Cewek Broken & Cowok Tajir

Cewek Broken & Cowok Tajir
Rumah pohon


__ADS_3

Selesai sarapan di restoran hotel, papa destian lalu mengantar mama priska ke rumah. Dan selama perjalanan, papa destian terus menggenggam tangan mama priska, bahkan sesekali ia pun mencium tangannya.


Tak berapa lama, mobil papa destian sudah tiba di depan rumah. Namun semua tiba tiba papa destian mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan atrees.


"Mas ayo turun." ajak mama priska.


"Pris, sepertinya jangan sekarang ya kita bicarakan ini sama atress." ucap papa destian yang membuat mama priska membuang tangan papa.


"Aku sudah yakin, kamu itu hanya ingin main main sama aku. Dan ucapan kamu tadi i yg u bulshit. Lebih baik memang kita gak udah bersama lagi." ucap mama priska dengan suara terbata.


"Priska tunggu."ucap papa destian sambil menarik tangan mama priska.


"Apalagi mas, sudah aku mau turun. Harusnya dari awal, aku gak usah percaya sama ucapan kamu."


"Kamu itu ngomong apa sih pris. Siapa yang mau mempermainkan perasaan kamu. Aku belum selesai bicara. Aku pengen ngajak kamu, atrees dan cena untuk pergi dinner nanti malam di restoran favorit keluarga kita. Disana aku akan bicarakan semua sama cena dan atrees." ucap papa destian.


Mama priska menatap mata mantan suaminya itu dengan tajam.


"Jadi maksud kamu mas?"


"Iya, aku tetap ingin rujuk sama kamu dan aku akan bicarakan ini sama atrees dan cena. Aku yakin mereka akan sangat bahagia melihat mama dan papanya kembali bersama. Dan kita buka lembaran baru keluarga kita pris." kata papa destian sambil mengelus pipi mama priska.


"Iya mas, dan aku juga sudah mengambil keputusan. Kalau kita sudah menikah lagi nanti, aku akan berhenti bekerja dan fokus mengurus kamu dan anak kita. Apalagi atrees akan segera menikah dengan danindra. Pasti gak lama lagi aku akan menjadi seorang nenek. Makanya aku sudah berniat tidak mengejar karir." ucap mama priska.


"Apa kamu serius dengan ucapan kamu pris? Aku juga gak marah kok jika kamu masih ingin bekerja." jawab papa destian.


"Enggak mas, buat apa. Kan suami aku sudah kaya. Buat apa aku kerja,iya kan?" kata mama priska hingga membuat papa destian merasa gemas dengannya.


Papa destian pun langsung mendorong tubuh mama priska dan mencium bibir mama priska. Cukup lama mereka berciuman, mama priska langsung mendorong tubuh papa.


"Mas, sudah. Kalau dilihat orang gimana?"


"Hahahaha, iya. Yaudah aku pulang dulu. Pasti cena udah nyariin aku. Kamu buruan masuk, nanti malam aku jemput kamu dan atrees ya. Dan sampaikan salamku buat dia.


"Iya mas, kamu hati hati ya pulangnya." ucap mama sambil mencium pipi kiri papa destian.


"Aku turun dulu ya mas, See you."


"See you pris." jawab papa.


Mobil papa destian kini sudah pergi meninggalkan rumah mama priska. Dan mama pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Tanpa diketahui mama priska, semua kejadian antara dirinya dan papa destian dilihat oleh atrees dari balik jendela kamarnya.


"Mah, pah. Kenapa kalian mempermainkan perasaan atrees dan cena. Dulu kalian berpisah tanpa mendengarkan keinginan kami. Dan sekarang kaliam malah menjalin hubungan diam diam di belakang kami. Apa sih mau kalian. Kalau memang masih saling mencintai, kenapa kalian gak kembali lagi." batin atrees sambil menutup kembali gorden jendela kamarnya.


Tak lama kemudian mama priska masuk ke kamar atrees.


Tok tok tok...


"Atrees kamu udah bangun? Boleh mama masuk nak?" sapa mama priska.


"Masuk aja mah." jawab atrees.


Setelah melihat mamanya, atrees sudah tidak bisa menahan air matanya yang sudah dari tadi ia tahan.


"Mama sama papa darimana? Kenapa mama gak pulang semalam?"tanya atrees.


