
Seorang nenek yang berusia 45 tahun yang biasa dipanggil nenek Ijah, dia tinggal sendiri dikota S karena anak laki-laki satu-satunya sudah meninggal satu tahun yang lalu, sedangkan saudara nya semua tinggal di kota L. Malam itu saat hujan gerimis pintu rumah nenek Ijah ada yang mengetuk, mendengar ketukan pintu dari luar rumah, nenek ijah membuka pintu sambil melihat keluar dan dilihat tidak ada siapapun hanya ada suara tangisan bayi dari dalam kardus.
Dengan rasa takut nenek Ijah membuka kardus itu dan betapa terkejutnya nenek Ijah saat melihat seorang bayi didalam kardus yang hanya ditutupi selimut bayi, diangkatnya bayi tersebut ternyata seorang bayi perempuan yang diperkirakan baru lahir beberapa jam yang lalu.
"Siapa yang tega menaruh bayi yang baru lahir disini." Batin nenek Ijah.
Kemudian nenek Ijah masuk sambil menggendong bayi dan membawa kardus itu masuk kedalam, karna takut nenek Ijah membawa bayi itu ke rumah bidan yang tak jauh dari rumahnya dengan diantar Paijo tukang becak tetangga sebelah rumahnya.
Setelah sampai Paijo menunggu diluar, sedangkan nenek Ijah masuk dengan menggendong bayi itu.
"Ini bayi siapa nek, dimana ibunya...?" Bu bidan bertanya sambil memeriksa bayi itu, dan membersihkan bayi itu.
"Nenek juga tidak tahu nak, tadi ada yang mengetuk pintu rumah nenek, setelah nenek buka tidak ada siapapun, yang ada hanya kardus yang berisikan bayi, selembar foto, kalung dan kertas ini." Nenek Ijah menjawab sambil memberikan kertas yang dia masukan kedalam sakunya.
Bu bidan membaca dengan ekspresi terkejut kemudian mencium bayi itu dan berkata"Kasihan sekali nasibmu Ceria".
Mendengar ucapan Bu bidan, nek Ijah langsung bertanya.
"Ada apa nak, siapa ceria..?".
"Bayi ini namanya Ceria, nek Ijah tidak bisa membaca." Bu bidan menjawab sambil bertanya.
"Tidak nak.."
"Baiklah, biar saya bacakan." Bu bidan menaruh bayi yang ada digendong nya ke atas kasur, kemudian membacakan isi surat itu.
__ADS_1
Isi surat itu adalah..
Assalamualaikum Bu Ijah..
Saya lestari maafkan saya Bu..
Saya adalah wanita yang tak sengaja bertemu anak ibu, saya ingin menitipkan bayi ini kepada ibu, bayi ini adalah cucu ibu, awalnya saya ingin menggu*rkan bayi ini tapi saya tak tega, saya titip anak ini Bu, saya janji jika dia sudah berumur 21 tahun saya akan membawanya kembali. Tolong berikan nama dia Ceria, agar dia bisa terus tersenyum Ceria. Saya akan kembali ke kota P, kota asal saya dan saya mohon jangan biarkan ceria menikah sebelum saya menjemputnya.
Terimakasih Bu, selamat tinggal**....
Salam Lestari***.
Mendengar isi surat itu nenek Ijah langsung menangis, bagaimana tidak baru 11 bulan yang lalu anaknya meninggal, sekarang harus mendapatkan pukulan pahit, bahwa dia memiliki seorang cucu perempuan tanpa menikahkan anaknya, namun melihat wajah tenang bayi itu saat tertidur membuat hati nenek Ijah luluh, dan bersedia merawat bayi itu, bagaimana pun dia cucunya sendiri. Mungkin Tuhan tidak ingin nenek Ijah kesepian. Setelah memeriksa bayi itu baik-baik saja, Bu bidan memberikan susu formula untuk bayi itu, dan beberapa perlengkapan bayi milik anaknya dulu. Kemudian nenek Ijah kembali pulang dengan Paijo, setelah sampai didepan rumah semua tetangga nenek Ijah sudah berkumpul didepan pintu rumahnya. Ingin menanyakan soal bayi itu, dan nenek Ijah menjelaskan semuanya kepada para tetangga. Respon tetangga pun berbeda-beda ada yang merasa iba ada yang menggunjing, bahkan ada yang menghina, melihat respon para tetangga nenek Ijah memutuskan untuk segera pindah rumah agar Ceria tidak mendapatkan perlakuan buruk tetangganya.
