
Sejak pertemuannya dengan rey membuat ria tak henti-hentinya ditertawakan oleh silvi, hingga membuat ria kesal sedangkan silvi dia terus saja mengejek ria.
"Bebeb ria ku tunggu kedatangan mu, hahaha... Ria apa nanti kamu mau kencan dengan bocil itu, hehe.."Ucap silvi dengan wajah mengejeknya.
"Sudahlah kak jangan ejek aku terus, ayo kita pulang, apa majikan mu gak marah jika terus menemaniku.." Ucap ria.
"Tenang bos ku adalah pacarku dan dia lagi patroli (majikan silvi seorang polisi muda, dan silvi bekerja menjadi pembantun sekaligus calon istrinya), oh ya kamu m juga pacaran dengan majikan, bedanya majikan mu masih daun muda, hehehe..."Ucap silvi sambil terus mengejek ria.
"Ejek aja terus sampai besok.." Ucap ria semakin sebal.
"Bukan sampai besok tapi aku akan mengejek mu setiap hari..." Ucap silvi sambil terus tertawa bahagia karena bisa mengejek ria habis-habisan.
Ria hanya dia cemberut malas meladeni kelakuan silvi yang tak akan pernah berhenti diam untuk mengejeknya.
"Baiklah beb ria jangan marah, bagaimana kalau hari ini aku traktir pempek palembang, kau pasti belum pernah makan pempek kan.." Ucap silvi sambil tersenyum.
"Baiklah aku mau, tapi dengan syarat jangan panggil aku beb ria dan jangan ejek aku soal rey..." Ucap ria serius.
"Ulu..ulu.. Ngambek, iya deh gak lagi ejek kamu, ayo kita pergi cari pempek Palembang yang enak.." Ucap silvi sambil tersenyum.
"Baiklah aku juga sudah lapar banget..." Jawab ria. Mereka pun pergi ke tempat orang yang dagang pempek dipinggir jalan namun lumayan banyak pengunjung.
Saat pertama kali ria memakan pempek ternyata rasanya enak, hingga ria sangat lahap makannya, walaupun dipinggir jalan namun ria dan silvi tak malu ataupun gengsi bagi mereka asal bersih dan yang jelas rasanya enak makan mereka akan mampir.
"Ria.. Sebenarnya aku ingin bilang sesuatu yang penting dan ini ada hubungannya dengan desi.." Ucap silvi disela-sela makannya.
"Ada apa kak..." Tanya ria penasaran.
__ADS_1
"Begini aku sarankan kamu untuk segera mencari kontrakan baru saja, dan jangan terlalu dekat dengan desi, kalau bisa jauhin dia, aku tak ingin kau di celakai desi.." Ucap silvi dengan serius.
"Emang desi kenapa kak, tolong jelaskan kepadaku.." Ucap ria semakin penasaran.
"Sebenarnya beberapa bulan yang lalu pacarku pernah memergoki desi sedang mabuk disebuah club malam dengan seorang pria, tapi saat pacarku membuntutinya dia sudah menghilang.." Ucap silvi.
"Masak sih, pasti pacarmu salah orang, desi gak mungkin seperti itu, ya meskipun saat aku tinggal di tempatnya dia selalu pergi malam pulang pagi, tapi aku tak pernah mencium bau alkohol ditubuhnya.." Ucap ria gak percaya.
"Tuh kan dia saja selalu keluar malam pulang pagi, wanita baik-baik gak mungkin seperti itu setiap malam.." Ucap silvi semakin curiga dengan desi.
"Tapi dia bilang kalau dia bekerja lembur.." Jawab ria mencoba berfikir positif.
"Bekerja, hahaha lucu sekali alasannya, aku gak percaya dengan dia..." Ucap silvi dengan nada meremehkan.
"Kalau aku sih percaya saja karena di kota S aku banyak melihat perempuan bekerja malam sampai pagi, contohnya dipabrik yang terkadang ada sif malam, mereka akan berangkat malam pulang pagi.." Jawab ria.