"Tadi malam itu.. Mama sama papa.." belum sempat berkata, atrees sudah memotong perkataan mamanya.


"Udahlah mah. Mama sama papa itu sama aja. Kalian gak sadar apa, kalian itu udah tua. Kenapa masih saja seperti anak remaja labil. Atrees juga lihat apa yang mama sama papa lakuin barusan di mobil. Mama gak malu apa ciuman sama papa? Inget mah, papa itu sudah bukan suami mama. Harusnya mama bisa jaga diri. Paling enggak jaga harga diri mama. Kalau mama aja mau, papa pasti beranggapan mama itu gampang dirayu dan mama akan dianggap wanita murahan sama papa." ucap atrees dengan nada tinggi.


Mama priska yang merasa sakit hati, langsung mengangkat tangannya dan...


Plaakkk..


Satu tamparan mendarat di pipi kanan atrees.


"Mama nampar atrees?" ucap atrees sambil menangis menatap mamanya.


"Atrees, maafkan mama nak." jawab mama yang berusaha mendekat ke arah atrees.


Atrees pun berlari lalu mangambil kunci mobilnya dan ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pada mamanya.


"Atress, mama minta maaf nak. Atrees kamu mau kemana? Mama bisa jelaskan semuanya nak." teriak mama priska yang berusaha mengejar atrees.

__ADS_1


Namun atrees dengan cepat menjalankan mobilnya dan meninggalkan rumah mamanya penuh rasa kecewa.


"Mah, atrees cuma pengen jaga mama. Atrees gak mau mama di rendahin sama papa. Apa atrees salah mah? Atrees ngomong gitu tadi karna atrees sayang dan peduli sama mama. Kenapa mama malah nampar atrees sih mah. Apa segitu gak berartinya atrees di mata mama." lirih atrees sambil menghapus air matanya.


Ponsel atrees terus berbunyi. Ia melihat mamanya terus menghubungi dirinya. Tapi karna rasa marahnya, atrees langsung mamatikan ponselnya.


*********


Dirumahnya mama priska terus berusaha menelpon atrees.


" Atrees ayo angkat telpon mama nak. Mama belum selesai bicara. Kenapa kamu langsung menjudge mama sih nak." batin mama priska.


Namun saat hendak mencoba menghubungi atrees kembali, nomor atrees sudah tidak aktif. Mama priska pun berusaha menelpon papa destian, namun handphone papa destian ternyata juga tidak aktif.


"Kalian semua kemana? Terus aku minta tolong siapa ini? Oh iya danindra, atrees pasti memberitahu danindra dimana ia sekarang. Tapi aku kan gak punya nomor danindra. Mending aku telpon vio buat minta tolong sama danindra cari atrees." gumam mama priska.


Dengan cepat mama priska menelpon mama vio, sahabatnya. Dan kebetulan saat itu mama vio, papa pras dan danindra sedang berada di meja makan untuk sarapan.


"Sayang, mama gak nyangka loh kalau ternyata kamu itu pacar atrees. Mama bahagia banget, yang mama tau atrees itu anak yang baik dan ramah. Dan mama minta kalau kamu sudah menikah nanti, jangan pernah buat atrees sedih ya." ucap mama vio.


"Pasti dong mah, walau dulu danindra suka main main sama perempuan tapi itu gak berlaku sama atrees. Danindra sangat cinta sama atrees mah. Habis ini danindra pamit mau kerumah atrees ya mah, pah." ucap danindra.


"Iya, nanti bawa aja atrees kerumah. Mama pengen kenal lebih dekat sama calon menantu mama."


"Iya papa juga."sahut papa pras.


Dan saat mereka sedang membicarakan atrees, tiba tiba ponsel mama vio berbunyi.


Kriiiingg...


"Siapa mah?" tanya papa pras.


"Oh priska pah, pasti dia mau cerita soal destian. Bentar ya pah, aku angkat dulu." ucap mama vio.


"Hahahaha, iya. Aku juga penasaran sama apa yang terjadi sama mereka. Salah sendiri, udah tau masih saling cinta pakai acara pisah segala." jawab papa pras sambil menyendokkan makanan ke dalam mulut.


Mama vio kemudian mengangkat telpon dari mama priska.


"Halo calon besan, ada apa kok telpon pagi pagi gini? Pasti mau curhat ya soal destian ya. Hayo kalian habis ngapain?"


