
Jika pagi tadi begitu cerah dan indah meski mendung maka siang ini terlihat begitu mendung meski panas terik bagi Emi.
Suasana hati Emi berubah seratus delapan puluh derajat sejak pulang sekolah. Belum lagi ia bertanya pada Bima kini malah bingung atas pertanyaan Bian saat di sekolah.
Ya, Emi tidak dapat menutupi rasa senang dihatinya atas perlakuan Bima padanya. Penasaran dengan Emi yang selalu senyum-senyum selama jam pelajaran membuat Bian penasaran dan bertanya.
Begitu antusias dan menggebu-gebu Emi menceritakan apa yang dilakukan Bima padanya. Perhatian Bima, perlakuan manisnya, semua Emi ceritakan pada Bian. Seketika Emi terdiam saat mendengar respon dari temannya itu, Emi jadi merasa seperti orang bodoh karena tidak bisa menjawab pertanyaan Bian.
"Kamu senang dapat perlakuan seperti itu tapi kamu lupa dia orang yang juga nggak peduli sama kamu selama ini. Kenapa kamu senang? Apa karena kamu suka si kak Bima selama ini? Kalau iya, emang dia suka sama kamu? Apa dia pernah bilang suka sama kamu? Dia ngomong kalau dia suka kamu? Enggak kan?"
Ingin Emi menginterupsi pertanyaan Bian tapi yang dikatakannya juga tidak salah. Tanpa berkata apa-apa Bima berubah menjadi sosok berbeda dari yang selama ini Emi kenal.
"Memangnya kamu tahu gimana perasaan si kak Bima ke kamu? Enggak kan? Kalau dia cuman kasihan aja karena kamu baru cidera gimana? Atau parahnya lagi cuman mainin anak sekolahan seperti kamu gimana? Dia itu pria dewasa sedangkan kamu, lihat apa yang kamu pakai, seragam anak sekolah. Kamu ngerti maksud aku kan, Mi? Aku nggak mau nantinya kamu kecewa dan sakit hati hanya karena salah mengartikan kesenangan yang kamu rasa atas perlakuan kak Bima sekarang. So, please? Sadar, Mi!"
Boneka beruang salju pemberian Bian sebelum pulang sekolah tadi menjadi teman Emi saat ini. Pada Beruang salju itu Emi bertanya apa yang harus dilakukannya.
Sama seperti malam sebelumnya, Bima menghampiri Emi ke kamarnya untuk melihat keadaan gadis itu tepatnya melihat wajah Emi sebelum Bima tidur.
"Kau belum tidur?"
Pandangan Emi tertuju pada pintu serta suara yang bertanya.
"Apa kau sedang belajar?" tanya Bima melangkah masuk.
Di kursi meja belajarnya Emi sedang duduk mengerjakan tugas matematika untuk besok. Emi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan malam ini, ada beberapa pertanyaan yang harus ditanyakan pada Bima. Emi harus memperjelasnya malam ini.
Belum sempat Emi bertanya Bima sudah berdiri di belakangnya. Bima membungkuk, meletakkan dagunya di atas kepala Emi. Saat Emi akan bergerak tangan Bima mengambil pena yang terselip diantara jari Emi yang kembali menegang karena pipinya menempel dengan pipi Bima.
Nafas Emi tercekat merasakan hembusan nafas Bima apalagi saat ini Bima sedang mengerjakan soal terakhir yang tidak bisa Emi selesaikan.
Hanya butuh lima menit Bima sudah menyelesaikan soal tersebut. Emi menelan salivanya, gugup karena kini Bima menoleh ke arahnya.
Kedua tangan Emi mengepal diikuti matanya yang terpejam merasakan bibir Bima kembali di pipinya. Lagi, Emi seperti orang bodoh, jangankan untuk bicara, untuk bergerak saja tubuhnya sulit ia ajak.
Emi menggeliat merasakan geli saat Bima menggesek-gesekkan pipi mereka yang menempel lagi.
