
Hari silih berganti, dan tanpa terasa hampir dua minggu Atrees tinggal di rumah mamanya. Dan selama itu ketiga sahabatnya tak pernah sedikit pun meninggalkan dirinya. Setiap pulang dari kampus, baik Shintya, Indy dan Ferdi selalu mampir ke rumahnya. Begitu juga Danindra, namun setiap Danindra kerumah, Atrees selalu menutup diri dan tidak mau menemuinya.
Pernikahan kedua Mama Priska dan Papa Destian seminggu lagi akan berlangsung, namun Atrees masih saja di rundung kesedihan. Masih tetap mengurung diri didalam kamar, tanpa banyak bicara pada siapapun.
Sikap Atrees ini semakin membuat Mama Priska dam Papa Destian sedikit khawatir. Apakah sebaiknya pernikahan mereka di tunda dulu? Namun saat keduanya sedang membicarakan masalah ini, tanpa sengaja Atrees mendengarnya.
"Mah, pah, Atrees baik baik aja kok. Jangan tunda pernikahan kalian ya mah, pah. Karna itu salah satu harapan terbesar Atrees dan Cena," ucap Atrees yang disambut pelukan mamanya.
"Makasih sayang," jawab mama.
"Oh iya Trees, bagaimana hubungan kamu dengan Danindra? Apa kamu sudah mengambil keputusan tentang rumah tangga kamu dan Danindra?" sahut Papa Destian.
Atrees menggeleng. Dan karna pertanyaan papanya, kesedihan kembali terlihat di wajahnya. Matanya mulai berkaca kaca, mengingat karna suaminya ia kehilangan anaknya.
Tahu kondisi putrinya, Mama Priska melirik Papa Destian sambil memberi kode untuk diam.
"Trees, kita ke kamar aja ya nak," ajak mama.
"Mas, sebaiknya kamu pulang ini sudah hampir malam, kasihan Cena di rumah. Pasti dia sedang menunggu kamu," ucap mama pada papa.
Papa pun langsung berpamitan dan sekilas mencium kening Atrees sambil membisikkan sesuatu.
"Apapun keputusan kamu papa selalu mendukungmu. Karna kamu yang hanya kamu yang tahu mana yang terbaik untuk kamu," lirih papa namun terdengar ke telinga mama.
"Iya pah, makasih," jawab Atrees dengan tatapan sayunya.
__ADS_1
Disebelah Atrees, rasanya Mama Priska ingin sekali menutup mulut Papa Destian dengan lakban. Susah payah ia membujuk Atrees untuk memaafkan menantunya, namun Papa Destian malah seakan memberi celah dan dukungan pada anaknya.
"Arghh.. Mas Destian ini gimana sih. Kalau nasehat mas tadi kayak gitu, aku yakin Atrees akan segera menggugat cerai Danindra. Ya walaupun aku kecewa dengan Danindra, tapi aku rasa Danindra pantas mendapatkan kesempatan kedua. Aku gak mau Atrees menyesal nantinya setelah bercerai, dan jangan sampai Atrees mengalami apa yang aku alami," batin Mama Priska.
Setelah kepergian papanya, Atrees kembali ke kamar di temani mama yang duduk disamping ranjangnya.
"Mah," lirih Atrees.
"Iya Atrees, kenapa?"
"Tolong telpon Danindra, dan suruh dia kemari. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
"Baiklah nak, apa boleh mama tahu apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya mama dengan perasaan penasaran menyelimuti pikirannya.
"Mah, tolong jangan mendesakku terus. Biarkan aku mengambil keputusan dengan hati. Dan aku mohon, berhenti memintaku untuk memaafkan Danindra. Benar kata papa mah, hanya aku yang tahu mana yang terbaik buat aku," jawab Atrees yang membuat mamanya hanya diam.
"Terima kasih mah," ucap Atrees dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Sama sama sayang," jawab mama.
Mama Priska lalu pergi ke kamarnya. Diraihnya benda kecil diatas meja.
Sesuai janjinya pada Atrees, Mama Priska langsung menelpon Danindra.
"Hallo mah," sapa Danindra
__ADS_1
"Halo Ndra, apa kamu bisa kerumah sekarang?"
"Bisa mah. Memang ada apa? Apa terjadi sesuatu sama Atrees?"
"Enggak Ndra, hanya saja Atrees ingin bertemu sama kamu. Katanya ada yang mau dia bicarakan sama kamu," ucap mama.
"Soal apa ya mah? Apa Atrees sudah mau memaafkan aku?" tanya Danindra.
Terdengar suara hembusan Mama Priska membuat pikiran Danindra menerka nerks.
"Mah tolong jujur sama Danindra mah, ada apa? Apa yang ingin Atrees bicarakan sama aku mah?Jangan bilang.."
"Sebaiknya kamu kesini dulu. Mama sendiri juga gak tahu tujuan dan maksud Atrees memanggil kamu. Karna dari tadi mama sudah coba bertanya sama dia, tapi Atrees hanya ingin menyelesaikan masalah rumah tangga kalian dengan kamu sendiri. Sekarang juga kamu kesini ya Ndra."
"Iya mah, Danindra akan kesana. Jikalau Atrees ingin bercerai, sampai kapanpun Danindra tidak akan bersedia."
"Ya itu nanti kamu bicarakan sendiri ya Ndra dengan Atrees. Selama ini mama sudah berusaha, tapi untuk hasilnya mama juga gak tau. Mama tunggu kedatangan kamu Ndra."
"Iya mah," jawab Danindra.
Disebelahnya, kini sedang ada Mama Vio dan Papa Pras. Meski mendengar sedikit pembicaraan Danindra dan ibu mertuanya, namun mereka sudah bisa tahu sedang sedang dirasakan putra mereka.
Pak Pras lalu berjalan dan berpindah duduk dari samping istrinya menjadi ke samping putranya. Dirangkulnya bahu Danindra, melihat putranya hanya menangkup wajahnya dengan kedua tangan menutupi seluruh wajahnya.
"Ndra, pergi dan perjuangankan rumah tangga kalian. Papa memang marah dengan sikap dan perlakuan kamu pada Atrees tempo hari. Tapi papa yakin jauh di lubuk hati kamu, kamu juga menyesali semuanya. Kamu jangan menyerah Ndra, yakinkan Atrees untuk mau memaafkan kamu. Karna bukan dengan tangan dan perantara orang lain kamu akan mendapat maaf atas kesalahan kamu, tapi dengan cara kamu sendiri. Percaya sama papa," ucap Papa Pras.
__ADS_1
"Benar kata papa kamu nak. Lagi pula belum tentu apa yang kamu pikirkan akan terjadi. Pergilah sayang, bawa istri kamu pulang kemari ya. Yakinkan dia, jika dia memang sangat berarti di hidup kamu," sahut Mama Vio.
"Baik mah, pah. Kalau gitu Danindra pergi dulu," pamit Danindra.