CEO Pengganti

CEO Pengganti
Bima Arya Wiratama


__ADS_3

"Om Bima nggak marah kan? Aku nggak sengaja."


"Em."


Emi merasa lega karena apa yang ditakutkan tidak terjadi. Dia takut Bima marah karena sudah mengadakan hujan lokal di wajah Bima.


"Kepalamu baik-baik saja?"


"Ha? Kepala?"


"Yang tadi malam," jelas Bima.


"Oh, nggak apa-apa. Ngomong-ngomong makasih buat transferan pulsanya kemarin."


"Tidak perlu berterimakasih. Aku hanya melakukan pekerjaanku saja."


"Apa mengantarku ke sekolah belakangan ini juga karena bunda?"


"Anggap saja seperti itu."


Emi memaksakan senyumnya mendengar jawaban dari Bima. Sepertinya dia memang harus memantapkan hatinya untuk tidak lagi memiliki rasa suka pada Bima. Apa yang dilakukan Bima hanya karena bundanya, tidak lebih. Sikap Bima beberapa hari ini hampir saja mengecoh hati dan perasaan Emi.


"Tadi waktu video call, bunda bilang dia mau pulang sebentar ke Indonesia."


"Kau pasti senang."


Iya, Emi sangat senang saat tadi bundanya mengatakan akan ke Indonesia sebentar. Namun ada hal lain yang membuatnya sedih.


Dilihatnya Bima yang fokus mengemudi sambil sesekali membunyikan klakson, jalanan cukup macet karena sudah jam berangkat sekolah dan kerja sehingga ramai kendaraan.


"Katanya ada urusan yang mau bunda selesaikan."


Bima tidak merespon tapi dia mendengarkan Emi. Sedikit lagi mereka hampir tiba di sekolah namun apa yang diucapkan Emi membuat Bima tiba-tiba mengerem mobilnya.


"Bunda bilang kalau aku mau, aku bisa ikut bunda ke Australia nantinya."


Chittt...


Meski terkejut karena mobil yang tiba-tiba berhenti tapi Emi tidak terlalu memperdulikannya. Emi hanya menoleh ke kanan dan ternyata Bima sedang menoleh kearahnya juga.


"Di sini aja, om. Aku bisa jalan, sekolahnya juga nggak jauh lagi. Om Bima hati-hati nyetirnya," ucap Emi turun dari mobil sedangkan Bima memandangi Emi berjalan menuju gerbang sekolahnya.


..........


Sejak tiba di ruangannya, Bima tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Emi yang diminta bundanya untuk ikut ke Australia. Harusnya tidak ada masalah, justru Bima harus senang karena dengan demikian dia tidak perlu lagi berhubungan dengan gadis itu. Namun hal itu malah membuat Bima tak suka. Konsentrasi Bima saat bekerja pun sedikit terganggu.


Sebaliknya, jika Bima sedang tidak mengerti dengan pikirannya maka Emi sedang tertawa dengan teman-temannya. Entah hal baik apa yang sudah dilakukan Emi belakang ini hingga mendapatkan keberuntungan.


Emi yang sejak tiba di kelas terduduk lemas seketika bersemangat saat panitia kegiatan karya wisata membacakan nama siapa saja yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.


Tangan Emi terlipat dengan mata berbinar mendengar namanya di sebutkan. Awalnya dia tidak percaya karena seingatnya dia tidak mengumpulkan kertas persetujuan yang harus ditandatangani orang tua atau wali.

__ADS_1


Emi yang masih belum percaya dan berpikir itu adalah kesalahan, mengejar panitia pelaksana kegiatan yang sudah meninggalkan kelasnya.


"Saya benar ikut, pak?" tanya Emi mengejar langkah panitia sekaligus yang menjadi salah satu guru kesenian di sekolahnya.


"Nama kamu siapa?"


"Emiranda, pak."


Sang guru mencari nama Emiranda pada tumpukan kertas di tangannya.


"Emiranda Suntama?"


"Iya, pak"


"Iya, kau ikut. Bima Arya Wiratama, itu nama walimu bukan?" tanya pak guru memperlihatkan selembar kertas pada Emi.


Emi mengangguk tak percaya saat melihat nama yang tertera di kertas lengkap dengan tanda tangan.


"Sudah, sekarang kembali ke kelasmu," perintah pak guru.


Bima Arya Wiratama.


Sambil menuju kelas, Emi membuka ponselnya dan meluncur ke sosial media Suntama Group. Emi ingin lebih meyakinkan dirinya dan benar saja nama yang tadi disebutkan oleh gurunya dan yang juga dia lihat di kertas sama persis dengan nama direktur utama Suntama Group.


Emi sangat senang dan ingin menghubungi Bima namun sebuah video di akun tersebut mencuri perhatiannya. Sebuah video yang baru beberapa jam lalu diunggah dimana memperlihatkan Bima sedang bermain piano di sebuah pesta.


"Emi?" panggil Febi dari pintu kelas.


"Iya-iya."


..........


Pulang sekolah seperti biasa pak Eko sudah menunggu Emi untuk menjemputnya.


