CEO Pengganti

CEO Pengganti
Itu Urusanmu


__ADS_3

Baik tubuh Emi maupun Bima sama-sama basah kuyup. Dress yang di pakai Emi membentuk tubuhnya dan sedikit menerawang. Bagian tubuh Emi yang tidak tertutup juga terdapat butiran-butiran air hujan.


Bima mengambil kotak tisu dan melemparkannya ke pangkuan Emi.


"Lap pakai tisu," ucap Bima yang lalu dituruti Emi.


Bima merasa risih melihat bagian tubuh Emi yang terekspos. Jika dikenakan wanita dewasa mungkin tidak akan masalah, akan tetapi Emi masih berstatus sebagai pelajar dan menurut Bima tidak pantas untuk dipakainya.


Satu persatu kancing kemeja hitam yang dipakai Bima dibukanya lalu melepas kemeja itu dan menyisakan singlet putih.


"Om Bima mau ngapain?"


"Pakai itu," ucap Bima melempar kemeja itu ke pangkuan Emi.


"Basah, nggak mau," tolak Emi melemparkan kembali kemeja itu pada Bima.


Tangan Bima bergerak cepat melepas seat-belt Emi dan memakaikan paksa kemeja itu pada tubuh Emi yang basah. Air hujan di rambut Bima menetes mengenai tangan Emi, sesaat Emi memandangi wajah Bima yang begitu dekat dengan wajahnya.


Dahi, alis, mata, hidung, bibir hingga dagu Bima membuat Emi tersihir saat memandangi wajah basah Bima. Emi bersorak kegirangan dalam hati namun tersadar saat kedua bola mata mereka bertemu.


"Kau lihat apa?"


"Enggak ada," bohong Emi membuang arah pandangnya namun kembali menoleh pada Bima yang sedang memasangkan kembali seat-belt.


Emi mengendus-endus sesuatu yang sangat mengganggu hidungnya saat Bima bicara tadi. Emi tidak yakin tapi dia ingin memastikannya.


"Om Bima minum alkohol?"


"Bukan urusanmu."


"Aku nggak suka laki-laki yang minum alkohol, itu sama sekali tidak keren."


"Itu urusanmu."


Bima kembali menyalakan mesin mobil dan membelah jalanan malam diselimuti hujan. Tidak ada yang mengeluarkan suara, keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Emi mengerucutkan bibirnya melihat kemeja Bima yang dia pakai. Kemeja yang tadi menempel di tubuh Bima kini menempel di tubuh Emi. Emi melirik pada Bima yang hanya memakai kaos singlet hingga memperlihatakan bentuk tubuhnya.


Dahi Emi mengkerut saat Bima menyugar rambutnya menggunakan tangan. Luka di buku-buku jari Bima menarik perhatian Emi, dia yakin jika luka itu pasti memberikan rasa yang begitu sakit. Ingin rasanya Emi bertanya tapi dia urungkan, dia tidak ingin mau tahu apapun lagi soal Bima.


Hatcim!


Suara bersin Bima menggelegar dalam mobil hingga membuat Emi terkesiap. Emi menyodorkan beberapa lembar tisu pada Bima dan memperhatikan wajahnya yang pucat.


"Kembalikan ponselku," pinta Emi.


Bima memberikannya dan kembali fokus pada jalan di depannya.


"Pulang ke rumah bunda," ingatkan Emi.


Tidak ada panggilan dari bunda Mila saat Emi menyalakan ponselnya, itu artinya Bima berbohong. Ponsel Emi hampir kehabisan baterai, dia langsung menyambungkannya pada kabel pengisi daya yang ada di mobil. Baru hitungan detik tersambung, Bian sudah menelponnya.


"Bian?" gumam Emi.


Bima melirik pada Emi saat mendengar nama Bian disebut.


"Kamu udah pulang? Kok cepat banget, Mi?" tanya Bian melalui sambungan video call.

__ADS_1


"Sorry, Bi. Nggak marahkan?"


"Yah... Padahal mama dan papa mau ketemu kamu. Mereka nyariin kamu, Mi."


"Sorry, titip salam ke mama-papa kamu ya?"


"Okelah kalau begitu. Terus hadiah buat aku mana? Kamu dapat nilai 90 dan nggak sia-sia mulut ini berbusa ngajarin kamu."


"Kamu mau apa?"


Belum lagi Bian menjawab keinginannya, ponsel Emi sudah kehabisan baterai dan Emi langsung mengisi dayanya.


Emi baru menyadari jika arah jalan yang dituju Bima bukanlah ke rumah bunda melainkan ke rumah Bima. Sampai mereka tiba di depan rumah Bima, Emi masih diam dan tidak bergerak dari kursinya.


"Ayo turun."


"Nggak. Aku udah bilang tadi, aku mau pulang ke rumah bunda, bukan ke sini. Aku nggak mau," protes Emi.


"Ayo cepat. Apa kau tidak kedinginan?"


"Nggak!"


Bima membuka pintu di sebelah Emi dan menarik tangannya keluar dari mobil. Ibu Sri yang mendengar suara mobil Bima langsung membuka pintu.


"Waduh! Kenapa main hujan malam-malam begini? Pak Bima baik-baik saja?"


