Cewek Broken & Cowok Tajir

Cewek Broken & Cowok Tajir
Malam yang Panjang


__ADS_3

Tap..Tap..Tap..


Terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga. Dari bawah Mama Priska melihat Danindra.


"Ndra, kamu mau pulang?" tanya Mama Priska.


"Enggak mah. Danindra tidur sini."


"Hah? Tidur sini? Tapi kenapa kamu malah turun, kenapa gak tidur di kamar Atrees. Kamu gak lagi bohong sama mama kan?"


Danindra menggelengkan kepalanya. Terlihat kebahagian dari mimik wajahnya. Membuat mama Priska sudah bisa menebak apa keputusan Atrees untuk menantunya itu.


"Gimana keputusan Atrees tentang rumah tangga kalian?" tanya mama.


Danindra memeluk mama mertuanya. Kebahagian tak terkira,itu yang ia rasakan sekarang. Padahal harapannya telah patah. Ia kira Atrees hanya akan terukir menjadi mantan istri di hatinya. Perceraian satu kata yang selalu membayangi otaknya. Dan diluar dugaan, Atrees justru memaafkannya dan memberinya satu kesempatan lagi.


"Selamat ya Ndra. Mama minta kamu jangan sia siakan kesempatan yang dikasih Atrees. Jaga dia, lindungi dia, jangan pernah sakiti fisik dan batinnya. Tolong ya Ndra. Mama mohon," ujar Mama Priska.


"Pasti mah, pasti. Besok Atrees mau kembali kerumah bersamaku. Ya walaupun sikap Atrees masih dingin, tapi aku janji mah. Aku akan buat Atrees kembali bersikap lembut sama aku. Aku minta restu dari mama ya."


"Iya Ndra. Sekarang cepat kamu tidur, bukankah besok kalian akan pulang?"


"Iya mah, Danindra mau tidur di sofa aja, sekalian nonton tivi."


"Kenapa gak tidur sama Atrees aja sih Ndra?"


"Atrees masih mau sendiri dulu mah. Dan aku gak mau maksain dia. Ya dia sih nyuruh aku tidur di kamar tamu, cuma Danindra belum ngantuk mah. Jadi Danindra pengen tidur disini aja. Boleh kan mah?"


"Ya boleh dong Ndra. Kalau gitu mama pamit ke kamar dulu ya."


"Iya mah," jawab Danindra.


Malam semakin larut. Mata Danindra perlahan mulai terpejam. Didalam kamarnya, Atrees justru masih belum bisa tidur. Keputusan untuk kembali bersama Danindra, masih membuatnya ragu. Namun ia juga tak mau menyesal mengingat pesan dari mamanya.


"Semoga aja keputusanku tepat, dan Danindra sungguh sungguh bisa merubah sikapnya dan mengurangi rasa tempramennya," batin Atrees.

__ADS_1


Tiba tiba tenggorokannya terasa kering, dan air di gelasnya sudah kosong. Terpaksa, Atrees pun turun untuk mengambil minuman di dapur.


Namun langkahnya terhenti, melihat Danindra tidur di sofa depan televisi.


"Ngapain dia tidur disana. Gak pakai selimut, gak pakai bantal, apa badannya nanti gak dingin dan kram," umpat Atrees dalam hati.


Atrees berjalan mendekati sofa Danindra. Wajah ini begitu ia rindukan. Hatinya boleh sakit, amarahnya juga meletup letup tapi tak bisa dipungkiri rasa ingin bersama itu selalu ada.


Kini Atrees duduk berjongkok mengamati wajah suaminya. Biarpun lampu di ruang tengah mati, namun wajah tampan Danindra masih sangat terlihat jelas.


Puas mengamati dan mengusap usap wajah suaminya, Atrees bangkit dari duduknya. Belum juga pergi, tangannya sudah di tarik oleh Danindra.


"Kamu mau kemana istriku. Kamu kira aku gak tahu sikap kamu barusan," ucap Danindra membuat mata Atrees membulat tak percaya. Ia pikir Danindra sudah tidur, namun dugaannya salah.


"Kamu belum tidur? Sudah malam, memang kamu gak mengantuk?" tanya Atrees dengan tatapan datar dan nada yang dingin.


"Belum. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"


"Aku haus mau ambil minum di dapur. Aku pergi dulu," Atrees melepaskan tangannya dari genggaman tangan Danindra.


Tanpa di ketahui Atrees, Danindra diam diam menyusul dirinya di dapur. Saat Atrees sedang menuangkan air kedalam gelas, tiba tiba Danindra memeluk tubuhnya dari belakang.


