
Selesai sarapan, atrees dan danindra pamit pada mama vio dan papa pras untuk pergi ke kampus. Namun sebelum ke kampus atrees mengajak danindra untuk pergi kerumahnya mengambil buku buku kuliah nya.
Di dalam mobil, pandangan danindra hanya ?tertuju pada wanita yang duduk di samping nya. Ia bahkan sesekali mengelus perut atrees yang rata.
"Kamu ngapain pegang perut aku terus sih yank?kelihatan gendut ya?" tanya atrees.
"Enggak, aku berharap kejadian semalam bibit yang aku tanam akan segera berbuah." jawab danindra dengan senyum smirknya
Merasa kesal dengan ucapan danindra, atrees menghempaskan tangan danindra "Mana mungkin yank, kan baru ngelakuin sekali. Lagian aku masih belum pengen hamil dulu, gimana sama kuliahku nanti?"
"Ya buat apa sih kamu kuliah sayang? Kamu itu sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga prasetya. Jadi kamu gak perlu kerja kan." jawab danindra yang tak kalah kesal dengan ucapan atrees.
"Udah turunin aku aja disini, aku males satu mobil sama cowok keras kepala kayak kamu." jawab atrees dan membuat danindra seketika menghentikan mobilnya.
Ccciiiittt....
Suara rem mobil danindra.
"Yaudah turun katanya mau turun." bentak danindra.
Atrees segera turun dari mobil danindra. Dan setelah atrees turun mobil danindra langsung pergi meninggalkan dirinya.
Butiran air mulai jatuh dari mata atrees. Ia tidak menyangka danindra tega menurunkan dirinya di pinggir jalan. Padahal niat atrees hanya menggertak danindra.
"Apa karna loe udah ambil kesucian gue, makanya loe semena mena sama gue ndra." batin atrees.
Atrees berjalan melangkah meninggalkan tempat dimana danindra menurunkan ya tadi. Saat ia hendak mengambil ponselnya, ia lupa jika ponselnya tertinggal di rumah danindra.
"Arggh sial banget sih. Kok bisa ponsel gue ketinggalan di kamar danindra. Yaudah deh mending gue jalan agak kesana aja, dan pulang naik angkot. Udah lama juga gak naik angkot." gumam atrees.
Di dalam mobilnya, danindra terus saja memukul stir mobilnya sambil terus mengomel. Perasaannya marah karna atrees enggan memiliki anak dulu. Pikiran danindra mulai meracau, jika atrees tidak serius dengan hubungannya.
Tiba tiba ponsel danindra berbunyi. Dan ternyata panggilan itu dari mamanya, padahal ia berpikir jika atrees akan memintanya untuk kembali.
"Halo mah, kenapa mah?"
"Kamu itu gak sopan, angkat telpon mama kok kayak gak suka gitu. Atrees mana?" gerutu mama.
"Atrees lagi ambil buku di kamarnya, kenapa sih mah." bohong danindra.
"Enggak mama mau kasih tau kalau handphone atrees ketinggalan di kamar kamu. Nanti bilang ke atrees, mama bawain pas ke butik ya." ucap mama, namun telponnya langsung di matikan danindra.
"Halo ndra..halo..." ucap mama namun panggilannya ternyata sudah mati.
"Dasar anak bandel, belum selesai ngomong udah main dimatiin aja. Pasti dia lagi... Arggh sudahlah, toh bentar lagi mereka juga nikah." ucap mama vio dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
Danindra lalu memutar balik mobilnya dan kembali ke tempat dimana ia menurunkan atrees. Namun ia tak melihat atrees berada disana. Bahkan tempat itu sangat sepi.
Wajah danindra berubah menjadi pucat, ia takut dengan apa yang akan terjadi pada atrees.
Danindra terus berteriak memanggil nama atrees sambil mencari di sekeliling jalan yang sepi itu.
"Sayang kamu dimana? Maafin aku, karna emosi ku sekarang aku gak tau kamu dimana. Kenapa kamu ceroboh banget sih, bisa bisanya ponsel sampai ketinggalan. Sekarang aku gak tau kamu dimana." gumam danindra.
Merasa pencariannya tak mendapat hasil, Danindra pergi ke rumah atrees. Siapa tahu atrees sudah sampai di rumahnya,walaupun hatinya sedikit ragu.
Setibanya di rumah atrees, hanya ada bibi di rumahnya. Karna mama priska sudah berangkat kerja kembali. Namun benar, ternyata atrees belum sampai di rumah. Jantung danindra seperti akan copot. Ia pun menghubungi kedua sahabatnya, indy dan shintya. Tapi hasilnya juga sama, atrees tak berada disana.
Danindra memutuskan untuk kembali ke tempat ia menurunkan atrees, namun saat ia hendak melajukan mobilnya dari jauh ia melihat atrees turun dari angkot.
Danindra kemudian turun dari mobilnya. Ia menghadang jalan atrees yang hendak masuk ke dalam rumahnya. Tapi karna kesal, atrees membuang arah pandangannya.
"Yank, kamu naik angkot? Duduknya desak desakan gak. Ada yang pegang pegang kamu gak? Terus ngapain kamu naik angkot sih yank, emang gak ada taksi?" ucap danindra panjang lebar.
Namun semua pertanyaan danindra sia sia. Kemarahan atrees sudah memuncak, tanpa menjawab pertanyaan danindra atrees mendorong danindra yang sudah menghalangi jalannya.
