CEO Pengganti

CEO Pengganti
Aku Yang Menentukan


__ADS_3

Emi berontak mencoba melepas tangannya yang ditarik paksa Bima namun tak berhasil karena tenaga Bima yang lebih kuat darinya. Jalan Emi terseok-seok karena tidak biasa memakai heels tinggi.


"Om Bima apa-apaan sih? Ayo lepas!" berontak Emi.


Bima menarik tangan Emi dan membawanya menuju tempat tadi ia memarkirkan mobilnya.


"Masuk!" perintah Bima setelah membuka pintu mobil.


Emi akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil. Emi tidak ingin ada yang melihat mereka dan menjadi pusat perhatian yang nantinya berdampak pada nama besar keluarga Suntama seperti yang dikatakan oleh Bima selama ini. Emi mencoba bersikap baik karena berada di tempat umum.


Setelah memastikan Emi duduk di dalam mobil dan tidak berniat keluar, barulah Bima mengitari mobilnya dan duduk di kursi pengemudi.


"Pakai seat-belt!"


Emi tidak menghiraukan perkataan Bima, dia tetap duduk tanpa melakukan yang di suruh Bima. Sikap Emi yang seperti ini semakin membuat Bima kesal, Bima tidak suka jika harus mengulangi setiap yang dia katakan.


"Pakai seat-belt!" bentak Bima kali ini.


"Aku baik-baik aja tanpa harus pakai seat-belt. Tidak perlu pedulikan aku, aku bisa mengurus diriku sendiri karena aku sudah besar. Aku bukan anak kecil lagi!" ucap Emi lantang.


"Oke, baik kalau memang seperti itu."


Bima menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas membelah jalanan malam yang semakin dingin karena hujan yang sudah turun. Keduanya diam sampai Emi menyadari arah jalan yang dilalui mobil.


"Aku mau pulang ke rumah bunda," ucap Emi.


"Bukan kau tapi aku yang menentukan kemana mobil ini bergerak."


"Aku mau ke rumah bunda, aku nggak mau ke rumah om Bima," kesal Emi.


"Kau tidak pada posisi untuk memilih karena aku yang menentukan. Ibu Mila menitipkanmu padaku."


"Terserah, kalau tidak mau antar ke rumah bunda, aku bisa pulang sendiri. Turunin aku sekarang!" ucap Emi meninggikan suaranya.


Mendadak Bima menginjak rem mobilnya karena suara Emi. Baru Bima akan mengatakan sesuatu Emi sudah langsung keluar dari mobil.


Bima berdecak kesal melihat Emi jalan di trotoar dalam keadaan hujan. Amarah yang ditahannya sejak melihat video yang dikirim Karina mendadak naik.


Tin.....!!!


Klakson mobil yang dibunyikan Bima sama sekali tidak berpengaruh bagi Emi, dia tetap berjalan menuju sebuah halte yang berada sekitar dua ratus meter dari posisi mobil Bima.


Bug!


Kesal, Bima memukul setir mobil dan keluar menyusul Emi.


"Ayo! Jangan keras kepala!"

__ADS_1


"Aku nggak mau. Pulang aja, aku nggak butuh bantuan. Kalaupun aku butuh bukan kau yang akan aku mintai bantuan."


"Apa? Bisa ulangi kalimat terakhirmu tadi?" tersulut emosi. "Kau? Anak kecil sepertimu menyebutku dengan kata 'kau'? Apa menurutmu pantas mengatakan 'kau' pada orang yang jauh lebih dewasa darimu?"


"Maaf, nggak sengaja," ucap Emi biasa-biasa saja.


"Maaf? Selain bodoh kau juga semakin tidak sopan."


"Aku sudah minta maaf, mau apalagi? Seharusnya aku yang marah karena om Bima tiba-tiba datang ke pesta dan tarik aku. Meskipun bunda nitip aku ke om Bima, bukan berarti om Bima bisa seenaknya saja samaku."


"Kalau bukan karena pakaianmu ini, aku juga tidak akan datang!" bentak Bima


"Memangnya kenapa dengan pakaianku?"


"Apa menurutmu kau pantas berpakaian seperti ini? Apa kau memang sengaja memakainya untuk mendapat perhatian, hah? Apa kau tidak ingat berapa usiamu?"


"Pelayan di pesta itu nggak sengaja tumpahin minuman ke bajuku dan kak Karina yang kasih baju ini untuk gantinya."


"Dan kau memakainya? Apa kau sudah gila memakai baju terbuka seperti ini?" Apa kau memang mau menunjukkan tubuhmu pada orang-orang di sana?"


"Om Bima!!!" teriak Emi tak suka ucapan Bima.


"Pakaiannya memang sedikit terbuka tapi juga tidak berlebihan. Kak Karina dan Bian juga bilang bajunya bagus dan aku suka. Kenapa om Bima yang jadi marah? Yang pakai aku, bukan om Bima."


"Sedikit terbuka? Bagus? Apa kau tidak lihat kalau belahan dadamu kelihatan memakai pakaian ini? Apa kau juga tidak masalah mempertontonkan bagian punggungmu?"


Plak!


Refleks Bima mengangkat tangannya dan melayangkan sebuah tamparan pada pipi Emi. Emi hampir saja terjatuh karena tamparan Bima.


