
Danindra dan atrees saling menunjuk satu sama lain. Sedangkan kedua orang tua mereka tak menyangka jika putra putri mereka sudah saling kenal.
"Danindra, kamu kenal sama atress?" tanya mama vio.
"Iya trees, kamu kenal danindra?" tanya mama priska.
Atrees dan danindra hanya saling memandang dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
"Ternyata atrees udah bohong sama gue, apa sih maunya dia?kenapa dia gak bilang kalau malam ini dia mau dijodohin sama orang tuanya." batin danindra sambil menatap atrees tajam.
Melihat tatapan kemarahan di mata danindra, atrees juga membalas tatapan mata danindra tak kalah tajam.
"Dia marah sama gue? Harusnya gue yang marah sama dia. Kenapa dia bohong sama gue. Kenapa dia gak bilang kalau dia mau di jodohin. Untung aja cewek itu gue, gimana kalau cewek itu bukan gue. Berarti dia mau duain gue dong." gumam atrees.
Mereka pun menjawab pertanyaan mama mereka, namun jawaban mereka tak sama dan membuat mama priska dan mama vio menjadi bingung.
"Enggak." jawab atrees.
"Iya." sahut danindra.
"Tunggu, sebenarnya kalian saling kenal gak? Atrees bilang enggak, kamu bilang iya. Yang bener yang mana? " gerutu papa pras.
Namun atrees dan danindra masih saja diam. Mereka sama sama merasa kesal, karna merasa di bohongi. Hingga atrees pamit untuk ke toilet.
Sesaat setelah atrees pergi, danindra pun juga pamit pergi ke toilet dan ia langsung menyusul atrees.
Saat keluar dari toilet, danindra menarik tangan atrees dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Masuk." ucap danindra dengan nada tinggi.
"Biasa aja, gak usah pakai bentak-bentak." jawab dengan suara yang lebih tinggi.
Selama di dalam mobil, danindra melihat ke arah atrees dengan tajam. Namun pandangan atrees terus kedepan tanpa menoleh sedikit pun ke arah danindra.
Merasa tak di beri respon, danindra mengacak rambutnya karna rasa kesalnya pada atrees.
"Kenapa kamu bohong sama aku, katanya pergi nemenin mama ke acara ulang tahun temennya." tanya danindra.
__ADS_1
"Terus kamu sendiri juga bohong kan sama aku. Katanya nemenin papa kamu di acara bisnis temennya?" tanya atrees balik.
"Yaudah sih, kita sama sama salah. Ngapain pakai ngambek segala."
"Siapa yang ngambek, kamu kali. Aku mah biasa aja." jawab atrees dengan nada datar.
Tak bisa melihat kemarahan atrees, danindra yang terlalu bucin pada atrees langsung memeluk atrees dengan erat. Ketakutannya akan kehilangan atrees seketika hilang dan berubah menjadi perasaan bahagia.
"Kamu tau gak yank, aku sempet takut kehilangan kamu. Kalau aku tau yang dijodohin sama mama dan papa itu kamu dari kemarin aku gak perlu cari cara buat lari dari pertemuan ini." ucap danindra.
"Sama yank, kamu tau aku udah berpikir kalau aku akan berpisah dengan kamu. Dan aku lagi cara dan waktu yang tepat buat ngomong sama kamu. Tapi aku gak nyangka ternyata orang yang mau di jodohin sama aku itu pacar aku sendiri." jawab atrees sambil membalas pelukan danindra.
"Iya sayang, aku lega banget bahkan aku bahagia banget. Kalau bisa kita percepat pernikahan ini." ucap danindra sambil mencium kening atrees.
"Arghh, tapi gak romantis banget sih. Padahal aku pengennya pas aku dilamar dengan suasana romantis. Kalau ini mah sama aja bohong. Gak perlu pakai acara di kamar, mau gak mau ya harus mau kan." gerutu atrees dan membuat danindra menjadi gemas dengan tingkah atrees.
Saat mereka sedang asyik bercanda, tiba tiba ponsel keduanya berbunyi. Dan mereka mendapat telepon dari orang tua mereka masing masing.
