
Cena kini mulai bosan di ruang keluarga bersama para orang tua. Ia pun menghampiri atrees dan danindra yang masih di meja makan.
"Mending gue ke meja makan aja ya, nyusul kak atrees sama kak danindra. Boring banget gue disini. Gak ngerti juga apa yang lagi mereka omongin." batin cena yang kemudian pamit lalu pergi.
Sebelum ke meja makan, cena berjalan keliling rumah danindra yang sangat besar. Ia melihat-lihat sekeliling rumah.
"Beruntung banget sih kak atrees, dapet suami tajir. Besok kalau minta apa apa tinggal minta kak atrees aja deh, xixixixi." gumam cena sambil tertawa dalam hatinya.
Merasa lelah berkeliling rumah danindra, cena akhirnya menyusul kakaknya je meja makan. Atrees dan Danindra yang masih bercanda canda masih belum menyelesaikan makannya.
"Kak, loe belum selesai juga?" tanya cena kesal.
"Belum, kenapa dek?"
"Bosen kak gue disini. Pulang aja yuk. Bilang sama papa dan mama." gerutu cena.
"Loh kok loe mau pulang sih cen, belum ada jam 9 malam lho." tanya danindra yang berharap masih bisa bersama atrees.
"Habis semua punya temen ngobrol,gue enggak kak. Bete kan. Mending di rumah bisa main video game." jawab cena.
Danindra kemudian menghentikan makannya, dan mengajak atrees dan cena untuk ke kamarnya. Atrees dan cena begitu kagum dengan kamar danindra yang sangat besar dengan fasilitas yang komplit.
"Kak, ini kamar apa lapangan bola? Gede banget kak." lirih cena namun dengan cepat atrees menyenggol lengan cena.
"Apaan sih kak. Gue kan jujur." ucap cena kembali.
"Hahahaha, sana loe mau main video game ada, loe mau billiard an juga ada, atau loe mau lihat pemandangan luar juga bisa. Terserah loe mau ngapain."
"Oke kak, nah kalau gini gue gak jadi bosen. Ayo kak kita main video game." ajak cena.
"Loe duluan aja, nanti gue nyusul. Oh iya kalau mau ambil minuman dan camilan, ada tuh di lemari samping televisi."
"Siap kak, gue kesana dulu ya. Elo pasti mau berduaan kan sama kak atrees. Udah puas puasin aja dulu. Gue ikhlas kok kakak gue mau loe apain." ucap cena yang membuat atrees memelototi dirinya.
"Cena, awas aja loe." ucap atrees sambil menggertakan giginya.
Tak lama setelah pergi, benar apa yang sudah di pikirkan atrees. Danindra dengan cepat menutup pintu kamarnya dan memeluk atrees dari belakang.
Aroma wangi rambut atrees dan parfum yang ia gunakan membuat danindra merasa bergairah. Ia mendorong atrees ke sudut dinding kamarnya. Disana danindra ******* habis bibitr atrees. Walau sesekali danindra melepas ciumannya untuk memberi atrees ruang bernafas, ia kembali mencium bibir atrees.
"Yank... U..udah dong." ucap atrees sambil berusaha menahan desahannya.
"Kenapa sayang. Sebentar aja yah." ucap danindra yang kemudian mulai membuka kancing atas baju atrees.
Tangan nakal danindra mulai masuk ke balik baju atrees, dan ia kini melihat dua barang berukuran sedang.
"Lumayan juga ya punya kamu." ucap danindra dengan senyum smirknya dengan tangan yang masih bergerilya memutar mutar benda kecil yang menempel disana.
"Argghh, sayang. Ada cena yank." jawab atrees.
Tak kuat dengan semua perlakuan danindra, atrees hanya menggigit bibir bawahnya dan mulai menikmati sentuhan dari danindra.
Nafsu danindra yang mulai membaca, membuat dirinya meninggalkan beberapa tanda merah di dada atrees. Dan tangannya kini mulai membuka resleting celana atrees. Namun saat tangannya hendak masuk kedalam sana, dengan cepat atrees memegang tangan danindra.
"No, jangan sekarang ya yank. Tahan sebulan lagi." ucap atrees sambil mengecup bibir danindra.
