
Beberapa hari berlalu. Semenjak selesai menjalani operasi kuret, sikap Atrees benar benar dingin pada Danindra. Ia tak pernah membalas ucapan Danindra setiap Danindra berusaha mengajaknya berbicara.
Hingga hari ini, Atrees sudah boleh kembali ke rumah. Atas permintaan Atrees, ia pun pulang ke rumah Mama Priska. Danindra terus berusaha membujuk Atrees dan tak pantang menyerah untuk mendapat maaf dari istrinya.
"Sayang, aku boleh ya ikut kamu ke rumah mama," ucap Danindra.
"GAK!! aku masih pengen sendiri. Dan aku akan minta tolong papa buat urus surat gugatan cerai untuk kamu."
"Enggak, aku gak mau. Atrees, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahanku. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan maaf dari kamu?" Danindra bicara sambil berlutut di kaki istrinya.
"Kamu mau tahu apa yang bisa buat aku memaafkan kamu?"
"Iya sayang, bilang aja. Aku pasti akan lakuin apapun agar bisa mendapat maaf dari kamu."
"Kalau gitu aku akan memaafkan kamu asal kamu bisa mengembalikan nyawa anakku," ucap Atrees dengan tatapan kosong dan butiran air matanya yang mulai berjatuhan.
"Apa sayang? Tolong Atrees, jangan seperti ini. Kita bisa buat anak lagi dan aku janji aku akan lebih bersabar saat kamu hamil nanti. Tolong Atrees, maafin aku," rengek Danindra.
Tangisan Danindra akhirnya berhasil membuat Atrees menatap dirinya. Namun bukan tatapan rindu dan cinta, tapi terlihat tatapan marah, benci dan emosi yang Atrees tunjukkan padanya.
"Kenapa kamu gak bisa kan penuhi permintaan aku, jadi lebih baik siapkan diri kamu di pengadilan agama nanti," ucap Atrees sambil berjalan melewati Danindra dan langsung menghampiri mamanya di depan pintu.
"Mah kita pulang sekarang, dan aku minta jangan ajak dia kerumah kita mah."
"Tapi nak," jawab Mama Priska.
"Tolong mah."
"Baik nak."
Belum menyerah, Danindra kembali mengejar Atrees yang hendak pergi dari kamarnya.
"Atrees, tolong sayang maafkan aku. Dan jangan gugat cerai aku. Aku gak bisa hidup tanpa kamu yank," rengek Danindra namun tak di hiraukan oleh Atrees.
"ATREES!!!" teriak Danindra.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Atrees berjalan melewati Danindra tanpa mempedulikan teriakan Danindra yang terus memanggil dirinya. Mama Priska yang kebetulan juga berada disana, berusaha menarik tangan Danindra yang hendak mengejar Atrees kembali.
__ADS_1
"Danindra sudah ya, biarkan Atrees sendiri dulu. Lebih baik kamu pulang ke rumah kamu," ucap Mama Priska.
"Tapi mah..."
"Tolong nak, pulanglah. Jangan buat Atrees semakin membenci kamu. Mama akan berusaha membantu kamu dan membujuk Atrees untuk memaafkan kamu."
"Baik mah, aku akan pulang. Tapi tolong ya mb, kasih aku kabar tentang Atrees setiap waktu. Dan aku percayakan semua sama mama. Hanya mama yang bisa Danindra andalin. Aku benar benar menyesal mah, dan aku janji jika aku mendapat maaf dari Atrees aku akan lebih tahan sifatku yang tempramen."
"Iya Ndra, mama percaya. Kalau gitu mama pulang dulu. Jaga diri kamu baik baik dan jaga juga kesehatan kamu ya nak."
"Iya mah. Aku titip Atrees ya mah."
"Iya Danindra, pasti. Kalau gitu mama duluan ya,kasihan Atrees pasti udah nunggu mama di luar."
"Iya mah," jawab Danindra.
Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, akhirnya Mama Priska menemukan keberadaan Atrees. Ia lalu mengajak Atrees untuk ke mobil.
"Atrees, jangan nangis ya nak. Jangan stres dulu. Sampai dirumah kamu harus langsung istirahat ya sayang," ucap Mama Priska sambil memeluk Atrees dan menenangkannya.
"Iya mah. Mama bawa mobil sendiri ya?"
"Iya mah. Papa nanti kerumah gak mah?" tanya Atrees sambil berjalan seiringan dengan mamanya.
"Iya, papa tadi bilang kalau mau mampir ke rumah sehabis pulang kerja. Cena juga udah janji mau tidur dirumah. Jadi kamu gak akan kesepian."
