
"Untung nggak ketahuan."
Setelah mengunci pintu kamar, Emi membuka bingkai foto dan merasa lega karena foto Bima masih ada di sana, dibalik foto keluarga bersama bunda dan dua kakaknya. Emi mengelus dadanya merasa tidak ketahuan jika diam-diam selama ini dia juga memiliki dan menyimpan foto Bima.
Emi mengambil foto Bima dari bingkai dan menyelipkannya dibawah pakaian di dalam lemarinya.
Di kamarnya, Bima sedang melepas pakaian kantornya yang seharian ini menempel dan membuat tubuhnya gerah. Sambil melepas pakaiannya, Bima teringat akan foto dirinya yang dimiliki Emi.
Awalnya Bima mengeluarkan fotonya tapi sebelum masuk ke dalam rumah, foto itu dia kembalikan lagi seperti semula. Bima tidak yakin pada apa yang dirasa Emi padanya tapi belakangan ini gadis itu benar-benar mengusik pikiran Bima.
Sebelum makan malam Bima keluar ke supermarket membeli beberapa barang keperluan pribadinya. Saat memilih barang-barang yang diperlukannya, Bima teringat pada Emi. Bagiamana pun Emi seorang gadis dan tentunya ada kebutuhan pribadi yang hanya Emi seorang yang tahu apa saja itu. Bima berpikir seharusnya tadi dia mengajak Emi untuk ikut dengannya ke supermarket.
Sudah tanggung jika harus pulang lagi, Bima memutuskan untuk mengajak Emi ke supermarket besok untuk membeli kebutuhan pribadi gadis itu.
Jika Bima sedang membeli kebutuhan pribadinya, maka Emi sedang berperang di dapur. Emi bukankah gadis yang tidak tahu akan pekerjaan dapur. Saat di panti asuhan dia kerap kali masuk ke dapur untuk memperhatikan dan membantu hal-hal kecil yang bisa dia lakukan saat ibu yang bertugas sedang memasak.
Selama ini Emi hanya memperhatikan dan membantu hal-hal kecil dan sekarang dia akan terjun langsung seorang diri tanpa bantuan siapapun. Ibu Sri saja tidak diperbolehkan untuk membantunya dengan alasan ingin membuat sesuatu dengan tangannya sendiri.
Di hadapan Emi, di atas meja dapur sudah tersedia bahan-bahan untuk membuat kue. Kebetulan ibu Sri juga sering membuat kue jadi ada banyak bahan membuat kue di sana.
Emi sudah memutuskan akan membuat kue untuk Bian. Seperti keinginan Bian, sesuatu yang dibuat oleh Emi sendiri.
Bermodalkan tutorial membuat kue di YouTube, Emi mulai membuat kue seperti apa yang diinstruksikan dalam video.
"Ibu bantu aja, ya?" ucap ibu Sri menawarkan bantuan.
Bukan tanpa sebab, hanya saja baru memulai tapi keadaan dapur sudah amburadul. Ibu Sri tidak sabar melihat kerja Emi yang lambat dan berantakan di dapur.
"Jangan. Kalau ibu udah selesai kerja, mending istirahat aja di kamar. Jangan ganggu aku, Bu. Aku harus konsentrasi biar nggak salah."
Emi berbicara tapi tangannya melakukan seperti dalam video. Emi keteteran mengikuti arahan dalam video karena tidak menakar bahan sebelumnya.
Ibu Sri yang gemas pada Emi akhirnya memutuskan meninggalkan Emi saja dari pada melihat cara kerja Emi yang berantakan.
Langkah demi langkah Emi ikuti hingga adonan yang dibuatnya kini berakhir di dalam oven. Emi tinggal menunggu adonannya mengembang dan setelah itu akan membiarkannya dingin dan menghiasnya.
Emi menarik kursi meja di dapur dan duduk menunggu adonannya mengembang.
__ADS_1
Keadaan dapur?
Untuk hal itu jangan ditanya lagi, pecahan telur yang tidak sengaja dia jatuhkan menetes dari atas meja kelantai. Tebaran tepung ada dimana-mana, belum lagi alat-alat yang digunakannya begitu banyak yang kotor.
Emi memandangi sekelilingnya dan juga atas meja, dia akan membersihkannya nanti setelah kuenya keluar dari oven.
Setelah oven berbunyi, Emi mengeluarkan kue buatannya dari dalam dan meletakkannya di atas meja dengan serbet sebagai alas loyangnya.
Sambil menunggu kuenya dingin untuk dikeluarkan dari loyang, Emi merapikan dan membersihkan dapur, termasuk mencuci semua peralatan yang dia gunakan.
