
Sudah dua hari ria tinggal dikota P, setelah sekian lama akhirnya ria bisa menghubungi nomor mita dengan meminjam ponsel milik desi.
"Halo kak mita..." Ucap ria dikala panggil telponnya terjawab.
"Halo ria, kemana saja kamu, kakak khawatir banget sudah lima hari kamu tak kasih kabar..." Jawab mita dengan nada khawatir.
"Maafkan, ini ria baru saja pinjam hpnya desi, ria sudah ada di kota P dan sekarang ria ada di kontrak desi.." Ucap ria menjelaskan.
"Ria apa kamu baik-baik saja..." Ucap mita.
"Iya kak, ria baik-baik saja, gimana kabar kakak apa kakak dan adik sehat.." Ucap ria.
"Kami sehat, ria sebenarnya kemarin ayu kesini mencarimu, dia menangis saat tau kamu pergi ke kota P mencari mamamu.." Ucap mita memberi tahu soal ayu.
"Ya ampun dia pasti sangat khawatir, aku tak memberi tahu dia soal keberangkatan ku, kak bisakah kau mengabari dia soal keadaanku yang ada di sini, dan tolong bilang hp ku rusak jadi tak bisa menghubunginya.." Ucap ria.
"Baiklah nanti kakak akan kasih tau dia soal keberadaan mu disana..." Jawab mita.
"Terimakasih kak, kak sudah dulu sebentar lagi desi mau keluar..." Ucap ria.
"Iya, hati-hati ya dan inget untuk selalu memberikan kabar.." Jawab mita yang masih khawatir.
"Iya kak, sudah dulu ya, bye kakakku..." Jawab ria ingin mematikan ponselnya.
"Eh... Bentar kemarin waktu kamu ada di kota L ada pria tampan mencarimu, namanya alex dia tanya banyak soal masa kecilmu, dan dia juga minta fotomu loh.." Ucap mita.
"Alex anak mana tuh.." Tanya ria, namun sebelum mita menjawab pertanyaannya ponsel ria sudah mati karena kehabisan baterai.
"Alex...?? Siapa ya..??, kenapa aku baru denger, perasaan aku gak pernah punya teman yang bernama alex.." Ria berbicara dalam hati sambil mengingat soal orang atau kenalannya yang bernama alex, namun tetap tak ingat jika dia kenal dengan pria bernama alex.
"Ada apa...." Ucap desi yang tiba-tiba datang dan mengagetkan ria yang sedang melamun memikirkan nama alex.
"Tidak ada, kau ngagetin aja deh..." Jawab ria sambil mengelus dadanya karena terkejut.
"Siapa suruh melamun dipojokkan, mana ponselku..." Ucap desi sambil meminta ponselnya.
__ADS_1
"Ini..."
"Lah mati, ih... Dasar ria kalau pake ponsel suka lupa ngecas.." Ucap desi ngomel sambil mencari cas hpnya.
"Hehehe... Maaf ya.." Ucap ria sambil tersenyum.
Setelah mengecas ponselnya desi pergi ke dapur untuk sarapan, sejak tinggal dengan desi, ria selalu mengurus rumah sedangkan desi hanya bersantai-santai dirumah dari jam delapan sampai sore hari, jika malam di pergi entah kemana dan pulang saat adzan subuh.
Ria pernah bertanya kepada desi soal kenapa dan kemana dia saat malam hari hingga dia pulang sampai subuh, namun jawaban desi selalu sama dia pergi untuk mengurus berkas calon art, kalau siang bos besarnya terlalu sibuk.
"Ria..." Ucap desi setelah menyantap makanannya.
"Iya ada apa...?" Tanya ria.
"Kemarin malam kak silvi telpon aku dan katanya dia nanti akan kesini jemput kamu..." Ucap desi.
"Kak silvi mau ajak aku kemana...?" Tanya ria.
"Mana ku tau..." Jawab desi santai.
"Enggak aku mau tidur nanti malam aku ada kerjaan penting.." Ucap desi.
"Kamu setiap malam selalu pergi dan pulang saat adzan subuh, emang kamu gak bosen.." Tanya ria sambil membereskan meja makan.
