
Danindra kini membawa Atrees kedalam kamarnya dan menaruh tubuh kecil istrinya itu keatas ranjang. Namun karna masih kesal dengan Danindra, dengan cepat Atrees beranjak dari ranjang mereka.
Namun sayang usaha Atrees sia sia. Danindra langsung menarik tubuh Atrees hingga jatuh ke pangkuannya.
"Danindra lepas, aku masih marah sama kamu," gerutu Atrees kesal.
"Hahahaha, mana ada sayang orang marah kok ngomong?" ucap Danindra sembari mengeratkan pelukannya.
"Arrrghh, sudahlah. Capek aku bicara sama kamu. Kamu kan pinter ngeles. Sekarang lepas, aku mau bantuin bunda masak didapur."
"Bunda udah ada yang bantuin,mending kamu bantuin aku buat mempertemukan aku dan anak kita," ucap Danindra sambil tersenyum licik.
Atrees membelalakan matanya, namun belum sempat menolak permintaan Danindra bibirnya sudah dilumat habis oleh bibir suaminya.
Walau hatinya masih kesal, namun Atrees tak menolak sentuhan yang diberikan Danindra. Apalagi semenjak hamil, dirinya tak bisa jauh dari aroma badan Danindra.
"Makasih ya sayang. Ternyata kalau kamu hamil, kamu lebih agresif juga ya. Tapi lain kalo jangan liar liar, kasihan babynya capek nanti," ucap Danindra yang membuat wajah Atrees seketika memerah karna malu.
"Kan ini juga mau aku, salahin aja baby nya kenapa seneng banget sama kamu," gerutu Atrees sambil memalingkan wajahnya.
"Hahahaha, baby nya kan tahu kalau daddy nya sayang banget sama dia. Apalagi daddy nya masih tampan kayak gini."
"Bisa gak sih yank, kamu gak narsis. Sekarang jelasin ke aku tadi kamu pergi kemana? Kalau kamu gak cerita, aku pulang aja kerumah mama," ancam Atrees.
"Yaudah sini dulu dong, peluk suami tampan kamu ini. Kalau cerita sambil tiduran kan enak, sambil aku mainin itu kamu," ujar Danindra sembari menunjuk dua g****g kembar milik Atrees.
"Sayang, kamu bisa gak sih gak mesum sehari aja."
"Yaudah mau gak aku ceritain, penasaran gak?" tanya Danindra.
"Iya deh iya," Jawab Atrees pasrah.
__ADS_1
Akhirnya Atrees pun menuruti ucapan Danindra. Ia tidur dalam pelukan Danindra sambil tubuh mereka di tutup oleh selimut putih tebal milik mereka.
Danindra pun mulai jujur dengan semua hal tentang Juan dan Sandra. Tak ada sedikit pun yang di tutupi oleh Danindra.
Atrees lalu menarik selimut mereka dan bangkit dari ranjang. Sambil menangis Atrees pergi ke kamar mandi mereka. Danindra yang mengetahui kemarahan istrinya berusaha mengetuk pintu kamar mandi, namun Atrees tetap tidak mau membukakan pintu.
Hingga akhirnya Atrees bergegas keluar. Setelah memakai pakaiannya, ia memasukkan bajunya kedalam koper. Danindra tidak menyangka, jika Atrees akan marah besar pada dirinya.
"Sayang, maaf aku gak cerita sama kamu soal semua. Sayang, please jangan pergi dong," ucap Danindra sembari mengeluarkan kembali pakaian Atrees.
"Apa kamu bilang? Maaf? Selama ini kamu bohong Ndra sama aku. Kamu masih peduli dengan mantan kamu. Sekarang aku tanya, apa ayah dan bunda tahu soal semua ini?" tanya Atrees dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Memang enggak yank, tapi...," ucap Danindra terputus karna Atrees sudah beranjak pergi sambil membawa koper nya.
"Sayang, tolong mengerti posisi saat itu. Atrees jangan pergi," teriak Danindra sambil menarik kembali koper Atrees.
"Apalagi Ndra? Mungkin benar kamu sekarang cinta sama aku, tapi awalnya kamu melakukan semua ini karna kamu masih mencintai Sandra bukan? Sudah ya Ndra, kasih aku waktu buat mikirin pernikahan kita. Aku gak bisa hidup bersama laki laki yang sudah berbohong di awal pernikahan," ucap Atrees.
