CEO Pengganti

CEO Pengganti
Terasa Berbeda


__ADS_3

Huhhh...


Bima bernafas lega karena sudah jam pulang kerja padahal bisa saja dia pulang lebih awal dan tidak ada yang akan marah ataupun melarangnya. Segera dimatikannya laptop dan merapikan meja kerjanya yang berantakan.


Berhubung hanya ada Bima dan Nola dalam lift, maka keduanya berinteraksi sebagai seorang teman apalagi jam kantor juga sudah lewat.


"Dijemput Sammy?"


"Naik taksi, cafe lagi rame soalnya."


"Biar aku yang antar kalau gitu."


"Yakin nih? Tumben, tahu sih kamu baik tapi tumben aja nawarin diri. Lagi ada hal baik apa nih?"


"Mau dianterin nggak?"


"Ya maulah cuman tumben aja."


"Kalau gitu nggak usah pakai nanya."


Jadilah Bima mengantar Nola ke cafe milik Sammy. Sebelum pulang Bima terlebih dahulu makan malam bersama Nola dan Sammy, kebetulan hari ini ada menu baru di cafe tersebut dan Sammy ingin agar Bima mencobanya.


Menyadari sudah semakin malam akhirnya Bima pamit pulang dengan alasan mengantuk.


Sebagai seorang teman yang sudah mengenal Bima dengan baik tentu saja Nola sedikit heran karena tidak biasanya jam tujuh malam Bima sudah mengatakan mengantuk. Satu hal yang membuat Nola juga heran karena Bima sama sekali tidak menyentuh kaleng bir di atas meja saat mereka makan tadi.


Tiba di rumah, Bima langsung menanyakan apakah Emi sudah makan malam atau tidak pada ibu Sri. Tahu jika Emi sudah makan malam ia segera membersihkan tubuhnya.


..........


Sejak siang tadi Emi masih tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Bima padanya. Senang, tentu saja apalagi itu adalah untuk pertamakali seorang seorang pria mencium Emi.


Sudah tidak terkira lagi berapa kali Emi menyentuh dan mengelus keningnya yang dicium Bima. Kalau bisa ingin rasanya tidak usah mandi atau mandi tanpa mencuci keningnya tapi tentu saja hal itu tidaklah mungkin.


Berjalan sedikit tertatih Emi keluar dari kamarnya karena haus. Saat di dapur ia bertemu ibu Sri yang sedang makan malam.


"Om Bima udah pulang nggak, Bu?"


"Sudah. Tadi pak Bima juga tanyain kamu udah makan atau belum. Ada perlu dengan pak Bima?"


"Enggak kok, Bu."


"Kalau ada perlu biar ibu sampaikan, mumpung pak Bima belum tidur."

__ADS_1


"Emi cuman tanya aja, Bu."


Emi kembali ke kamarnya dan sebelum masuk terlebih dahulu ia melihat ke atas, ke arah pintu kamar Bima yang tertutup rapat.


Dihadapan cermin di kamarnya, Emi tersenyum memandangi wajahnya dengan sebelah tangan menyentuh keningnya. Wajahnya tiba-tiba mendung karena Bima tidak menemuinya setelah pulang. Bima hanya menanyakan keadaannya pada ibu Sri.


Emi tidak tahu apakah dia harus senang atau tidak.


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, buru-buru Emi kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya layaknya seperti orang yang sedang tidur. Emi tidak tahu siapa yang mengetuk dan membuka pintu kamarnya hingga akhirnya orang tersebut mengeluarkan suara.


"Kau sudah tidur?" tanya Bima mendekat ke tempat tidur Emi.


Bima mendengus mendapati Emi sudah dalam keadaan tidur. Pilihnya untuk terlebih dahulu mandi dan mengganti pakaian sebelum menemui Emi sepertinya salah. Emi sudah tidur saat Bima menemuinya, itulah yang dilihat Bima di depan matanya sekarang.


Perlahan Bima duduk di dekat Emi agar tidak mengganggunya yang sedang tidur. Bima menarik selimut hingga menutupi perut Emi, ia tidak ingin menggangu Emi.


"Tidurlah," gumam Bima.


Emi semakin menutup kedua matanya merasakan nafas Bima menyapu seluruh wajahnya. Begitu lembut Bima mendaratkan ciuman di pipi Emi. Bibir Emi semakin mengatup merasakan bibir Bima di pipinya yang masih menempel.


Gerakan bibir Emi tertangkap oleh mata Bima, ia yakin jika Emi hanya berpura-pura tidur. Bima tersenyum karena pastinya Emi tahu dan merasakan apa yang dilakukannya.


"Selamat malam," bisik Bima di telinga Emi dan kembali mencium pipi Emi singkat.


Usai Bima menutup pintu dan kembali ke kamarnya, Emi langsung duduk memegangi dadanya yang berdegup tak karuan.


