesukaan Bima dan sering dia pakai.
Bima langsung menarik sepasang piyama yang belum pernah di pakainya.
"Pakai yang ini. Masih baru dan belum pernah dipakai," ucap Bima memberitahu.
"Enggak. Aku mau yang ini," tidak peduli ucapan Bima.
Seperti anak kecil, Emi berlari ke kamar mandi membawa piyama pilihannya untuk dia pakai. Tak butuh waktu lama Emi sudah keluar sambil menggulung kaki celana yang kepanjangan untuknya.
"Makasih, aku ke kamarku."
Emi meninggalkan Bima begitu saja sambil mengelus pipinya yang masih terasa sakit dan itu tidak lepas dari penglihatan Bima.
Emi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, memandangi langit-langit kamar berharap akan segera tertidur. Akan tetapi harapan itu segera sirna saat pintu kamarnya di ketuk.
Emi segera bangkit dan membuka pintu.
"Keluar dan tunggu di sofa."
Entah untuk apa Emi tidak tahu, dia menurut saja pada perkataan Bima. Emi kembali menyunggingkan bibirnya melihat tumpukan kado di atas meja dan duduk di sofa menunggu Bima.
Dari arah dapur Bima datang membawa handuk kecil dan pecahan batu es dalam sebuah wadah. Bima duduk disebelah Emi dan membungkus pecahan batu es ke dalam handuk kecil yang kemudian Bima tempelkan pada pipi Emi yang memerah.
Emi diam saja saat Bima mengompres pipinya yang memang tidak baik-baik saja.
"Maaf?"
Permintaan maaf yang diucapkan Bima sama sekali tidak digubris oleh Emi.
"Kau bisa membalas memukulku kalau mau," ucap Bima.
Plak!
Emi tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Bima. Tangannya merespon cepat ucapan pria itu. Meski tidak sekuat yang dilakukan Bima tapi Emi membalas perbuatannya sedangkan Bima cukup terkejut karena mendapat pukulan di pipinya dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Bima tidak mengatakan apapun dan kembali mengompres pipi Emi. Untuk sesaat Bima seolah terhipnotis oleh wajah Emi dengan rambutnya yang masih setengah basah terurai sedikit berantakan. Pipi Emi yang memerah ingin sekali rasanya Bima untuk menyentuh dan mengupasnya.
"Jangan masuk ke kamar seorang pria lagi, itu tidak baik. Apalagi memakai kamar mandinya sesuka hati dan keluar hanya memakai handuk."
"Kenapa? Aku kan anak kecil bukan wanita dewasa yang bisa buat om Bima menyukaiku. Iyakan?"
"Jangan mengatakan hal itu lagi. Belajarlah dengan baik supaya bundamu senang dan bangga."
"Aku tahu... Aku tahu... Tidak perlu diingatkan pun aku akan belajar dengan baik. Kalau tidak belajar dengan baik tidak mungkin dapat nilai kuis 90."
"Kau melakukannya dengan baik, selamat."
"Tidak perlu mengatakan selamat. Kalau bukan karena Bian, aku juga nggak dapat nilai segitu. He's my Hero, my super Hero," ucap Emi tersenyum mengingat saat-saat Bian bersusah payah mengajarinya.
"Sepertinya kalian kalian sangat dekat, apa kau menyukainya?"
Pertanyaan itu keluar dari mulut Bima begitu saja.
"Dia baik dan...pokoknya dia baik dan pintar, nggak ada alasan untuk tidak suka dengannya."
Bima menyunggingkan senyumnya mendengar jawaban Emi.
"Kau pernah bilang menyukaiku tapi barusan kau juga bilang menyukai Bian, apa tidak menyadari itu?"
"Itu dulu, sekarang aku nggak akan suka om Bima lagi," ucap Emi ingin melihat respon dari Bima tapi sayang karena sikap Bima biasa-biasa saja.
Suasana kembali hening, Bima masih terus mengompres pipi Emi. Bima tidak menyangka jika tamparannya meninggalkan bekas di pipi gadis itu.
Emi tertegun saat tanpa sadar Bima menyentuh dan mengelus pipi yang di kompres. Emi tidak berani menghadap Bima karena jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang.
Kerja jantung Emi semakin tak karuan saat wajah Bima semakin mendekat ke wajahnya. Emi serasa sulit untuk bernafas saat merasakan hembusan nafas Bima menerpa wajahnya.
"Apa sangat sakit?" tanya Bima tiba-tiba yang ternyata sedang memperhatikan bekas tamparannya di pipi Emi.
"Ha?" tanya Emi seperti orang linglung dan spontan memutar tubuhnya ke arah Bima.
Mata Emi berkedip-kedip saat jarak wajahnya dan wajah Bima hanya sekitar lima sentimeter. Emi menelan salivanya gugup sedangkan Bima juga terkejut dengan posisi mereka saat ini. Bima langsung menarik tubuhnya, menjauhkan wajahnya dari Emi.
"Sudah larut, pergilah tidur," ucap Bima menyadarkan Emi.
Buru-buru Emi berdiri dan saat akan melangkah dia teringat akan sesuatu.
"Selamat ulang tahun, om Bima." Emi mengatakannya begitu cepat tanpa menoleh pada Bima.
Emi pergi ke kamarnya dan sebelum mengunci pintu sebuah ide gila menghampiri pikirannya. Dilihatnya Bima yang akan menaiki tangga dan berjalan begitu cepat menghampiri Bima.
*Sekali ini saja, setidaknya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Masa bodoh jika dia marah nantinya.*
__ADS_1
"Ada apa la-"
Cup!