
Saat tiba di rumah, atrees terkejut melihat mobil papanya terparkir di depan rumah. Rasa kesannya kembali muncul, ia meminta danindra untuk segera pergi. Tapi danindra berusaha untuk membujuk atrees hingga akhirnya atrees pun mau masuk kedalam rumah.
"Yank, langsung masuk aja ya. Gak usah gabung di ruang tamu." ucap atrees sambil menarik tangan danindra.
"Tapi yank, aku jadi gak enak sama om dan tante."
"Udah, gak usah berisik. Kita ke galabo belakang aja." jawab atrees yang kemudian masuk ke dalam rumah.
Tanpa menoleh ke arah orang tua dan adiknya, atrees berjalan melewati mereka semua.
"Kak, loe darimana?" tanya cena yang tak dijawab oleh atrees.
"Permisi ya om, tante, cena." ucap danindra sembari membungkukkan badannya.
Papa destian bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menghadang langkah atrees.
"Trees, bisa kita bicara sebentar. Ada yang mau mama dan papa sampaikan ke kamu, nak." ucap papa destian
"Papa mau bicara apalagi? Bukankah selama ini papa gak pernah ngajak atrees biar bicara? Papa selalu mengambil keputusan sendiri tanpa peduli apa mau atrees dan cena? Mending papa minggir, atrees sama danindra mau ke belakang." kata atrees tanpa melihat mata papanya.
Danindra yang merasa tidak enak berada disana, kembali berusaha membujuk atrees untuk menuruti perkataan papa destian.
"Yank, semarah apapun kamu sama orang tua kamu jangan pernah bicara tidak sopan sama mereka. Karna tanpa mereka kamu itu tidak ada di dunia. Aku gak suka sikap kamu yang childist kayak gini. Kalau kamu masih bersikekeh dengan pendirian kamu, mending aku pulang aja." danindra berusaha mengancam atrees dengan ucapannya.
Akhirnya ucapan danindra berhasil meyakinkan atrees, hingga atrees mau duduk bersama keluarganya.
Setelah duduk, mama priska mendekati atrees lalu memeluk atrees karna rasa bersalah ya telah menampar pipi putrinya.
"Trees maafin mama ya nak, mana pipinya yang sakit?" ucap mama priska sembari mengelus pipi atrees.
"Pipi atrees udah gak sakit kok mah, tapi kalau hati atrees masih sakit." jawab atrees dingin.
Papa destian pun kemudian duduk menyebelahi atrees. Dan saat hendak berbicara, tiba tiba danindra pamit untuk pulang.
"Yank aku pulang aja ya. Om, tante, cena, danindra pamit pulang ya."
"Loh kamu kok malah pulang sih yank?" kesal atrees.
"Iya ndra, kamu duduk disini aja gak papa sambil istirahat dulu. Kamu pasti capek kan habis nyari atrees."
"Gak usah tante, danindra gak enak. Tante sama om kan mau bicara sama atrees. Gak sepantasnya danindra ada disini." jawab danindra.
"Tuh kan, kamu suka gitu." gerutu atrees.
"Danindra, kamu kan sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga ini juga. Om minta kamu duduk dan jangan pulang dulu. Jangan pernah merasa tidak enak. Ayo duduk disebelah cena." perintah papa destian.
Setelah danindra duduk, papa destian menarik nafas panjangnya.
"Atrees, sekarang kamu bilang semua keluh kesah kamu sama mama dan papa. Mungkin selama ini kami tidak pernah tanya pendapat kamu dan cena. Dan papa minta maaf untuk itu. Jadi hal apa yang mengganjal di hati kamu nak." tanya papa destian tapi atrees masih saja diam.
"Atrees cerita nak. Jangan kamu pendam sendiri rasa marah dan kecewa kamu pada kami. Kami ingin atrees yang dulu kembali lagi. Atrees anak mama yang ceria, manis, selalu tersenyum. Mama minta maaf trees, jika selama ini mama kurang memperhatikan kamu. Mama selalu sibuk dengan pekerjaan mama. Tolong jangan diam nak." ucap mama priska dengan suara menahan tangisnya.
Cukup lama atrees menahan air matanya, akhirnya air mata atrees sudah tidak bisa ia tahan.
