
Emi senyum-senyum mengikuti langkah Bima menuju kasir untuk membayar belanjaan yang semuanya adalah milik Emi kecuali topi yang kini bertengger di kepala Bima.
Ada drama kecil yang terjadi sebelum Bima akhirnya memutuskan untuk memakai pasangan topi di kepala Emi. Demi melancarkan aksinya agar Bima memakai topi, Emi sampai harus berpura-pura nangis dan hal itu disaksikan puluhan pasang mata.
Emi berpura-pura menangis namun hal itu tidak begitu ditanggapi Bima karena tahu jika itu hanya akal-akalan Emi saja. Barulah saat Emi berusaha keras mengeluarkan air matanya ditambah seorang ibu menghampiri Bima dan memarahinya karena sudah membuat Emi menangis, Bima akhirnya menyerah dan mengalah.
Tak ingin menjadi tontonan banyak orang, Bima mengambil topi cokelat dari tangan Emi dan memakainya lagi setelah sebelumnya sudah sempat dipakaikan Emi padanya tapi langsung dilepas hingga berakhir dengan drama Emi.
"Kasihan ponakannya, mas. Lain kali jangan dibuat nangis lagi," ucap seorang wanita yang ternyata ibu yang tadi memarahi Bima.
"Dia bukan ponakan saya," ucap Bima dengan wajah datarnya setelah menoleh pada ibu tersebut.
"Kalau bukan ponakan terus siapanya dong? Nggak mungkin anaknya kan?" tanya si ibu lanjut dengan sinis tapi tersenyum saat bertemu muka dengan Emi.
Bima diam saja tidak berniat menjawab pertanyaan si ibu. Bima mengeluarkan semua isi troli agar segera pergi dari sana.
Setelah menghitung semua nominal belanjaan, kasir menyebutkan sambil memperlihatkan angka yang tertera pada layar di meja kasir.
Emi memperhatikan saat Bima membuka dompet dan menyerahkan kartu ATM pada kasir. Emi tahu jika itu adalah ATM miliknya yang diberikan bundanya namun ditahan oleh Bima.
"Tolong sandinya, pak?"
Kasir mengarahkan mesin EDC pada Bima dan menekan angka-angka yang menjadi sandi ATM tersebut.
"Terimakasih, pak."
Bima langsung membawa belanjaan dan meninggalkan meja kasir sedangkan Emi mengikuti langkah Bima dengan sebuah pertanyaan.
"Aku lapar," ucap Emi menepuk-nepuk pelan perutnya.
Tentu saja Emi lapar karena sudah waktunya makan malam. Bukan hanya Emi tapi Bima juga merasakan hal yang sama.
"Makanya cepat jalan."
Keduanya menuju parkiran dengan Emi mengekori Bima dari belakang. Sedikit lagi menuju mobil tapi Bima justru berbalik, memutar badan hingga kini berhadapan dengan Emi. Bima menghentikan langkahnya dan menahan tangan Emi agar ikut berhenti.
"Kenapa? Om Bima ada yang ketinggalan atau lupa beli sesuatu?" tanya Emi.
"Diam dan jangan melihat ke depan," ucap Bima penuh penekanan.
"Memangnya ada apa?"
Jiwa penasaran Emi meronta ingin tahu ada apa di depannya hingga Bima berhenti dan ikut menahan langkahnya menuju mobil. Emi berjinjit namun dengan cepat Bima melepas belanjaan ditangannya, menarik kepala Emi dan membenamkan wajah gadis itu ke dadanya.
Emi terdiam saat bibirnya menempel di baju Bima dan dia yakin pasti akan meninggalkan bekas lipstik di baju itu.
Wangi
Dalam-dalam Emi menarik nafasnya menghirup aroma tubuh Bima. Emi tidak lagi berpikir ada apa di depan sana, berada begitu dekat dengan Bima seperti posisinya saat ini tidak akan disia-siakannya.
Bima menoleh kebelakang dan setelah memastikan baik-baik saja Bima menurunkan tangannya dari kepala Emi. Bima menunduk menyadari Emi tak bergerak sama sekali. Bima tersenyum melihat topi di kepala Emi dan menjauhkan kepala Emi yang menempel di dadanya.
__ADS_1
"Emi?"
Bima melongo, matanya membola melihat bekas lipstik pada kaosnya.
"Jangan salahin aku, om Bima sendiri yang narik kepalaku dan nempelin ke dada om Bima," ucap Emi wanti-wanti Bima memarahinya untuk sesuatu yang tidak sengaja dilakukannya.
"Hm... Ya sudah, ayo cepat jalan dan masuk mobil."
Bima tidak memperpanjang bekas lipstik di kaosnya dan mempercepat langkahnya menuju mobil.
"Aku lapar, kita nggak makan dulu, om?"
Tidak ada jawaban dari Bima yang sedang memasukkan belanjaan ke dalam bagasi.
Emi sudah berharap mereka akan makan malam sebelum pulang di salah satu food court dalam mall tapi sepertinya harus menahan keinginannya.
Duduk diam dengan mata tertutup menjadi andalan Emi menahan rasa lapar dan hausnya. Dia berharap akan segera tiba di rumah untuk mengisi perutnya dengan masakan ibu Sri.