"Aaarhhh, sayang ini tanggung banget." kesal danindra.
"Sabar sayang, mana danindra yang selalu menjaga aku. Bukankah kamu pernah bilang, hanya ingin melakukannya saat sudah menikah."
"Iya sayang, tapi kan bentar lagi kita menikah. Jadi apa masalahnya?" tanya danindra sambil menekan pinggang atrees dan mendekapnya dengan tatapan sayu.
"Iya, tapi..." ucap atrees terputus karna bibirnya sudah di tutup kembali oleh bibir danindra.
Danindra kembali ingin melancarkan aksinya, ia menarik atrees untuk masuk ke dalam toilet kamarnya yang cukup besar. Disana danindra dengan leluasa memainkan semua yang ada di badan atrees.
"Sayang.... Kalau gini aku bisa gak kuat." rengek atrees.
"Aku ingin melakukannya ya yank, biar pas malam pertama kita kamu sudah mulai menikmatinya." bisik danindra hingga membuat tubuh atrees mengejang.
Jujur perasaan danindra seperti ini karna ia ragu, saat juan membawa atrees ke apartemennya dulu dalam keadaan tidak sadar. Walau ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk percaya jika juan belum mengambil kesucian atrees, namun ia juga tidak bohong jika ia merasa takut jika semua keyakinannya salah.
"Maaf atrees, aku harus mencari tahu. Karna aku gak mau punya istri bekas orang lain apalagi juan." batin danindra sambil melepas kancing celananya.
Danindra pelan pelan mulai memasukkan barang miliknya,sambil menutup bibir atrees dengan bibirnya. Agar desahan atrees tidak terdengar oleh cena.
Dan...
__ADS_1
"Aaaa.." Teriak atrees pelan sambil menggigit bibir danindra hingga berdarah karna rasa sakit yang menghantam bagian sensitif nya.
Bukannya menghentikan permainannya, danindra yang merasa baru sekali merasakan ini justru mulai mempercepat tempo permainannya tanpa memperdulikan air mata atrees yang mulai mengalir.
Celana danindra dan atrees pun berubah menjadi merah karna darah milik atrees yang menempel disana. Setelah satu kali pelepasan, danindra melihat kesedihan dari wajah atrees.
Danindra mulai menghapus air mata atrees dan mengecup kening atrees untuk menenangkannya.
"Jangan nangis ya sayang. Kan tinggal sebulan lagi kita menikah. Aku pasti akan bertanggung jawab." ucap danindra.
"Tapi ini sakit banget yank, gimana aku bisa jalan pulang. Nanti mama, papa dan cena pasti curiga. Sekarang aja rasanya aku gak kuat buat berdiri." tangis atrees.
Walau danindra merasa lega karna dirinya orang pertama yang melakukan ini pada atrees, namun ia juga menyesali perbuatannya. Harusnya ia melakukan ini saat malam pertamanya bersama atrees, tapi karna rasa penasarannya ia malah kini membuat atrees kesakitan.
"Bentar, kamu tunggu aku disini. Aku mau ke apotek buat beli obat pereda nyeri ya. Kamu jangan nangis lagi ya yank. Aku minta maaf, tadi aku khilaf." ucap danindra dengan tatapan penuh bersalah.
"Iya. Yaudah buruan ya kamu pergi. Sama tolong beliin aku pembalut dan celana. Karna darah aku masih mengalir." ucap atrees lemah.
Sebelum pergi danindra menggendong atrees dan menaruh atrees di sofa dekat ranjangnya. Dan satu kecupan danindra di kening atrees membuat atrees sedikit merasa tenang.
"Aku pergi dulu ya yank." ucap danindra.
"Iya."
Tak lupa danindra pun berpamitan pada cena, dengan alasan atrees datang bulan dan hendak membelikan pembalut dan celana.
Saat hendak mengambil kunci mobil, kedua orang tua mereka sudah keluar dari ruang keluarga.
"Nak, atrees sama cena dimana? Terus kamu sendiri mau kemana?" tanya mama vio.
"Iya danindra, dimana ya atrees sama cena? Ini kan sudah malam om sama tante mau ajak mereka pulang." sahut mama priska.