"Mungkin mama dan papa pikir atrees sudah menerima perceraian kalian. Cena dan atrees beda mah, pah. Mungkin cena bisa menerima perpisahan kalian, walaupun atrees sendiri gak tau perasaan cena sebenarnya seperti apa. Karna atrees melihat cena juga bisa menerima ini. Tapi atrees enggak mah, pah. Atrees pengen keluarga kita utuh. Atrees pengen tinggal bersama kalian,bukan dengan kalian menyuruh atrees memilih salah satu dari kalian." atrees berkata dengan penuh buliran air mata.
Melihat kesedihan putrinya yang dalam, mama priska dengan spontan memeluk atrees dan ikut menangis bersamanya.
"Maafkan keegoisan kami nak. Mama minta maaf atrees. Mama kira mama bisa membahagiakan kamu, tapi ternyata mama salah. Mama malah kehilangan keceriaan da senyuman kamu." kata mama priska sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya atrees, papa juga minta maaf. Karna semenjak perpisahan antara papa dan mama, papa mengira kamu salah bergaul hingga menjadi anak pembangkang. Harusnya papa sadar, kamu menjadi seperti ini karna sikap kami sendiri."
"Sudah mah, pah. Itu semua juga udah berlalu. Toh kita juga gak bisa membuat kembali seperti dulu. Tapi jujur, atrees kecewa sama sikap papa dan mama hari ini. Disaat atrees sudah mulai bisa menerima perpisahan kalian, kalian malah melakukan hal yang gak pantas dilakukan orang dewasa. Itu yang buat atrees kembali kecewa sama kalian hari ini." ucap atrees sambil melepaskan pelukan mamanya.
Merasa sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, atrees berdiri dari kursinya.
"Atrees permisi mau pergi." ucap atrees dengan nada dingin.
"Kak cukup. Loe pikir cuma loe yang sedih, loe pikir cuma loe yang marah sama keputusan mama dan papa. Loe pikir gue gak tau apa yang barusan mereka lakuin. Kasih mama dan papa kesempatan buat bicara kak. Gue udah kasih mereka kesempatan buat ngomong semuanya, dan mereka juga udah cerita semua sama gue. Jadi sekarang elo pun juga harus kasih kesempatan buat mama dan papa bicara." teriak cena sambil berdiri.
"Sekarang loe mihak sama mereka. Emang ya mungkin gue aja yang be*o karna terlalu berlarut sedih,padahal kalian sendiri tak peduli sama gue." ucap atrees.
__ADS_1
Danindra seakan tak percaya dengan sikap atrees. Ia baru sekali ini melihat atrees sejarah ini. Bahkan danindra sendiri tak mau membuat atrees juga marah dengan dirinya. Ia hanya diam sambil melihat perdebatan di keluarga atrees.
"Yank, aku emang kecewa sama sikap kami yang berani sama kedua orang tuamu. Tapi disini aku juga gak sepenuhnya nyalahin kamu. Semua anak pasti ingin melihat kedua orang tuanya bersama. Sekarang aku tambah merasa bersalah karna di awal kita ketemu, aku selalu menbully kamu dan membuat lukamu sama orang tuamu kembali muncul." danindra berbicara dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya.
Suasana semakin panas. Atrees saat ini bukan hanya marah dengan kedua orang tuanya, namun juga pada adiknya yang ia rasa mulai membela mama dan papanya.
"CUKUP CENA!! Gue gak mau denger kata kaa yang keluar dari mulut loe lagi." atrees membentak dan menunjuk cena.
Mama priska semakin merasa tertekan melihat anak anaknya juga ikut bersitegang. Dan saat mama priska hendak berdiri, ia pun langsung pingsan dan jatuh ke sofa.
"MAMA!!!" teriak dan cena kompak.
Papa destian lalu meminggirkan badan atrees dan berusaha membangunkan mama priska. Cena pun juga berusaha membantu papanya.
"Pris, bangun sayang." teriak papa destian.
"Cena cepat cari minyak angin." perintah papa destian pada cena.
Saat hendak berjalan melewati kakaknya, amarah cena memuncak pada atrees karna melihat mamanya kini yang jatuh pingsan karna sikap kakaknya.
"Puas loe udah bikin mama kayak gini. Egois banget sih loe jadi orang." ucap cena sinis.
Melihat pacarnya semakin ditekan oleh adiknya, danindra yang dari tadi diam mulai berdiri dan menarik tangan atrees.