"Pak Eko, aku pulang sama Bian ya?"


"Waduh, jangan. Nanti pak Bima marah."


"Pak Eko, boleh ya? Buat persiapan karya wisata."


"Kalau gitu izin ke pak Bima dulu ya?"


Pak Eko menghubungi Bima dan memberitahu keinginan Emi yang akan pulang bersama Bian dengan alasan mempersiapkan kebutuhan untuk karya wisata.


"Antar dia pulang ke rumah," perintah Bima menolak keinginan Emi yang disampaiakan pak Eko.


"Tapi Emi-"


"Saya bilang antar dia pulang!" tegas Bima.


"Baik, pak."

__ADS_1


Pak Eko memasukkan kembali ponselnya ke saku kemeja dengan menggelengkan kepala pada Emi.


Emi mendengus kesal, dia sudah berharap dan yakin jika Bima akan mengizinkannya. Emi lalu mengirimkan pesan pada Bian untuk memberitahu jika dia tidak bisa ikut bersamanya dan teman-teman lainnya untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan.


Tiba di rumah, Emi membuka isi lemarinya dan memilih pakaian yang akan dia bawa mengingat mereka akan menginap selama semalam.


Emi menjadi malas saat membayangkan ketiga temannya sedang berbelanja menyiapkan keperluan mereka sedangkan dirinya hanya berada dalam kamar.


Pasti seru kalau ikut mereka.


Emi duduk di lantai kamarnya, bersandar ke tempat tidur dan menghadap pada lemari pakaiannya yang terbuka. Emi memainkan ponselnya dan teringat pada video Bima yang memainkan piano.


Sudah ada puluhan ribu like dan ratusan komentar untuk video tersebut. Semua komentar yang dibaca Emi berbunyi pujian dan kekaguman pada Bima. Sembilan puluh persen yang mengomentarinya juga adalah kaum wanita dan salah satunya adalah Nola yang setahu Emi adalah sekretarisnya Bima.


Matanya yang lelah bermain ponsel membuat Emi mengantuk dan tanpa pikir meluruskan kedua kakinya dan memejamkan matanya dengan posisi duduk di lantai.


Sayang seribu sayang mata Emi yang sudah berat tiba-tiba harus ia buka lagi karena suara ponselnya. Bian menelponnya dan menunjukkan keseruan bersama Febi dan Yoga yang sedang belajar membangun tenda agar lebih gampang saat sudah berada di tempat kegiatan nantinya.


Hampir satu jam sambungan video call yang dilakukan Bian berakhir. Intinya Emi sangat ingin bergabung dengan ketiga temannya tapi apa boleh dikata Emi terpaksa menurut untuk berada di rumah takut Bima tiba-tiba berubah pikiran dan membatalkan izin Emi untuk ikut karya wisata.


Bosan berada di kamar, Emi berjalan-jalan di halaman rumah. Tanggung rasanya untuk dia tidur karena sudah jam empat sore.


"Apa kalian kepanasan?" tanya Emi pada bunga yang ada di sekitar rumah seakan bisa mendengar dan menjawab apa yang dikatakannya.


"Baiklah, aku akan memberi kalian minum sepuasnya dan juga memandikan kalian semua."


Emi menyalakan keran yang sudah tersambung dengan selang dan menarik selang tersebut untuk menyiram semua tanaman.


Surrrr...


Satu persatu tanaman mulai disiram Emi. Semuanya disiram tanpa terkecuali, bahkan rumput hijau pada taman samping rumah juga ikut di guyurnya. Mungkin jika ada pohon kelapa di sana pasti ikut disiramnya.


Bub!


"Hais... Jatuh segala lagi," sungut Emi.


Emi terpelest di rumput yang disiramnya. Halaman rumah sudah basah karena Emi menyiram dengan air yang berlebihan, untung saja halaman rumah Bima dialasi dengan batu alam, coba kalau tidak pasti air sudah menggenang.


Wajah Emi ikut basah karena saat terpeleset, selang ditangannya menghadap keatas dan mengenai wajahnya.


"Ini lagi, ngajak ribut," ucap Emi pada selang ditangannya.


Emi teringat dia dan teman-temannya di panti suka sekali saat bermain hujan. Emi menyeringai dan membasahi tubuhnya dengan air dari selang.


Seperti anak kecil, Emi menembakkan air ke sekeliling dan juga dirinya, mengarahkan selang ke atas kepalanya. Emi sangat menikmati apa yang dilakukannya saat ini hingga tidak menyadari Bima sudah pulang.


"Basah," ucap Emi melihat tubuhnya. Dilemparnya selang yang masih menyala, tidak peduli dengan air yang terus mengalir.


Emi menarik kaos putih ditubuhnya ke atas dan meremas air yang mengendap.


"Apa yang kau lakukan!?"

__ADS_1


Bima memijit pelipisnya melihat keadaan Emi yang basah kuyup, bermain air seperti anak kecil.


Emi berbalik dengan tangannya masih meremas kaosnya yang sudah basah sempurna.


__ADS_2