"Terserah kamu tapi aku sarankan segeralah pindah dan ingat jangan pernah mau jika diajak desi keluar malam, karena desi tak sebaik yang kamu pikirkan..." Ucap silvi memperingati ria dengan nada serius.
"Apakah yang dikatakan kak silvi itu benar ya jika desi bukan wanita yang sebaik aku pikirkan, sudahlah lebih baik aku harus cepat cari tempat tinggal baru, lagian kontrakan desi dengan tempat kerjaku sangat jauh.." Ucap ria sambil berjalan pulang.
Saat sampai dikontrak desi, ria langsung pergi membersihkan rumah dan masak, baru kemudian dia mandi dan istirahat.
Saat sore hari ria berkata kepada desi jika besok dia akan pindah ke tempat silvi untuk sementara waktu sampai dia dapat kontrakan untuknya tinggal.
"Ria apa kamu serius besok mau pergi meninggalkan ku..." Ucap desi setelah ria meminta ijin untuk pindah besok.
"Iya desi, aku serius..." Jawab ria.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus buru-buru pindah, apa kak silvi yang menyuruhmu pindah dari tempat ku..." Ucap desi.
"Bukan begitu, tempat kerjaku dengan kontrakan mu jaraknya sangat jauh, jadi aku memutuskan untuk tinggal sementara dengan kak silvi karena disana lebih dekat, lagipula kau juga akan segera kembali ke kota S..." Ucap ria.
"Oh... Baiklah tapi sebelum pindahan bagaimana kalau malam ini kita merayakan pesta perpisahan..." Ucap desi dengan senyum diwajahnya.
"Pesta...?? Maaf aku tak suka dengan pesta.." Ucap ria menolak.
"Ayolah kita hanya ke kafe minum, makan dan berkaraoke, ku mohon mau ya..." Ucap desi dengan wajah memelas.
"Tapi..." Ucapan ria langsung dipotong desi.
"Gak ada tapi-tapian nanti malam ayo kita pergi, kalo kamu gak mau, anggap saja ini permintaan terakhirku ria..." Ucap desi dengan wajah memelas, dan membuat ria tak bisa menolak lagi.
"Baiklah tapi hanya sebentar..." Ucap ria.
"Iya.." Jawab desi dengan senyum bahagia.
Dimalam hari seperti janji ria dia ikut desi pergi ke sebuah kafe, namun saat sampai ditempat tujuan ria merasa kalau itu bukan cafe melainkan sebuah tempat hiburan malam, saat masuk nuansa gelap dan musik keras membuat ria semakin takut dan ingin pulang.
"Desi.. Aku mau pulang.." Ucap ria dikala Desi menariknya masuk ke dalam tempat itu.
"Ria tenang jangan pulang dulu, disini asik bukan kau bisa menyanyi dan menari sesukamu.." Ucap desi.
"Tapi aku tak mau disini, aku mau pulang..." Ucap ria terus meminta untuk pulang.
"Sudah diam dan duduk disini, aku akan pesan minum dan beberapa makanan oke.." Ucap desi sambil duduk disamping ria dengan melihat daftar menu.
__ADS_1
Perasaan ria sangat takut hingga membuatnya tak nyaman, apalagi saat desi melambaikan tangannya kepada pria yang berumur.
"Aku harus memikirkan cara untuk pergi dari tempat terkutuk ini, aku yakin desi ingin berbuat jahat kepadaku, ini bukan kafe tapi diskotik disini banyak sekali aroma alkohol dan botol minum keras juga ada dimana-mana." Batin ria sambil memikirkan cara untuk meloloskan diri dari tempat terkutuk itu, dia bahkan berjanji jika dia bisa lolos malam ini, dia berjanji tidak akan pernah mau melihat apalagi berteman dengan desi.