Atrees dan danindra sudah yakin jika saat ini orang tua mereka berpikir jika mereka sedang melarikan diri dari perjodohan ini.
"Ayo calon istriku, kita masuk dan bikin kejutan buat mereka." ucap danindra sambil meraih tangan atrees dan menggandengnya.
"Iya mas bojo, ayo." jawab atrees dan membuat danindra menaikkan salah satu alisnya karna bingung dengan ucapan atrees.
"Kamu ngomong apa sih, aku gak ngerti." tanya danindra.
"Hahahaha, itu bahasa jawa yank. Artinya iya suamiku." jawab atrees sambil tertawa.
"Kamu kok bisa ngerti, emang kamu ada keturunan jawa?"
"Iya yank, nenek aku orang solo jadi ya sedikit sedikit aku ngertilah bahasa jawa. Nanti kalau kita jadi nikah, aku mau pakai adat solo ya yank. Biar jadi kayak putri solo yang anggun dan lemah lembut gitu." jawab atrees sambil memeluk lengan danindra.
"Terserah kamu yank, aku ngikut aja. Tapi aku ajari bahasa jawa ya."
"Oke sayang, yaudah ayo masuk mama sama papa pasti udah mikir yang macem macem soal kita." ucap atrees.
"Iya ayo." jawab danindra sambil melingkarkan tangannya ke pinggang atrees.
__ADS_1
Sesampainya disana, sesuai dugaan mereka kedua orang tua mereka sudah terlihat panik dan cemas sambil terus berusaha menelpon mereka.
Namun semua langsung berdiri dan kaget melihat danindra dan atrees yang terlihat sangat mesra.
"Kalian darimana? Kenapa telpon papa gak kamu angkat danindra." tanya papa pras.
"Atrees kamu darimana, jangan bikin papa malu." teriak papa destian.
"Kita habis pacaran dulu mah pah." ucap danindra.
"Iya mah, pah, atrees sama danindra tadi cari angin dulu di luar." sambung atrees.
"Eh tunggu, mama kok jadi bingung. Kan kalian baru kenal, kok langsung main pacaran aja." tanya mama priska.
"Iya, mama juga bingung. Tolong jelasin ke kami."timpal mama vio.
"Semua duduk dulu, habis ini danindra jelasin ya." ucap danindra.
Semua kini sudah kembali duduk, sedangkan tangan danindra tak pernah lepas dari tangan atrees.
"Sekarang jelaskan sama papa." ucap papa pras.
"Mah pah, sebenarnya danindra dan atrees sudah sebulan menjalin hubungan. Dan kami ini teman satu kampus." ucap danindra.
"Jadi kalian?" kata papa destian sambil menunjuk ke arah atrees dan danindra.
"Iya pah, danindra pacar atrees. Atrees sendiri gak tau kalau ternyata orang yang mau di jodohin sama mama dan papa itu danindra. Makanya selama ini atrees berusaha menghindari perjodohan ini karna atrees sudah memiliki kekasih,yaitu danindra."
"Wah kebetulan kalau gini. Mending kita percepat saja pernikahan mereka. Gimana des?" tanya papa pras dengan senyum lebarnya.
"Setuju aku, toh kita gak perlu memaksa mereka menikah ternyata mereka sudah menjalin kasih dulu. Kalian memang sudah ditakdirkan buat berjodoh." sahut papa destian.
"Wah, kita bakal jadi besanan ya pris. Mending sekarang kita tentukan tanggal pernikahan mereka." ucap mama vio.
"Iya vio aku setuju. Gimana kalau bulan depan. Pas ulang tahunnya atrees." tanya mama priska dan langsung di setujui oleh semuanya.
Akhirnya semua ketakutan atrees dan danindra sudah terbayar. Karna terlalu bahagia, danindra tak pernah melepas atrees dari pelukannya dan membuat kedua orang tua mereka hanya tersenyum melihat anak anak mereka yang sedang di mabuk cinta.
__ADS_1