Kepanikan danindra mulai terasa. Ia bingung karna saat ini atrees sedang merasa kesakitan di are ma sensitifnya hingga untuk berdiri saja atrees gak sanggup apalagi untuk berjalan menuruni anak tangga.
Danindra terdiam sejenak, dan berusaha memikirkan cara untuk membuat mama dan papa atrees mengulur kepulangannya.
"Danindra, atrees sama cena mana?" tanya papa destian.
"Itu om, tante. Atrees sama cena ada di kamar danindra lagi main video game." jawab danindra pelan.
"Gini mah, pah, om, tante, atrees tadi datang bulan dan tembus hingga ke celananya. Makanya danindra mau keluar buat beli pembalut dan celana buat atrees." ucap danindra.
"Kenapa kamu gak bilang sama mama ndra, kan mama punya persediaan pembalut dan pakaian dan celana waktu mama masih mudah dulu kan juga masih ada. Bentar mama ambilkan pembalut dan celana buat atrees di kamar ya."
"Iya mah." jawab danindra.
"Destian, mending kita tunggu di ruang tamu dulu sambil berdiskusi tentang konsep pernikahan anak kita bulan depan."
"Iya pras." jawab papa destian.
Danindra kembali ke kamarnya, dan melihat wajah atrees yang mulai pucat karna masih merasa kesakitan.
"Kak loe gak jadi pergi?" tanya cena.
"Enggak." jawab danindra.
Danindra kemudian berjalan ke sofa untuk menemui atrees yang masih dalam keadaan lemas.
"Maaf ya yank, harusnya aku gak melakukannya sekarang." sesal danindra sambil membelai rambut atrees.
"Udah gak papa." jawab atrees lemah.
Badan atrees terasa panas dingin, hingga ia meminta danindra untuk membuatkan dirinya teh. Seumur hidupnya danindra tidak pernah membuat minuman sendiri, namun karna rasa bersalahnya pada atrees akhirnya danindra pergi ke dapur untuk membuatkan atrees teh.
Saat kembali, ia melihat mamanya sudah berada di dalam kamar. Sedangkan atrees dan cena tidak ada.
"Mah, cena sama atrees mana?" tanya danindra.
"Cena udah turun kebawah, kalau atrees baru mama suruh ganti celana di toilet. Kamu darimana aja?" tanya mama vio.
"Oh, danindra habis buatin atrees teh mah. Soalnya atrees agak gak enak badan." jawab danindra.
Mama vio berjalan mendekati putranya, dan ia langsung menarik telinga danindra lalu memeluntirnya.
"Aaaau..Mama sakit." rintih danindra.
"Salah siapa kamu bohong sama mama. Kamu pikir mama ini bodoh atau gimana. Mana ada orang datang bulan jalannya kesakitan. Apa yang baru saja kamu lakukan sama atrees." tanya mama vio dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Apa sih mah, danindra gak habis ngapa ngapain atrees kok."
"Masih bisa bohong sama mama, jujur atau telinga kamu akan mama buat putus." ancam mama vio yang semakin menarik telinga danindra.
"Mama ampun mah, sakit mah. Bisa putus i nih telinga danindra. Iya iya danindra ngaku salah. Tadi danindra khilaf mah." ucap danindra.
Setelah melepas telinga danindra, mama vio kemudian memukul kepala danindra.
"Kamu itu gak sabaran banget jadi orang. Tahan sebulan masak gak bisa. Udah mama mau turun, biar atrees tidur disini malam ini. Mama gak mau mamanya atrees curiga dan akan marah sama kamu. Dasar anak bodoh, bikin susah mama aja." ucap mama vio.
"Makasih ya mama, mama is the best deh."
"Sudah jangan merayu mama, mending kamu suruh bibi buat cari obat pereda nyeri dan buat air panas. Nanti mama suruh bibi ambil kain habis itu atrees suruh kompres bagian intimnya biar gak nyeri lagi. Kamu itu selalu bikin susah mama ndra."gerutu mama yang kemudian meninggal danindra.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, danindra dengan cepat menggendong atrees ke ranjang dan membaringkannya disana.
"Masih sakit yank?" tanya danindra.