Emi melihat pada ibu Sri yang hanya menanyakan keadaan Bima padahal jelas-jelas ada dia juga di sana.


"Tolong buatin teh hangat, Bu."


"Baik, pak."


Baik Bima maupun Emi sama-sama tertuju pada tumpukan kado di atas meja. Emi mengikut kemana kaki Bima melangkah.


Ibu Sri datang membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja dekat tumpukan kado.


"Ini apa, Bu?"


"Oh, itu hadiah buat pak Bima. Tadi ada gadis-gadis cantik datang waktu pak Bima pergi. Katanya mereka mahasiswi yang baru wisuda kemarin. Mereka ketemu pak Bima waktu acara wisuda," jelas ibu Sri.


"Wisuda?"


"Iya, pak."


Bima teringat saat menghadiri acara wisuda kevin dan Justin dan saat itu ada banyak wisudawati yang meneriakinya saat memberi kata sambutan dari pihak yayasan.


Emi memperhatikan satu persatu kado yang didominasi warna pink sebagai bungkusnya. Emi mencibir setiap kalimat pujian yang ditulis di kartu ucapan yang menempel di kado.


"Alay dan lebay!" gumam Emi.


"Siapa?" tanya Bima.


"Mereka semua," ketus Emi sambil menunjuk pada kado di atas meja. "Telpon pak Eko untuk menjemputku di sini."


Bima melihat ibu Sri ikut mengamati setiap kado, sepertinya ibu Sri juga penasaran dengan isinya. Bima tersenyum melihat cara ibu Sri menimbang-nimbang dan menggoyang-goyang satu per satu kado itu.


"Tolong siapin kamar untuk Emi, Bu."

__ADS_1


"Ha? Oh iya, pak. Maaf, ibu penasaran soalnya sama isi kadonya," ucap ibu Sri meletakkan kado yang tadi dia goyang-goyangkan.


Emi melihat ibu Sri pergi menuju kamar yang Emi tempati di rumah Bima.


Bima mengambil salah satu cangkir berisi teh hangat dan mendekatkannya ke mulut Emi.


"Minum dan habiskan," ucap Bima penuh penekanan.


Emi menurut karena tubuhnya memang sangat kedinginan. Emi menghabiskan isi cangkir dan mengelap bibirnya.


Hatcim!


Bersin Bima kembali mengagetkan Emi dan disaat itulah tangan Bima dan Emi terlepas.


"Pergilah ke kamarmu, mandi dan ganti baju," ucap Bima.


Emi langsung meninggalkan Bima dan pergi ke kamarnya. Tiba diambang pintu kamar, Emi melihat ibu Sri sudah selesai memasang keperluan tempat tidur Emi.


"Nak Emi dan pak Bima habis dari mana? Kenapa bisa basah?"


"Nggak apa-apa, Bu. Aku baik-baik aja."


Ibu Sri memperhatikan pipi sebelah kiri Emi yang memerah.


"Pipi kamu sebelah yang ini kenapa memerah?" tanya ibu Sri menyentuh pipi yang dimaksud.


"Jatuh, Bu. Iya, tadi itu waktu mau ke mobilnya om Bima, aku jatuh ke aspal dan om Bima datang buat bantuin makanya ikut basah juga. Pipinya merah karena jatuh waktu hujan dan om Bima basah karena datang nolongin aku," jawab Emi mengarang.


"Sakit?"


"Sangat, Bu."


"Ya sudah, mandi dan istirahatlah," ucap ibu Sri yang lalu meninggalkan Emi.


Emi masuk ke dalam kamar mandi dan melepas kemeja Bima. Emi berdiri di depan cermin dan memperhatikan pipinya yang ditampar oleh Bima. Dia yakin jika bundanya tahu mengenai hal itu maka Bima dipastikan tamat.


Tidak ada satupun perlengkapan mandi, Emi keluar dan seperti yang sudah dia tahu, isi lemari kosong saat dibukanya.


Emi keluar dari kamar dan melihat Bima di tangga menuju lantai dua.


"Aku nggak punya handuk, perlengkapan mandi dan baju ganti."


"Kau bisa pakai punya ibu Sri."


Usai mengatakannya, Bima masuk ke dalam kamarnya.


Emi pergi menemui ibu Sri ke kamarnya. Emi melihat jika pintu kamar ibu Sri sedikit terbuka tapi saat mengintip ke dalam dilihatnya ibu Sri sudah tertidur pulas. Emi melihat jam di dinding kamar itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat sepuluh. Hanya tersisa lima puluh menit lagi untuk tanggal berubah.


Tak ingin mengganggu tidurnya ibu Sri, Emi pergi menuju lantai dua.


Tok-tok-tok!


"Om Bima?" panggil Emi.


Bima yang sedang mandi tidak mendengar Emi mengetuk pintu dan memanggilnya.


Beberapa kali Emi mengetuk dan memanggil tapi sahutan dari dalam tidak ada. Emi sudah kedinginan, tanpa ragu ia membuka pintu kamar Bima dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Baru beberapa langkah Emi kembali keluar saat mendengar suara air dari arah kamar mandi, Emi yakin jika Bima sedang mandi. Emi menarik pintu kamar Bima dan berjongkok di luar pintu menunggu Bima selesai mandi.


__ADS_2