"Tunggu sebentar pris, kamu kenapa panik sih. Ada apa sama atrees. Kamu cerita pelan pelan ya."


Mama priska kemudian menceritakan pertengkaran dirinya dan atrees hingga membuat atrees pergi dari rumahnya.


Melihat kepanikan di wajah mamanya, danindra mulai curiga jika terjadi sesuatu pada atrees.


"Udah kamu tenang dulu pris, nanti aku akan bicara sama danindra. Kita cari atrees sama sama ya."


"Makasih vio."


"Iya sama sama."


Mama vio lalu membuang nafasnya dan tatapan matanya sayu ke arah danindra.


"Mah, atrees kenapa? Apa terjadi sesuatu sama atrees? Tante priska bilang apa mah?" tanya danindra yang sudah mulai merasa cemas


"Iya mah, ada apa? Kok muka mama panik gitu."


Mama priska pun mulai menceritakan semua pada danindra dan papa prasetya. Danindra pun langsung mengambil kunci mobil dan pergi mencari atrees.


"Sayang kamu dimana? Kenapa kamu gak cerita sama aku dan main pergi. Sekarang handphone kamu juga gak aktif. Kamu dimana sayang." ucap danindra sambil menoleh ke kanan dan kiri siapa tau ia bisa menemukan atrees.


Tak lupa danindra juga menghubungi koko dan elang untuk membantu dirinya mencari atrees, bahkan ia juga sudah mencari atrees kerumah shintya dan indy. Tapi semuanya sia sia karna atrees tidak berada disana.


**********


Di lain tempat, atrees kini duduk sendiri diatas rumah pohon dekat villa papa destian.


Setiap ia merasa sedih, atrees selalu pergi ke tempat ini. Tempat ini menyimpan banyak kenangan bagi dirinya.


"Cukup lama atrees bisa menerima perpisahan papa dan mama, tapi kenapa kalian malah seperti ini. Apa kata keluarga danindra nanti jika mengetahui tingkah kalian. Jujur atrees malu punya papa dan mama seperti kalian." batin atrees sambil melempar batu dari atas pohon.


Danindra dan yang lain masih berusaha mencari keberadaan atrees. Bahkan ferdi yang baru saja pulang dari luar negeri juga ikut bersama mereka.

__ADS_1


"Fer, loe tahu gak atrees biasanya kemana?"tanya shintya.


"Wah gue juga gak tau, coba kalian telpon atrees lagi siapa tau handphonenya udah aktif." jawab ferdi.


"Iya bener kata ferdi, buruan kalian telepon atrees. Siapa tau nomernya udah aktif." perintah danindra.


Indy dan shintya kembali mencoba menghubungi atrees, namun sama aja hasilnya tetap nihil.


Wajah danindra mulai memucat, pikiran dan rasa traumanya saat atrees di bawa juan kembali muncul.


"Atau atrees di bawa juan lagi ya. Loe yakin lang, ko juan udah gak di Indonesia." ucap danindra dengan nada panik.


"Iya ndra, gue jamin juan sekarang udah di Amrik. Gak mungkin juga yang bawa kabur atrees juan." jawab elang.


"Coba loe telpon pak daniel, pastiin juan beneran masih disana." ucap danindra.


"Iya, gue telpon pak daniel deh biar loe percaya."


Saat elang sedang menelpon dan menanyakan kabar tentang juan dan aya, indy teringat akan satu tempat.


"Eh gue inget, atrees pernah ajak gue ke rumah pohon deket villa papanya di Bandung. Dulu dia ngajak gue waktu sidang perceraian mama dan papanya. Dan dia juga bilang, biasanya kalau hatinya lagi kacau selain ke club ria pergi ke rumah itu." ucap indy.


"Yaudah buruan kita kesana, siapa tau atrees ada disana." jawab danindra.


"Ndra, mending gue yang nyetir. Hati loe lagi gak tenang. Loe harus yakin kalau atrees baik baik aja. Gue juga inget, waktu itu gue jemput atrees sama indy disana." sahut ferdi sambil berusaha menenangkan danindra.


"Iya bro, bener kata ferdi. Biar lebih cepet jalannya kalau ferdi kan udah tahu tempat nya." imbuh koko.


"Yaudah buruan kesana fer, cepet."


