
Setelah dua Minggu di kota L nenek Ijah memutuskan pulang ke kota S dengan diantar agung dan keluarga kecilnya. Agung memiliki seorang putri yang cantik yang baru berusia dua tahun, dan seorang istri yang cantik berhati baik, selama di kota L agung dan istrinya merawat Ceria seperti anaknya sendiri, bahkan istrinya agung juga memberikan asi untuk Ceria.
Setelah sampai di kota S nenek Ijah langsung mengajak mereka ke kontrakan barunya.
"*Ini rumah baru nek Ijah, lumayan bersih." Agung bertanya sambil melihat rumah nek Ijah.
"Iya nak, maaf rumah nenek kecil, ya cukup buat nenek dan ria, kalian menginap disini saja ada dua kamar tidur disini."
"Tidak nek, nanti sore kita langsung pulang, karna tidak ada orang dirumah." Tolak istrinya agung*.
"Kalian istirahat saja, dikamar depan biar nenek dan Ria dikamar belakang."
Saat sore hari agung dan istrinya pamit pulang, dan sejak saat itu setiap ada waktu libur agung dan keluarga kecilnya selalu mampir ke rumah nenek Ijah jika sedang berlibur ke kota S.
Semakin hari Ria kecil tumbuh semakin lucu, banyak tetangga yang menyukai Ria kecil.
Setiap nenek Ijah pergi berjualan kue tradisional, Ria slalu dititipkan kepada tetangganya, para tetangga sangat senang jika ria dititipkan kepada mereka, karena Ria kecil sangat lucu dan pintar berbicara, dengan suaranya yang menggemaskan ditambah lagi Pipinya yang gembul serta berkulit putih, menambah kesan imutnya.
Nenek Ijah merawat Ria kecil dengan penuh kasih sayang, dia sangat telaten dalam mengurus anak kecil.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tak terasa Ria kecil sekarang sudah berumur lima tahun, dia tumbuh menjadi anak yang cantik, kulit putih, rambut hitam lurus, dan saat tersenyum selalu muncul lesung pipi diwajahnya.
Diusia lima tahun Ria slalu bertanya dimana orang tuaku, terkadang dia merasa iri dengan kebahagiaan anak lain, dia juga ingin memiliki keluarga, ada mama ada papa dan bisa bermain serta tertawa lawaknya keluarga kecil bahagia.
Meskipun agung selalu menjenguk Ria dikala waktu libur panjang, tetap saja yang Ria tau agung adalah kakaknya. Sedangkan dirman dan istrinya dia tidak pernah mengunjungi ria, bagi mereka ria hanya orang asing.
__ADS_1
Hari ini adalah hari dimana Ria dan nenek Ijah melakukan tes DNA, rasa gugup dan takut menyelimuti hati semua orang, namun apapun hasilnya bagi nenek ijah, Ria tetaplah cucu kandungnya.
Tiga hari kemudian hasil tes DNA itupun keluar, semua orang terkejut melihat hasil tes itu, disitu dituliskan bahwa Ceria bukanlah cucu kandung nenek Ijah, karna semuanya tidak cocok, baroto dan dirman pun sangat marah dan semakin membenci Ria kecil.
"*Sudah ku bilang anak ini bukan keluarga kita, lebih baik kita bawah dia ke panti." Ucap baroto dengan nada marah.
"Betul apa yang dikatakan ayah, kita bawah saja anak yang tidak jelas ini ke panti." Kali ini dirman berkata dengan penuh antusias.
"Tidak sampai kapanpun Ria tetap cucuku, aku tidak setuju jika Ria harus hidup di panti."
Nenek ijah berbicara sambil menangis dan memeluk Ria kecil, Ria yang melihat nenek Ijah menangis langsung ikut menangis*.
Melihat situasi semakin panas agung menyuruh putrinya mengajak Ria kecil main ke taman rumah sakit. Saat semua orang masih sibuk berdebat di depan pintu rumah sakit, Ria dan ayu anak agung duduk di bangku taman, ria saat itu masih menangis dan ayu terus menghiburnya.
"Tua, Ria sedih melihat kakek dan ayah memarahi nenek, mereka juga kelihatan benci Ria, hiks..hiks.." Ria berbicara sambil menangis, dia memanggil ayu tua karena Ria diajarkan memanggil ayu ponakan, namun usia ayu yang lebih tua membuat Ria suka memanggil ayu dengan sebutan tua.
"*Tenang Tante jangan menangis ada ayu, ayu sayang Tante selamanya." Ucapan ayu menenangkan Ria.
"Baik tua, Ria juga sayang tua selamanya." Ria berbicara sambil memeluk ayu.
"Sudah jangan menangis Tante, Tante jelek kalo nangis, tuh lihat muka Tante jelek banget. hehehe.." Ayu berbicara sambil mengejek ria.
"Tua yang jelek Wek..." Ria membalas ejekan ayu sambil menjulurkan lidahnya dan berlari, akhirnya mereka main lari-larian sambil tertawa*.
Tak lama kemudian ibu ayu memanggil ria dan ayu, untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
"*Ayah, kakek juga pulang ke rumah ria kan, ria kangen kalian." ucap Ria saat didalam mobil.
"Jangan panggil aku ayah, aku bukan ayahmu, dan dia juga bukan kakek mu, kita bukan keluarga." Dirman berbicara sambil menatap benci Ria.
"Cukup dirman kamu keterlaluan, turunkan kita, aku dan cucuku bisa pulang sendiri, kalian pulang saja ke kota L" Kali ini nenek Ijah berkata sambil marah, karna melihat Ria ketakutan dengan ucapan keponakannya.
"Apa maksud kakak, kakak lebih memilih anak gak jelas ini daripada keluarga sendiri." Baroto berbicara dengan nada sinis.
"Iya, Ria segalanya bagiku, kalo kamu belum bisa menerima Ria maka aku bukan lagi kakakmu." Nenek Ijah berbicara dengan serius*.
Mendengar jawaban nenek Ijah, baroto yang mempunyai penyakit jantung langsung kumat, dan membuat semua orang khawatir, kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit, namun na'as baroto sudah meninggal saat sampai di rumah sakit.
Itu membuat dirman semakin membenci Ria, dan sejak saat itu dirman memutuskan hubungannya dengan nenek Ijah, namun agung dan keluarga kecilnya masih selalu menganggap Ria dan nek Ijah keluarganya.
Berita soal kebenaran Ria terus terungkap membuat semua tetangga komplek rumah Ria membenci Ria, dan selalu menghina Ria dengan sebutan anak tidak jelas.
Meskipun begitu Ria tetap bersemangat dan terus tersenyum, dan tidak pernah memiliki dendam ataupun sakit hati.
Hai para reader tercinta..
jangan lupa kasih vote like dan komentarnya.
Terimakasih sudah setia dengan karya saya.
dukungan kalian berarti bagiku 😘
__ADS_1