
Bus yang membawa peserta kegiatan karya wisata sudah berangkat dua puluh menit saat Bima dan Emi tiba di sekolah. Alhasil Bima memutar mobilnya kembali untuk mengejar bus tersebut dan menambah kecepatan mobil.
Beruntung Bima masih bisa mengejar bus yang melaju sedang dan membunyikan panjang klakson mobil agar si pengemudi menghentikan bus.
Orang pertama yang turun dari bus adalah Bian yang sudah melihat Emi mengeluarkan kepala melalui jendela mobil sambil melambaikan tangan.
"Emi? Aku pikir kamu nggak jadi ikut," ucap Bian merasa lega. "Kak Bima?" sapa Bian saat Bima mengeluarkan ransel dan kantong kain milik Emi.
Sapaan dari Bian hanya ditanggapi deheman saja oleh Bima sedang bola matanya melirik pada Emi yang tersenyum sumringah.
"Biar aku aja, kak."
Bian mengambil barang bawaan dari tangan Bima dan membawanya ke dalam bus. Segera Emi menyusul Bian tapi baru dua langkah Bima menahan tangan Emi.
"Aku baik-baik aja dan akan seperti itu," ucap Emi meyakinkan Bima.
Melalui jendela bus Bian memanggil Emi agar segera masuk ke dalam bus.
"Lepas, om. Aku mau pergi."
Bukannya melepas seperti yang diminta Emi, Bima malah semakin menggenggam kuat pergelangan tangan Emi, menatapnya dalam ingin mengatakan sesuatu.
"Om Bima?!"
"Hati-hati dan jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai."
Bima memberikan ponsel Emi yang sempat ditahannya.
"Pulang seperti saat kau pergi. Aku menunggumu, kau paham?"
Emi segera menganggukkan kepala meski dia sendiri tidak paham maksud perkataan Bima.
"Pergilah."
..........
Pulang dari kantor Bima mengunjungi cafe yang dikelola kekasih Nola, sekretaris sekaligus teman sekolahnya saat SMA. Bima merasa malas untuk pulang ke rumahnya sendiri. Alhasil Bima menghabiskan waktunya bersama Nola dan kekasihnya yang bernama Sammmy.
"Jangan ditahan, telepon aja kalau kangen. Kenapa? Kau bukan anak ABG yang sulit mengartikan perasaanmu sendiri."
Nola sangat gemas dibuat Bima yang sedari tadi memandangi ponselnya yang menunjukkan kontak bernama Emi.
"Tidak semudah yang kau pikirkan," ucap Bima.
"Dan tidak serumit yang kau bayangkan juga," sela Nola.
"Aku hanya khawatir karena dia kurang sehat. Bagaimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu padanya di sana, apalagi tidur di dalam tenda."
Nola dan Sammy tersenyum mendengar alasan yang dibuat Bima. Mereka yakin jika Bima bukan orang yang akan mengkhawatirkan seseorang tanpa alasan.
__ADS_1
"Bro, awalnya memang seperti itu tapi rasa khawatir itu pasti ada alasannya," ucap Sam.
"Apa karena dia masih anak sekolahan?" tanya Nola.
"Sudah kubilang kalau tidak seperti apa yang kalian pikirkan," sanggah Bima.
"Terserahmu saja, aku hanya mau mengingatkan kalau kesempatan ada beberapakali tapi hasilnya tidak akan selalu sama. Aku dan Sam hanya tidak mau kau menyesal nantinya apalagi saat ada teman sekolahnya yang juga sangat menyukai Emi."
Sammy meninggalkan Nola dan Bima karena ada hal yang harus dia lakukan sebagai pemilik cafe. Namun sebelum pergi, dia mengatakan sesuatu yang membuat Bima kesal.
"Hati-hati, bro. Aku memang baru sekali bertemu gadis itu tapi aku yakin tidak akan sulit untuk seorang pria menyukainya. Bisa jadi saat ini dia sedang berpegangan tangan dengan teman sekolahnya itu di depan api unggun," ucap Sammy memprovokasi Bima.
Tidak sampai disitu, Sammy mendekati Bima dan membisikkan sesuatu yang membuat Bima ingin membunuh Sammy.
"Tahukan pacaran anak zaman sekarang itu bagaimana, menuntut dan liar!"
Bug!
Satu pukulan mendarat diperut Sammy. Bukannya marah, Sammy justru tertawa meninggalkan Bima dengan wajah merah padam.
"Aku pergi," ucap Bima ketus.
Bukannya membuat suasana hatinya tenang, Bima justru merasa semakin pusing dibuat sepasang kekasih itu.