"Jangan pernah loe bikin kakak loe semakin tertekan. Ini semua bukan sepenuhnya salah atrees, karna disini semua juga salah. Ngerti loe!! " gertak danindra.
"SUDAH CUKUP!! Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan. Atrees buka pintu kamar mama kamu, papa mau taruh mama kamu di dalam kamar. Dan kamu cena cepat telpon dokter, papa takut tekanan darah rendah mama kamu kambuh lagi." ucap papa destian.
"Danindra, om minta maaf sebelumnya. Tapi lebih baik kamu pulang dulu ya. Gak papa kan?" ucap papa destian kembali.
"Tapi pah..." teriak atrees namun danindra dengan cepat menggenggam tangannya.
"Gak papa yank, nanti malem aku kesini lagi ya."bisik danindra.
"Iya om, kalau gitu danindra pulang dulu ya." pamit danindra.
"Makasih ndra, kamu mau mengerti. Salam buat papa dan mama kamu ya." ucap papa destian.
Tak lama setelah danindra pergi, atrees dan papa destian membawa mama priska ke kamarnya dan membaringkannya di ranjang.
Atrees dan cena sama sama mengolesi minyak angin ke seluruh badan mama priska. Dan beberapa saat kemudian, dokter yang akan memeriksa mama priska tiba.
Atrees dan cena sama sama keluar, dan hanya papa destian yang berada di dalam kamar. Selama berada diluar kamar, cena menatap atrees sinis.
"Ngapain loe ngeliatin kakak kayak gitu. Mau marah loe sama gue?" ucap atrees sambil memicingkan matanya.
"Iya gue marah sama loe. Gara gara loe mama sakit kan." jawab cena.
"Loe gak tau aja apa yang dilakukan mama sama papa tadi pagi. Bahkan tadi malam mama gak pulang, itu tandanya mama pasti lagi sama papa. Dan apa loe tau apa yang mereka lakukan tadi malam kalau gak BO di hotel." teriak atrees.
"Gue sih gak peduli kak mereka mau ngapain. Secara yang gue lihat mama dan papa sama sama masih saling cinta. So, why not? Kenapa loe yang ribet." jawab cena tak kalah sinis dari atrees.
"Loe bisa ngomong kayak gini karna loe belum punya pacar. Jadi loe gak tau rasanya malu punya orang tua yang gak jelas. Terus kalau emang mereka masih saling cinta, kenapa mereka gak rujuk aja. Bukan malah kalau pas lagi ingin begituan aja mereka ketemu."
"Makanya kalau orang mau ngomong itu dengerin sampai tuntas. Jangan main pakai logika loe aja. Buka tuh pintu hati loe. Kan mama sama papa belum selesai bicara, tapi loe main asal potong aja. Gue jadi ikut kesel sama loe tau." jawab cena.
"Maksud loe apa sih, gak ngerti gue. Emang tadi mama dan papa mau ngomong apa?"
"Huffftt..gini nih susahnya punya kakak baperan. Udah nanti aja biar mama dan papa jelasin sendiri ke elo. Tapi jangan loe putus lagi ucapannya, dengerin dulu sampai akhir." celetuk cena.
" Yaudah loe cerita dong sama gue,kalau loe gak cerita mana gue ngerti." kata atrees namun cena malah langsung pergi ke dapur dan meninggalkan dirinya.
"Cena!!!kok loe malah pergi sih!!" teriak atrees.
Dalam hatinya kini, atrees bingung dan berusaha mencerna semua perkataan cena. Tapi belum sempat atrees mengejar cena ke dapur, papa destian dan dokter bobby sudah keluar dari kamar mama priska.
"Pak, jangan lupa obatnya langsung di langsung dikasih kalau istri bapak sudah sadar nanti." ucap dokter bobby.
"Baik dok, tapi apa gak ada yang penyakit serius?" tanya papa destian.
"Tidak kok pak, ibu hanya sedang strees saja. Makanya tekanan darahnya sangat rendah. Jadi jangan buat istri bapak memikirkan hal hal berat dulu ya. Kalau begitu saya pamit."
__ADS_1
"Iya dok, terima kasih." jawab papa destian sambil menjabat tangan dokter.
