Cewek Broken & Cowok Tajir

Cewek Broken & Cowok Tajir
Keras Kepala


__ADS_3

Tak berapa lama, Dokter yang di panggil Mama Vio sudah tiba. Dan setelah memeriksa keadaan Atrees, dokter itu pun meninggalkan beberapa resep dan berpesan untuk tidak membuat Atrees menjadi stres.


Sesaat setelah Danindra dan Mama Vio mengantar dokter tersebut keluar, Danindra lalu kembali ke kamar dan melihat Atrees sudah berdiri sambil menenteng koper di tangannya.


"Sayang kamu mau kemana? Kata dokter kamu harus istirahat Trees. Kamu gak kasihan sama baby kita?" tanya Danindra sambil berlari ke arah istrinya.


"Kasihan kamu bilang?jadi sekarang kamu nyalahin aku?" teriak Atrees.


"Tapi aku kan udah minta maaf. Kenapa hati kamu kayak batu sih Trees," Danindra juga berteriak tepat di depan wajah Atrees.


Dan karna merasa tertekan, Atrees kembali merasa sakit di kepala dan perutnya.


"Auu...," rintih Atrees memegang perut dan kepalanya.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Pergi kamu, jangan sentuh aku," teriak Atrees histeris.


Mendengar keributan di kamar Atrees dan Danindra, Mama Vio pun bergegas menuju kamar mereka. Dan benar, ternyata putra dan menantunya sedang bertengkar hebat.


"STOP!!" teriak Mama Vio yang berhasil membuat mereka seketika diam.


"Danindra Atrees cukup. Kalian tahu suara kalian terdengar sampai kebawah. Kalian gak malu di dengar para pembantu dirumah ini."


"Ini mah, Atrees tetap bersikeras untuk pergi dari rumah, padahal kondisinya belum sehat,"


jawab Danindra.


Tangisan Atrees pun pecah. Ia merasa tak bisa berkata kata lagi, hanya menangis itulah yang bisa ia lakukan. Pikirannya yakin jika mama mertuanya itu pasti akan membela putranya.


Mama Vio berjalan mendekati Atrees dan merangkul pundak Atrees.


"Atrees kamu mau kemana nak?" tanya Mama Vio.


"Atrees mau pulang bunda, boleh ya bun."


"Boleh, tapi nanti ya kalau kamu sudah sehat."


"Makasih ya bunda," jawab Atrees sambil memeluk mama mertuanya.


Danindra yang berdiri di samping mamanya, tak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh sang mama.


"Mama, apa apaan ini kenapa mama malah ijinin Atrees untuk pulang kerumah orang tuanya mah," teriak Danindra.


"Anak bodoh, dimana letak salah Atrees kalau dia mau kerumah orang tuanya sendiri? Sudah kamu keluar, mama mau bicara sama Atrees," perintah mama Vio.

__ADS_1


"Tapi mah.."


"Keluar, kamu mau bikin istrimu keguguran karna melihat kamu disini. Cepat pergi sana," bentak mama Vio.


"Argghh...," ucap Danindra sambil berjalan keluar kamar lalu membanting pintu kamarnya.


Brrruaakkk..


Atrees semakin merasa ketakutan dengan kemarahan Danindra. Dalam pelukan mama Vio, Atrees kembali menangis.


"Sudah sayang, ada bunda kok. Kamu jangan stres dulu ya. Kandungan kamu masih lemah nak," ucap mama Vio.


"Kenapa Danindra kasar sama Atrees bunda. Padahal Atrees mau pergi karna kesalahan Danindra."


"Bunda sudah tau sayang, apa yang membuat kalian bertengkar hebat seperti ini. Tadi Danindra sudah cerita semuanya sama bunda."


"Bunda sudah tau?" tanya Atrees sambil melepaskan pelukan mama Vio.


Mama Vio hanya mengangguk, dan ia kembali memeluk Atrees sambil membelai rambutnya. Di pelukan mama mertuanya, Atrees meluapkan semua kekecewaannya pada Danindra dengan mama mertuanya.


Dengan sabarnya mama Vio mendengarkan seluruh keluh kesah dirinya tanpa menyela sedikit pun ucapannya.


"Kamu sudah lega belum nak, sudah selesai bicaranya?" tanya mama Vio dan Atrees pun mengangguk.


"Sekarang bunda gantian yang bicara ya?"


Pelan pelan mama Vio memberikan penjelasan pada menantunya. Tanpa memihak pada putranya, ia memberikan nasihat pada Atrees.