"Iya iya ndra." jawab ferdi sambil menggerutu


"Dasar bucin. Tapi ya wajar sih, siapa juga yang gak bucin jadi pasangannya atrees. Andai aja gue yang di posisi danindra sekarang, mungkin level kepanikan gue juga sama kayak dia." gumam ferdi yang kini sudah berpindah tempat dengan danindra.


Shintya merasa kesal, karna hanya dirinya yang tidak pernah ke tempat yang dimaksud oleh indy dan ferdi.


"Eh ndi, fer, kapan kalian diajak atrees kesana? Kok cuma gue yang gak tau sih."


"Dulu shin udah lama banget sih. Hampir setahun lebih. Hasil sidang perceraian kedua orang tua atrees keluar, dan atrees masih belum bisa nerima kenyataan. Dia ajak gue ke Bandung dan disana gue lihat atrees bener bener gak bisa nerima perpisahan kedua orang tuanya. Jujur baru sekali itu gue lihat atrees bener bener jatuh. Makanya gue minta ferdi buat jemput gue sama atrees di bandung." jelas indy.


"Terus kalian gak ngajakin gue gitu, gue juga mau kali selfie di rumah pohon. Jahat banget sih kalian." gerutu shintya.


"Ye siapa suruh loe dulu ngambek sama atrees dan gue. Siapa suruh loe diemin kita. Loe lupa gue udah kerumah loe, eh malah loe usir gara gara loe pikir atrees merebut theo dari loe. Lupa loe?" jawab indy dan membuat shintya seketika malu dan menunduk.


Danindra yang semula tidak memperdulikan perdebatan shintya dan Indy, tiba tiba menoleh ke belakang saat mendengar ada nama laki laki.


"Siapa theo? Mantannya atrees jaman SMA ya?"tanya danindra sambil menatap tajam indy dan shintya.


"Eh bukan, atrees gak pernah pacaran jaman SMA. Pacar pertamanya itu juan, tapi kalau cinta pertamanya gue sih gak tau." jelas indy.


"Terus theo siapa? Kok sampai buat atrees sama shintya jadi ribut?"


"Mending loe tanya tuh sama shintya, anaknya kan ada dibelakang?" sahut ferdi.


"Udah dong gak usah di ceritain, gue kan malu." jawab shintya.


"Yaudah buruan jawab, tinggal cerita aja susah banget sih." tanya danindra kembali.


"Jadi theo itu dulu suka sama atrees cuma dia manfaatin shintya biar bisa deket sama atrees. Eh tapi shintya malah mikir atrees busuk dia dari belakang. Tau deh pikirannya sempit banget kan. Gue sih dulu juga sempet kesel sama shintya. Tapi itu kan udah masa lalu. Toh theo juga udah gak di Indonesia." jelas indy.


"Emang dia kemana?Apa dia masih cinta sama atrees?"


"Kalau menurut gue sih iya. Dia hampir mirip sih sama juan, berambisi banget buat dapetin atrees. Ya untung aja loe bulan depan udah nikah sama dia, kalau gak bisa spot jantung loe sama cowok cowok yang pengen miliki atrees."ucap ferdi.


"Makanya sekarang loe buruan cepet jalannya. Gue takut disana ada yang ganggu atrees. Secara dia kesana sendiri. Perasaan gue udah gak enak mikirin dia mulu." ucap danindra sambil terus berusaha menelpon atrees.


"Iya ndra, gue percaya atrees bisa jaga diri. Tapi kalau atrees gak ada disana gimana?"tanya ferdi.


"Pokoknya gue harus nemuin atrees hari ini. Dan kalian semua harus nemenin gue."


Elang dan koko yang dari tadi tertidur, kini mulai bangun karna mendengar suara danindra yang keras.


"Ndra ada apa, kok loe teriak teriak?"

__ADS_1


"Gak papa, pokoknya kalian semua gak boleh pulang sebelum kita nemuin atrees." ancam danindra dan akhirnya membuat mereka berlima menuruti keinginan danindra.


"Gini nih susahnya punya temen yang lagi jatuh cinta. Gak peduli perasaan temennya sendiri. Gue gak nyangka seorang danindra yang pecinta wanita akhirnya bertekuk lutut dengan seorang wanita. Hahaha, ndra sekarang gue tau kelemahan loe." batin koko sambil terus memandangi wajah danindra yang mulai bertambah khawatir.


__ADS_2