Untuk membuat kue cepat dingin, Emi menyalakan kipas yang ada di dapur. Setelah dirasa cukup, Emi mengeluarkan kue dari loyang.
"Sempurna!"
Emi kegirangan karena hasil buatannya hampir menyerupai yang ada di video. Emi mengolesi seluruh permukaan dan pinggiran kue dengan butter cream. Emi menghias kue itu seperti kue ulang tahun. Tak lupa potongan stroberi segar diletakkan Emi di atasnya, mempercantik tampilan kue itu.
Sebagai langkah terakhir, Emi akan menulis nama Bian dengan cream yang sudah dia beri pewarna makanan.
"Bian? Abian?"
"Bian," ucap Emi memutuskan pilihan.
Perlahan Emi membuat huruf 'B', tangannya gamang dan berhenti sejenak. Emi melanjutkan membuat huruf 'i' dan kembali berhenti.
Emi kebelet dan berlari ke kamar mandi di kamarnya dengan tulisan nama Bian yang masih menggantung di kue.
Bima baru saja tiba dari supermarket, dia menuju dapur untuk memasukkan beberapa botol minuman ringan ke lemari es. Bersamaan dengan Bima, ibu Sri yang penasaran dengan hasil kerja Emi pun menuju dapur.
"Pak Bima sudah pulang?" tegur ibu Sri.
Bima menganggukkan kepalanya sembari memasukkan minuman ke dalam lemari es.
"Cantik juga," puji ibu Sri melihat kue buatan Emi.
"Apanya?" tanya Bima tak mengerti ucapan ibu Sri.
"Ini pak Bima, kue buatan Emi."
__ADS_1
"Kue?"
"Iya, pak. Tadi dia buat kue dan ini hasil buatannya sendiri walaupun tadi dapur seperti kapal pecah. Hehehe..." gelak ibu Sri memberitahu.
Bima mendekati meja dan ingin melihat kue buatan Emi. Dia penasaran karena tak biasanya Emi melakukan hal seperti itu.
"Ini buatan dia?" tanya Bima memastikan.
"Iya, pak."
"Buat siapa? Apa ada yang ulang tahun?"
"Saya nggak tahu buat siapa, pak. Mungkin buat pak Bima kali," ucap ibu Sri menebak. "Ini ada namanya, Bi- pasti mau buat Bima, nama bapak. Oh... Mungkin karena kemarin itu pak Bima ulang tahun, jadi Emi buatin ini buat bapak. Tadi itu dia bilang mau buat sesuatu dengan tangannya sendiri. Buat seseorang katanya, sebagai tanda terimakasih."
Bima memperhatikan kue buatan Emi dan seperti yang ibu Sri katakan, Bima mengira jika kue itu dibuat Emi untuknya. Bima tersenyum melihat kue itu dan segera meninggalkan dapur.
Saat menuju kamarnya, Bima berpapasan dengan Emi yang baru keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur dengan wajah yang sedikit bertepung. Saat berpapasan Emi membuang wajahnya agar tidak bersitatap dengan Bima, sedangkan Bima melirik ke arah Emi.
"Cantik nggak, Bu?" tanya Emi sesampainya di dapur mendapati ibu Sri memperhatikan kue buatannya.
"Cantik sih tapi masih cantikan yang buat," goda ibu Sri yang justru membuat Emi tertawa geli.
Emi sudah terbiasa mendengar orang-orang mengatakan cantik pada dirinya dan sama sekali tidak membuat Emi besar kepala. Malahan Emi menganggap pujian itu biasa saja dan tidak pernah merasakan perasaan yang berbeda setiap kali dipuji oleh siapapun. Bagi Emi semua orang itu cantik, karena seperti apapun rupa seseorang, penciptanya tetaplah satu.
Seketika ibu Sri terkejut saat melihat Emi melanjutkan dua huruf pada tulisan nama di kue. Ibu Sri menelan salivanya mengingat apa yang sudah di katakan pada Bima sebelumnya.
"Bian?"
"Iya, ini buat Bian. Hah... Akhirnya selesai juga."
Ibu Sri terdiam menyaksikan Emi memasukkan kue itu ke dalam kulkas. Emi akan membawa buatan tangannya itu besok ke sekolah untuk diberikan pada Bian.
"Emi ke kamar dulu, Bu. Mau istirahat, capek buat kue. Kalau om Bima tanyain bilang aja aku udah makan. Aku nggak lapar, besok aja sarapannya double."
Terus buat pak Bima mana?
Ibu Sri mencapit bibirnya yang sudah merasa sok tahu. Ibu Sri ikut kecewa karena ternyata kue yang dibuat Emi bukan untuk Bima.
__ADS_1