Tidak ada yang dikatakan Bima, ia keluar dari kamar Emi setelah membaringkannya di tepat tidur dan memberikan kecupan selamat malam di kening sang gadis.
"Hah! Nggak bisa seperti ini, aku harus pastiin. Besok harus aku perjelas sama om Bima. Tapi kalau yang Bian bilang itu beneran, gimana dong? Bahagiaku cuman sebentar jadinya, cuman perasaan aku aja dong kalau om Bima baik dan perhatian sekarang ini karena dia memang suka," sungut Emi berpikir akan segala kemungkinan.
Sudah di putuskan, besok Emi akan bertanya dan memperjelas arti perlakuan Bima padanya.
Keesokan pagi, Emi masih harus menahan untuk bertanya karena tak ingin merusak suasana pagi. Emi takut dengan kemungkinan buruk yang terjadi, tepatnya seperti yang dikatakan Bian padanya.
Pemandangan di meja makan pagi ini berhasil membuat ibu Sri tercengang hingga ia memutuskan untuk tetap berada di dapur sampai Bima dan Emi selesai sarapan dan pergi.
Jika ibu Sri tercengang maka Emi dibuat gugup hingga tangannya gemetaran saat menyuapkan makanan ke mulutnya. Sambil menyeruput kopi dan mengunyah roti, salah satu lengan Bima berada di leher Emi dan tangannya tidak berhenti mengelus-elus pipi mulus milik Emi.
Gadisku
Bima tersenyum tipis memandangi wajah Emi yang ternyata begitu menggemaskan dan ingin ia gigit, terlebih pipi Emi saat mengunyah makanan di mulutnya.
Emi bagaikan orang sakit leher yang hanya menatap lurus ke depan tanpa berani menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia bukanya takut pada Bima, hanya saja dia gugup.
__ADS_1
Perjalanan ke sekolah terasa begitu lama karena laju mobil yang pelan. Sengaja Bima memperlambatnya agar lebih lama bersama Emi.
Hati Emi bersorak, akhirnya Bima menghentikan mobil karena sudah tiba di sekolah Emi.
"Belajar dengan baik dan jangan lupa untuk makan siang nanti, mengerti?"
Kecupan di kening Emi mengakhiri perjumpaan keduanya pagi ini.
..........
Sepajang pelajaran berlangsung sungguh Emi tidak dapat berkonsentrasi. Isi kepalanya hanya ada Bima dan Bima. Rasanya menunggu hingga malam nanti juga lama, Emi ingin secepat mungkin memperjelasnya agar tidak salah tanggap terhadap perlakuan Bima.
"Nanti aku antar pulang ya, ada yang mau aku omongin juga soalnya, Mi."
"Nggak bisa, Bi. Lain kali aja ya?"
"Yah, gagal lagi dong," sungut Bian menelungkupkan wajahnya di atas meja sesaat dan mengangkatnya kembali. "Boleh ya, Mi?"
"Gagal apanya? Ngomong aja sekarang ngapain harus nanti."
"Ini lagi di sekolah, Mi. Yang mau aku omongin beda, bukan masalah sekolah. Boleh ya? Please?" bujuk Bian.
"Hahaha... Kayak anak TK aja deh. Lain kali, oke?"
"Ah, nggak seru."
"Kalau nggak seru ya seru-seruin aja, gampang kan?"
"Iya, yakin!"
"Beneran?"
"Iya, beneran!"
"Oke kalau gitu."
Tersenyum jahil Bian menghitung satu sampai tiga dalam hatinya.
"Aaa... Bian...!!! Berhenti nggak? Geli loh, Bi!"
Emi berteriak minta ampun merasa geli akibat gelitikan Bian.
"Woi! Berisik! Mau tidur nih," kesal Yogi.
"Kalau mau tidur ya tidur aja. Kebiasaan kalau nggak ada guru kerjaannya molor," sindir Febi di sebelahnya.
Hari ini Bian juga menyabotase tempat duduk Febi di sebelah Emi. Seisi ruangan sibuk dengan kegiatan masing-masing karena guru yang seharusnya mengajar berhalangan masuk.