..........


Pagi yang indah dan cerah bagi Emi meski keadaan diluar sedang mendung. Emi sudah bosan berada di tempat tidur, ia memutuskan untuk kembali ke sekolah.


Saat sudah waktunya untuk sarapan Emi terlebih dahulu mengintip apakah Bima sudah berada di meja makan atau belum.


Buru-buru Emi mengambil ranselnya dan menyusul Bima yang susah ada di meja makan.


"Kenapa sudah pakai seragam? Kakinya sudah nggak sakit lagi?"


Seketika Bima menoleh ke belakang saat ibu Sri bertanya pada seseorang yang tak lain adalah Emi.


Emi hanya cengengesan berjalan menuju meja makan sedangkan Bima tak melepas matanya dari Emi.


Sebelum Emi menarik kursi untuk di dudukinya, Bima sudah terlebih dahulu melakukannya. Bima menarik kuris tepat di sebelahnya.


Emi menahan diri agar tidak kelihatan gugup bercampur senang. Dengan manis ia duduk disebelah Bima.

__ADS_1


"Kakimu masih sakit," ucap Bima terlihat begitu santai.


"Sudah tidak terlalu, aku akan jalan pelan-pelan."


Dengan kepala menunduk Emi mengambil selembar roti untuk ia olesi dengan selai sebagi menu sarapan paginya.


"Makan nasi, kau masih harus minum obat."


Emi meletakkan kembali roti di tangannya. Emi merasa kikuk saat menaruh nasi goreng ke piringnya padahal makan bersama Bima bukanlah untuk yang pertama kali.


"Yakin sudah kuat untuk sekolah?"


Perlahan Emi menganggukkan kepalanya, tatapannya fokus pada nasi goreng di piring sambil mengunyah isi mulutnya. Rasa gugup Emi membuatnya tersedak saat tiba-tiba Bima menyelipkan rambut Emi kebelakang telinganya.


"Pelan-pelan kalau makan, ini minum dulu," memberikan segelas air pada Emi.


"Habiskan sarapanmu dan minum obat. Tunggu aku di mobil setelahnya."


Emi bernafas lega setelah Bima pergi ke kamarnya yang pastinya untuk bersiap ke kantor dan mengantar Emi ke sekolah terlebih dahulu. Tangan Emi memegangi dadanya yang berdegup kencang.


Memang benar Emi menyukai Bima bahkan sudah sejak lama. Saat Bunda Mila memperkenalkan Bima pada Emi dan kedua kakaknya, sejak saat itulah Emi mengagumi Bima. Namun semuanya terasa berbeda sekarang, jika sebelumnya secara terang-terangan dan berani Emi mengakui perasaannya pada Bima maka sekarang ia justru selalu gugup saat ada Bima.


Perlakuan Bima padanya sekarang mampu membuat Emi tak berkutik.


Seperti saat ini, Emi hanya bisa menunduk diam sambil sesekali melirik pada tangannya yang di genggam Bima. Tangan Emi keringat dingin digenggaman Bima apalagi tangannya saat Bima menggerakkan tuas mobil.


Sebelumnya Emi menarik tangannya saat Bima akan menggerakkan tuas mobil tapi setelahnya Bima kembali menggenggam tangannya dan tidak melepasnya hingga kini.


Tak jauh dari depan gerbang sekolah, Bima menepikan mobilnya. Bima mengeluarkan dompetnya, mengambil selembar seratus ribu dan sebuah ATM.


"Nanti pak Eko akan menjemputmu pulang sekolah. Langsung pulang dan tunggu aku di rumah," ucap Bima sembari memberikan uang dan ATM milik Emi yang sebelumnya ia tahan.


Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang dilakukan Emi. Ada banyak tanda tanya di pikiran Emi tapi dia bingung untuk bertanya.


"Sebentar lagi ujian kelulusan, belajarlah dengan baik."


Tangan Emi yang tadi keringat dingin kini gemetaran tatkala Bima menempelkan bibirnya lagi di kening Emi, sedikit lebih lama dari yang pertama kali.


"Pergilah, nanti kau telat," ucap Bima dan mencium pucuk kepala Emi.


Tanpa berkata apapun Emi turun dari mobil, berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Saat berada di koridor sekolah, Emi berhenti sejenak lalu berlari menuju kelasnya meski kakinya masih sedikit sakit. Sampai di ruang kelas ia membuka telapak tangannya dan melihat selembar seratus ribu yang diberikan Bima sudah lembab karena keringat. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja untuk mengontrol kerja jantungnya.

__ADS_1


Huahhhh......!!!


Siswa yang berada dikelas terkejut mendengar teriakan kencang Emi, begitu pula dengan Bian yang baru masuk ke ruangan.


__ADS_2