"Enggak, pekerjaanku mudah dan menyenangkan, apa kamu mau ikut..." Ucap desi.
"Enggak mau, paling aku jadi art kaya ibu-ibu kemarin yang berangkat sama kita.." Jawab ria.
"Kalau khusus kamu enggak jadi art deh, kamu kan masih muda, cantik dan berkulit putih, mana mungkin aku kasih pekerjaan art buatmu..." Ucap desi sambil melihat ria dari atas sampai bawah dengan senyum aneh.
"Maksud kamu apa...?" Tanya ria merasa aneh dengan ucap desi.
"Gak ada lupakan,.." Ucap desi dan kemudian terdengar ketukan pintu dari luar rumah.
"Baiklah aku mau kedepan, sepertinya ada tamu..." Ucap ria melangkah meninggalkan desi.
__ADS_1
"Iya aku mau tidur pagi, ingat jika nanti kamu pergi sama kak silvi gak usah pamit, kamu tutup pintu rumah saja tapi jangan dikunci..." Ucap desi sebelum ria melangkah lebih jauh.
"Iya.." Jawab ria kemudian berjalan menuju pintu, saat pintu terbuka ternyata silvi yang sudah datang.
"Ria...!! Astaga... Kenapa belum siap dan ganti baju, kita akan telat nanti, ayo cepat ganti bajumu dan kita harus cepat berangkat.." Ucap silvi saat melihat ria yang masih menggunakan pakaian rumahan.
"Iya kak, maaf tolong tunggu lima menit.." Ucap ria kemudian langsung berlari menuju kamarnya yang berada disebelah kamar desi.
Saat ini dua gadis cantik sudah berdiri didepan gerbang rumah mewah berlantai dua dengan gerbang besi yang menjulang tinggi.
"Ini rumah siapa kak...?" Tanya ria merasa heran mengapa silvi mengajaknya kesini.
"Ria... Ini adalah rumah orang yang memiliki kalung yang sama seperti punyamu.." Jawab silvi.
"Benarkah mana orangnya aku ingin melihat dia..." Ucap ria mencoba menengok ke dalam.
"Ria dengarkan aku, sebelum kamu masuk, aku ingin mengatakan sesuatu.." Ucap silvi serius.
"Iya kak, katakanlah..." Jawab ria.
"Begini kamu akan bekerja dirumah ini sebagai guru pembimbing untuk anak pemilik rumah ini, dia anak yang nakal dan masih kelas 3 SD..." Ucap mita.
"Kenapa harus bekerja disini kak, bukannya ini rumah mamaku..." Tanya ria bingung.
"Ria, kita harus menyelidiki dulu apa dia benar mamamu atau tidak, agar kita tidak sampai salah orang, kita tak boleh gegabah dulu, biarkan mereka tak tahu siapa kamu sebenarnya, dan aku juga sebenarnya belum yakin pemilik rumah ini adalah mamamu, kita harus cari informasi lebih lengkap dulu..." Ucap silvi menjelaskan.
"Iya kak, aku faham..." Jawab ria.
"Baiklah ayo kita masuk..." Jawab silvi.
Saat ini ria dan silvi duduk diruang tamu rumah mewah itu, sambil menunggu yang punya rumah turun karena sang asisten rumah tangga mengatakan jika majikannya masih mandi.
"Kalian sudah datang, maaf karena membuat kalian menunggu lama..." Ucap seorang ibu-ibu cantik yang baru saja turun dari tangga dan kemudian duduk didepan ria.
"Iya tak apa bu, bu ini ria dia yang akan mengajar rey, dia anak yang pintar dan rajin meskipun hanya lulusan SMP, tapi semasa sekolah dulu dia selalu peringkat pertama di sekolahan kami dulu..." Ucap silvi mengenalkan ria, sedangkan ria menatap wajah ibu itu dengan rasa tak percaya.
__ADS_1
"Inikah mamaku, wajahnya tak berubah sama sekali sejak 19 tahun yang lalu..." Batin ria terus memandangi wajah seorang ibu yang ada didepannya dengan air mata yang menetes.