"Sayang maafin aku." ucap danindra namun tetap saja atrees masih diam membisu.
Dengan langkah cepat, danindra mengejar atrees yang sudah hampir masuk ke dalam rumahnya. Ia pun memeluk atrees dari belakang.
"Sayang, bicara dong. Jangan diem gini. Aku kan udah minta maaf. Aku tadi putar balik buat nyari kamu tapi kamu gak ada yank. Aku nyesel udah nurunin kamu di jalan, apalagi sampai kamu pulang naik angkot. Maafin aku ya yank." rengek danindra sambil menciumi rambut atrees.
"Lepas ndra." ucap atrees dingin.
"Gak, aku gak akan lepasin kamu sampai kamu mau maafin aku."
"Kasih aku waktu buat mikirin semua. Kamu sadar dengan sikap kamu barusan membuat aku berpikir ulang buat menikah dengan kamu. Kamu aja tega nurunin aku di tempat sepi, tanpa kamu berpikir apa yang akan terjadi sama aku nanti. Jadi biarin aku sendiri dulu." jawab atrees yang masih dengan tatapan kosongnya.
"Sayang, aku gak mau. Jangan bilang gitu lagi atrees. Kita akan tetap menikah, dan siapa bilang aku gak mikirin kamu. Aku tadi udah nyariin kamu lagi, kamu gak tau gimana paniknya aku waktu aku gak menemukan kamu. Aku gak mau kamu berubah pikiran, pernikahan kita akan tetap berlangsung." jawab danindra namun Atrees tetap berusaha melepas tangan danindra.
Karna kehabisan akal, danindra langsung menggendong atrees masuk ke dalam mobilnya. Ia tak memperdulikan pukulan atrees ke dadanya.
"Ndra, lepasin aku." teriak atrees.
Danindra tetap tidak memperdulikan teriakan atrees, bahkan suara atrees membuat bibi keluar dari rumah.
"Mbak atrees." panggil bibi.
"Bisa, tolong atrees." teriak atrees namun langsung di putus oleh danindra.
"Bi, gak usah di denger. Atrees lagi ngambek,. Saya lagi ngerayu dia, bibi masuk aja." jawab danindra.
__ADS_1
"Oke mas, semoga sukses dan berhasil ya mas." ucap bibi hingga membuat atrees membulatkan matanya.
"Bibi, majikan bibi itu aku bukan danindra. Kok bisa bisanya bibi malah dukung danindra sih." batin atrees kesal.
Danindra lalu menaruh atrees di dalam mobil, dan dengan cepat ia membawa atrees pergi.
"Buku gue belum gue ambil." ucap atrees.
"Gak usah kuliah hari ini. Nanti aku ijinin kamu. Mending sekarang kamu ikut aku." ucap danindra.
"Enak aja loe bilang, asal main ijin aja. Emang loe yang punya kampus apa." gerutu atrees.
"Hahahaha, loe gak tau siapa nama pemilik kampus?" tanya danindra sembari tertawa.
"Pak Diky kan?" jawab atrees sambil memalingkan wajahnya.
"Diky siapa?"
"Mana gue tahu. Sekarang gue mau ambil buku dulu terus ke kampus. Malah ngajak ngobrol soal pemilik kampus. Gak penting." gerutu atrees.
"Dengerin aku dulu sayang, pemilik kampus itu ya papaku. Diky Prasetya. Makanya kenapa aku gak khawatir kamu hamil nanti, karna papa dan mama pasti akan memberitahu pihak kampus buat tetap memperbolehkan kamu hamil." ucap danindra yang membuat atrees seketika menoleh ke arahnya.
"Are you sure?" tanya atrees penuh penekanan.
"Iya, yaudah kita hari ini gak usah ke kampus ya. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Mau kan?"
"Enggak. Aku masih bete sama kamu." jawab atrees.
Danindra meraih kedua tangan atrees dan menarik dagu atrees. Ia menatap mata atrees dengan tatapan penuh cinta.
"Jangan marah lagi ya, aku gak bakal mengulang sikap aku tadi. Dan jangan pernah berpikir dua kali tentang pernikahan kita ya sayang. Aku cinta banget sama kamu atreesnia anugerah candra." ucap danindra sambil mencium bibir atrees.
Kemarahan atrees sekejap berubah karna perlakuan danindra. Ciuman itu pun akhirnya ia balas hingga mereka semakin memperdalam ciuman itu. Dan karna melihat nafas atrees yang mulai tersengal sengal, danindra akhirnya melepaskan ciumannya.
"Sayang, kamu udah gak marah kan?" tanya danindra.
"Enggak sayang. Aku ngerti kenapa kamu marah,harusnya aku gak bilang kayak tadi." jawab atrees membuat senyum lebar danindra terlihat.
"Jadi maksud kamu?"
"Iya, aku akan nurut semua perintah kamu. Karna kamu akan jadi imam ku." jawab Atrees dan disambut pelukan oleh danindra.
"Terima kasih sayang. Sekarang kamu ikut aku ya." ucap danindra sambil memakaikan selt beat atrees.
"Kemana sayang? Jangan bilang mau ke apartemen."
__ADS_1
"Hahahaha, enggak kok sayang. Makanya diem dan lihat aja nanti."
"Iya iya sayang." jawab atrees.