Sepanjang jalan hingga kini sudah berada di atas tempat tidurnya Bima tidak bisa melepas pikirannya dari apa yang dikatakan Sammy. Bima semakin gusar karena hingga saat ini Emi sama sekali tidak menghubunginya atau mengabarinya melalui pesan.
Di sebuah hutan kota Emi dan teman-teman sekolahnya tengah menikmati kegiatan terkahir mereka hari ini sebelum masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat.
Sesekali Emi menahan nyeri dan pusing di kepala tapi ia berusaha mengabaikannya dengan berpikir dia akan baik-baik saja.
"Kamu sakit?"
"Enggak, aku baik-baik aja, Bi."
"Yakin?"
"Iya, yakin. Udah, mending dengar si Yogi nyanyi, aku nggak nyangka kalau dia jago nyanyi dan punya suara bagus."
"Kalau ada apa-apa kamu langsung kasih tahu aku ya?" ingatkan Bian.
"Iya."
Bian memakaikan jaketnya pada Emi yang terlihat kedinginan meski sudah memakai sweater dan ada api unggun di depan mereka. Emi menerimanya dan merasa tubuhnya sedikit lebih hangat dari sebelumnya.
Sudah lewat dari pukul sepuluh malam barulah kegiatan berakhir. Acara api unggun malam ini berjalan dengan baik karena ada banyak siswa yang menawarkan diri untuk bernyanyi baik itu solo, duet maupun ramai-ramai.
"Seru ya, Mi?"
"Iya, Feb. Tapi sayang kegiatannya cuman tinggal sehari lagi, besok sore juga udah balik."
__ADS_1
"Iya sih tapi dari pada nggak ikut, iyakan?"
"Setuju."
"Ya udah, kita tidur yok, aku juga udah ngantuk dan capek. Isi baterai buat kegiatan besok."
Emi dan Febi tidur di tenda yang sama, mereka beruntung karena bisa bersama.
Mungkin karena kondisi yang kurang baik membuat Emi sulit untuk tidur padahal Febi sudah terlelap di sebelahnya. Emi sudah berusaha untuk tidur dan memejamkan matanya tapi hal itu tidak berhasil.
Emi melihat di layar ponselnya sudah hampir pukul satu malam sedangkan mereka harus bangun pukul lima pagi. Itu artinya Emi hanya punya waktu empat jam lagi untuk istirahat.
Saat Emi akan menutup wajahnya menggunakan selimut kecil, ponselnya bergetar dan orang yang menghubunginya adalah Bima.
"Om Bima?" gumam Emi sembari melihat ke arah Febi.
Emi langsung duduk, memasang earphone dan menjawab panggilan video Bima.
"Kau belum tidur? Kenapa tidak memberi kabar?" tanya Bima saat Emi menjawab panggilannya.
"Maaf, aku lupa."
Emi merendahkan suaranya agar Febi tidak terganggu.
"Kenapa belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam."
"Om Bima juga kenapa belum tidur dan telpon aku jam segini? Om Bima kangen ya?"
"Jangan berbalik tanya. Aku yang bertanya lebih dahulu."
"Aku nggak bisa tidur."
Obrolan mereka berhenti dan hanya saling melihat lawan bicara pada layar ponsel. Bima mengamati wajah Emi yang tidak terlihat jelas karena memakai topi jaket. Bima yakin jika itu bukanlah jaket Emi, tepatnya lagi jaket laki-laki. Sama seperti Bima, Emi juga mengamati Bima, Emi melihat Bima meneguk isi kaleng minuman dan wajahnya seperti orang mabuk.
"Om Bima lagi minum? Wajah om Bima seperti orang mabuk," ucap Emi berhati-hati.
"Em." Bima jujur dengan apa yang sedang dilakukannya.
Bima kembali meneguk isi kaleng ditangannya seakan ingin memperjelas yang dilakukannya pada Emi.
Keduanya kembali terdiam, Emi memperhatikan Bima yang terus-menerus meneguk minumannya. Ingin rasanya Emi berteriak agar Bima berhenti minum tapi dia yakin itu tidak akan ada gunanya.
"Kenapa?" tanya Bima dengan suara berat.
"Maksud om Bima apa?"
"Aku sedang minum alkohol. Bukannya kau tidak menyukai hal itu? Tapi kenapa tidak melarangku lagi? Apa kau sudah tidak menyukaiku lagi sekarang? Apa kalian sudah pacaran dan lupa kalau kau pernah menyukaiku?"
"Kenapa bicara seperti itu? Aku juga-"
__ADS_1
"Sudahlah, sebaiknya kau tidur sekarang. Selamat bersenang-senang dengannya."
Emi mematung menatap ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi dengan Bima.