"Bagus deh mah, kalau ada Cena pasti Atrees akan sedikit lupa sama Danindra dan.."
"Sudah jangan di ingat ingat lagi. Anak kamu sudah di surga. Kalau Tuhan mengambil dia, itu tandanya Tuhan lebih menyayangi dia sayang."
"Iya mah, yaudah mah mana sopirnya?"
"Itu di seberang sana, ayo kita jalan kesana," jawab mama.
"Ayo mah," jawab Atrees.
Selama perjalanan pulang, Atrees tak banyak bicara. Ia hanya memandangi langit yang cerah dari dalam mobilnya. Hingga Mama Priska pun merangkul putrinya dari samping.
__ADS_1
"Trees, boleh mama bicara sesuatu nak?" ucap Mama Priska yang membuat Atrees langsung menoleh.
"Bicara soal apa mah?"
"Kamu yakin mau berpisah dari Danindra? Inget Trees, penyesalan itu akan datang di akhir. Mama tidak ingin apa yang mama alami akan menimpa kamu juga. Sekarang kamu lihat mama dan papa, kami berpisah karna emosi sesaat. Dan kami akhirnya menyesal dengan keputusan kami dulu. Mama harap kamu fikirkan kembali niat kamu untuk menceraikan Danindra ya nak," ucap Mama Priska.
Sudah tak sanggup menahan kesedihannya, Atrees menyandarkan kepalanya di pundak sang mama.
"Kenapa rumah tangga Atrees jadi begini mah. Belum sebulan Atrees menikah dan merasa bahagia, sekarang aku harus kehilangan anakku karna ulah papanya sendiri. Apa Atrees sanggup memaafkan Danindra mah?"
"Sanggup nak. Asal kamu jangan mengingat hal buruk yang sudah Danindra lakukan pada kamu. Ingatlah kenangan manis dan moment moment bahagia kalian. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan, begitu juga Danindra. Kalian sama sama saling mencintai, dan benar kata Danindra tadi. Kalian ini masih muda, kalian masih bisa mempunyai satu, dua atau mungkin lima anak. Jadi pertimbangkan nasehat mama ya Trees," kata Mama Priska sembari membelai rambut panjang Atrees.
"Gak tahu lah mah. Tapi yang jelas untuk saat ini aku belum siap bertemu Danindra. Dan soal gugatan ceraiku, akan aku pertimbangkan lagi sesuai nasehat mama," jawab Atrees.
"Bagus nak, mama percaya kamu sudah dewasa dan kamu tau mana yang terbaik untuk kamu."
"Iya mah. Makasih ya mah, karna mama selalu ada disamping aku dalam kondisi apapun."
"Sama sama nak. Itu sudah tanggung jawab mama sebagai ibu kandung kamu. Udah ya, jangan nangis dan hapus air mata kamu. Hari ini terakhir mama lihat kamu menangis, karna kalau besok mama masih lihat kamu nangis mama akan pulangkan kamu kerumah suami kamu," Mama Priska berusaha mengancam Atrees yang masih saja menangis.
"Iya iya mah, Atrees janji gak akan nangis lagi."
"Good Job sayang. Sekarang sini peluk mama, Atrees putri mama," ujar mama sambil mengeratkan pelukannya.
Danindra yang khawatir dengan keadaan Atrees mencoba mengirim pesan pada Mama Priska.
"Mah, gimana keadaan Atrees?" tulis Danindra.
"Kamu tenang ya Ndra, Atrees baik baik aja. Nanti kalah ada apa apa, mama pasti segera kabari kamu," balas Mama Priska.
"Baiklah mah. Jangan lupa ya mah, Atrees harus minum obatnya sampai habis."
"Iya Ndra, kamu tenang saja. Mama yang akan mengurus Atrees selama jauh dari kamu."
"Makasih mah."
"Sama sama Ndra," balas Mama Priska.
__ADS_1
Danindra yang sedari tadi berada di dalam mobil langsung menjalankan mesin mobilnya. Kecemasannya soal Atrees sekejap hilang saat membaca pesan dari mama mertuanya.
"Trees, aku akan sabar menunggu maaf dari kamu. Dan semua ini akan aku jadikan pelajaran berharga dalam hidupku. Kedepannya, aku akan selalu memprioritaskan keluarga kita dari hal apapun. Dan doaku saat ini hanya ingin segera mendapatkan maaf dari kamu dan kembali berkumpul seperti dulu lagi," ucap Danindra dalam hatinya.