Tidak, Emi tidak menangis. Meski sakit tapi Emi tidak mau terlihat cengeng. Sekuat tenaga Emi berusaha menahan air matanya.


Bima yang sadar atas apa yang baru dilakukannya terkejut melihat telapak tangan yang dia gunakan untuk menampar Emi.


"Maaf?" ucap Bima namun matanya tertuju pada telapak tangannya. Dia juga tidak tahu kenapa menjadi sangat kesal bahkan marah saat Emi mengatakan jika sudah bodoh karena pernah menyukai dirinya.


Tak ada yang dikatakan Emi, dia hanya berlalu dari hadapan Bima yang seperti orang bodoh memandangi terus telapak tangannya.


Emi sudah kedinginan karena air hujan yang membasahi tubuhnya.


"Dasar! Dia pikir dia itu siapa berani menamparku? Apa dia pikir aku akan nangis begitu saja? Aku kasihan pada siapapun dia yang menjadi pasanganmu suatu saat nanti."


Dress merah yang awalnya dipakai Emi saat tiba di pesta terpaksa harus dia ganti karena tak sengaja seorang pelayan menumpahkan air minum dan membasahi dress Emi. Karina melihat kejadian itu, ia tahut Emi tak nyaman dengan dress-nya yang basah akhirnya mencari dress miliknya yang mungkin bisa Emi pakai.


Pilihan Karina tertuju pada sebuah dress biru langit yang panjangnya di atas lutut, dress itu sangat cantik namun memperlihatkan pundak dan sedikit bagian dada dan punggung.


Emi terus berjalan hingga dia berhenti di halte untuk menunggu taksi. Jika saja dia tidak meninggalkan ponselnya di mobil Bima maka dia akan langsung menghubungi pak Eko dan menyuruhnya untuk datang menjemput.

__ADS_1


Selagi Emi menunggu ada taksi yang lewat maka Bima sedang tertunduk di atas setir mobil, mengutuk perbuatannya yang diluar pemikiran.


Bima mengangkat kepalanya dan memperhatikan buku-buku jari tangannya yang terluka dan berdarah.


Beberapa saat lalu setelah Emi pergi meninggalkannya, Bima meninju pohon yang ada di pinggir jalan beberapa kali hingga akhirnya terluka dan berdarah. Bima membalas apa yang sudah dia lakukan pada Emi dengan cara melukai tangan yang tadi memukul Emi.


Dari mobilnya Bima bisa melihat Emi berdiri memeluk tubuhnya sambil celingak-celinguk memperhatikan jika ada taksi yang mungkin akan lewat.


Perlahan Bima melajukan mobilnya dan berhenti di depan Emi. Bima membuka pintu mobil di kirinya tanpa keluar.


"Masuklah, hujan makin deras."


Komat-kamit bibir Emi cemberut mengumpat Bima. Dia masih berdiri dan membuang arah pandangnya dari Bima.


"Ayo masuk, kau sudah kedinginan. Jangan keras kepala, kau bisa sakit."


Nada bicara Bima yang melembut membuat Emi menatap sinis Bima. Dia tidak percaya jika orang yang baru bicara padanya adalah Bima yang selalu cuek dan masa bodoh akannya selama ini.


Sama seperti Emi, sesungguhnya Bima juga sudah kedinginan. Tubuh mereka berdua sudah basah saat berdebat tadi. Bima menghela nafasnya dan keluar dari mobil untuk membujuk Emi masuk.


"Ayo pulang," ajak Bima memegang lengan Emi namun langsung di tepis.


Emi masih tetap pada pendiriannya, bukan Emi namanya jika bukan keras kepala.


Bima memutar otaknya agar Emi mau pulang bersamanya. Sebuah ide terlintas dipikiran Bima dan dia yakin jika Emi pasti sulit untuk menolak.


"Bundamu bolak-balik telpon, kau harus mengangkat ponselmu kalau tidak mau membuatnya khawatir," ucap Bima berbohong.


"Ponselku ada di dalam mobil om Bima."


"Aku tahu, makanya kau harus mengangkatnya."


Sekilas Emi melirik pada Bima yang berdiri di sampingnya. Wajah serius Bima berhasil mengelabui Emi.


"Ayo, ambil ponselmu," ucap Bima mengarahkan.


Percaya dengan ucapan Bima, akhirnya Emi menuju mobil dengan niat hanya untuk mengambil ponselnya dan kembali ke halte. Setelah mengambil ponselnya, dia akan menghubungi pak Eko untuk menjemputnya.


Emi memasukkan kepalanya ke dalam mobil. Saat akan mengambil ponselnya tangan Bima sudah terlebih dahulu merebut benda pipih itu dan memaksa Emi masuk ke mobil.


Bima mengangkat kedua kaki Emi dan mendudukkannya. Tentu saja Emi melawan namun lagi-lagi tenaga Bima lebih kuat.


"Nggak! Nggak mau, aku nggak mau ikut om Bima," mencoba menghalangi saat Bima memakaikan seat-belt pada Emi.


Mata Bima menatap Emi tajam, tatapan itu berhasil membuat Emi terdiam dan berhenti meronta. Bima mengacungkan telunjuknya pada Emi agar tidak bergerak atau tiba-tiba keluar saat Bima mengitari mobil menuju kursi kemudi.


Awas saja, akan aku adukan sama bunda soal malam ini. Kau akan digantung karena sudah memukul putri kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2