Setelah dokter bobby pergi, atrees berjalan ke arah papanya dan ia pun langsung memeluk papanya,pelukan yang sudah lama tidak ia dapatkan.
"Pah, maafin atrees." ucap atrees dengan nada pelan.
"Kenapa kamu minta maaf nak. Harusnya papa yang minta maaf sama kamu. Papa sayang sekali sama kamu atrees." jawab papa sambil membelai rambut panjang atrees.
"Atrees juga sayang sama papa. Yaudah yuk pah, kita masuk. Atrees khawatir sama kondisi mama." ucap atrees sambil menarik tangan papanya.
"Ayo sayang. Oh iya cena mana?" tanya papa destian sambil mencari keberadaan cena.
"Cena ke dapur pah, tau ngapain. Udah ayo ke kamar pah."
"Iya sayang."
Baru saja atrees dan papa destian masuk ke kamar, mama priska sudah mulai membuka matanya.
"Atrees.." panggil mama dengan nada lemah.
"Iya mah, maafin atrees ya mah karna udah bikin mama sakit." ucap atrees sembari berjalan lalu duduk di samping ranjang mamanya.
"Enggak sayang. Harusnya mama yang minta maaf sama atrees. Selama ini mama kurang peka sama perasaan kamu nak."
"Udah ya mah, mending mama istirahat. Oh iya mama minum obat dulu ya, tadi dokter pesen kalau mama udah sadar disuruh segera minum obatnya. Atrees ke dapur ambil air dulu ya mah."
"Iya nak." jawab mama priska.
Belum sempat atrees berdiri, cena sudah masuk ke dalam kamar dan membawa segelas air untuk mamanya.
"Telat loe kak, ini gue udah ambil air buat mama. Nih buruan mama suruh minum obatnya." kata cena sambil memberikan segelas air putih ke tangan atrees.
"Tumben loe pinter." ejek atrees.
"Yee, elo aja yang gak tau kalau gue emang pinter. Makanya banyak cewek yang naksir gue." jawab cena.
"Hahahaha, bukan kebalik. Loe yang naksir banyak cewek, tapi ditolak semua." ucap atrees sambil tertawa.
"Udah atrees, cena, bercandanya nanti aja. Buruan kasih obatnya sama mama." perintah papa.
"Eh iya, ini mah ayo atrees bantuin minum obatnya."
"Makasih sayang." jawab mama sambil meminum obat yang di berikan oleh atrees.
Melihat keceriaan kedua anaknya, tanpa terasa air mata papa destian jatuh. Ia merasa telah melakukan kesalahan besar yang membuat keluarga kecilnya hancur. Dan niatnya untuk rujuk kembali dengan mama priska, ia anggap keputusan paling tepat saat ini.
"Atrees.."panggil papa.
"Iya pah."
"Papa ingin rujuk nak sama mama. Apa kamu bersedia menerima papa kembali nak?" tanya papa destian sembari memegang pundak atrees.
Atrees kini berdiri sambil menatap mata papanya, dan ia pun langsung menyambut pelukan papanya.
"Papa serius sama ucapan papa?"
"Iya nak, papa dan mama dari tadi ingin menyampaikan ini ke kamu. Dan papa janji papa akan memperbaiki diri papa. Karna bagi papa, kamu cena dan mama adalah kebahagiaan papa."
"Atrees bahagia pah denger ini semua. Terima kasih ya pah. Terus papa sama mama mau bangun nikah lagi kapan?" tanya atrees.
"Setelah pernikahan kamu dan danindra nak. Karna mama tahu kalian sudah saling mencintai, dan mama ingin kamu dan Danindra segera menikah dan memberikan kami cucu." sahut mama yang langsung mendapat pelukan dan ciuman dari atrees.
"Mama, atrees sayang sama mama dan papa."
"Kami juga sayang sama kamu nak." ucap mama dan papa sambil memeluk atrees.
"Kok kak atrees aja sih yang di peluk, kalian gak pengen meluk cena?" kesal cena.
"Sini adik kakak yang ganteng, sini sini."panghil atrees.
Suasana yang semula panas kini berubah menjadi hangat dan bahagia. Atrees tak hentinya mengucapkan syukur dalam hatinya.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan, akhirnya engkau mendengar semua doa dan harapanku. Semua yang aku anggap sudah tidak bisa kembali, ternyata kini menjadi nyata."