Atrees hanya diam tak memberi reaksi apapun ketika Danindra sibuk menciumi dirinya. Meski terasa nikmat, Atrees berusaha menyembunyikan suara desahannya.


"Sayang," panggil Danindra sambil menggigit pelan daun telinga milik Atrees.


"Hmmm."


"Apa aku boleh tidur bersama kamu. Aku janji aku tidak macam macam. Aku hanya ingin memeluk tubuh kamu. Aku rindu kamu istriku."


Sambil memejamkan matanya, Atrees mencoba berpikir jernih. "Sudahlah Trees, kalau mau jangan gengsi. Nanti kalau suami kamu tergoda lagi dengan wanita lain di luar kamu juga kan yang sakit hati. Kamu sudah memutuskan untuk kembali bersama Danindra, itu tandanya kamu juga kembali menyerahkan tubuh kamu kepadanya," gumam Atrees dalam hati.


"Gimana sayang, boleh tidak?taoi kalau kamu keberatan aku gak papa. Biar aku tidur di sofa aja," Danindra mulai melepaskan pelukannya dan berjalan kembali ke ruang tengah.


Atrees masih diam. Ia masih berfikir ulang untuk bercinta lagi dengan suaminya. Walaupun Danindra bilang hanya akan memeluk tapi ia hafal dengan sifat suaminya. Dia tidak mungkin hanya minta pelukan, pasti akan minta lebih. Pikirnya.

__ADS_1


Selesai mengambil air, Atrees kembali berjalan menuju kamarnya.


"Ayo tidur di kamar," ajak Atrees.


Penuh semangat 45, Danindra berjalan mengekor di belakang istrinya. Sungguh sekarang Danindra jadi bucin akut dengan Atrees.


Kehilangan satu bukan tanpa berhubungan dan komunikasi sudah membuatnya yakin jika cintanya pada Atrees sangat besar. Dan itu sudah membuat Danindra jera.


Ceklek..


Pintu sudah terkunci. Atrees sudah berbaring terlebih dulu diatas ranjang. Sedangkan Danindra, ia masih duduk disamping ranjang mereka.


"Sayang, aku tidur dibawah aja gak papa. Aku gak mau maksain kehendak kamu, jika kamu memang.."


Belum selesai bicara, Atrees sudah memeluk tubuh suaminya dari belakang.


"Tidur sini bersamaku. Dan kita bisa buat anak lagi. Aku sudah memutuskan memaafkan kamu dan aku mohon jangan sakiti jiwa dan ragaku lagi sayang," ucap Atrees yang akhirnya membuat malam panjang itu terjadi.


Ruangan yang semula dingin kini berubah menjadi panas. Padahal Ac di dalam kamar juga sudah menyala, namun itu tidak membuat keringat di tubuh Atrees dan Danindra berhenti mengalir.


Suara raungan dari mulut Atrees membuat nafsu Danindra semakin membara. Entah berapa ronde yang sudah mereka selesaikan. Mereka hanya melampiaskan apa yang tidak tersalurkan selama mereka ada masalah.


Lelah berolahraga, Atrees tumbang di dalam pelukan suaminya. Senyuman yang indah itu kini sudah mulai di perlihatkan Atrees.


"Terima kasih sayang buat kesempatan yang kamu berikan. Dan aku janji, akan menjaga kamu dan anak anak kita nanti sampai aku tutup usia," ujar Danindra sembari mengecup kening Atrees.


"Iya sayang. Aku percaya. Dan jangan kamu sia siakan kesempatan dari aku ya. Karna jika kali melakukan kesalahan lagi dan masih ada kebohongan yang kamu sembunyikan dari aku, maaf aku sudah tidak bisa bersama kamu lagi."


"Kamu tenang aja. Sudah tidak ada yang aku sembunyikan dari kamu. Tapi ada satu hal yang masih aku sembunyikan dari kamu."


"Apa?" Atrees mendongakkan kepalanya keatas, berusaha mencari jawaban menggantung dari suaminya.


"Cintaku yang besar buat kamu."


"Dasar gombal."

__ADS_1


Kesal, Atrees mencubit pinggang Danindra dengan sekuat tenaga.


"Sayang sakit sayang. Daripada main cubit cubitan mending lanjutin main kuda kudaan aja gimana?" Danindra memperlihatkan puppy eyesnya dan langsung menerjang tubuh Atrees untuk kesekian kalinya.


__ADS_2