Sepuluh menit setelah meninggalkan parkiran mall, Bima memutar mobil ke arah kiri dan dapat dirasakan Emi jika laju mobil semakin pelan hingga akhirnya berhenti.
"Kau tidur? Apa makan di rumah saja?" tanya Bima.
"Tidur," jawab Emi masih dengan mata terpejam yang justru membuat Bima merasa lucu.
"Kau yakin?"
"Biar aja aku sekalian mati kelaparan," sungut Emi dan membuka matanya.
Emi melihat ke depan dan menajamkan penglihatannya. Bangunan di depannya tentu saja Emi sangat mengenalinya. Selama ini Emi hanya melewatinya dan belum sekalipun masuk ke dalam sana.
"Enggak, siapa yang bilang? Aku mau," ucap Emi dan turun dari mobil dan lagi membuat Bima mengulas senyum, senyum yang selalu tidak dilihat oleh Emi.
Emi berlari menuju bangunan di depannya, meninggalkan Bima yang masih menutup pintu mobil. Langkah Emi berhenti di depan pintu masuk karena ini untuk pertama kalinya dia ke sana dan menunggu Bima yang berjalan menuju ke arahnya.
Saat ini Bima membawa Emi ke sebuah cafe bernuansa negeri ginseng, dimana kebanyakan pengunjungnya adalah anak muda atau pasangan muda.
Baru masuk saja saat pintu dibuka oleh seorang petugas sudah membuat Emi berdecak kagum dengan interior di dalamnya. Pandangan Emi menyapu setiap sudut yang tertangkap oleh matanya, tak terkecuali dengan pasangan-pasangan muda yang ada di dalamnya.
Bima mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan memperlihatkannya pada petugas keamanan di depan pintu.
Sebuah kartu yang bisa membuat Bima masuk bebas kapan saja meski cafe sedang penuh dengan pengunjung.
"Silahkan, pak."
Emi mengikut saja kemana Bima berjalan meski matanya tak henti mengamati seisi ruangan yang menurutnya sangat cocok dijadikan tempat berfoto untuk diunggah di akun media sosialnya.
"Hai bro?"
Seorang pria menyapa Bima dan menghampirinya. Keduanya terlihat begitu akrab dari cara bicara mereka yang tidak formal. Sekilas pria itu melirik pada Emi yang berdiri diam dibelakang Bima.
"Karena kau membawa seorang gadis, maka untuk malam ini aku memberi diskon lima puluh persen," bisik pria itu di telinga Bima.
__ADS_1
Bima hanya tersenyum sambil memperhatikan meja kosong untuk dia dan Emi tempati.
"Hanya ada satu meja kosong yang tersisa, bro."
Pria itu menunjuk pada meja di sudut ruangan.
"Tidak masalah," ucap Bima.
"Apa kalian tidak ke dalam aja?" saran pria itu.
Bima melirik pada Emi yang masih sibuk mengamati seisi ruangan.
"Di sini aja."
"Kenapa? Kau membawa seorang gadis dan kau pasti butuh privasi."
"Bukan seperti yang kau pikirkan," sanggah Bima. "Tempat ramai seperti ini lebih cocok untuknya."
Pria itu tersenyum dan mempersilahkan Bima ke satu-satunya meja kosong di sudut ruangan.
"Apa kau hanya akan berdiri disitu?"
Emi mengikuti Bima dan duduk manis di tempat duduk yang disediakan. Emi terkejut saat Bima duduk di sebelahnya, biasanya Bima sangat anti berada dekat dengannya.
"Malam pak Arya?" sapa seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan daftar menu.
Pelayannya di sini juga cantik. Tapi kenapa memanggilnya Arya?
Emi memperhatikan penampilan pelayan tersebut dari atas hingga ke bawah, berdanda seperti gadis Korea.
"Mau pesan apa?" tanya Bima mendekatkan daftar menu ke hadapan Emi.
Setelah membolak-balikan buku menu, Emi menunjuk apa yang ingin dia makan.
"Ada lagi?" tanya si pelayan.
"Itu aja," jawab Emi.
"Pak Arya pesan apa?"
"Seperti biasa."
"Baik, pak."
Pandangan Emi tertuju pada sepasang pemuda di depan mereka, asik mengobrol sambil menikmati makanan. Emi menoleh pada Bima yang sibuk dengan ponselnya. Pasangan di depan meja mereka sangat berbanding terbalik dengan Emi dan Bima.
Dua puluh menit bukanlah waktu yang cepat untuk menunggu saat tiada obrolan tapi setidaknya setelah pelayan menghidangkan pesanan di atas meja membuat Emi bersemangat.
Emi menelan liurnya melihat mie ramen pesanannya. Namun dia bingung karena harus memakai sumpit. Emi malu harus meminta sendok garpu.
Tak ingin terlihat bodoh di depan Bima, Emi berusaha memakai sumpit untuk pertama kalinya. Siall! Mie selalu jatuh saat Emi mengangkat sumpitnya.
__ADS_1
"Kau butuh sendok garpu?"
Mendengar Bima menyebut sendok garpu justru membuat Emi kesal dan malu pada dirinya sendiri.