"Atrees, pergi itu bukan keputusan yang baik. Bunda memahami kalau kamu sakit hati dengan Danindra. Tapi apa salahnya kamu memberikan kesempatan pada Danindra nak. Dia sudah jujur dengan kamu, bahkan orang pertama yang dia kasih tau itu kamu loh bukan bunda. Itu tandanya dia tidak ingin jika kamu mendengar dari orang lain. Bukannya bunda membela Danindra, tadi bunda juga sudah memukul anak bodoh itu. Tapi apa kamu tahu nak, sewaktu kamu jatuh pingsan tadi Danindra tak berhenti menangis. Dan baru sekali ini bunda melihat ia sesedih itu. Jadi bunda minta sama kamu ya nak, maafkan Danindra. Kasih dia kesempatan lagi," ujar mama Vio.


Sejenak Atrees terdiam sambil berusaha menata hati dan pikirannya. Akhirnya ia mau mendengarkan nasehat mama mertuanya.


"Iya bunda, mungkin aku terlalu sensitif ya bun, jadi gak bisa berpikiran jernih."


"Hahahaha, wajar sayang. Kan kamu memang baru hamil muda. Kalau gitu bunda panggil Danindra dulu di luar ya," pamit mama Vio.


"Iya bunda," jawab Atrees.


Tak lama setelah kepergian mama mertuanya, Danindra perlahan mulai masuk kedalam kamar. Ia pun duduk di tepi ranjang, sambil menatap wajah Atrees sayu.


"Yank," panggil Danindra namun Atrees masih diam.


"Apa lengan kamu masih sakit? Biar aku obatin ya, aku minta maaf karna udah kasar sama kamu," ucap Danindra.


"Hmmm."

__ADS_1


Dengan sabar Danindra memberikan salep ke lengannya yang memerah karna cengkraman tangan Danindra. Namun di sela sela keheningan mereka, tiba tiba perutnya berbunyi.


Kriukkk.. Kriukkk...


Suara perut Atrees.


Seketika Danindra menoleh kearah istrinya sambil menahan senyumnya.


"Kamu laper yank?" tanya Danindra dan Atrees hanya mengangguk tanpa berkata sedikit pun.


Danindra berjalan mengambil jaketnya dan jaket Atrees lalu mengenakannya di tubuh Atrees.


"Kamu mau ngapain?" tanya Atrees yang akhirnya mulai mau membuka suaranya.


"Mau makaiin kamu jaket. Kita cari makan sekalian jalan jalan ya."


Mata Atrees langsung berbinar karna ajakan dari Danindra. Dengan cepat ia mencium pipi Danindra dan memeluknya.


"Kamu gak bohong kan yank? Memang kita mau jalan jalan kemana?" tanya Atrees.


"Terserah kamu, kamu yang milih aja."


"Argghh, makasih suamiku."


"Iya sama sama," jawab Danindra menggeleng bingung karna perubahan sikap istrinya yang begitu cepat.


"Cewek kalau lagi hamil kok ada ada aja ya. Bikin kepala pusing dan darah tinggi naik. Tadi aja marah marah, bentak bentak pakai acara mau pergi dari rumah. Eh sekarang malah peluk peluk, cium cium," batin Danindra heran.


Mereka lalu berpamitan pada Mama Vio. Danindra selalu menuruti keinginan Atrees kemana pun ia mau. Dan sehari itu Danindra membuat Atrees merasa menjadi ratu. Tak ada satupun permintaan Atrees yang ditolak olehnya. Hingga akhirnya sebelum mereka pulang, Atrees kembali meminta sesuatu pada Danindra.


"Sayang," panggil Atrees pelan.


"Apa sayang, kamu masih pengen sesuatu?"


"Iya, aku pengen makan masakan mama. Kita pulang kerumah mama ya yank?" ajak Atrees dengan wajah memelas.


"Tapi sayang.."


Belum sempat menolak ajakan istrinya, Atrees sudah mengeluarkan air matanya. Dan akhirnya Danindra pun menuruti keinginan istrinya itu.


"Iya kita kerumah mama sekarang ya."


"Hore, makasih ya sayang," ujar Atrees sembari mencium pipi Danindra.


"Iya," jawab Danindra kesal.

__ADS_1


"Sabar Danindra sabar. Inget istri loe lagi hamil. Loe harus sabar dan mengerti dia. Ini semua bukan kemauan Atrees tapi bayi loe. Jadi loe harus sabar, loe gak mau kan anak loe nanti ileran karna ada kemauannya yang gak kesampaian," gumam Danindra dalam hatinya.


__ADS_2