CEO Pengganti

CEO Pengganti
Dia Jahat


__ADS_3

Pukul setengah tujuh pagi Bian tiba di depan rumah Bima dan mendapati Emi berdiri di teras menyandar pada tiang antik berwarna putih. Tak butuh waktu lama Emi sudah berada di atas boncengan motor Bian.


"Ayo, buruan jalan," menepuk pundak Bian.


"Sabar, lagian ngapain harus buru-buru? Hoam... Masih setengah tujuh loh, mi."


Bian menguap, ia mengucek matanya yang sedikit basah. Pasalnya untuk bisa sampai setengah tujuh maka Bian harus bangun lebih awal dari sebelumnya. Cuaca pagi ini juga agak mendung, Bian masih sedikit mengantuk."


"Bawa sarapan buat aku juga kan?"


"Nggak. Sarapan di kantin sekolah aja," jawab Emi.


"Ah, si Emi pelit. Sarapan doang, biasanya juga selalu bawa," sungut Bian yang memutar arah motornya dan meluncur ke jalanan yang tidak terlalu ramai kendaraan.


"Bi?"


"Apaan?"


"Mood aku lagi nggak bagus jadi jangan ajak ngobrol dulu, yang ada nanti aku gigit kamu," ucap Emi memperingatkan.


"Iya..., tapi kalau moodnya udah baikan harus cerita."


"Iya."


Bian tidak bertanya apapun lagi, ia tahu betul bagaimana Emi. Jika sudah saatnya dan ingin bercerita tanpa ditanya pun Emi akan bicara. Emi tidak suka dipaksa apalagi jika dalam suasana hati yang kurang baik.


Mereka tidak jadi sarapan di kantin. Nasi uduk yang dijual di pinggir jalan menjadi pilihan keduanya. Melihat Emi yang juga ikut sarapan membuat Bian yakin jika sesuatu pasti terjadi saat di rumah.


Ekkk...


"Ih, jorok amat sih, Mi."


"Itu bukan jorok. Itu tandanya aku kenyang dan menikmati makanannya. Hah... Akhirnya dunia ini terlihat terang benderang setelah perutku terisi."


"Malu dilihatin banyak orang, Mi."


"Iya... Iya... Maaf?"


Bian membayar untuk dua porsi nasi uduk yang mereka makan dan melanjutkan perjalannya mereka ke sekolah.


....


Di kamarnya Bima baru saja selesai mandi dan turun ke bawah untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berpakaian kerja. Bima hanya menggunakan celana panjang santai dan kaos oblong putih senada dengan warna celananya.


Saat menuruni tangga Bima melihat ke arah pintu kamar Emi yang tertutup. Seketika Bima mengingat kejadian tadi malam yang berujung Emi membanting pintu kamarnya.


"Saya makan roti aja, Bu."


Ibu Sri yang hendak membuka piring untuk tempat nasi goreng Bima mengurungkan niatnya.


"Dia belum keluar dari kamarnya?"


"Emi? Dia sudah pergi, pak. Setengah tujuh tadi berangkatnya, dijemput temannya yang biasa."

__ADS_1


"Bian?"


"Iya, pak. Emi juga belum sarapan tadi, bawa bekal juga enggak. Katanya sarapan di kantin sekolah aja sama temannya. Ada tugas yang belum selesai dikerjain mungkin makanya perginya lebih awal."


Bima memakan roti yang sudah di olesinya dengan selai kacang dengan mata tertuju pada kursi yang biasanya di duduki Emi.


Seperti biasa, meja makan sepi tanpa suara Emi.


....


Baru saja tiba di ruang kelas, Emi sudah menggerutu karena rok sekolahnya robek. Rok itu tersangkut pada paku yang berada di salah satu sisi meja. Entah bagaimana caranya Emi pun kurang tahu dan tidak menyadari hal itu sampai ia mendengar suara robekan saat akan duduk.


Robekan di rok Emi cukup panjang dan tepat di bagian pahanya. Bian yang mengetahui hal itu langsung menyarankan Emi untuk mengganti dengan rok yang baru.


"Minta rok baru ke tata usaha aja, Mi. Pasti mereka masih punya pertinggal," saran Bian.


"Emang gratis makanya nyuruh minta? Nggak usah, biar begini aja," tolak Emi menutupi rok yang robek.


"Nggak mungkin juga kan kalau kamu duduk terus di kursi. Kalau ada guru yang nyuruh kamu ke depan nanti, gimana?"


"Masalahnya, nih!"


Emi meletakkan sisa uang yang dia punya ke atas meja dengan memukulkan tangannya pada meja.


"50 ribu. Kalau aku beli rok baru terus dua hari ke depan aku nggak punya uang jajan lagi. Aku juga bingung kenapa jajanan di kantin sekolah ini mahal-mahal."