Pagi harinya saat pukul 08:00 wib nenek Ijah pergi dengan membawa semua barangnya yang penting dengan menggunakan becak paijo nek Ijah pindah di komplek kontrak sederhana dikota S, sambil menggendong bayi. Setelah sampai dikontrak yang dicarikan paijo, dia melangkah masuk sambil menggendong bayi, sedangkan Paijo membantu membawakan barang nenek Ijah kedalam rumah, setelah itu Paijo pamit, sedangkan nenek Ijah menidurkan Ceria, setelah ceria tidur nek Ijah membereskan rumah hingga bersih.
"Semoga mereka semua bisa menerimamu sayang" Nenek Ijah berkata sambil mencium kening cucunya.
Sesampainya dikota L semua keluarga besar nenek Ijah merasa heran melihat bayi yang ada di gendongan nenek Ijah.
"Kak, Siapa anak ini...?" Seorang pria yang berusia sedikit lebih muda dari nenek Ijah, dia adalah Baroto adik nenek Ijah.
"Dia cucuku, anaknya Joko."
"Apa, tapi Joko sudah meninggal dan dia juga belum menikah." Kakek baroto menjawab dengan heran.
__ADS_1
"Kalo tidak percaya baca ini." Nenek Ijah berbicara sambil memberikan sepucuk kertas. Dan langsung diambil kakek baroto, karena kakek baroto tidak bisa membaca akhirnya dia meminta anaknya yang bernama dirman untuk membacanya. Dirman membaca surat itu dengan suara keras hingga semua orang yang ada diruang tamu langsung mendengar dan kaget, semua orang marah dan bilang jika bayi itu bukan keluarga mereka, bahkan Dirman anak kakek baroto meminta agar melakukan tes DNA.
"*Kita harus melakukan tes DNA bayi ini dengan budhe Ijah" Dirman berbicara dengan nada serius.
"Benar kata dirman agar jelas siapa sebenarnya bayi ini, kalau tidak cocok kita berikan bayi ini ke panti asuhan saja." Kali ini kakek baroto yang bicara dengan tega.
"Apa maksud kakek, apa kakek tidak kasihan dengan bayi lucu ini, kenapa kakek tega membuang bayi tidak* *bersalah ini ke panti.." Ucapan agung anak dari dirman yang merasa kasian melihat bayi perempuan itu.
"Ada apa denganmu nak, jangan membantah ucapan kakek, yang kakek katakan benar kalo dia bukan cucu kandung nenek Ijah, lebih baik kita titipkan dia ke panti, supaya dia bisa mendapatkan keluarga yang lengkap." Ucapan dirman memberi penjelasan anak laki-lakinya.
"Tidak ayah, di panti bukan tempat yang cocok untuknya, apa ayah tidak melihat, usianya hampir sama dengan anakku, bahkan dia lebih muda dua tahun dari anakku, jika yang lain tidak mau merawatnya biar aku yang akan merawatnya." Kali ini agung berkata serius dengan ucapannya, nenek Ijah hanya dia dan menggendong bayi itu, Karena dia sudah tau kalo adiknya keras kepala.
"Baiklah tapi kita harus melakukan tes DNA untuk bayi itu, dan kamu dirman urus akta kelahirannya, jadikan dia sebagai anakmu, karna dia akan menjadi adiknya agung, dan soal tes DNA kita akan lakukan saat anak itu berumur 5 tahun." Ucap baroto dengan nada serius.
"Baik pak.." Dirman menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih kakek, ayah." Ucapan agung tak digubris kedua pria beda usia itu*.
Mendengar keputusan keluarganya nenek Ijah menjadi lebih tenang, dan semua orang mulai menganggap Ria bagian dari keluarganya.
Hai para reader tercinta, author minta dukungan kalian ya..
Ini karya pertama author semoga kalian suka...
jangan lupa kasih like, komentar, dan vote ya...
__ADS_1
Terimakasih...😘😘