"Auu, sakit Ndra. Lepas," jawab Atrees.
Namun tiba tiba pandangan Atrees berubah gelap, dan akhirnya ia pun jatuh pingsan. Untungnya Danindra dengan sigap menangkap tubuh Atrees. Danindra seketika menyesal, karna sudah membuat Atrees berfikir terlalu berat.
"Mamah....Mah..," teriak Danindra dengan suara kerasnya.
Mendengar ada teriakan dari kamar putranya, Mama Vio bergegas dari dapur menuju kamar Danindra. Dan ia melihat jika menantunya sedang tak sadarkan diri.
"Ini ada apa Ndra? Atrees kenapa? Dan kenapa ada koper? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Mama Vio.
"Nanti Danindra jelasin, mama tolong telpon dokter ya mah. Danindra mau taruh Atrees di ranjang dulu."
"Iya nak, dan kenapa kamar kalian berantakan sekali? Atau kalian habis...," ucap Mama Vio terputus.
__ADS_1
"Mah, udah dong. Bukan saatnya bercanda ini."
"Iya Ndra, mama lupa. Bentar mama telpon dokternya dulu ya."
Mama vio dengan segera pergi ke kamarnya dan menelpon dokter keluarga mereka. Sedangkan Danindra mengolesi tubuh Atrees dengan minyak angin. Ia merasa menyesal dengan sikapnya. Ditambah bekas merah akibat cengkraman tangan Danindra begitu terlihat jelas di lengan Atrees.
"Sayang, maafin aku. Aku gak bisa kontrol emosi aku. Maaf sayang, kamu jangan pernah pergi dari aku yank. Ayo dong Atrees, sadar," ucap Danindra sembari mengecup pucuk rambut Atrees.
Selesai menelpon dokter, Mama Vio pun kembali ke kamar Danindra. Ia melihat ada bekas merah di lengan menantunya.
"Ndra, ini apa?" tanya Mama Vio sambil memegang lengan Atrees.
"Itu mah, tadi Danindra berusaha mencegah Atrees karena mau pergi dari rumah. Tapi pegangan tangan Danindra terlalu keras karna Danindra lagi emosi."
"Memang apa alasan Atrees sampai ia mau pergi dari rumah ini?" tanya Mama Vio.
Akhirnya Danindra pun mulai jujur dengan semuanya pada Mama Vio. Nampak jelas tatapan kemarahan dari mata mamanya.
Pllaakkk....
"Dasar anak bodoh. Mama yang mendengarnya ucapan kamu baru saja sakit hati apalagi Atrees istrimu. Kenapa kamu merahasiakan semuanya. Dan kenapa kamu masih peduli dengan Sandra. Dia sudah mengkhianati kamu, atau memang benar kata Atrees kamu masih mencintainya?" gertak Mama Vio dengan nada bsrapi-api.
"Mah, kenapa mama juga gak paham maksud Danindra. Danindra sama sekali gak ada perasaan sama Sandra sedikit pun. Apalagi sekarang ada bayi di dalam perut Atrees. Buah cinta aku dan Atrees mah. Tolong percaya sama Danindra. Tolong bantu Danindra meyakinkan Atrees mah, Danindra gak sanggup kalau harus kehilangan Atrees."
"Makanya kamu itu berfikir dulu sebelum bertindak. Nanti kalau Atrees sudah sadar, mama akan bicara sama dia. Tapi ingat, hanya sekali mama akan membantu kamu. Kalau sampai kamu buat kesalahan fatal lagi, mama gak akan pernah bantu kamu lagi."
"Iya mah, terima kasih ya mah,"
"Hmmm, jangan lupa oleh terus minyak angin ke tubuh istrimu. Awas saja kalau sampai ada apa-apa sama calon cucu mama."
"Iya mah, semoga Atrees dan anakku gak papa ya mah," ucap Danindra sambil mengelus rambut Atrees.
__ADS_1
"Sayang maafin aku. Aku janji setelah ini gak akan ada rahasia lagi antara kita. Dan aku akan selalu terbuka dalam hal apapun sama kamu," batin Danindra sembari mengecup kening Atress.