Bian tersenyum melihat wajah kesal Emi. Sekolah mereka adalah sekolah swasta, dimana para murid di dominasi dari kalangan keluarga yang cukup berada. Tentunya kualitas dan harga jajanan dan makanan di kantin akan sedikit lebih mahal jika di bandingkan dengan sekolah lain.


"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana," ingatkan Bian yang lalu berlari keluar meninggalkan Emi.


Selang beberapa menit kemudian Bian sudah kembali dengan sebuah bungkusan di tangannya.


"Ini," menyodorkan bungkusan di tangannya pada Emi.


Emi menerimanya dan membuka isi bungkusan tersebut. Emi tersenyum melihat Bian yang sudah duduk di kursinya.


"Makasih, Bi."


"Buruan ganti ke kamar mandi mumpung belum terlalu banyak orang."


Emi berjalan ke arah kamar mandi, menutupi roknya dengan bungkusan yang diberikan Bian. Emi langsung mengganti roknya dengan yang baru namun rok baru itu sedikit kependekan dari yang biasanya ia pakai.


Emi kembali ke kelas dan mendapati sudah ada banyak orang di sana.


"Bian, roknya sedikit kependekan. Pendeknya udah seperti yang Lisa pakai," bisik Emi.


"Masalahnya cuman ukuran segitu yang ada, Mi. Lagian nggak pendek amat kok, masih bisa dimaafkan. Pakai aja buat hari ini dari pada pakai yang robek?"


"Ya udah, deh."


Emi memasukkan roknya yang robek ke dalam tas, berpikir jika nanti dia bisa meminta ibu Sri untuk mengantarnya ke tukang jahit. Kalaupun tidak, Emi akan menyimpannya saja karena toh di juga masih punya rok sekolah lainnya di rumah.


Selama jam pelajaran Emi hanya berada di kelas dan menitip jajan pada Febi. Emi tidak bisa fokus pada pelajaran karena memikirkan ucapan Bima semalam.

__ADS_1


Jam pelajaran berakhir dengan sorakan murid-murid saat mendengar bel berbunyi. Bian langsung merangkul Emi berjalan menuju tempat parkiran motor.


"Bentar, sabar?"


Emi sedikit kesulitan naik ke atas motor karena roknya yang sedikit pendek.


"Iya loh, Mi. Aku selalu sabar sama kamu, situ aja yang sering bawel."


"Udah, ayo."


Setibanya di rumah, Bian terlebih dahulu mengajak Emi makan siang dan kemudian belajar.


Bibir Bian bergerak tak henti menjelaskan pokok pembahasan mereka hari ini. Hah... Bian sudah seperti seorang guru les dimana Emi yang menjadi anak didiknya.


"Paham, nggak? Kalau paham biar kita langsung masuk ke soal."


"Bian?"


"Em, apa? Paham nggak?"


"Bian?"


"Apaan?"


"Bian... Huaaa.... Hiks... Bian..."


Bian kebingungan karena Emi tiba-tiba menangis. Bian khawatir jika membuat kesalahan yang tidak dia sadari.


"Ke-kenapa nangis? Perasan aku nggak ada ngomong jahat atau marahin kamu. Udah dong, jangan nangis."


"Bian... Hiks... Om Bima jahat... Dia jahat, Bian..."


Bian sedikit tenang karena pastinya bukan karena dirinya Emi menangis.


Tapi mendengar Emi menyebut om Bima membuat Bian penasaran.


"Emangnya kenapa, Mi? Om Bima ngapain kamu? Kamu di marahin?"


Emi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus menangis di dekat Bian.


Emi menceritakan kejadian semalam pada Bian tanpa ada yang terlewatkan. Pada Bian Emi merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Tertawa, menangis, cemberut dan apa saja yang tidak pernah ia tunjukan pada Bima.


Mendengar cerita Emi tentu saja Bian ikut kesal namun apa yang bisa dia lakukan selain menghela nafas.


"Kalau gitu mending mulai sekarang lupain om Bima. Jangan nangis karena dia juga nggak pedulikan sama kamu? Lebih baik kamu belajar dengan baik buat kamu sendiri dan bunda kamu. Jangan mikirin dia lagi, oke?"


Emi mengangguk-anggukkan lagi kepalanya. Meski tidak lagi menangis namun wajah sedih Emi masih sangat terlihat jelas oleh Bian.


"Terus sekarang belajarnya masih mau dilanjut?" tanya Bian ragu.


"Lanjut aja, Bi."


"Biar bisa kencan sama om Bian di hari ulang tahunnya?" tanya Bian lagi memastikan tujuan belajar Emi.

__ADS_1


"Enggak. Belajar buat pintar dan banggain bunda," jawab Emi tanpa ragu.


__ADS_2