"Kalian berdua lucu deh, nggak ada niat buat jadian aja?" tanya Febi pada Emi dan Bian.
Keduanya tidak menjawab pertanyaan Febi. Keduanya masih terus bercanda dan saling adu gelitik.
"Lo juga, dari tadi main hp mulu, nggak bosan siaran langsung terus di Facebook? Alay lo," ucap Yogi berbalik menyindir Febi.
__ADS_1
"Suka-suka dong."
Febi tidak memperdulikan omongan Yogi dan masih setia melakukan siaran langsung, menunjukkan Emi dan Bian yang beradu jahil.
..........
Bima membuka laman media sosial perusahaan karena sedang melakukan promosi produk, ia ingin mengetahui tanggapan masyarakat mengenai produk mereka. Ada beberapa nama yang di tandai dalam postingan terakhir dan salah satunya adalah Emi selaku dari anak pemilik perusahaan.
Niatnya hanya iseng karena Bima bukanlah orang yang terlalu suka media sosial. Bima membuka profil sosial media Emi. Sebuah video siaran langsung yang menandai Emi menarik perhatian Bima hingga akhirnya Bima memutarnya.
Mata Bima tak lepas dari layar ponselnya, sesaat ia menjeda video yang dilihatnya dan kembali melanjutkannya. Sekali lagi Bima menjedanya. Ia meremas kuat ponsel di tangannya mencoba tenang dan berpikir positif.
Bima memilih untuk tidak melihat lanjutan video tersebut, mencoba tidak terusik dengan video yang menunjukkan kedekatan Emi dan Bian.
Melanjutkan pekerjaan adalah pilihan terbaik Bima agar tidak mengingat video yang baru dilihatnya dan itu berhasil meski tidak sepenuhnya karena sesekali rahang Bima mengeras menahan kesal.
"Permisi pak Bima, sudah waktunya makan siang. Mau saya pesankan makanan?"
"Aku tidak lapar," jawab Bima ketus.
"Ada masalah, pak? Perusahaan setahu saya baik-baik aja."
"Sudahlah, aku tidak ingin diganggu. Kalau lapar pasti aku kasih tahu nanti."
Nola keluar begitu saja tanpa mengatakan apapun. Niatnya baik mengingatkan waktu makan siang tapi Bima malah seperti sedang marah saat bicara dengannya.
"Ya sudah kalau tidak mau makan," cicit Nola.
Bersama dengan beberapa karyawan lainnya Nola meninggalkan meja kerja untuk makan siang diluar. Semua tampak biasa saja saat keluar dari lift hingga ia melihat bagian resepsionis sedang adu argumen dengan seorang wanita.
Penasaran, Nola menuju meja resepsionis untuk mengetahui ada masalah apa.
"Permisi, ada masalah apa ya?" tanya Nola berdiri di belakang seorang wanita berpenampilan menarik.
Wanita itu memutar tubuhnya dan terkejut saat berhadapan dengan Nola.
"Nola?" kaget si wanita.
"Kau?" Nola sama kagetnya dengan si wanita di hadapannya.
"Arya. Aku mau ketemu Arya."
Tanpa basa-basi wanita itu langsung mengatakan tujuan dari kedatangannya.
"Pergilah, Arya tidak ada di sini. Dia lagi kerja di luar, ketemu klien. Kemungkinan sampai sore dan tidak kembali ke kantor lagi."
"Bohong. Tadi resepsionis bilang kalau direktur utama perusahaan ini ada di ruangannya. Please, Nola. Aku mau ketemu Arya."
"Sebaiknya kau pergi dan tidak datang kesini lagi. Satu lagi, kau tidak perlu menemuinya lagi."
"Arya ada di sini dan aku akan tunggu sampai aku ketemu dia."
Nola tidak memperdulikan wanita itu lagi, ia mengejar teman-temannya yang akan keluar untuk makan siang.
__ADS_1