"Sakit banget. Kata indy rasanya nikmat, kalau gini mana ada nikmat nikmatnya sih. Badan jadi terasa remuk, panas, dingin. Pokoknya aku gak mau gini lagi." kesal atrees dan membuat danindra malah menertawainya.
"Kenapa kamu ketawa. Kamu mah enak, aku yang kesakitan. Pokok nya aku gak mau lakuin ini lagi." gerutu atrees.
"Hahahaha, kan baru pertama yank. Nanti lama lama juga enak kok. Nanti malem mau lakuin lagi, pasti rasanya udah lebih enak." ucap danindra dengan senyum smirk nya.
"Maksud kamu nanti malem gimana?"
"Kan hari ini kamu tidur disini, jadi nanti malem kita bisa lakuin lagi ya. Dan aku bakal buktiin ke kamu, kalau emang rasanya nanti akan lebih nikmat. Nanti aku mainnya pelan deh." ucap danindra.
"Tidur sini? Kok bisa. Gak, aku gak mau bikin mama dan papa kamu malah menilai aku buruk. Aku mau pulang aja." jawab atrees yang hendak berdiri namun terjatuh lagi.
"Tuh kan, berdiri aja gak bisa pakai sok sokan mau jalan. Lagian ini ide mama, soalnya mama tahu apa yang baru aja kita lakukan. Maka dari itu, mama gak mau buat mama kamu curiga dan nyuruh kamu buat tidur disini semalam sampai kamu bener bener udah gak kesakitan lagi." jelas danindra hingga atrees hanya membulatkan kedua matanya.
"Jadi tante udah tau? Arrgh, aku jadi gak enak sama tante kalau gini. Pasti tante mengira aku wanita gampangan ndra." ucap atrees sambil menangis.
"Enggak, mama malah gak marah sama kamu, tapi ke aku. Udah jangan dipikir, toh bulan depan kita juga menikah. Sekarang aku bantuin kompres habis itu diminum obatnya biar sakitnya hilang."
"Gak usah, aku bisa kompres sendiri. Mendingan kamu keluar sana." usir atrees.
"Udah gak papa, kan kamu kayak begini juga gara gara aku. Lagipula tadi aku kan juga udah pegang cuma belum lihat aja. Bentar aku kunci pintunya dulu ya sayang." ucap danindra dan atrees pun sudah tidak bisa menolak permintaan danindra.
Setelah mengunci pintu kamarnya, danindra mulai membantu atrees mengompres. Mata danindra tak berkedip melihat pemandangan indah milik atrees hingga membuat adiknya yang dibawah kembali menegang.
Gllekk
Danindra hanya menelan slivanya, dan tatapan nya pada atrees membuat atrees tau apa yang sedang dipikirkan calon suaminya yang masuk.
"Sayang, kamu mau apa?" tanya atrees karna wajah danindra mulai mendekat ke arahnya.
"Aku pengen lagi yank. Sekali aja ya, pasti ini akan terasa lebih enak." bisik danindra.
Saat wajah danindra mulai mendekat, tiba tiba...
Tok... Tok...tok
Suara ketukan pintu.
"Ndra, ini mama sama papa mau lihat kondisi atrees." teriak mama.
Danindra mengacak rambutnya karna kesak, dan ia pun membukakan pintu kamarnya setelah atrees memakai celana.
"Gimana sayang? Masih sakit?" tanya mama vio.
"Eng...engg.engak tante."
"Jangan panggil tante dong, panggil aja bunda ya."
"Iya tante, eh bunda." jawab atrees.
"Maafin danindra ya atrees, kami janji akan segera mempercepat pernikahan kalian. Memang danindra itu punya sifat yang sana kayak papanya. Gak bisa nahan diri." ucap papa destian dan membuat wajah mama vio memerah.
"Papa..." lirih mama vio.
"Kan kenyataan mah, tapi mama suka kan?"ucap papa destian yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
Atrees, mama vio dan papa destian malah bercanda tawa bersama, namun danindra masih berdiri di depan pintu kamar karna kesal hasratnya yang belum tersalurkan.
"Mama sama papa ganggu aja sih. Baru mau menyalurkan hasrat eh malah di ganggu sama mama dan papa." gerutu danindra dengan lirikannya ke arah atrees, namun atrees membalasnya dengan senyum licik.
__ADS_1